NovelToon NovelToon
Sistem Informasi Mingguan

Sistem Informasi Mingguan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

Suatu malam, entah kenapa, muncul semacam notifikasi aneh di kepala Doni — seperti pesan sistem di game, tapi ini nyata. Sistem ini memberinya satu informasi akurat setiap minggu: bisa berupa saham yang akan melejit, barang langka yang harganya bakal meroket, atau peluang bisnis kecil yang menguntungkan. Masalahnya, modal Doni nyaris nol. Jadi cerita ini bukan tentang tiba-tiba kaya, tapi soal gimana Doni pelan-pelan memutar informasi terbatas jadi modal, sambil tetap kuliah, kerja part-time, ngurusin teman-teman kos yang berisik, dan menghindari kecurigaan orang-orang di sekitarnya kenapa dia tiba-tiba "beruntung" terus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sinta Bertanya Serius

Kabar soal koperasi yang menang tender ternyata sampai juga ke telinga Sinta, entah dari siapa mungkin dari grup angkatan, mungkin dari mulut ke mulut teman kos yang kebetulan denger Doni cerita ke Herman.

"Don, gue denger-denger lo punya koperasi di kampung, terus baru aja menang tender sama perusahaan besar. Serius?" tanya Sinta, waktu mereka kebetulan barengan nunggu dosen yang telat di depan kelas.

Doni menghela napas, tau cepat atau lambat obrolan ini bakal dateng juga. "Iya, Sin, serius."

"Lo nggak cerita-cerita sama sekali. Padahal dari jaket vintage, saham, sampai turntable neneknya gue, semua itu kejadian dalam beberapa bulan doang, Don. Ini bukan kebetulan biasa."

Doni diam sebentar, mikir keras. Sinta menatapnya lurus-lurus, ekspresinya bukan marah, lebih ke serius dan penasaran.

"Gue nggak nuduh lo macem-macem, Don. Tapi gue temen lo. Kalau ada yang lo sembunyiin, minimal gue pengen tau lo baik-baik aja, bukan lagi terlibat sesuatu yang bahaya."

Mereka pindah ke kantin, duduk di pojokan yang lebih sepi. Doni mengaduk es teh yang udah nggak dingin lagi, mikirin gimana cara jelasin tanpa kedengeran gila.

"Sin, kalau gue cerita yang sebenarnya, lo janji nggak bakal mikir gue aneh atau ngejauhin gue?"

"Janji, Don. Serius."

Doni menghela napas panjang. "Jadi... beberapa bulan lalu, gue mulai dapet semacam... firasat kuat. Kayak insting yang bener-bener akurat soal info-info tertentu. Jaket itu, saham, turntable, itu semua dari firasat itu."

Sinta mengernyit. "Firasat doang? Sampe detail alamat toko, kode saham, semua itu cuma firasat?"

Doni gelagapan, sadar penjelasannya kedengeran janggal bahkan di kupingnya sendiri. "Gue juga nggak sepenuhnya ngerti, Sin. Tapi itu beneran kejadian, dan selama ini akurat terus."

Sinta diam lama, menatap Doni dengan tatapan yang susah dibaca antara percaya, curiga, dan khawatir. "Don, kalau ini beneran firasat, kenapa lo nggak cerita dari awal? Kenapa harus ditutup-tutupin kayak rahasia besar?"

"Karena gue sendiri takut, Sin. Takut dikira gila, takut dianggap ngarang-ngarang alasan buat nutupin sesuatu yang nggak bener. Lagian, gue juga masih belajar ngerti ini semua sendiri."

Sinta menghela napas, sikapnya melunak sedikit. "Oke, gue nggak akan maksa lo cerita lebih detail kalau emang belum siap. Tapi janji satu hal ke gue."

"Apa?"

"Kalau nanti firasat lo itu bawa lo ke masalah yang lebih besar dari sekadar untung-untungan barang, lo harus cerita ke gue. Jangan dipendem sendirian."

Doni mengangguk, ngerasa ada beban yang sedikit lebih ringan meski dia belum cerita seutuhnya soal notifikasi sistem yang muncul tiap minggu. "Janji, Sin. Makasih ya, udah mau ngerti."

"Ya iyalah, gue kan temen lo." Sinta tersenyum, meski masih ada sisa penasaran di matanya. "Tapi serius, Don, lo harus lebih terbuka. Gue liat lo akhir-akhir ini sering banget kelihatan mikirin sesuatu sendirian, kayak nanggung beban berat gitu."

"Iya, Sin. Pelan-pelan gue coba."

Sore itu, sepulang dari kampus, Doni duduk sendirian di teras kos, menatap langit yang mulai jingga.

Ada rasa lega setelah cerita sebagian ke Sinta, meski dia tau belum sepenuhnya jujur soal detail sistem yang sebenarnya.

Herman keluar dari kamar, bawa dua gelas kopi instan, nyodorin satu ke Doni. "Lo abis ngobrol serius sama Sinta ya? Gue liat kalian lama banget di kantin tadi."

"Iya, Man. Dia mulai curiga soal keberuntungan gue belakangan ini."

"Terus, lo cerita yang sebenarnya?"

Doni menyeruput kopi, mikir sejenak. "Sebagian doang, Man. Gue bilang itu semacam firasat kuat."

"Ya lumayan lah, Don, daripada bohong total. Tapi cepat atau lambat, orang-orang deket lo bakal makin curiga kalau lo terus-terusan dapet 'firasat' yang selalu akurat kayak gitu."

Doni mengangguk, tau Herman benar. Ada bagian dari dirinya yang mulai lelah nyimpen rahasia sendirian, tapi di sisi lain, dia juga belum siap buat cerita seutuhnya, takut malah bikin orang-orang di sekitarnya berubah cara pandang, entah jadi takut, curiga berlebihan, atau malah mau memanfaatkan.

Malam itu, sebelum tidur, Doni sempat mikir panjang soal hubungan dia sama Sinta belakangan ini.

Bukan cuma soal rasa curiga yang perlahan mereda jadi kepercayaan, tapi juga soal perasaan lain yang mulai tumbuh diam-diam, yang selama ini dia coba abaikan karena sibuk mikirin sistem, koperasi, dan kuliah.

"Ah, mikir apaan sih gue," gumamnya sendiri sambil ngerapiin selimut, mencoba ngusir pikiran itu meski nggak sepenuhnya berhasil.

Herman, yang kebetulan masih melek main HP, nyeletuk tanpa nengok. "Lo ngomong sendiri lagi, Don. Btw, gue liat cara lo natap Sinta tadi beda deh."

"Apaan sih, Man, ngaco."

"Terserah lo deh," Herman terkekeh, mematikan lampu kamar. "Tidur gih, besok kuliah pagi."

Doni memejamkan mata, pikirannya masih campur aduk antara koperasi, Sinta, dan pertanyaan yang selama ini belum terjawab sampai kapan dia harus terus nyimpen rahasia soal dengingan misterius yang muncul tiap minggu itu, dan apa yang bakal terjadi kalau suatu saat rahasia itu akhirnya benar-benar terbongkar.

1
Aisyah Suyuti
good
Wk Annuar
😍😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
🥰
Mamat Stone
/Proud/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
/Sneer/
Mamat Stone
/Smirk/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
RR: terimakasih banyak untuk supportnya, izinn namanya nanti saya masukan sebagai salah satu karakter di beberapa bab kedepan 😁🙏
total 1 replies
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!