NovelToon NovelToon
Kaisar Bela Diri Legendaris

Kaisar Bela Diri Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.

Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.

Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 : Api yang Menjalar di Kegelapan

Tiga minggu telah berlalu sejak duel berdarah di atas es yang retak.

Di dalam gubuk medis Desa Fajar, Ye Cangtian masih terbaring tak bergerak di atas ranjang batunya.

Namun, gubuk itu tidak lagi terasa seperti ruang perawatan, melainkan seperti tungku pandai besi. Udara di sekeliling tubuh Cangtian bergetar karena panas yang ekstrem.

Su Ling'er duduk di kursi kayu di samping ranjang, menggunakan selembar daun teratai basah untuk menyeka keringat dari dahi Cangtian. Daun itu mendesis dan mengering dalam hitungan detik saat bersentuhan dengan kulit pemuda tersebut.

"Monster yang keras kepala," gumam Ling'er, meski ada senyum tipis lega di bibirnya.

Tangannya meraih pergelangan tangan Cangtian, memeriksa denyut nadinya. Denyut itu tidak lagi melemah. Sebaliknya, detaknya sangat kuat.

Selama tiga minggu terakhir, Ling'er menyaksikan fenomena medis yang seharusnya mustahil. Alih-alih dihancurkan oleh Qi Api tingkat tinggi milik Yan Lie, meridian Cangtian justru menggunakan racun api itu sebagai bahan bakar.

Sistem tubuhnya mengisolasi energi dewa tersebut, memecahnya perlahan-lahan, dan meleburnya ke dalam Qi hijau-emas miliknya sendiri.

Sementara sang panglima tertidur lelap, di luar Gurun Kematian, dunia sedang terbakar oleh rencana gila Xing Yun.

Ribuan mil ke arah selatan, tersembunyi di balik barisan pegunungan tandus, terletak Kamp Rantai Hitam di Lembah Besi.

Ini adalah salah satu fasilitas penambangan bijih besi terbesar milik Kerajaan Surga Tiran, menampung lebih dari dua puluh ribu budak fana.

Malam itu, hujan turun dengan deras, mengubah tanah lembah menjadi lumpur hitam.

Di sudut kamp, seorang pengawas klan dewa yang sedang mabuk mengangkat cambuk berdurinya tinggi-tinggi, bersiap menghantam seorang budak kecil yang menjatuhkan keranjang batunya.

Sret!

Cambuk itu tidak pernah turun. Sang pengawas membelalakkan matanya saat sebuah tangan yang sangat kuat membekap mulutnya dari belakang, sementara sebilah belati menebas tenggorokannya dalam satu gerakan kilat yang sunyi. Darah emas menyembur, bercampur dengan air hujan.

Da Hu, mengenakan jubah abu-abu yang basah kuyup, melepaskan mayat dewa itu ke tanah. Di belakangnya, lima bayangan lain muncul dari kegelapan—prajurit elit Pasukan Fana yang telah dikirim Xing Yun tiga minggu yang lalu.

"Bersihkan area timur. Jangan sampai mereka membunyikan lonceng peringatan," bisik Da Hu memberi isyarat tangan. Kelima prajurit itu mengangguk dan kembali menghilang ke dalam hujan.

Da Hu menoleh ke arah budak kecil yang masih gemetar ketakutan di tanah. Ia mengulurkan tangannya yang kasar dan menarik anak itu berdiri.

"Kumpulkan semua budak di barak utama," perintah Da Hu pelan. "Katakan pada mereka, fajar telah tiba."

Satu jam kemudian, di dalam barak kayu yang pengap dan gelap, ratusan budak berkumpul dengan raut wajah bingung dan ketakutan. Di tengah mereka, Da Hu berdiri di atas sebuah peti kayu.

Ia tidak langsung menyuruh mereka memberontak. Berbekal instruksi Xing Yun, Da Hu tahu bahwa budak yang hanya bermodal amarah akan mati sia-sia. Mereka butuh dua hal: kekuatan dan harapan.

"Lihat ini," Da Hu merobek lengan bajunya, memperlihatkan otot perunggunya, lalu meninju tiang kayu penyangga barak hingga retak. Para budak terkesiap. Manusia fana tidak seharusnya memiliki kekuatan seperti itu.

"Kalian pikir kita ditakdirkan menjadi ternak selamanya?" seru Da Hu, suaranya dipenuhi semangat yang membakar.

"Aku sama seperti kalian sebulan yang lalu! Tapi seorang pria di utara mengajarkan kami cara mencuri kekuatan dari langit. Dia mengajarkan kami cara menelan udara, mengalirkannya ke darah kami, dan menghancurkan dewa-dewa ini dengan tangan kosong!"

Da Hu mulai mempraktikkan ritme pernapasan Qi dasar—warisan sejati dari Ye Cangtian. Beberapa budak muda yang nekat mulai menirunya.

"Pria itu adalah raja kita, Sang Kaisar Bela Diri!" Da Hu meneriakkan gelar propaganda yang sengaja diciptakan Xing Yun untuk membangun mitos.

"Malam ini, kita akan membantai para penjaga di sini. Besok, kalian akan berbaris ke utara, menuju Desa Fajar, tempat di mana tidak ada manusia yang berlutut!"

Mata para budak yang semula redup kini mulai menyala. Harapan, yang telah padam selama ribuan tahun, kembali berkobar.

Namun, sebelum sorak-sorai pemberontakan pecah, pintu barak kayu setebal lima inci itu hancur berkeping-keping.

Duarrr!

Pecahan kayu beterbangan seperti peluru, menembus tubuh beberapa budak di dekat pintu. Di tengah kepulan debu dan percikan hujan, berdiri sesosok raksasa klan dewa. Ia adalah Kepala Pengawas Lembah Besi. Di tangannya terdapat sebuah palu godam baja berduri.

Aura Qi setara Ahli Persilatan Tingkat 3 memancar dari tubuhnya, membuat udara di dalam barak terasa sangat berat.

"Tikus-tikus rendahan," geram Kepala Pengawas itu, matanya yang keemasan menatap Da Hu. "Jadi kau pengacau yang membunuh penjaga-penjagaku."

Da Hu menggertakkan giginya. Ia segera menghunuskan pedang peraknya, sementara dua prajurit Pasukan Fana melesat maju dari sisi kiri dan kanan untuk menyerang.

"Mati!"

Kepala Pengawas itu hanya mengayunkan palunya dengan santai. Kecepatan ayunan itu menciptakan pusaran angin.

Brak! Brak!

Dua prajurit Pasukan Fana, meskipun berada di Tingkat 1, terpental ke dinding barak dengan tulang rusuk hancur, tewas seketika. Perbedaan kekuatan antara Tingkat 1 dan Tingkat 3 terlalu jauh.

Da Hu meraung, melompat ke udara dan menebaskan pedangnya ke arah leher sang dewa. Namun, Kepala Pengawas itu menangkap bilah pedang Da Hu dengan tangan kosong.

"Kaisar Bela Diri?" kekeh Kepala Pengawas itu, mengangkat Da Hu ke udara hanya dengan memegang pedangnya. "Aku akan menghancurkan kepalamu, lalu aku akan mencari kaisarmu itu dan memakannya hidup-hidup."

Sang dewa mengangkat palu godamnya, bersiap menghancurkan kepala Da Hu. Para budak menjerit ngeri, meringkuk mundur. Rencana pemberontakan ini tampaknya akan berakhir sebelum sempat dimulai.

Tepat saat palu godam itu berayun turun...

Traangg!!!

Suara benturan logam yang sangat memekakkan telinga menggema di seluruh barak.

Palu godam raksasa itu berhenti hanya beberapa inci dari wajah Da Hu. Sesuatu telah menahannya. Bukan kekuatan Qi, melainkan sebuah batang tombak besi tebal, berkarat, dan sangat berat.

Da Hu terbelalak. Kepala Pengawas dewa itu pun sama terkejutnya, menoleh untuk melihat siapa yang berani menahan serangannya.

Berdiri di samping sang dewa, menahan palu raksasa itu hanya dengan satu tangan yang memegang tombak besi, adalah seorang manusia fana.

Ia sangat tinggi, hampir setinggi sang dewa. Tubuhnya tidak mengenakan apa-apa selain celana compang-camping, memperlihatkan otot-otot yang menonjol dan kulit yang dipenuhi ratusan bekas luka cambuk yang mengerikan. Rambutnya gondrong dan liar.

Pemuda raksasa itu menoleh, menatap Kepala Pengawas dewa dengan sepasang mata abu-abu.

"Berisik sekali," ucap pemuda fana itu dengan suara berat yang menggetarkan dada.

Da Hu bisa merasakan bahwa pemuda ini sama sekali tidak memiliki Qi di dalam tubuhnya. Tidak ada aliran energi, tidak ada kultivasi. Namun, kekuatan fisik murni yang ia gunakan untuk menahan palu dewa Tingkat 3 itu... benar-benar di luar nalar manusia.

"Budak kotor! Lepaskan!" raung Kepala Pengawas, mencoba menekan palunya ke bawah.

Pemuda itu tidak melepaskannya. Sebaliknya, ia menyeringai lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang putih.

Dengan satu putaran pergelangan tangan, ia mengayunkan tombak besinya ke atas, menepis palu godam seberat ratusan kilogram itu hingga sang dewa terhuyung ke belakang!

Tanpa memberi ampun, pemuda fana itu melesat maju. Gerakannya kasar, brutal, dan sama sekali tidak memiliki teknik persilatan yang indah. Ia bertarung murni dengan insting membunuh.

Ia mengayunkan tombak besinya seperti tongkat pemukul, menghantam tulang kering sang dewa hingga patah. Saat sang dewa berlutut kesakitan, pemuda itu memutar tombaknya dan menusukkannya dengan kecepatan yang mengerikan, menembus pelat dada zirah perak, langsung menembus jantung sang dewa.

Kepala Pengawas Lembah Besi, seorang dewa tingkat tinggi, mati di tempat. Bukan oleh ahli kultivasi, melainkan oleh kekuatan otot murni seorang budak fana.

Barak itu hening total. Hanya suara hujan yang tersisa.

Da Hu menjatuhkan dirinya ke tanah, terengah-engah, menatap monster manusia di depannya dengan rasa kagum sekaligus ngeri.

Pemuda raksasa itu mencabut tombaknya dari mayat sang dewa, membersihkan darah emas ke celananya, lalu berbalik menatap Da Hu.

"Kau," tunjuk pemuda itu dengan ujung tombaknya. "Siapa namamu?"

"D-Da Hu," jawabnya terbata-bata. "Terima kasih... kau telah menyelamatkan nyawaku. Siapa... siapa kau?"

Pemuda itu memanggul tombak besarnya di bahu, meludah ke lantai, dan tersenyum arogan.

"Namaku Long Zhan."

Mata abu-abu Long Zhan menatap Da Hu dengan kilatan tantangan yang membakar. "Aku mendengar pidatomu tadi, Da Hu. Seseorang bernama Kaisar Bela Diri mengajarimu cara menggunakan sihir pernapasan angin itu? Menarik."

Long Zhan menendang mayat dewa di dekat kakinya. "Katakan pada rajamu itu, manusia terkuat di benua ini bukanlah dirinya. Bawa aku ke tempat kalian. Aku ingin menantang Kaisar Bela Diri itu. Jika dia tidak bisa mengalahkanku, aku yang akan memimpin pemberontakan ini."

Da Hu menelan ludah. Takdir baru saja mempertemukannya dengan pria yang kelak akan dipanggil oleh seluruh dunia sebagai Dewa Tombak—satu-satunya manusia fana yang pernah menjadi saudara angkat Ye Cangtian melalui pertumpahan darah dan keringat.

1
Hendra
mantap thor👍
Hendra
awal yang bagus👍
Deevy Tresiyana
keren awal Kultivathor di dunia fans..💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!