Satu bulan menikah, IPTU Milka harus menelan kenyataan pahit. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh sang suami, Vando, yang diam-diam bermain gila dengan sahabatnya sendiri.
Hancur dan menangis di trotoar dengan seragam dinasnya, Milka tak tahu bahwa air matanya disaksikan oleh Theo, pria dari masa lalu yang kini menjadi Dokter Bedah genius sekaligus penguasa sindikat bawah tanah.
Pria yang dulu mundur demi kebahagiaan Milka, kini murka melihat wanita impiannya disia-siakan. Lewat jaringan gelapnya, Theo bergerak cepat menguliti kebusukan Vando dan Irana.
Bagi Theo, menyerahkan suami pengkhianat ke jalur hukum saja tidak cukup. Pria yang telah membuat Milka menangis ... harus merasakan kekejaman pisau bedahnya!
"Biar hukum bekerja lewat tanganmu, Milka. Tapi untuk pria yang menyakitimu ... izinkan aku yang membereskannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Kamu Sudah Punya Suami
Sedan yang dikendarai sendiri oleh Theo, melaju membelah jalanan kota yang sudah lengang.
Di dalam kabin, suasana begitu hening.
Milka duduk kaku di samping Theo. Kedua tangannya menggenggam berkas yang sedikit berantakan di atas pangkuan. Sesekali ia melirik ke arah jendela, menikmati lampu-lampu kota yang berkelebat.
Sementara itu, Theo mengemudi di sampingnya, sama sekali tidak berusaha membuka percakapan. Ia hanya sesekali melirik ke arah Milka, memastikan wanita itu benar-benar baik-baik saja.
Keheningan itu, justru membuat Milka merasa canggung.
"Kak ..."
"Hm?" Theo tak menoleh sama sekali, memilih fokus menatap jalan.
"Makasih ya ... sudah bantu aku."
Theo mengangguk tipis. "Sama-sama."
"..."
"Udah?" tanya Theo kembali.
Milka mengerjapkan mata. "Hah?"
"Kirain masih ada lagi yang mau kamu sampaikan."
Milka terkekeh pelan. "Apa, sih ..."
Theo melirik sekilas ke arah Milka. Sudut bibirnya terangkat tipis.
Dulu, hampir semua junior bersikap canggung saat berada di dekatnya. Mereka terlalu segan untuk sekadar bercanda dengan seorang ketua OSIS
Hanya Milka yang berbeda. Gadis itu tak pernah ragu mendengus, memprotes, bahkan membalas setiap godaannya saat sengaja digoda kala latihan taekwondo.
Theo kembali mengalihkan pandangan ke jalan.
"Masih suka mendengus ternyata."
Milka spontan menoleh. "Hah?"
"Kupikir setelah jadi polisi, sifat itu hilang."
Milka memutar bola mata. "Kalau Kak Theo masih suka ngerjain aku, ya jelas belum hilang."
Theo terkekeh pelan. "Berarti nggak banyak yang berubah."
Milka ikut tersenyum kecil. Untuk sesaat, kecanggungan yang sejak tadi memenuhi kabin mobil perlahan menghilang.
Beberapa menit kemudian ... mobil itu berhenti tepat di depan rumah Milka. Saat Milka hendak membuka pintu, Theo lebih dulu turun dari mobil. Ia memutari kap depan sedan, lalu membukakan pintu di sisi penumpang.
Milka menghela napas pelan.
"Aku bisa sendiri. Tolong jangan perlakukan aku seperti anak kecil."
Theo menatapnya beberapa detik.
"Bukan anak kecil."
"...?"
"Aku hanya lupa kalau kamu masih berstatus istri orang."
"Iisssh! Udah, pergi sanah! Nanti jika dilihat tetangga, mereka bakalan pikir macam-macam tentang aku."
Milka sedikit menoleh ke arah rumahnya. Lampunya masih hidup. Bisa jadi rumah itu masih kosong karena Vando berkeliling bersama Irana entah ke mana. Bisa jadi, dia telah pulang.
Saat menatap ke depan kembali, ternyata tubuh Theo telah condong. "Yang kupedulikan cuma satu."
Milka menatapnya.
"Kamu pulang dengan selamat."
Sontak membuat Milka kaget mundur satu langkah.
"Udah, Kakak pulang dulu. Terima kasih, ya? Aku masuk." Tangan Milka mempersilakan Theo masuk kembali ke dalam mobil itu.
Pria itu mengangguk tipis dan gerakannya cepat masuk ke dalam mobil. Tanpa menurunkan jendela mobil ataupun salam perpisahan, mobil itu telah bergerak meninggalkan lokasi.
Sementara Milka, menggeleng tipis lalu beralih berjalan ke arah rumah yang terang benderang.
Begitu pintu dibuka, Vando sudah berdiri tepat di depan pintu masuk. Mukanya tampak kusut dengan mata merah menahan kantuk. Seolah memang sengaja menunggu kepulangannya.
"Kok baru pulang?" Nada suaranya terdengar datar.
Namun sorot matanya justru sibuk mengamati wajah Milka.
"Ada lembur."
"Lembur sampai dijemput laki-laki?"
Langkah Milka terhenti. "Mas lihat?"
Vando tersenyum tipis. "Nggak sengaja."
Padahal sejak tadi ia memang berdiri di balik tirai jendela.
Melihat dengan jelas ...
Seorang pria tinggi yang sengaja berlari membukakan pintu mobil untuk istrinya.
Entah kenapa ... Dadanya terasa panas.
Milka menghela napas. "Itu Kak Theo."
"Dokter itu?"
"Iya."
"Sejak kapan kalian dekat?"
Pertanyaan itu membuat Milka mengernyit. "Kenapa memangnya?"
Vando mendekat satu langkah. "Apa kamu lupa, kamu sudah punya suami? Kamu tak boleh sembarangan pergi dengan pria mana pun!"
Milka tertawa sinis. 'Lucu.'
Baru hari ini, pria yang mengkhianatinya itu mengingat statusnya sebagai suami.
"Mas."
"Ya?"
"Harusnya, Mas mengucapkan itu saat Mas sedang bercermin. Bukan di hadapanku."
Wajah Vando yang tadinya datar menahan amarah, langsung membeku. "Apa maksudmu?"
Milka menatap lurus ke mata suaminya. "Tidak ada."
Ia tersenyum tipis. "Lupakan saja."
Lalu ia berjalan melewati Vando menuju kamar.
Sementara Vando tetap berdiri di tempat. Entah kenapa ia baru menyadari, telah kehilangan kendali atas Milka. Namun, malam ini dia ingin menuntaskan keinginannya.
"Milka, sebenarnya Mas sengaja menunggumu ... Mas ingin menebus rasa bersalah membiarkanmu menunggu terlalu lama waktu itu."
"Bagaimana kalau malam ini ..." Dengan cepat ia berjalan mendekati Milka memeluk istrinya dari belakang.
Milka membeku.
Lalu...
*Bersambung*
Terima kasih buat pembaca yang sudah mengikuti kisah mereka ya ❤️
dulu bapaknya Theo nyusahin Bapaknya Milka, sekarang Milka nyusahin Theo, tapi gpp, Theo suka direpotin Milka 🤣🤣🤣