NovelToon NovelToon
Young Master Vincentes

Young Master Vincentes

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Romansa Fantasi
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Di wilayah Ragonves, sebuah wilayah besar di barat Kerajaan Dirvente, dua keluarga bangsawan paling berpengaruh telah terikat dalam permusuhan selama ratusan tahun. Keluarga Vincentes dan Keluarga Sienta saling menumpahkan darah demi harga diri, kekuasaan, dan dendam yang tak pernah padam.

Demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan, kedua keluarga akhirnya menyepakati sebuah perjanjian damai. Sebagai simbol perdamaian, Grey Vincentes, pewaris Keluarga Vincentes, dipertunangkan dengan Keilla Sienta, putri kebanggaan Keluarga Sienta.

Bagi Grey, pertunangan itu adalah impian yang telah lama ia perjuangkan. Ia mencintai Keilla dan percaya bahwa hubungan mereka dapat menghapus kebencian kedua keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali ke Panggung

Malam semakin larut. Jalanan menuju gedung teater diterangi oleh cahaya bulan yang redup, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di atas tanah berbatu. Dua sosok berjalan dengan langkah riang, hampir melompat-lompat seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru.

Vega Arcsein tertawa lepas, tangannya mengayun-ayunkan pedangnya dengan santai. Wajahnya berseri-seri karena kepuasan.

"Kau lihat itu, Barteil?" ucapnya dengan nada bangga. "Wajah Nyonya Belinda saat aku bilang aku akan bertemu Ratu Elerana! Dia benar-benar panik! Aku tidak pernah melihat wanita sedingin es itu kehilangan ketenangannya!"

Barteil yang berjalan di sampingnya juga ikut menari-nari, meskipun gerakannya kaku dan canggung. Namun, tiba-tiba ia berhenti. Wajahnya berubah serius.

"Omong-omong," tanyanya, alisnya berkerut, "bagaimana jika Nyonya Belinda menyelidiki langsung tentang Ratu Elerana?"

Vega berhenti menari. Ia menoleh ke arah Barteil dengan tatapan heran.

"Maksudmu?"

"Ya," lanjut Barteil, wajahnya mulai pucat karena panik, "bagaimana jika dia mencari tahu tentang ratu itu dan ternyata... tidak ada ratu Elerana? Kita akan ketahuan! Kita akan mati!"

Vega menatap Barteil dengan tatapan tidak percaya. Lalu ia menggeleng-gelengkan kepala, menghela napas panjang.

"Dasar..." ucapnya dengan nada kesal, "sudah berapa kali kubilang kau begitu bodoh?"

Barteil terdiam, menunggu penjelasan.

Vega merapikan kerah jasnya, lalu berbicara dengan nada serius.

"Jadi, sebenarnya Ratu Elerana yang kukatakan itu adalah bekas kekasihku."

Barteil membelalak. Mulutnya terbuka lebar. "Apa? Tidak mungkin!"

"Hahaha!" Vega tertawa terbahak-bahak. "Kau pasti kaget!"

Ia memainkan pedangnya dengan santai, berputar-putar di tempat seperti sedang menari.

"Jadi..." Barteil masih tidak percaya, "Nyonya Belinda dibodohi olehmu? Itu benar-benar luar biasa! Bagaimana mungkin wanita sedingin itu bisa terpikat dengan pesonamu?"

Ia menepuk pundak Vega dengan bangga, hampir membuat pemuda itu tersungkur.

Vega menepis tangan Barteil dengan kesal, lalu kembali menari-nari. Namun, tiba-tiba ia berhenti.

"Ah ya, aku lupa," ucapnya sambil menepuk dahinya, "seharusnya kita berlatih teater, kan?"

Barteil juga terkejut. "Gawat! Tuan Grey akan mengamuk jika kita tidak kembali!"

Tanpa berpikir panjang, mereka berdua berlari sekencang-kencangnya menuju gedung teater, debu beterbangan di belakang mereka.

---

Di Gedung Teater - Halaman Depan

Grey berdiri di depan pintu teater dengan tangan disilangkan di dada. Ekspresinya datar, tetapi matanya tajam seperti elang yang mengawasi mangsanya. Di sampingnya, Ressa berdiri dengan tenang, meskipun di matanya ada sedikit kekhawatiran.

Vega dan Barteil tiba dengan terengah-engah, membungkuk karena kehabisan napas.

"Kemana saja kalian?" tanya Grey, suaranya dingin.

Vega berusaha tersenyum cerah, meskipun napasnya masih tersengal. "Tidak, kami hanya berkeliling saja di kastil Ragonves. Menikmati pemandangan, mencari inspirasi untuk teater—"

"Berkeliling sampai satu hari?" potong Grey, alisnya terangkat. "Itu bukan keliling namanya. Kalian menghilang sejak pagi, dan sekarang sudah hampir tengah malam."

Vega terdiam. Ia tidak bisa membantah.

Barteil di sampingnya hanya bisa menunduk, wajahnya memerah karena malu.

Ressa, yang melihat ketegangan mulai memuncak, melangkah maju dengan langkah hati-hati.

"Sudah, Tuan," ucapnya dengan suara lembut, "tidak perlu dimarahi. Lebih baik kita lanjutkan saja latihan kita. Hari sudah larut, dan kita masih punya banyak adegan yang harus disiapkan."

Grey menoleh ke arah Ressa. Tatapannya yang tajam sedikit melunak.

"Baiklah," ucapnya akhirnya, menghela napas. "Tapi jangan coba-coba mengintip di kastil itu lagi. Di sana kalian bisa mati jika ketahuan oleh keluarga Sienta."

Vega dan Barteil saling berpandangan, mata mereka membelalak.

"Grey ternyata tahu?" bisik Barteil dengan suara ketakutan.

Vega hanya mengangkat bahunya dengan santai. "Tentu saja tahu."

Mereka berjalan masuk ke dalam teater, meninggalkan malam yang dingin di luar. Di dalam, lampu-lampu mulai dinyalakan, menerangi panggung yang megah.

Vega berjalan di belakang Grey, memperhatikan sahabatnya dengan saksama.

"Aneh," pikirnya dalam hati, "padahal aku membantunya membalaskan dendam, tetapi justru Grey malah menikmati ketenangannya bersama Ressa. Dia tidak terlihat marah. Dia tidak terlihat sakit hati. Dia hanya..."

Vega menghela napas.

"...tenang. Terlalu tenang."

Ia menatap Ressa yang berjalan di sisi Grey, membantu mempersiapkan properti panggung. Gadis itu tersenyum lembut, dan Grey membalas senyumnya—senyum yang tulus, bukan senyum palsu yang biasa ia tunjukkan pada Keilla.

"Ada sesuatu yang berubah pada Grey," sadar Vega. "Dan aku tidak yakin apakah itu perubahan yang baik."

Di atas panggung, Grey menoleh ke arah Vega.

"Ayo, Vega! Kau harus berlatih adeganmu! Kau bandit kejam, ingat?"

Vega tersenyum kecut. "Baiklah, baiklah. Aku datang."

Ia melangkah naik ke panggung, melepaskan semua pikirannya tentang dendam dan rencana. Untuk saat ini, ia hanya ingin menikmati malam bersama sahabatnya.

Namun di sudut hatinya, ia masih bertanya-tanya.

"Apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu, Grey?"

Malam semakin larut, dan latihan teater dimulai dengan penuh semangat. Namun di balik tawa dan canda, ada rahasia-rahasia yang mulai terungkap satu per satu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!