semoga suka ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anak org, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bagian 7
Di depan ruangan Linda.
Tok. tok. tok
"masuk" ujar Linda dari dalam ruangan
ceklek
"eh, kalian sudah datang. mari sini, silakan duduk" ucap Linda lembut.
lalu mereka berdua pun langsung duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Linda, dan Aluna masih duduk di pangkuan ayahnya.
"oh iya, bagaimana? ada keluhan yang terjadi selama hamil ini Rani?" tanya dokter itu menatap wajah Rani yang terlihat agak pucat.
"Ah, syukurlah tidak ada, dok. biasanya saya setiap hari kan selalu mual-mual, apalagi kalo di pagi hari. beh parah banget dok. tapi semenjak usia 5 bulan ini jadi jarang-jarang banget saya mualnya.
kalo pun saya mual hanya di pagi-pagi hari saja dok. itu pun gak selalu sering" jawab Rani sembari mengelus perut buncitnya
dan Linda hanya menganggukkan kepalanya paham.
"oh iya dok, sesuai yang dokter katakan kemarin, mengenai jenis kelaminnya apakah sudah bisa. dok?" tanya Hendra ke arah Linda dengan wajah datar, tapi tetap berusaha menyesuaikan diri dalam berbicara dengan Linda.
Linda yang paham maksud dari perkataan Hendra terkekeh kecil, karena dia tahu, setiap Rani hamil, Hendra akan membawa Rani diperiksa olehnya.
dan dia juga tahu kalau Hendra ini sangat ingin memiliki seorang anak laki-laki. tapi meski sudah mempunyai 3 orang anak perempuan, kasih sayangnya tetap adil untuk anak-anaknya.
"bisa kok tuan. kalau begitu, mari Rani. kita akan periksa dan lihat bayi kalian ini laki-laki atau perempuan"
"iya, dok"
"kalau begitu, silakan berbaring di sini Rani"
Rani pun berbaring sesuai yang dikatakan oleh Linda. dan Hendra juga senantiasa duduk di samping istrinya bersama Aluna yang masih duduk di pangkuannya.
"kita buka dulu ya, sedikit bajunya" lalu Linda mengambil sebuah botol yang berisi gel dan setelah itu mengolesi gel bening itu ke atas perut Rani.
"Rani, ini akan sedikit dingin. jadi jangan kaget ya" ujar Linda
Rani hanya menganggukkan kepalanya mengerti.
"ah dingin dok" ucap Rani sedikit kaget.
padahal ini bukanlah hal yang pertama kali untuk Rani, setiap Rani hamil umur 5 bulan, dia dan sang suami akan selalu mengecek jenis kelamin dari bayinya.
"sabar ya sayang" ucap Hendra menggenggam tangan Rani lembut
"yah, apa kita akan ketemu dedek?" tanya Aluna polos menatap ke arah ayahnya.
"iya, sayang. kita akan bertemu dengan dedek"
"wahhh, ayo ibu dokter. Aluna sudah tidak sabar ingin melihat dedek bayinya" ucap Aluna kegirangan.
Hendra, Rani dan Linda hanya tersenyum melihat Aluna yang sudah tidak sabar ingin melihat bayi yang dikandung Rani
"baiklah, mari tuan, Rani, dan Aluna. kita lihat di layar monitornya ya"
lalu mereka bertiga melihat ke arah layar monitor yang memperlihatkan gambar seorang bayi.
Linda menempelkan alat USG di atas perut Rani dia menggerakkannya pelan.
"Nah, coba kita lihat. ini adalah kepalanya Bu, dan ini tangannya yang seperti melambai ini ya" ujar Linda menunjuk ke arah monitor.
melihat itu, Rani tidak kuasa menahan air matanya. dengan perasaan haru, dia dengan tidak sengaja menggenggam tangan suaminya erat.
"mas, lihat itu anak kita" ucap Rani meneteskan air matanya haru.
sedangkan Hendra menatap layar monitor yang memperlihatkan bayinya tanpa berkedip sama sekali.
dan yang membuatnya makin lucu adalah Putri kecilnya. wajahnya juga sama persis dengan Hendra. matanya tidak berkedip sama sekali melihat gambar bayi di layar monitor.
"Yayah, itu dedek ya?" tanya Aluna tanpa menoleh ke arah Hendra, karena fokusnya sekarang hanya tertuju ke layar monitor.
tapi bukannya menjawab. Hendra malah lebih memilih melihat layar monitor dengan pandangan yang tidak bisa dijelaskan.
wajah Hendra pucat. genggaman tangannya makin erat di tangan Rani. detak jantungnya berdetak kencang, matanya tidak pernah teralihkan dari layar monitor, menunggu momen yang paling dia tunggu-tunggu dari mulut dokter Linda yang sedang memeriksa kandungan Rani.
"oke, detak jantungnya bagus. 145 per menit, sekarang kita cek jenis kelaminnya ya"
suasana langsung hening seketika saat Linda mengatakan kalau ingin melihat jenis kelamin dari bayi mereka.
"wahh, tuan, Rani. selamat ya kalian bakal memiliki bayi laki-laki" ujar Linda tersenyum ke arah kedua pasangan itu.
suasana seakan berhenti sejenak. tidak ada yang membuka suara sama sekali. ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara detakan jam yang terus berputar.
sehingga suasana itu langsung pecah dengan suara teriakan makhluk kecil yang nyaring, membuat lamunan Hendra terhenti seketika.
"Akhhh!" pekik Aluna bahagia
"ibu! Aluna bakal dapat dedek cowok!!!" pekik Aluna keras, hingga semua yang ada di ruangan itu menutup kedua telinganya karean suara melengking Aluna yang memekik di telinga mereka.
"iya, sayang. Aluna bakal dapat dedek cowok" ucap Rani mengelus rambut Aluna sayang.
lalu Rani menolehkan pandangannya ke arah suaminya yang menatap dirinya dengan pandangan sendu dan berkaca-kaca. sepertinya suaminya ini akan menangis sebentar lagi.
"mas, kam-"
tiba-tiba saja Hendra langsung memeluk tubuh Rani yang masih berbaring, hingga terdengar suara isakan haru dan bahagia dari suaminya.
sedangkan Aluna sudah tidak lagi berada di pangkuan ayahnya. dia sudah berjalan menghampiri ibu dokter untuk melihat dengan jelas adik bayinya.
"terimakasih, sayang. hiks. terimakasih, hiks" tangis Hendra mencium kening dan bibir Rani seolah menyalurkan rasa senang dan bahagia secara bersamaan.
Di mansion
"selamat ya, ibu dan ayah. akhirnya bayi yang dikandung ibu adalah bayi laki-laki" ucap Karin tulus kepada kedua orang tuanya.
"terimakasih, sayang" ucap Hendra mengelus surai rambut Karin.
"Aurel juga mau bilang selamat ya, ayah dan ibu. setelah penantian yang lama akhirnya keluarga kita bakal ada bayi cowok"
"terimakasih sayang" ucap Rani tersenyum lembut ke arah Aurel. dan sesekali mengelus punggung Aluna yang sedari tadi terus menempel padanya sehabis pulang dari rumah sakit.
tangannya juga tidak bisa diam. dia terus mengelus perut Rani dengan gerakan berputar yang lembut.
Besoknya.
suasana sekarang agak sedikit berbeda. cuaca tiba-tiba berubah mendung. awan yang semula berwarna putih kini berubah agak gelap gulita, seolah ingin menumpahkan beban yang berhari-hari menumpuk di dalam dirinya.
"ibu, ayo cepat!"
"sayang, sabar dulu. ini cuacanya juga lagi mendung, sayang," ucap Rani mengikuti langkah Aluna yang sudah berlari di halaman rumah.
tujuan mereka saat ini, mereka ingin pergi ke taman hanya berdua saja. karena Hendra, dan Karin juga Aurel. masih berada di kantor dan sekolah.
tapi cuacanya agak sedikit mengkhawatirkan. Rani sudah memutuskan kalau hari ini acara ke tamannya akan dibatalkan dan akan digantikan besok. tapi Aluna tetap kekeh ingin sekarang.
tidak ingin melihat anaknya menangis, akhirnya Rani pun mau tidak mau harus menyetujui keinginan sang buah hati.
"sayang, hati-hati. jangan ke jalan raya, sayang. itu banyak kendaraan yang lewat!!" teriak Rani kencang, tapi tidak didengarkan oleh Aluna.
Aluna terus berjalan tanpa henti sampai dia tidak menyadari kalau dirinya sudah berjalan terlalu jauh di tengah jalan raya.
Rani yang melihat hal itu justru sangat khawatir, karena beberapa pengendara lain sangat laju melintasi tubuh kecil Aluna.
sampai sebuah mobil truk melintas dengan kecepatan tinggi mengarah ke arah Aluna, membuat mata Rani melebar kaget hingga...
"Aluna!!!" teriak Rani
Aluna menolehkan kepalanya. tubuhnya mendadak kaku, kakinya lemas, hingga terjadi....
Bruk!
Brugh!!