NovelToon NovelToon
Kapten Hatiku

Kapten Hatiku

Status: tamat
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12

Kunang-Kunang

Leon tidak mundur.

"Kalau kamu bukan manusia, lalu kamu apa?"

Perempuan berambut hijau itu menatap vila yang gelap. "Sesuatu yang muncul ketika Vera tidak sanggup melindungi dirinya sendiri."

"Berarti kamu melindunginya."

"Jangan membuatnya terdengar mulia."

"Aku tidak sedang menilai."

Leon melepas jaket dan meletakkannya di bangku, cukup dekat untuk diambil tetapi tidak langsung menyentuh tubuhnya.

"Udara dingin. Kamu boleh pakai itu. Aku akan duduk di sini sampai kamu ingin kembali."

"Kamu tidak akan memanggil Keira?"

"Tidak kalau kamu tidak membahayakan Vera atau dirimu sendiri."

Tatapan tajam itu bertahan beberapa saat, lalu perlahan melembut. Perempuan tersebut mengambil jaket dan duduk di ujung bangku lain. Mereka tidak bicara lagi.

Hampir setengah jam kemudian, bahunya merosot. Ketika mengangkat wajah, kebingungan Vera telah kembali.

"Mas Leon? Kenapa kita di luar?"

Leon menahan semua pertanyaan di ujung lidah. "Kamu sulit tidur. Aku menemanimu mencari udara."

Vera melihat jaket di bahunya, lalu menatap Leon. "Aku mengatakan sesuatu?"

"Kamu bilang ingin sendiri. Aku menghormatinya."

Itu bukan seluruh kebenaran, tetapi cukup untuk menjaga rahasia yang belum siap Vera jelaskan.

Keesokan paginya, Vera mengeluh sakit kepala dan memilih beristirahat di vila. Leon mengatakan dia akan menemani, dengan alasan kakinya terkilir ringan saat jatuh ke kolam.

"Kalian yakin?" tanya Keira.

"Pergilah," kata Vera sambil menarik selimut. "Aku tidak mau melihat kalian pura-pura tidak saling suka seharian."

Keira melempar bantal ke arahnya. Vera tertawa, tanda bahwa dirinya yang biasa benar-benar telah kembali.

Menjelang sore, Keira dan Kai berjalan menuju taman kunang-kunang tak jauh dari resort. Jalur setapak melewati rumpun bambu dan pepohonan tinggi. Udara membawa aroma daun basah setelah hujan singkat.

"Kakimu masih sakit?" tanya Keira ketika Kai melangkah lebih pelan.

"Tidak. Aku cuma menikmati pemandangan."

"Pemandangannya di depan."

"Aku tahu."

Keira mengikuti arah matanya dan sadar Kai sedang melihatnya. Dia mempercepat langkah agar pria itu tidak melihat senyumnya.

Jalur menurun setelah jembatan bambu. Tanah masih licin. Keira menginjak lumut dan tubuhnya miring. Kai menangkap tangannya, lalu tidak langsung melepaskan ketika dia sudah berdiri stabil.

"Aku tidak akan jatuh," kata Keira.

"Kamu baru saja hampir jatuh."

"Hampir bukan berarti jatuh."

"Pilot memang selalu berdebat dengan fakta?"

Keira mencoba menarik tangan, tetapi jemari Kai hanya longgar, memberi pilihan tanpa benar-benar menjauh. Akhirnya Keira membiarkan tangan mereka tetap bertaut saat berjalan.

"Ini hanya supaya aku tidak terpeleset," katanya.

"Tentu."

"Jangan senyum begitu."

"Aku tidak senyum."

"Pembohong."

Matahari turun. Pengunjung diminta mematikan lampu ponsel dan berbicara pelan. Ketika gelap benar-benar datang, titik cahaya pertama muncul di antara semak. Lalu satu lagi. Puluhan kunang-kunang bergerak di bawah pepohonan seperti bintang yang turun terlalu rendah.

Keira berhenti di tengah jalur.

"Indah sekali."

Kai berdiri di sampingnya. "Hm."

"Kamu bahkan tidak melihat."

"Aku melihat."

"Bohong."

"Aku sedang melihat sesuatu yang lebih menarik."

Keira menoleh. "Kamu belajar gombal dari mana?"

"Bertahan hidup. Sama seperti memasak."

Mereka tertawa pelan agar tidak mengganggu pengunjung lain. Setelah kerumunan bergerak lebih jauh, Keira dan Kai mengambil jalur kecil menuju sebuah pohon tua. Bangku kayunya kosong.

Keira duduk, memeluk lutut. "Waktu kecil aku pikir pilot hidup paling dekat dengan bintang."

"Lalu setelah jadi pilot?"

"Ternyata kami lebih dekat dengan jadwal kacau, kopi buruk, dan penumpang yang melepas sabuk saat lampu menyala."

Kai duduk di sebelahnya. "Masih mencintai langit?"

"Lebih dari sebelumnya."

"Walau orang-orang di darat mencoba menjatuhkanmu?"

Keira melihat kunang-kunang yang hinggap di ujung daun. "Mereka bisa mengambil jadwalku sementara. Mereka tidak bisa mengambil kemampuanku."

Kai menatap profil wajahnya. "Itu yang membuatmu berbeda."

"Dari siapa?"

"Dari orang-orang yang hanya berani ketika ada kekuasaan di belakang mereka."

"Kamu juga berbeda," kata Keira.

"Dari Revan?"

Nama itu menipiskan kehangatan malam. Keira tidak menarik tangan dari Kai, tetapi ibu jarinya berhenti bergerak.

"Jangan jadikan dia ukuran. Standarnya terlalu rendah."

"Baik. Berbeda bagaimana?"

Keira memandang jalur yang sudah kosong. "Kamu menunggu aku pulang tanpa menuntut laporan. Kamu memasak, tapi tidak membuatku merasa berutang. Waktu aku marah, kamu tidak bilang aku berlebihan."

Kai mendengarkan tanpa menyela.

"Aku tinggal sendiri cukup lama," lanjut Keira. "Apartemen itu selalu cuma tempat tidur sebelum penerbangan berikutnya. Sekarang ada kalender jelek di kulkas, handuk yang tidak pernah kamu gantung lurus, dan orang yang menghabiskan anggaran makan tiga hari untuk satu ikan."

"Kalendernya tidak jelek."

"Gambar elangmu jelek."

"Itu karya seni."

Keira tersenyum. "Maksudku, sekarang tempat itu terasa seperti rumah. Sedikit."

Kata terakhir diucapkannya cepat, seolah bisa mengurangi makna kalimat sebelumnya.

Kai menunduk pada tangan mereka. "Aku sudah lama tidak punya tempat yang terasa seperti rumah."

"Bukankah keluargamu di Surabaya?"

"Rumah dan keluarga tidak selalu berarti hal yang sama."

Ada sesuatu di suaranya yang membuat Keira tidak mengejar. Luka yang belum diberi nama. Dia hanya menggeser jari, menggenggam tangan Kai lebih utuh.

"Kamu menyesal mengajakku tinggal?" tanya Kai.

"Setiap kali tagihan belanja datang."

"Selain itu?"

Keira menggeleng. "Tidak."

Jawaban sederhana itu menghantam Kaizan lebih keras daripada pujian apa pun di depan umum.

Keira teringat malam pesta. "Pak Kaizan juga mengatakan hal yang mirip."

"Mungkin dia pintar."

"Kamu memuji dirimu sendiri?"

"Kenapa diriku sendiri?"

"Entahlah." Keira menyipitkan mata. "Kadang suaramu mirip dia. Punggungmu mirip. Tanganmu juga..."

Kai menunggu.

"Juga apa?"

"Pria yang menarikku keluar dari ballroom menggenggam tangan dengan cara yang sama."

Angin menggerakkan daun. Satu kunang-kunang melintas di antara wajah mereka.

Kai bisa mengelak lagi. Bisa membuat lelucon, mengganti topik, atau menyalahkan gelap. Namun potongan koran di dinding Keira terbayang di kepalanya.

"Aku ini Kaizan Tanujaya," katanya.

Keira diam dua detik.

Lalu dia tertawa sampai harus menutup mulut agar tidak dimarahi penjaga taman.

"Serius?"

"Sangat serius."

"Kalau kamu Kaizan Tanujaya, aku Presiden Indonesia."

"Presiden seharusnya punya apartemen lebih besar."

Keira memukul lengannya. "Dan Kaizan Tanujaya seharusnya tidak tidur di ruang penyimpanan."

"Mungkin dia menyukai pemilik rumahnya."

Tawa Keira berhenti.

Jarak di antara mereka tiba-tiba terasa terlalu sempit.

Kai mengangkat tangan. Dia tidak langsung menyentuh. Jarinya berhenti satu sentimeter dari helaian rambut yang menempel di pipi Keira.

"Boleh?"

Keira mengangguk.

Kai menyelipkan rambut itu ke belakang telinganya. Sentuhan ringan tersebut membuat kulit Keira lebih peka terhadap udara malam, kain gaun yang menyentuh lutut, dan napas pria di depannya.

"Kei," panggil Kai.

"Hm?"

"Tentang kontrak kita."

"Kenapa?"

"Pasal tentang tidak mencampuri perasaan."

Keira menelan ludah. "Apa salah dengannya?"

"Aku rasa pasal itu mulai sulit dipatuhi."

Kunang-kunang bergerak di belakang bahu Kai. Cahaya kecil muncul dan hilang, tetapi tatapan pria itu tidak berpindah.

"Kalau kamu mau berhenti, aku bisa mundur sekarang," katanya.

Keira seharusnya mengingat mereka baru saling mengenal beberapa minggu. Seharusnya mengingat kebohongan Revan, malam di hotel, dan semua alasan untuk tidak mempercayai laki-laki lagi.

Namun Kai sudah berhenti menyentuhnya, memberi ruang untuk memilih. Tidak ada dorongan, tidak ada ancaman, tidak ada kalimat bahwa dia berutang karena pernah diselamatkan.

Keira mengangkat dagu. "Siapa bilang aku mau kamu mundur?"

Kai menarik napas pendek.

"Aku perlu mendengar jawaban yang jelas."

"Aku tidak mau kamu mundur."

Tangannya naik ke kerah kemeja Kai. Bukan menarik, hanya menahan di sana.

"Cium aku," bisiknya.

Kai menutup jarak perlahan.

Bibir mereka bertemu di bawah pohon tua, lembut dan hati-hati pada sentuhan pertama. Keira merasakan tangan Kai berhenti di sisi wajahnya. Ketika dia tidak menjauh, ciuman itu menjadi lebih dalam, tetap pelan, seolah Kai sedang mempelajari jawaban yang tidak bisa diberikan kata-kata.

Keira mencengkeram kerahnya. Jantungnya berdebar cepat, bukan karena takut. Untuk pertama kalinya setelah pengkhianatan Revan, kedekatan tidak terasa seperti jebakan.

Mereka berpisah hanya sejauh satu tarikan napas.

"Masih yakin aku bukan Kaizan Tanujaya?" tanya Kai.

Keira tersenyum, masih terengah. "Sangat yakin."

"Kenapa?"

"Kalau idolaku mencium seperti itu, semua berita penerbangan akan berubah jadi berita gosip."

Kai tertawa pelan, dahinya menyentuh dahi Keira.

Keira belum melepaskan kerahnya. "Besok kamu tidak boleh berpura-pura ini tidak terjadi."

"Aku tidak berniat begitu."

"Dan jangan menganggap satu ciuman mengubah semua aturan."

"Tidak ada aturan yang berubah tanpa persetujuan kita berdua."

Keira mencari tanda permainan di wajahnya, tetapi tidak menemukannya.

"Jadi kita ini apa?" tanyanya.

"Dua orang yang baru berciuman dan sama-sama terlalu keras kepala untuk memberi nama."

"Jawaban aman."

"Aku bisa memberi jawaban lain kalau kamu mau."

"Belum." Keira mengusap ibu jari pada kerah kemejanya. "Aku cuma ingin tahu kamu tidak melakukan ini karena kontrak atau karena merasa harus melindungiku."

Kai menutup tangannya di atas jemari Keira. "Aku menciummu karena aku menginginkannya. Aku berhenti kalau kamu meminta. Kontrak tidak punya urusan dengan itu."

Ketegangan terakhir di bahu Keira luruh. "Bagus. Karena aku juga menginginkannya."

Ponsel di sakunya bergetar satu kali. Dia mengabaikannya.

Bergetar lagi.

Keira mundur sedikit. "Mungkin penting."

Kai mengeluarkan ponsel. Pesan dari Moreno memenuhi layar.

Bos, Teguh balik lapor kamu soal suap.

Cahaya kunang-kunang masih menari, tetapi wajah Kai berubah dingin.

Keira menangkap perubahan itu dan perlahan menurunkan tangannya dari kerah Kai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!