Saat ia mengidap penyakit tumor otak pun, ayahnya tidak peduli, istri menceraikannya, dengan sisa tabungan yang ia punya, ia pergi ke rumah sakit untuk operasi, sayangnya ia mati di meja operasi.
Keajaiban pun datang, ia mendapatkan kesempatan hidup sekali lagi dan kendapatkan sistem untuk menjadi dokter hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9 Misi Baru
Tak lama kemudian, Arka mendekatkan telapak tangannya ke panel kunci digital di pintu ruangan 210.
Bip!
Cahaya hijau menyala, dan kunci pintu terbuka secara otomatis.
Ruangan studio itu terasa hangat. Ada sebuah tempat tidur berukuran sedang, dapur kecil, kamar mandi bersih, serta jendela besar yang menghadap langsung ke pemandangan garis langit kota yang dihiasi pendar lampu malam.
Arka melangkah masuk, melepas sepatunya, dan langsung melempar tubuhnya ke atas kasur yang empuk.
"Akhhhhh... akhirnya!" jerit Arka pelan membenamkan wajahnya di bantal.
Rasa dingin lantai meja jenazah di kamar mayat beberapa jam lalu seolah terhapus seketika oleh kehangatan kasur ini.
Seluruh otot di tubuhnya yang sempat tegang akibat berlari dan menerobos mobil ringsek mendadak lemes.
"Sistem..." panggil Arka dengan suara parau menatap langit-langit kamar. "Terima kasih. Walaupun kau bikin aku spor jantung sepanjang malam, setidaknya aku tidak mati konyol."
[Sistem Penyelamat Takdir beroperasi demi menjaga keseimbangan. Selamat beristirahat, Pengguna Arka. Misi Utama Gelombang Kedua akan diaktifkan besok pagi pukul 08.00 WIB.]
"Iya, iya... terserah kau besok mau kasih misi apa. Sekarang biarkan aku tidur dulu," gumam Arka yang matanya mulai terasa sangat berat.
Hanya dalam hitungan detik, napas Arka mulai teratur. Ia tertidur lelap untuk pertama kalinya sebagai manusia baru, seorang pemuda yang bangkit dari kematian demi menantang garis takdir orang lain.
...🍅🍅🍅🍅🍅...
Sinar matahari pagi menembus celah gorden Unit 210, menyapu wajah Arka yang tertidur lelap.
Bau harum aroma kayu manis dan udara bersih ruangan langsung menyambutnya begitu ia membuka mata. Jam dinding menunjukkan pukul 07.45 WIB.
Arka bangkit menduduki tepi tempat tidur, meregangkan badannya hingga terdengar bunyi krek.
"Segarnya..." gumam Arka.
Rasa lelah luar biasa dari aksi kejar-kejaran dan penyelamatan semalam hilang tanpa bekas.
Ia melangkah ke kamar mandi, membersihkan diri, dan menatap pantulan dirinya di cermin.
Wajahnya yang semalam pucat seperti mayat kini tampak segar, penuh vitalidad, dengan tatapan mata yang tajam berkat penglihatan medis dari Sistem.
Tepat saat Arka selesai membasuh wajahnya...
[Ting!]
[Waktu Menunjukkan Pukul 08.00 WIB]
[Misi Utama Gelombang Kedua Diaktifkan!]
[Target: Mengungkap Konspirasi Malpraktik & Menyelamatkan Korban Racun Lambat]
[Lokasi: Poliklinik Khusus Rumah Sakit Medika Utama]
Arka mendesah panjang sambil mengambil handuk. "Rumah Sakit Medika Utama lagi? Kau bercanda, Sistem? Tempat itu 'kan masih gempar karena kasus hantu kain kafan semalam!"
[Penjelasan Sistem: Target Misi adalah dr. Hendra, seorang dokter muda berprestasi yang sedang dijebak oleh atasannya. Ia diberi racun saraf bertahap yang akan melumpuhkannya dalam waktu 6 jam ke depan agar tidak dapat membongkar manipulasi rekam medis pasien kaya.]
Mendengar kata "manipulasi rekam medis" dan "dijebak", Arka langsung mengepalkan tangannya.
Rasa keadilan di dadanya bergejolak. Siapa pun dokter senior jahat di balik ini, jelas dia tidak menghargai profesi penyelamat nyawa.
"Baiklah," kata Arka tegas seraya menyisir rambutnya ke belakang. "Kemarin aku masuk sebagai 'mayat', hari ini aku masuk sebagai pengunjung biasa."
****
Pukul 08.15 WIB, Arka sudah berdiri di lobby utama Rumah Sakit Medika Utama setelah naik taksi.
Suasana di sana cukup riuh. Beberapa layar TV di area tunggu masih menayangkan berita tentang "Pasien Meninggal yang Bangkit Kembali", membuat beberapa petugas keamanan tampak berjaga lebih ketat dari biasanya.
Dengan mengenakan kemeja kasual yang disediakannya di lemari apartemen dan KTP barunya di dalam dompet, Arka melangkah sangat tenang.
Penglihatan medisnya aktif secara otomatis, menampilkan baris-baris data di atas kepala orang-orang yang ia lewati.
[Analisis Target - Perawat A]
[Kondisi: Kurang tidur, gaster akut]
[[Analisis Target - Satpam B]
[Kondisi: Cedera lutut lama]
Dan ia bisa melihat beberapa penyakit orang-orang di sekitarnya, tapi ada hal yang paling penting sekarang.
"Aku harus bergerak cepat," kata Arka dalam hati.