Kau adalah milikku. Jika aku tidak mendapatkannya, maka tidak siapa pun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alena Bingung
Alena masih tidak percaya dalam beberapa menit ia terbang di udara, dan sekarang mendarat di tempat yang tidak ia ketahui. Ayolah, ia baru beberapa bulan di negara asing yang benar-benar asing baginya. Mungkin sebelumnya ia pernah berlibur, tapi hanya untuk beberapa hari.
Beberapa bulan ia habiskan waktunya untuk memantau keadaan, dan itu tidaklah cukup baginya.
"Kita sudah sampai, Nona," seseorang berdiri di hadapannya. Alena hanya bisa mengangguk, ia pun berdiri dari kursinya, dan berjalan menuju pintu ke luar.
"Di mana ini?" tanya Alena.
"Hotel," jawab pria itu singkat. "Anda hanya perlu turun melalui pintu lift," Pria yang merupakan antek dari Pax segera masuk kembali ke dalam heli, tanpa memberi kesempatan pada Alena untuk bertanya lebih banyak.
Seperti yang dikatakan pria asing tadi, mereka mendarat di rooftop sebuah hotel mewah. Willson Hotel. Begitu lah yang tertulis di salah satu sudut ruangan saat Alena sudah turun di lantai dasar.
Alena segera memanggil taxi, menyebut alamat secara asal, ia tidak yakin untuk pulang ke rumahnya. Ia takut ada yang mengikutinya, jadi ia harus melindungi rumahnya. Tidak boleh ada yang tahu di mana ia berada.
Alena akhirnya berhenti di sebuah coffee shop. Bertahan di sana sampai beberapa jam dan beranjak pergi setelah yakin tidak ada yang mengikutinya.
Alena kembali menaiki taxi, meminta untuk mengantarnya ke sebuah hotel, yang menjadi rumah lainnya. Ia sudah menyewa kamar itu untuk beberapa bulan.
Ia hanya berdiam diri di kamar hotel selama beberapa hari sampai lukanya benar-benar sudah kering, dan di hari ke lima ia akhirnya kembali ke rumah yang ia beli dari Megan untuk melanjutkan pencariannya.
Alena begadang, untuk menyusun rencana dan siasat. Dari berita yang ia peroleh, Kevin juga sudah ke luar dari rumah sakit.
Meregangkan ototnya, memijat tengkuknya yang terasa sangat tegang. Ia melihat jam dinding, pukul 05.50.
"Sepertinya aku butuh lari pagi," Alena segera berdiri untuk mengganti pakaiannya.
Lari pagi yang ia katakan ternyata hanya sebatas berjalan dari rumahnya ke supermarket. Ia mengambil sebotol air mineral dan beberapa cemilan lalu duduk di luar supermarket memperhatikan orang yang lalu lalang.
Alena melambaikan sebelah tangannya begitu melihat sosok yang ia kenal.
Pollux membalas lambaian tangan Alena. Setengah berlari, ia menghampiri Alena, menarik kursi di samping wanita itu.
"Kupikir kau sudah kembali ke negaramu." Pollux menyeka keringatnya dengan handuk kecil yang berada di lehernya.
Alena menggeleng, "Sepertinya aku masih betah di sini," jawab Alena. "Bagaimana tanganmu?" Alena melirik bahu pria itu.
"Sudah lebih baik," Pollux menggerakkan tangannya menunjukkan bahwa ia memang sudah baik-baik saja, sejak perbannya dilepas. Jawaban yang benar untuk maksud pertanyaan yang berbeda.
Alena menganggukkan kepalanya, ia memperhatikan Pollux dengan seksama dan kembali ia merasakan hawa yang berbeda. Wajah pria di hadapannya ini memang terlihat datar dan minim ekspresi, tapi Alena tidak merasakan alarm bahaya sama sekali.
Apa pria ini mempunyai dua kepribadian?
Pollux menukik alisnya mendapati Alena yang sedang menatapnya secara terang-terangan. "Apa di wajahku ada sesuatu?"
Pertanyaan Pollux membuat Alena tersadar. "Akh, tidak. Maafkan aku. Kedua rumahmu terlihat berbeda. Aku penasaran kenapa rumahmu yang ini tidak kau beri sentuhan agar lebih hidup."
"Rumah?" Pollux mengernyit sesaat, tapi di detik berikutnya ia sadar bahwa Alena pasti sudah bertemu kembali dengan saudaranya, Pax. Pollux mengulum senyumnya tanpa sadar, begitu mengetahui Alena benar-benar tidak bisa membedakan keduanya.
"Ya, rumah di tengah hutan," jawaban Alena membuat Pollux menegakkan tubuhnya. Kejutan. Pax, membawa orang lain masuk ke dalam wilayah terlarang.
"Kuharap kau melupakan rumah itu," tukas Pollux dengan nada santai.
"Tentu saja." Alena menganggukkan kepalanya. "Jika kau berniat untuk memberikan sentuhan di rumahmu, aku punya seseorang yang bisa melakukannya."
Pollux tampak berpikir. Sepertinya apa yang dikatakan Alena ada benarnya. Rumah hampa itu justru akan mengingatkannya pada Maria. Walau pun wanita itu sudah tidak berarti baginya, ia tidak ingin kenangan tentang wanita itu juga membuat jiwanya ikut mati. Cukup ia kehilangan simpati terhadap makhluk yang disebut dengan wanita, jangan sampai ia kehilangan hidupnya, tidak tahu cara menikmati hidup.
Tapi yang menjadi pertanyaan, benarkah ia kehilangan simpatinya terhadap wanita? Lalu apa yang ia lakukan sekarang, menikmati paginya dengan berbincang bersama Alena, bahkan membenarkan ide wanita itu untuk memberi sentuhan di rumahnya.
"Baiklah," Pollux menyetujui saran wanita itu. "Hubungi orang yang kau maksud tadi. Aku perlu berdiskusi dengannya."
Alena mengangguk dengan wajah sumringah, "Tentu saja. Aku yakin kau akan menyukainya." Alena segera berdiri dan menjauh dari Pollux, untuk berbicara dengan Megan.
Panggilan Alena di jawab setelah deringan ketiga.
"Halo, Megan."
"Ya."
"Apa aku mengganggu tidurmu?"
"Tidak. Aku baru selesai mandi. Ada apa? Rumahmu baik-baik saja?"
"Tentu. Aku menghubungimu untuk memakai jasamu kembali. Seseorang butuh sentuhan di rumahnya, seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, aku menyarankan untuk memakai jasa dari perusahaanmu."
"Oh, Alena, aku merasa tersanjung," terdengar tawa renyah Megan dari seberang telepon.
"Tapi maaf sebelumnya, Megan. Pria ini sedikit sulit untuk ditebak, bisakah kau yang langsung turun tangan."
Kembali Megan tertawa, "Baiklah. Aku akan melakukannya."
"Terima kasih, Megan. Aku menunggumu di rumah, setelah pulang jam kantor," setelah menetapkan janji temu, Alena pun memutuskan sambungan teleponnya dan kembali menghampiri Pollux.
"Kau bekerja hari ini?" tanya Alena begitu ia duduk.
Pollux menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Aku memintanya datang setelah jam kantor selesai. Pastikan kau di rumah. Aku mau pulang dan kembali melanjutkan tidur," Alena berdiri dari tempatnya, "Bagaimana denganmu?"
Pollux melihat jam tangannya, masih cukup waktu jika ingin melanjutkan olahraga paginya. "Aku butuh satu putaran lagi," Pollux pun ikut berdiri.
"Baiklah, sampai jumpa nanti sore," pamit Alena dan segera pergi.
______________
Alena terbangun dari tidurnya begitu mendengar bel rumahnya berulang kali berbunyi. Ia mengambil ponselnya, beberapa panggilan tidak terjawab dari Megan. "Astaga," pekik Alena dan segera turun dari atas ranjang dan berlari untuk membukakan pintu.
"Oh maafkan aku," ucap Alena begitu ia berhadapan dengan Megan. "Berikan waktu lima menit, aku hanya perlu membasuh wajahku," Alena mempersilakan Megan untuk masuk. "Jika kau ingin minum, ambil saja di dalam kulkas," Alena segera berlalu.
Megan hanya tersenyum melihat tingkah wanita itu. Alena begitu ramah sehingga orang mudah merasa nyaman dibuatnya, termasuk, Megan. Pertama kali melihat wanita itu, ia langsung menyukai kepribadiannya, hingga memutuskan untuk menemani Alena secara langsung memilihkan rumah.
Lima menit kemudian, Alena keluar dengan wajah yang tampak segar. Megan pun langsung berdiri dari kursinya.
"Kita langsung pergi?"
Alena menganggukkan kepala, "Kita hanya perlu berjalan beberapa langkah dari sini. Kau pasti melihat rumah besar yang tepat di samping rumahku, bukan?"
"Ya, aku melihatnya."
"Dan kita akan ke sana," Alena mempersilakan Megan untuk ke luar terlebih dahulu.
Megan menatap rumah besar yang ada di hadapannya. Tampilannya begitu indah dari luar. Ia tidak yakin rumah itu butuh sentuhan.
"Tampilan dalamnya tidak seindah yang terlihat dari luar," ucap Alena seakan bisa membaca pikirannya.
Megan menoleh ke arahnya, "Kau menyebut pemiliknya adalah seorang pria. Kekasihmu?"
Alena tergelak seketika, " Dia seorang duda. Istilah dalam negara kami, Duren."
"Duren?"
"Duda keren," Alena kembali tergelak, karena ia yakin Megan tidak mengerti apa yang sedang ia katakan.
Keduanya berhenti di depan pintu, Alena pun segera membunyikan belnya. "Rumah mewah ini tidak memiliki pelayan. Dia hanya tinggal sendiri, dan mungkin seorang sopir. Ck! Duren yang benar-benar kesepian."
"Aku penasaran dengan wajahnya," Megan mengerling jenaka.
"Percayalah, kau tidak akan kecewa. Matamu akan dibuat segar dalam seketika," Alena menimpali dengan wajah nakal bertepatan dengan pintu yang terbuka.
Alena dan Megan kompak menoleh.
Megan terbelalak, Pollux berdiri di hadapannya masih dengan mengenakan setelan kerjanya, dengan lengan kemeja yang sudah digulung asal. Keduanya saling menatap dalam diam.
Berbeda dengan keterkejutan yang ditunjukkan Megan. "Hai," Alena melambaikan sebelah tangan dengan senyum lebar di wajahnya.
Pollux mengalihkan tatapannya pada Alena, "Masuk lah."