Putri Aurelia dari Kerajaan Oakhaven menghabiskan seluruh hidupnya seperti burung di dalam sangkar emas, terisolasi di menara kaca istana yang megah. Namun, kedamaian semu itu berakhir ketika ia menginjak usia dua puluh satu tahun. Demi menyelamatkan kerajaannya yang mulai runtuh dan menghentikan perang tiga dekade yang berdarah, Aurelia terpaksa menjadi tumbal politik. Ia harus bertunangan dengan Pangeran Cassian dari Kerajaan Valenica di Utara—seorang panglima perang yang dikenal kejam, dingin, dan dijuluki "monster medan perang."
Pertemuan pertama mereka di Aula Agung langsung memicu percikan ketegangan. Alih-alih tunduk pada intimidasi sang Pangeran yang memiliki tatapan sepekat badai, Aurelia justru menyambutnya dengan keberanian dan lidah yang tajam. Keteguhan hati Aurelia justru memikat rasa ingin tahu Cassian, yang terbiasa menghadapi kepatuhan yang membosankan.
Di balik kemegahan rencana pernikahan mereka, bahaya besar sedang mengintai. Aurelia tidak hanya harus beradaptasi dengan calon suaminya yang penuh teka-teki, tetapi ia juga harus belajar bertahan hidup di tengah dinding istana yang dipenuhi intrik politik, racun, dan pengkhianatan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa dari dunia yang bertolak belakang, yang harus memilih antara saling menghancurkan atau bersatu demi menyelamatkan sebuah kekaisaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 : Langkah Kaki di Lembah Kelam
Keberangkatan Pasukan Gabungan
Fajar menyingsing di atas ufuk Oakhaven dengan rona merah keemasan yang membelah sisa-sisa kabut pagi. Di luar gerbang utama istana, puluhan ribu prajurit telah berbaris rapi. Panji Mawar Emas Kerajaan Oakhaven berdampingan anggun dengan Panji Serigala Es Kerajaan Varencia, berkibar megah ditiup angin pagi. Suara derap langkah kaki bersenjata, ringkikan kuda perang, serta dentingan zirah besi menciptakan simfoni megah yang membakar semangat setiap jiwa yang bersiap menuju medan pertempuran.
Raja Alistair berdiri di atas menara pengawas dengan dibantu oleh dua pengawal pribadinya. Wajahnya yang kian pulih memancarkan kebanggaan mendalam saat menatap putri tunggalnya dan sang Pangeran Utara yang menunggangi kuda perang hitam di barisan terdepan. Aurelia mengenakan zirah perak berukirkan kelopak mawar gold, dengan jubah beludru merah melambai di punggungnya. Di sampingnya, Cassian tampak bagai dewa perang Utara dengan zirah baja es tebal dan pedang greatsword kelabu terikat mantap di punggungnya.
"Jagalah dirimu, putriku. Bawalah kedamaian kembali ke tanah kita," bisik Raja Alistair pelan saat terompet tanduk perang ditiup melengking, menandai dimulainya pergerakan Ekspedisi Selatan.
Pasukan besar itu bergerak meninggalkan ibu kota Oakhaven, menyusuri jalan berbatu menuju arah perbatasan Lembah Obsidian. Sepanjang perjalanan melewati desa-desa di wilayah selatan, warga keluar dari rumah-rumah mereka untuk memberikan penghormatan dan doa. Mereka melempar kelopak bunga mawar ke jalur yang dilalui Aurelia dan Cassian, menyuarakan harapan baru setelah bertahun-tahun hidup dalam kecemasan di bawah bayang-bayang ketakutan.
*•*
*•*
Menembus Hutan Kabut Hitam
Tiga hari perjalanan berlalu dengan cepat. Lanskap tanah Selatan yang sebelumnya hijau dan subur perlahan-lahan berubah menjadi gersang dan gelap saat mereka mendekati perbatasan Lembah Obsidian. Pohon-pohon rindang berganti menjadi batang-batang kayu mati berkulit hitam yang meliuk aneh bagaikan jemari raksasa yang memohon pertolongan. Udara yang hangat kini berangsur-angsur menjadi lembap, dingin, dan berbau belerang menyengat.
"Kita telah memasuki wilayah Hutan Kabut Hitam," ujar Panglima Kaelen seraya merapatkan kuda perangnya di sebelah Cassian. "Menurut peta tua Oakhaven, hutan ini adalah benteng alami pertama yang melindungi Benteng Obsidian. Kabut di sini dikenal mengandung ilusi yang bisa menyesatkan pikiran prajurit yang lemah."
Cassian mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar seluruh barisan memperlambat laju kuda dan mengetatkan perimeter keamanan. "Keluarkan obor sihir pemurni Varencia. Jangan ada prajurit yang terpisah dari kelompoknya. Tetap dalam formasi penyerang!"
Aurelia menggenggam erat tali kekang kudanya. Matanya yang tajam mengawasi pepohonan di sekeliling mereka. Kabut tebal berwarna abu-abu kehitaman mulai merayap dari balik semak-semak mati, menutupi pandangan mata hingga jarak hanya beberapa meter. Suara bisikan-bisikan aneh yang sayup-sayup mulai terdengar di antara desir angin, menyuarakan nama-nama prajurit dan bayangan masa lalu yang kelam.
"Aurelia, fokus pada detak jantungmu," bisik Cassian lembut seraya meraih jemari Aurelia yang memegang kekang. "Sihir ilusi Malakor memanfaatkan ketakutan terbesarmu untuk menghancurkan pikiranmu dari dalam."
Aurelia memejamkan mata sejenak, menghirup napas dalam-dalam, lalu membuka matanya kembali dengan tekad yang bulat. "Aku tidak takut lagi, Cassian. Dulu aku takut kehilangan Ayah dan tanah airku. Tapi kini, di sisimu, tidak
ada kegelapan yang bisa mengoyak tekadku."
*•*
*•*
Serangan Bayangan Nightstalker Malakor
Tiba-tiba, suara jeritan kencang memecah kesunyian hutan. Di barisan tengah pasukan Oakhaven, beberapa prajurit terlempar dari atas kuda mereka setelah dihantam oleh bayangan-bayangan hitam yang bergerak sangat cepat di dalam kabut. Bayangan itu bukan manusia, melainkan makhluk rawa bersenjata taring dan cakar besi—serigala bayangan ciptaan sihir gelap Malakor.
"Serangan musuh! Tahan posisi!" teriak para perwira barisan depan.
Cassian mencabut greatsword-nya dalam satu hentakan kuat. Mata pisau baja es itu mendengung keras, memancarkan cahaya biru dingin yang mendadak menerangi kegelapan hutan dan memotong kabut hitam di sekeliling mereka. Dengan satu tebasan mendatar, Cassian menerjang dua serigala bayangan yang melompat ke arahnya, membelah tubuh monster-monster itu menjadi uap hitam tak berdaya.
Aurelia melompat turun dari kudanya dengan kelincahan yang memukau. Ia mencabut pedang tipis berukir milik kerajaan dan bertarung bahu-membahu dengan para prajurit Oakhaven. Ketika seekor makhluk bayangan mencoba menerkam seorang prajurit muda yang terjatuh, Aurelia melesat maju, menghujamkan pedangnya tepat ke jantung bayangan tersebut hingga makhluk itu melengking kesakitan dan musnah menjadi debu.
"Formasi Lingkaran Cahaya!" seru Aurelia kepada para penyihir istana Oakhaven yang ikut dalam rombongan. "Gunakan sihir api suci untuk membakar kabut ini!"
Para penyihir Oakhaven mengangkat tongkat kayu mereka serentak. Lingkaran sihir berwarna keemasan merekah di atas tanah, memancarkan gelombang cahaya hangat yang membakar kabut hitam di sekitar mereka dan menghancurkan puluhan serigala bayangan yang tersisa. Dalam hitungan menit, pertempuran singkat namun menegangkan di dalam hutan berhasil dimenangkan oleh pasukan gabungan
*•*
*•*
Gerbang Lembah Obsidian
Setelah menembus Hutan Kabut Hitam yang mencekam, pasukan gabungan akhirnya tiba di mulut tebing terjal yang menandai awal dari Lembah Obsidian. Di hadapan mereka, membentang sebuah lembah raksasa berbatu hitam tajam dengan jurang-jurang tanpa dasar di sisi kiri dan kanan. Di ujung lembah tersebut, berdiri megah sebuah benteng kuno berdinding batu hitam kelam dengan menara-menara tinggi yang memancarkan aura sihir merah darah ke udara malam—Benteng Obsidian, sarang Lord Malakor.
Cassian dan Aurelia berdiri di tepi tebing, memandang ke arah benteng yang tampak begitu angker di bawah naungan awan merah kehitaman. Suara dentuman drum perang ghaib terdengar bergema dari dalam benteng musuh, seolah-olah menyambut kedatangan mereka.
"Malakor tahu kita telah tiba," kata Cassian, memicingkan matanya menatap puncak menara benteng. "Dia menantikan kita."
"Dia berpikir kita akan gemetar di hadapan kekuatannya," sahut Aurelia, menggenggam gagang pedangnya rapat-rapat. "Tapi dia tidak tahu bahwa pasukan Utara dan Selatan telah bersatu. Kita akan menghancurkan benteng itu dan mengakhiri kegelapan ini untuk selamanya."
Cassian berpaling menatap istrinya, sebuah senyuman tipis dan penuh kebanggaan terukir di wajahnya yang tampan. "Malam ini kita beristirahat dan mendirikan perkemahan di sini. Esok, saat fajar menyingsing, kita akan meruntuhkan gerbang Benteng Obsidian dan menghadapi Lord Malakor demi masa depan benua ini."
Aurelia mengangguk mantap. Perjalanan panjang yang mereka tempuh sejak melarikan diri dari pembunuhan paman tiran kini telah membawa mereka ke ambang pertempuran akhir. Dengan keberanian yang membara dan ikatan cinta yang tak tergoyahkan, Cassian dan Aurelia siap memimpin pasukan mereka menembus kegelapan.
*•*
*•*
*•*
*•*
*•*
ehh iya kalo ada waktuu mampir jugaa yaa ke novel kuu "Tak Semua Tangis Memiliki suara"