Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Pagi hari tiba di kamar VVIP Rumah Sakit As-Syifa.
Cahaya matahari pagi mulai berebut masuk melalui celah gorden yang sedikit terbuka, memantulkan berkas sinar di atas lantai marmer.
Namun, kehangatan fajar itu terasa sangat kontras dengan atmosfer di dalam kamar yang tetap dingin, sunyi, dan mencekam.
Di atas ranjang, kelopak mata Diaz bergerak perlahan.
Ia mulai membuka matanya, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya lampu yang menusuk indra penglihatannya.
Kepalanya masih terasa sangat berat dan pusing—efek dari sisa obat penenang dosis tinggi yang mengalir di tubuhnya semalaman.
Hal pertama yang ia rasakan saat kesadarannya pulih bukanlah rasa nyaman, melainkan sensasi mati rasa dan keterbatasan gerak yang aneh pada kedua tangannya.
Diaz mencoba menggerakkan lengan kanannya untuk menyentuh kening, namun tertahan.
Ia mencoba menggerakkan tangan kirinya, hasilnya sama.
Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri secara patah-patah.
Detik itu juga, dadanya seperti dihantam ombak besar.
Kedua pergelangan tangannya telah terikat kaku oleh kain restraint medis berwarna putih, terkunci rapat pada pagar besi di sisi kanan dan kiri ranjang mewah tersebut.
Rasa terhina, terkurung, dan panik yang teramat sangat seketika menyerang mental Diaz yang memang sudah rapuh.
Napasnya mendadak memburu pendek-pendek, memicu alat pemantau jantung di dekatnya berbunyi dengan ritme yang cepat dan nyaring.
Air mata Diaz spontan meleleh di sudut matanya. Ia merasa direndahkan ke titik paling bawah dalam hidupnya.
Aku diikat? Kenapa aku diperlakukan seperti ini? Apa mereka pikir aku sudah gila karena kabur dari pernikahan? batin Diaz menjerit histeris, tubuhnya mulai meronta kecil mencoba melepaskan diri, namun ikatan itu justru terasa semakin menjerat.
Ceklek.
Pintu kamar VVIP bergeser terbuka. dr. Fahmi melangkah masuk dengan jubah putih dokter dan stetoskop yang mengalung di lehernya, bermaksud untuk memeriksa kondisi klinis pasiennya di awal sif pagi ini.
Melihat Diaz yang sudah sadar dan mulai gelisah, dr. Fahmi melangkah mendekat dengan langkah tenang.
"Selamat pagi, Mbak Diaz. Alhamdulillah, sudah sadar? Saya periksa tensi dan denyut nadinya sebentar, ya," ucap dr. Fahmi ramah, sambil mengulurkan tangan hendak menyentuh pergelangan tangan Diaz.
"Jangan sentuh saya!" pangkas Diaz dengan suara yang serak, kering, dan bergetar hebat.
Ia menarik lengannya sekuat tenaga, membuat rantai besi ranjang berdenting pelan.
Diaz menolak mentah-mentah diperiksa sebelum ikatannya dilepas.
Ia mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata dr. Fahmi.
Di dalam sepasang mata sembap itu, tidak ada lagi riak emosi yang meledak-ledak; yang ada hanyalah tatapan yang sangat dingin, kosong, namun sarat akan permohonan yang menyayat hati.
"Tolong lepaskan saya, Dok..." bisik Diaz, suaranya tercekat di tenggorokan, menahan sesak yang luar biasa di dadanya.
"Saya mohon, lepaskan ikatan ini. Saya bukan orang gila."
"Semalam Anda mengigau hebat dan mencoba mencabut selang infus secara paksa. Demi keselamatan medis Anda, saya terpaksa mengizinkan perawat mengikat tangan Anda," ucap dr. Fahmi dengan nada selembut mungkin, berusaha memberikan pengertian.
Melihat sorot mata Diaz yang begitu terluka, dr. Fahmi akhirnya menghela napas panjang.
Beliau memberi isyarat kepada perawat yang berjaga di dekat pintu.
"Baik, kita lepas ikatannya sekarang. Tapi tolong, Mbak Diaz jangan banyak bergerak dulu, ya."
Kedua pergelangan tangan Diaz akhirnya bebas dari kekangan kain restraint.
Begitu ikatan itu lepas, Diaz langsung menarik kedua tangannya ke atas dada, memeluk dirinya sendiri seolah sedang mengumpulkan kembali sisa-sisa harga dirinya yang tercecer. dr. Fahmi kemudian melanjutkan pemeriksaan klinisnya dengan telaten.
"Kondisi fisik Anda berangsur stabil, tapi tensi Anda masih sangat rendah. Anda harus banyak istirahat dan makan yang banyak. Jangan melewatkan jadwal obat," pesan dr. Fahmi sebelum berpamitan. Diaz hanya menganggukkan kepalanya lemah, tanpa niat menyahut.
Begitu dr. Fahmi dan perawat meninggalkan ruang perawatan, atmosfer kamar kembali sunyi.
Ganda, yang sejak semalam terjaga tanpa memejamkan mata sedikit pun, perlahan bangkit dari sofa.
Pakaian jas basofinya sudah sangat kusut, rambutnya berantakan, dan gurat kelelahan tercetak jelas di wajah tampannya.
Ada binar lega yang begitu kentara di mata sang anak kiai saat melihat Diaz akhirnya sadar.
Namun, binar itu langsung sirna seketika begitu ia menangkap tatapan mata Diaz yang kosong dan sedingin es.
Tanpa basa-basi, Diaz menatap lurus ke langit-langit kamar yang putih, lalu perlahan mengalihkan pandangannya pada Ganda.
Dengan suara yang sangat serak, ia langsung melayangkan tuntutan yang membuat jantung Ganda seolah berhenti berdetak.
"Ceraikan aku, Ganda."
Ganda tertegun, lidahnya mendadak kelu saat mendengar perkataan dari istrinya.
Diaz membuang muka, menegaskan kalimatnya dengan nada datar tanpa riak emosi.
"Kamu tidak perlu merasa terbebani dengan kejadian kemarin. Kamu tidak punya utang budi apa pun padaku, Ganda. Dan, aku tidak mau punya utang budi atau utang nyawa ke kamu. Kita cerai baik-baik."
"Diaz, dengarkan aku dulu—"
"Kembalilah pada Laura," potong Diaz cepat, menatap Ganda dengan sisa-sisa kekuatannya.
"Kembalikan kebebasanku yang sudah terenggut sejak subuh kemarin. Biarkan aku pergi."
Mendengar penolakan yang begitu mutlak, ego dan pertahanan Ganda yang biasanya sekokoh karang kini goyah sepenuhnya.
Ada rasa tidak rela yang amat besar bergejolak di dadanya.
"Pernikahan kita sah di mata Allah, Diaz! Aku mengucapkan rida atas dirimu bukan untuk sehari dua hari," ucap Ganda, suaranya memberat, mencoba menahan gejolak emosi.
"Aku ingin bertanggung jawab penuh atas hidupmu sebagai suamimu, bukan lagi sekadar karena utang budi!"
Namun, melihat keras kepalanya Diaz yang tetap bersikeras ingin pergi dan mengabaikan semua ucapannya, Ganda tidak punya pilihan lain.
Ia terpaksa mengeluarkan kartu terakhirnya demi menahan sang istri—sebuah kenyataan pahit yang ia ketahui semalam.
"Kamu mau kembali ke mana, Diaz? Ke rumah mamamu?" tanya Ganda, nadanya beralih menjadi dingin namun dalam.
"Lalu sujud di bawah kaki Bramasta seperti yang diminta mamamu di pesan WhatsApp semalam? Kamu mau menyerahkan dirimu pada pria bajingan yang sudah mengancam dan mengasari kamu di restoran itu?!"
Deg.
Mendengar nama pria bajingan itu disebut secara gamblang oleh Ganda, tubuh Diaz mendadak kaku.
Rahangnya bergetar hebat. Sepasang matanya membelalak menatap Ganda dengan rasa syok yang luar biasa.
Rahasia terkelam, keputusasaan, dan aib keluarganya yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat, kini telah ditelanjangi seutuhnya di depan pria asing yang statusnya adalah suaminya.
"Aku tahu semuanya, Diaz," lanjut Ganda, suaranya melunak, menatap Diaz dengan tatapan penuh perlindungan.
"Aku tahu tentang ancaman kebangkrutan perusahaan peninggalan almarhum ayahmu. Aku tahu papanya Bramasta memutus kontrak kerja sama. Jangan takut, aku bersedia membereskan semuanya. Aku akan bantu memulihkan bisnis ayahmu."
Bukannya tersentuh atau merasa terselamatkan, Diaz justru tertawa getir.
Suara tawanya terdengar sangat menyayat hati di tengah air matanya yang mulai luruh membasahi pipi.
Alih-alih takut rahasianya terbongkar, Diaz kini telah berada di titik total numbness—mati rasa yang sesungguhnya. Jiwanya sudah terlalu lelah untuk peduli.
"Aku sudah tidak peduli lagi dengan hidupku, Ganda," ucap Diaz dengan nada pasrah yang terdengar sangat mengerikan di telinga Ganda.
"Mau rumah disita bank, mau perusahaan hancur, aku sudah tidak peduli. Aku capek..."
Diaz menatap tajam ke dalam manik mata Ganda, lalu mengeluarkan kalimat paling beracun yang seketika meremukkan mental sang anak kiai:
"Mungkin, dengan aku mati, semuanya akan jauh lebih tenang. Mama tenang karena bisa dapat uang asuransi kematianku, Bramasta puas karena aku lenyap dari dunia ini, dan, kamu bisa hidup bahagia tanpa beban dengan Laura."
"Diaz!! Jaga ucapanmu!" potong Ganda dengan suara bergetar hebat.
Kalimat "Mungkin dengan aku mati" dari bibir Diaz menghantam mental Ganda dengan sangat keras, menimbulkan rasa takut terbesar yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Pria yang biasanya selalu menguasai keadaan dan dihormati ribuan santri itu kini dilingkupi ketakutan luar biasa: melihat belahan jiwanya kehilangan seluruh keinginan untuk hidup.
Bruk.
Lutut Ganda melemas. Tanpa memedulikan harga dirinya lagi, Ganda bersimpuh di lantai marmer, tepat di samping ranjang Diaz.
Ia meraih dan menggenggam erat kedua telapak tangan Diaz yang kini sudah bebas dari ikatan kain.
Ganda mengecup jemari itu sekilas, lalu menyandarkan keningnya di sana.
"Aku mohon, jangan menyerah pada takdir, Diaz. Jangan katakan hal mengerikan itu lagi," bisik Ganda lirih, suaranya serak menahan tangis yang nyaris pecah.
Namun, Diaz tidak merespons. Ia hanya memalingkan wajahnya ke arah lain, menatap kosong ke luar jendela rumah sakit, membiarkan suaminya bersimpuh dalam kehancuran ego.
Ganda mendongak, menatap wajah samping Diaz dengan tatapan memohon yang teramat sangat.
"Berikan aku persyaratan apa pun, Diaz. Apa pun syaratnya akan aku penuhi, asalkan kamu tetap tinggal dan tetap menjadi istriku."
😡😡😡😡😡😡😡😡
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡