“Anda sudah gila?!” Nasya menutup bibirnya menggunakan kedua tangannya.
“Kegilaan yang menguntungkan bukan? Hanya sebatas kontrak saja. Saya tidak akan menggunakan status suami untuk menyentuhmu,” ujar Elgan dan mendekat ke telinga Nasya. “Rasanya tidak sudi juga jika bukan karena terpaksa.” Elgan menjauh setelah berbisik.
Elgan memberikan kartu namanya. Kemudian, dia meninggalkan Nasya yang masih mematung dengan menggenggam pemberiannya tadi. Nasya menggemnya erat, air matanya terus saja mengalir, semakin deras seperti hujan malam ini.
“Kenapa semuanya begitu menyedihkan? Dikhianati pujaan hati yang katanya berjanji akan menikahi dan sekarang apa? Nikah kontrak? Begitu menyakitkan menjadi miskin. Tidak ada pilihan, meski ingin memilih,” batin Nasya meratapi hidupnya.
Bagaimana kelanjutan kisah rumit ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cacctuisie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTIKCD - Tiba-tiba Hadiah
Pagi hari yang sangat bersemangat untuk Nasya. Bangun tidur dia segera merapikan dan membersihkan kamar. Membuka tirai jendela yang disuguhkan dengan pemandangan yang menyejukkan. Nasya membuka jendela, menghibur udara segar yang menyeruak. Tak lupa melakukan peregangan ringan.
Nasya memeriksa ponselnya. Benar saja hari ini ada acara makan bersama di rumah mertuanya. Acara ini tak lain ajakan dari kakek Elgan yang telah lama ingin berkumpul. Sejak pernikahannya, Nasya hanya sekali ke sana. Sedikit gugup untuk bertemu dengan keluarga yang tidak sepenuhnya menerimanya. Bahkan, hanya satu saja yang menyetujuinya yakni sang kakek.
“Apa yang akan dilakukan mama mertua kali ini, ya? Apa dia tidak akan menjaga sikapnya meski ada kakek?” Nasya bergumam dengan menikmati pemandangan.
Nasya menghela napas panjang. Tepat saat ponselnya berdering. Nama di layar ponsel orang yang amat dikenalnya. Nasya tidak lupa, tapi juga tidak ingin menghapusnya. Meskipun, perbuatannya sangat menyakitkan. Masih ada kenangan baik yang sangat Nasya ingat.
“Maaf, aku gak mau angkat panggilan kamu, Cika. Aku rasa kita cukup seperti ini. Tanpa menyapa dan jangan bertemu,” ujar Nasya.
Tidak ingin berlarut karena orang yang pernah menjadi bagian bahagia bersama. Nasya meletakkan ponselnya di atas meja rias. Kembali melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selepas ini, dia akan sarapan. Tentunya seperti biasa sendiri karena tidak mungkin suaminya menemaninya. Tidur saja masih sendiri, Nasya selalu ingat jika hubungannya sebatas kontrak nikah saja.
Ketika ponsel itu ditinggalkan. Entah berapa kali sudah berdering. Terakhir kalinya hanya satu notifikasi yang menandakan pesan masuk. Tak lama, kebiasaan Elgan yang merasa dirinya mengendalikan semuanya di rumah ini. Masuk ke kamar Nasya tanpa mengetuk sambil membawa sesuatu di tangannya.
“Dia lagi mandi?” Elgan meletakkan barang bawaannya di dekat ponsel Nasya.
Bukannya beranjak, Elgan yang penasaran menuju ruang ganti. Dia buka lemari Nasya yang didapati pakaian lamanya. Bahkan, isi lemari itu pun tidak penuh. Bukan hanya itu, tempat untuk meletakkan entah itu perhiasan, jam, dan lainnya masih kosong.
“Bagaimana bisa dia menjalani hidup semacam ini? Ruangan ini tampak seperti tak berpenghuni karena tidak ada yang menarik,” gumam Elgan lalu meninggalkan ruangan tersebut.
Tepat depan kamar mandi Nasta saat Elgan hendak melangkah. Tiba-tiba pintu terbuka, sedangkan Nasya sedang membenarkan handuknya. Saking terkejutnya melihat keberadaan Elgan di depannya. Hampir saja handuknya terlepas. Tanpa sengaja karena refleks, Elgan ikut memegangi handuk tersebut takut jika terjatuh.
Kata Nasya membelalak ketika Elgan menyentuh sesuatu yang tak seharusnya. “Aaa LEPASIN!” pekik Nasya sekerasnya.
Elgan langsung melepaskan handuk itu. Dia pun tidak sadar jika tangannya pas sekali menyentuhnya. Nasya menatap kesal Elgan dan mengisyaratkan agar Elgan segera keluar. Namun, Elgan yang tidak peka malah menaikkan alisnya.
“Aku gak sengaja, daripada handuknya jatuh gimana? Bukannya makin parah, ya? Atau kamu memang sengaja,” ujar Elgan yang sebenarnya menahan gugup, entah perasaan apakah itu.
“Sengaja apanya? Keluar pokoknya keluar!” pinta Nasya lumayan ngegas.
Elgan pun menurut dan keluar dari kamar Nasya. Dengan keadaan yang malu bukan main, Nasya memegangi pipinya yang terasa mulai panas. Ternyata ada degupan yang tak bisa dijelaskan. Tatapan Elgan barusan sangat berbeda dari biasanya.
“Terserah deh ngapain juga masuk-masuk orang gak liat apa kalau aku lagi gak di sekitar kamar. Masa iya gak tahu kalau lagi mandi? Padahal suara air kan kedengeran,” gerutu Nasya sambil menghentak-hentakkan kakinya menuju ruang ganti.
***
“Mau ke mana?” tanya Elgan yang bersamaan dengan Nasya yang mau sarapan.
“Sarapan, aku sudah lapar,” jawab Nasya seraya melanjutkan langkahnya meninggalkan Elgan.
Elgan merasa ada yang aneh. Berani-beraninya Nasya meninggalkannya saat dirinya belum selesai bicara. Elgan pun mengikuti langkah Nasya ke meja makan. Hari ini Bik Jum yang menyiapkan sarapan. Dan tugas Nasya hanya membantu saja walau kadang Bik Jum tidak ingin Nasta ikut turun tangan.
Semenjak hanya Bik Jum saja yang bekerja, Nasya ada pekerjaan. Jika tidak bersih-bersih rumah, ya memasak. Meski hanya kadang saja masakannya dimakan oleh Elgan karena terkadang dia sudah makan di luar. Bahkan, ketika Nasya masak pun Elgan tidak bisa membedakan antara masakan Bik Jum maupun Nasya lantaran keduanya tidak pernah makan bersama. Jadi, Elgan hanya menikmati saja.
“Aku belum sarapan.” Elgan ikut duduk dan mengambil piring yang diserahkan kepada Nasya.
“Mendadak mau makan bareng,” sindri Nasya dengan suara lirih.
“Aku bisa dengar,” sahut Elgan.
Nasya tak menjawab dan mengambilkan makanan untuk Elgan. Tidak ada suara hanya fokus pada makanan masing-masing. Meskipun, ada rasa penasaran dari Elgan. Tidak ada reaksi apapun yang didapatkannya. Padahal, ada sesuatu yang ditinggalkannya di kamar Nasya.
Sedangkan, Nasya hanya melirik-lirik jika sempat. Akan tetapi, Nasya merasa sedang diperhatikan. “Aku duluan.” Nasya benar-benar melangkah pergi.
Setibanya di kamarnya. Nasya yang hendak mengambil ponselnya terbagi fokus pada sebuah bingkisan. Dia tidak memperhatikan arah sini. Dengan penasarannya, Nasya mengeceknya terlebih dahulu. Memastikan bahwa ini memang untuknya.
“Kalau ada dikamar ini, berarti milik ku, ‘kan? Ini hadiah atau apa? Pake dibungkus segala,” batin Nasya membolak-balik barang yang dipegangnya.
Nasya membuka bingkisan tersebut. Matanya terbelalak dengan baju terusan yang sangat indah dan elegan. Nasya menuju cermin yang berada di ruang ganti. Mencoba mengelakkan pada badannya. Senyuman terukir jelas seraya memandangi dirinya di pantulan cermin.
“Pasti dipakai untuk malam nanti. Pas banget, gak kegedean dan gak kekecilan. Makanya, waktu makan tadi kayak nunggu aku ngomong. Mana tahu kalau udah ada pakaian yang udah disiapin.” Nasya kembali meletakkan pakaian barunya di atas ranjang sambil bersenandung.
Setelah itu, Nasya mengecek ponselnya yang sejak tadi tak tersentuh. Baru pertama melihat layar ponsel, mata Nasya terbelalak sempurna ketika pesan Cika yang mengejutkan. Tangan Nasya gemetar dan rasa takut mulai tiba. Nasya segera menelpon Cika pengecualian karena kejadian yang tak diinginkan terjadi. Jika tidak ada peristiwa yang mendadak begini, Nasya juga tidak ingin menghubungi.
“Kamu dimana? Aku mau ke sana?” tanya Nasya tanpa basa-basi keluar dengan tergesa-gesa.
Elgan yang sedang membaca buku di sofa ruang tamu terkejut melihat Nasya berlari. Bahkan, menuruni tangga pun tidak berhati-hati. Elgan yang terlihat pun tidak dihiraukan sama sekali. Hanya ada ketergesa-gesaan dan raut wajah khawatir. Elgan yang hendak bertanya mengurungkan niatnya karena lebih cepat langkah Nasya keluar dari rumah.
“Ada apa dengannya? Kenapa tidak pamit maupun mengatakan sepatah kata saat aku ada disini? Apakah tidak terlihat?” gumam Elgan.