Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22 - Jangan Disentuh
Darah Adnan seketika mendidih dan membeku di saat yang bersamaan. Jantungnya berpacu liar hingga nyaris melompat keluar dari rongga dada. Di sana, di seberang jalan, tepat di depan gerbang rumah tetangga, berdiri dua sosok yang tak mungkin ia lupakan, Gladys dan Bastian.
Wanita itu berdiri tegak dengan jubah hitam yang kini tersembunyi di balik pakaian formal yang rapi, namun tatapan matanya tetap sama, tajam dan dingin, seolah mampu menembus dinding jiwa. Sementara di sampingnya, Bastian berdiri dengan tangan di saku celana, entah apakah jari-jarinya sedang memegang gagang pisau yang sama seperti semalam.
Mereka tidak bergerak. Hanya berdiri diam, menatap lurus ke arahnya.
Adnan tidak berpikir dua kali. Ia langsung melompat masuk ke dalam mobil, menutup pintu dengan bunyi bantingan yang keras, dan memutar kunci kontak secepat kilat. Mesin mobil menderu hidup, dan tanpa menunggu Liza sempat menutup pintu penumpang sepenuhnya, dia langsung menginjak gas hingga dalam.
"Eh! Apa-apaan ini?!" seru Liza, tubuhnya terhuyung ke belakang karena sentakan mobil yang tiba-tiba melaju kencang.
Adnan tidak menjawab. Matanya terpaku pada kaca spion tengah. Ia melihat sosok Gladys dan Bastian perlahan semakin menjauh di belakang sana, namun mereka tidak bergerak mengejar. Mereka hanya berdiri diam, membiarkannya pergi.
Pemandangan itu justru jauh lebih mengerikan daripada jika mereka langsung berlari mengejarnya. Seolah-olah mereka sengaja membiarkannya tahu bahwa mereka tahu di mana dia berada, dan kapan pun mereka mau, mereka bisa datang menjemputnya kapan saja.
Napas memburu, keringat dingin kembali membasahi punggungnya. Ia mempercepat laju mobil, menjauh dari kawasan itu secepat mungkin.
Sepanjang perjalanan menuju kampus, suasana di dalam mobil terasa berat dan hening. Adnan terus melirik kaca spion berkali-kali, memastikan tidak ada mobil yang mengikuti dari belakang. Tubuhnya tegang seolah senar yang ditarik terlalu kencang, siap putus kapan saja.
Liza yang duduk di kursi belakang menyadari kegelisahan yang luar biasa itu. Ia menatap punggung Adnan dengan dahi berkerut, bingung melihat perubahan drastis sikap pria itu. Dari yang tenang sejenak lalu, kini berubah menjadi seseorang yang ketakutan setengah mati seolah sedang dikejar maut.
Pandangan Liza kemudian jatuh ke kursi kosong di sebelahnya, tempat tas kamera Adnan tergeletak tidak tertutup rapat. Sudut tas itu terbuka, memperlihatkan sebagian benda hitam legam yang tampak tua dan kusam. Rasa penasaran mendorongnya mendekat. Tangannya perlahan meraih benda itu dan mengeluarkannya sepenuhnya.
Kamera itu terasa aneh di tangannya. Dingin, berat, dan terlihat kuno, seolah bukan berasal dari zaman sekarang. Kulit bungkusnya sudah mengelupas di beberapa bagian, dan ada ukiran samar yang tidak dikenalnya di sisi bodi kamera, seperti bentuk tanduk melengkung yang sangat kecil dan nyaris tak terlihat.
Dengan rasa ingin tahu yang memuncak, Liza menekan tombol daya. Layar kecil itu menyala, dan tanpa sengaja ia menekan tombol putar. Suara yang keluar dari pengeras suara kecil itu membuat bulu kuduknya merinding, gumaman-gumaman rendah yang tidak dia mengerti bahasanya, bercampur dengan suara desahan yang terdengar menyakitkan sekaligus nikmat. Gambar bergerak di layar itu menampilkan cahaya lilin yang berkedip, bayangan-bayangan yang bergerak tak wajar, dan di tengah kegelapan itu, sesuatu yang tinggi besar dengan mata merah menyala.
"Apa ini..." bisik Liza pelan, matanya membelalak ngeri.
Belum sempat ia menekan tombol berhenti, mobil tiba-tiba mengerem mendadak hingga Liza hampir terlempar ke depan. Adnan memutar setir dengan kasar, menepikan mobil ke pinggir jalan yang sepi, lalu mematikan mesin.
Ia berbalik dengan wajah yang seputih kertas, matanya melotot penuh kepanikan. Saat melihat kamera itu ada di tangan Liza, jantungnya seolah berhenti berdetak.
"KEMBALIKAN!" seru Adnan dengan suara parau yang meledak tiba-tiba.
Tanpa menunggu izin, dia langsung menyambar kamera itu dari tangan Liza dengan gerakan kasar dan cepat, seolah benda itu adalah barang terlarang yang tak boleh disentuh siapa pun. Ia memeluk kamera itu ke dadanya, matanya menatap gadis itu dengan penuh kewaspadaan dan ketakutan yang meluap, napasnya tersengal hebat.
Liza terdiam mematung di tempat, tangannya masih terulur ke depan dalam posisi yang baru saja dirampas benda itu. Wajahnya pucat, matanya menatap Adnan dengan tatapan bingung, terkejut, dan perlahan berubah menjadi kesal.
"Apa masalahmu sih?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar, campuran antara keterkejutan dan rasa tersinggung. "Aku cuma melihat-lihat sebentar. Itu kamera mahal atau apa? Sampai segitunya?"
Adnan menyadari reaksinya berlebihan, namun ia tidak peduli. Keamanan rekaman itu jauh lebih penting daripada perasaannya. Ia menyembunyikan kamera kembali ke dalam tas, menguncinya rapat-rapat, lalu meletakkannya di sebelah kursi pengemudi, jauh dari jangkauan siapa pun.
"Maaf..." suaranya masih berat dan tegang, matanya tidak berani menatap mata Liza. "Tapi... jangan sentuh barang itu. Tolong."
Liza melipat tangannya di dada, bibirnya mencebik menahan kekesalan. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap punggung Adnan dengan tatapan menyelidik.
"Kau aneh sekali pagi ini," katanya ketus. "Tadi lemas tak bertenaga, lalu tiba-tiba lari terbirit-birit seolah ada hantu, dan sekarang... meledak-ledak cuma gara-gara kamera tua murahan itu. Apa sebenarnya yang kau sembunyikan di dalamnya?"
"Tidak ada," potong Adnan cepat, terlalu cepat hingga terdengar mencurigakan. "Itu... barang peninggalan orang tua. Sangat berharga bagiku. Aku tidak mau itu rusak."
Alasan itu terdengar lemah, bahkan bagi telinganya sendiri. Liza tentu saja tidak mempercayainya sepenuhnya. Ia masih menatapnya dengan curiga, matanya menyipit, seolah sedang berusaha membaca kebohongan di balik wajah pucat pria itu. Namun melihat betapa gugup dan ketakutannya Adnan, ada sesuatu yang membuatnya mengurungkan niat untuk bertanya lebih jauh. Entah itu rasa kasihan atau insting bahwa ada hal yang lebih baik tidak diketahui.
"Baiklah," ucap Liza akhirnya dingin, kembali bersandar di kursinya dan memalingkan wajah ke jendela. "Aku tidak akan menyentuh barang sampahmu itu lagi. Tenang saja."
Suasana hening kembali menyelimuti mobil, namun kali ini terasa jauh lebih kaku dan canggung. Adnan menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. Ia tahu ia baru saja membuat Liza kesal. Namun ia tidak punya pilihan. Jika gadis itu melihat lebih jauh, jika ia melihat sosok bertanduk itu dengan jelas. Adnan tidak tahu apa yang akan terjadi. Bahkan ia takut membayangkannya.
Dengan hati yang masih berdebar, Adnan menyalakan kembali mesin mobil dan melaju perlahan menuju kampus.