NovelToon NovelToon
DI BALIK TOPENG KEBENARAN

DI BALIK TOPENG KEBENARAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.

Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?

Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: DENDAM YANG BERCAMPUR RASA YANG DILARANG

...BAB 7...

...DENDAM YANG BERCAMPUR RASA YANG DILARANG...

Seminggu berlalu sejak kedatangan pertamanya di rumah itu, dan Arka Pradana seolah sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga Mahendra. Hampir setiap sore ia datang membawa sesuatu, kadang buah‑buahan pilihan, kadang obat gosok khusus untuk lutut Bu Kirana yang sering nyeri, kadang sekadar duduk mendengarkan cerita lama Pak Aditya tentang perjuangan membangun usaha dari nol. Ia berbicara selalu dengan nada rendah, sopan, matanya memandang penuh hormat, tangannya tidak pernah berani menyentuh apa pun di luar batas kesopanan.

“Kamu itu seperti anugerah yang datang ke rumah kami, Nak,” kata Bu Kirana sambil menuangkan teh hangat, senyumnya mengembang lebar. “Kalau saja Ibu punya anak laki‑laki lagi, pasti sifat dan kepribadiannya mirip sama kamu.”

Arka tersenyum rendah hati sambil sedikit membungkuk hormat. “Ibu terlalu berlebihan. Buat aku sendiri, ada di sini bersama kalian, rasanya persis seperti pulang ke rumah sendiri. Sudah lama aku nggak ngerasain kehangatan keluarga sedekat ini.”

Cuma Alina dan Farhan yang selalu berdiri agak menjauh, menjaga hati dan pandangan. Cuma mereka berdua yang bisa menangkap, di balik senyum yang terlihat sempurna itu, ada sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekadar dendam lama. Banyak hal kecil yang terlalu pas, terlalu hafal di luar kepala, terlalu mengingatkan pada sosok yang menghilang hampir sepuluh tahun silam. Tapi sampai detik ini juga, cuma firasat. Cuma curiga yang makin hari makin mengganjal. Belum ada bukti mati yang bisa mengunci semuanya.

Sore itu langit mendung kelabu pekat, angin berhembus kencang membawa debu halus dari jalan raya. Alina turun dari mobil, baru saja selesai berjam‑jam di pengadilan. Ujung jilbabnya berantakan terkena angin, dan belum sampai tiga langkah berjalan, dia sudah bersin‑bersin berulang kali berturut‑turut.

Belum tangannya sempat merogoh tas mengambil tissue, selembar masker halus dan botol air hangat sudah terulur tepat di depan wajahnya.

“Hati‑hati ya,” ucap Arka pelan, berdiri tegak tepat di depannya. Senyumnya tetap tenang dan sopan, tapi Alina menangkap jelas gerakan sangat halus yang hampir nggak kelihatan orang lain, jari‑jarinya yang pegang botol itu sedikit gemetar. “Aku tahu banget kebiasaanmu. Kalau sudah kena angin dingin campur debu halus begini, pasti langsung bersin‑bersin nggak berhenti. Tenggorokanmu juga cepat kering dan perih, paling enak langsung minum air hangat kalau suhu begini, nggak terlalu panas nggak terlalu dingin.”

Alina mundur selangkah, menangkupkan kedua tangannya rapat di depan dada menolak menyentuh barang itu, khawatir akan menyentuh kulit tangan Arka, dia berpegang teguh pada agamanya sejak belajar di sekolah Al‑Azhar.

“Terima kasih banyak atas perhatiannya, Arka,” jawabnya halus tapi ada jarak yang jelas di nadanya, senyumnya tetap anggun. “Tapi aku sudah bawa masker dan botol minum di dalam tas...”

Dia berbalik masuk pelan ke dalam rumah. Tidak melihat bagaimana senyum rapi di bibir Arka perlahan luruh sedikit demi sedikit. Tatapannya mengikuti setiap langkah kaki gadis itu, dan jauh di dasar matanya, dinginnya dendam murni sudah tidak terlihat. Namun seperti ada rasa sakit yang mendalam, kerinduan yang bahkan dia sendiri mati‑matian menolak ada di hatinya.

Dan di dalam hati, Alina baru saja terhenti kaget setengah mati.

Baru berjalan beberapa langkah saja, otaknya berputar kencang. Kebiasaan itu—langsung bersin‑bersin hebat cuma karena kena angin dingin bercampur debu, sampai suhu air yang paling pas di tenggorokannya—itu hal yang sangat pribadi. Cuma Ayah, Ibu, Dimas, dan Farhan saja yang mengenalnya. Bahkan rekan kerja yang sudah berteman bertahun‑tahun pun banyak yang tidak pernah sadar.

Orang ini baru saja mengenaliku dalam waktu setengah bulan. Masa bisa hafal sedetail itu? Bahkan sampai hafal suhu airnya?

Pertanyaan itu berputar terus di kepalanya, udara dingin menjalar pelan di punggungnya. Semakin dia berpikir, semakin bulat rasa curiganya. Bukan cuma firasat biasa lagi. Ada sesuatu yang sangat salah, tapi dia belum bisa memastikannya.

Arka tahu semua itu bukan cuma karena mengintai buat rencana jahat. Selama lima tahun mengamati dari jauh, tanpa dia minta dan tanpa dia rencanakan, setiap detil kecil tentang Alina justru terekam paling dalam di hatinya. Jauh melebihi apa pun yang pernah dia tulis di atas kertas rencana dendam.

Dulu semuanya tampak hitam putih saja. Arka kembali hanya ingin membalas dendam. Itu satu‑satunya niat saat dia mengubah namanya, mengubah penampilan, dan mengubur seluruh jati diri lamanya. Keluarga Mahendra lah yang membuat ayahnya, Haris membusuk pelan di sel penjara. Mereka yang runtuhkan nama besar Haris sampai rata tanah. Mereka yang membuat dia harus hidup bertahun‑tahun seperti tikus bersembunyi di dalam kegelapan. Alina adalah musuh utama yang harus dia hancurkan sehancur‑hancurnya. Rencananya sederhana, buat gadis itu percaya bulat‑bulat, bahkan bikin dia jatuh hati, lalu tepat di hari paling bahagianya nanti, lempar dia sedalam‑dalamnya ke jurang kepahitan.

Tapi takdir selalu punya cara sendiri. Semakin lama dia mengamati, semakin dekat dia berada, semakin sering dengar suara lembut tapi tegas Alina bicara soal keadilan, soal batas‑batas Allah, soal berusaha memaafkan walau hati disakiti berkali‑kali… makin runtuh lah tembok tinggi kebencian yang dia bangun bertahun‑tahun dengan susah payah. Dendam masih ada, bara apinya masih menyala. Tapi kini bara itu bercampur rapat dengan sesuatu yang sangat dia benci ada di hatinya, cinta. Cinta salah tempat, cinta pada keluarga yang dianggap musuh bebuyutan, cinta yang nggak pernah dia minta datang, tapi tumbuh liar makin ditekan makin kuat berakar.

Belum sempat detak jantungnya tenang kembali, deru mesin halus masuk ke halaman. Farhan turun dari mobil perak dengan rapi dan gagah, postur tegap khas orang yang bertahun‑tahun berlatih bela diri. Sorot matanya begitu dalam, yang langsung tertuju cuma pada satu titik, Alina yang baru muncul lagi di teras bawa segelas air hangat.

Pemuda itu berjalan mendekat pelan. Tidak banyak bicara. Cuma senyum lembut tulus, satu anggukan penuh hormat dari jarak yang sopan dan terjaga. Tapi ikatan batin di antara mereka berdua terasa begitu nyata, begitu kuat dan suci, seolah ada dinding bening yang otomatis memisahkan mereka berdua dari seluruh dunia.

Di saat itulah cemburu menyambar dada Raka sekeras‑kerasnya, sampai rasanya sesak sekali sampai ke ulu hati.

Dia lihat bagaimana Farhan begitu hati‑hati merapikan ujung jilbab Alina yang agak terselip, sama sekali nggak menyentuh kulit walau sehelai benang. Dia dengar bagaimana nada suara Farhan berubah jauh lebih lembut saat bicara dengan calon istrinya. Dia bayangkan sebentar lagi hitungan minggu saja, nama Farhan Adhitama akan tertulis sah berdampingan dengan nama Alina Mahendra di buku nikah. Bahwa lelaki itulah yang berhak sepenuhnya menjaga, menyayangi, memiliki gadis itu sampai tua. Sementara dia? Cuma bisa berdiri di pinggir pakai topeng orang asing, penuh rahasia kelam, bahkan sampai kapan pun nggak akan pernah berhak cuma sekadar menjabat tangannya dengan sopan.

Sore itu dia pamit pulang dengan hati hancur lebur. Begitu pintu ruang kerjanya di lantai paling atas terkunci rapat dari dalam, dia sapu bersih seluruh tumpukan berkas di meja sampai berantakan di lantai. Dia pukul dinding beton berkali‑kali sampai buku jarinya terkelupas berdarah.

“Kamu benar-benar gila, Raka!” desisnya keras pada dirinya sendiri, parau campur marah, ada rasa sakit yang menyayat. “Dia musuhmu! Dialah yang menyebabkan ayahmu menderita sampai napas terakhir di sel yang lembap dingin itu! Dialah alasan kamu kehilangan segalanya dan harus hidup bertopeng bertahun‑tahun! Kamu ke sini cuma punya satu tujuan! Hancurkan Alina dan keluarganya! Bukan malah jatuh hati! Apalagi sampai cemburu buta melihat dia bahagia dengan lelaki lain!”

Tapi teriakan batinnya kalah telak dengan kenyataan. Saat dia buka laci paling dalam yang selalu terkunci gembok khusus, di sana cuma ada satu benda. Foto kusam pinggirnya kekuningan, isinya Alina berjalan pelan keluar halaman masjid, jilbabnya berkibar terkena angin sore. Diambil diam‑diam dari kejauhan hampir tiga tahun lalu, jauh sebelum rencana besar ini matang. Dia simpan sendirian, nggak ada satu jiwa pun yang tahu. Bukan buat bahan rencana jahat. Tapi murni karena tiap kali hatinya gelap gulita, lelah dengan kepalsuan, cuma wajah di foto itu yang sanggup memberinya sedikit ketenangan. Walau ketenangan itu hampir selalu berakhir lagi dengan rasa bersalah yang menyiksa berjam‑jam.

Dia sadar sepenuhnya sekarang. Dendam yang dibawa bertahun‑tahun perlahan kalah telak sama perasaan yang tumbuh sendiri tanpa izin. Dia nggak lagi cuma mau hancurkan Alina semata karena kebencian warisan ayahnya. Ada alasan lain jauh lebih gelap dan menyedihkan, kalau nanti dia tidak bisa memilikinya dengan jalan halal baik, maka dia pastikan satu hal sampai mati—tidak ada lelaki lain pun di muka bumi ini yang berhak memilikinya juga. Apalagi Farhan.

Malam harinya di teras belakang yang selalu berangin kencang—tempat paling aman mereka mengobrol leluasa tanpa takut terdengar siapa pun—Farhan berdiri berhadapan dengan Alina. Sorot matanya berat dan serius sekali.

“Ada yang tidak beres dari cara dia memandangmu sore tadi, Lin,” ucapnya pelan hanya cukup terdengar mereka berdua. “Bukan sekadar tatapan musuh yang sedang menyusun rencana jahat. Jauh dari itu. Ada rasa memiliki yang salah tempat terlihat di sana. Seolah di dalam hatinya yang paling dalam, dia merasa… dialah yang sebenarnya berhak selalu ada dekat sama kamu. Bukan aku.” sindir Farhan.

Alina terdiam memejamkan mata lama sekali, menarik napas panjang pelan‑pelan. Apa yang diucapkan Farhan persis sama persis sama apa yang dia rasakan, berulang kali dia tangkap berkelebat dari balik sorot mata Arka. Termasuk satu hal yang paling bikin bulu kuduknya merinding sejak tadi sore.

“Benar sekali, Han,” jawabnya lirih sambil memeluk lengannya sendiri karena udara malam mulai dingin menusuk tulang. “Ada satu hal lagi yang baru aku sadari dan bikin aku ngeri sendiri. Kebiasaanku yang langsung bersin‑bersin hebat cuma karena kena angin dingin campur debu… itu hal yang cuma keluarga inti dan kamu saja yang tahu persis. Bahkan teman kerja lama pun banyak yang nggak sadar. Tapi dia… Arka yang baru saja ku kenal dua seminggu secara resmi, kok bisa hafal persis sampai ke suhu air yang paling cocok buat tenggorokanku.” terang Alina.

Dia membuka matanya lebar, memandang jauh ke arah gelap pepohonan di ujung halaman.

“Dendam saja nggak akan pernah cukup bikin seseorang bertahan 10 tahun penuh, mengamati setiap detil sekecil apa pun dari hidup orang lain sampai hafal di luar kepala sedemikian rupa. Ternyata benar dugaanku selama ini… di balik segala rencana jahat dan ancaman yang sudah dia siapkan, ternyata tersimpan juga sebuah perasaan. Perasaan yang bahkan Raka Haris sendiri, berusaha mati‑matian mengingkari keberadaannya sampai kapan pun.”

Bersambung…

l

1
Kam1la
tega ya. .. menantu sudah sebaik Alina, masih saja kurang
Kam1la
akhirnya sama-sama minta maaf...😍
Kam1la
bercadar sepertinya agak sulit bagi Alina
Kam1la
mungkin gantian Alina yg cemburu sama Laila🤭
penulismisterius
baru baca beberapa bab, novel ini punya narasi alur yang jelas😀 semangat berkarya author😀😀
penulismisterius
eh ini sambungannya novel sebelumnya kah ,kak?
penulismisterius: siaap, kak🐬🐬
total 2 replies
penulismisterius
baru bab pertama saja, sudah sebagus ini🤗
penulismisterius: kembali kasih kak, 🐬🤗🤗
total 4 replies
Kam1la
semoga lekas punya momongan
Kam1la
tidak terasa sudah 2 bulan
Kam1la
so Sweet...😍
Kayla Rane: 😍😍😍🤭 MalPer
total 1 replies
Alia Chans
Hadir Thor
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Kayla Rane: Maa Syaa Allah jazaakillah Khair KK, sudah mampir. tenang KA kalau ceritanya rada membosankan bisa di skip kalau ga suka, ini konflik beratnya cuma dari bab 1-29 saja. kesana nya hidup pernikahan Alina dengan bumbu2 cinta, ujian-ujian kecil di pernikahan mereka... selamat membaca 🙏😇
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Wiiih, tulisan-nya rapi gilak! Tspi, Kok Masih sepi pembaca ya? 😁😁😁 Aku tau Novel ini dari Grup NT di FB. 😁😁😁

Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏
Fadillah Ahmad: Bagi aku, nggk baik rasanya, kalau membaca Karya penulis, itu langsung dari Bab 30 Kak, retensinya bisa turun nantinya Kak 😁😁😁 Itu sama saja aku lompat Bab Kak 🙏🙏🙏😁 Itu Nggk Baik untuk Novel Kakak Nanti 🙏🙏🙏😁

Waaah Bagus dong Kak 😁😁😁 Aku termasuk Pembaca yang Kritis loh Kak 😁😁😁 Biasanya, kalau ada Typo aku langsung Kasih Koreksi Ke Penulisnya Kak... 😁😁😁🙏
total 5 replies
Umi Zein
aku mampir kak, di awal cerita keren, semoga gak ada Konflik yg berat, soalnya aku kurang suka cerita dengan konflik yg berat😄 semangat kak Kayla ✊😍😍
Kayla Rane: pantengin KK sampai 29 episode konflik beratnya.. bab 30 nya pernikahan dan bumbu rumah tangga...
total 2 replies
Kam1la
senjata yang paling kuat adalah do'a
Kam1la
ye, jadi menikah. 😍
Kam1la: iya, aku ikut bahagia nih...
total 2 replies
Kam1la
kejujuran Raka sudah terlambat
Wulandari Ayuningtyas
suka deh sama ceritanya.....semangat terus y 💪🤗
Wulandari Ayuningtyas: sama2 kak 🤗
total 2 replies
Kam1la
Raka kena juga
Kam1la
aku bangga👍, bu Siti jujur
Kam1la
bu Siti ini juga, akhirnya terlibat kan...makanya hati-hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!