Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.
"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."
Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Kegelisahan
Atharazka berdiri di depan jendela kamar apartemennya dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Pemandangan gedung-gedung tinggi di luar sana tidak berhasil mengalihkan pikirannya. Sejak kemarin, kepalanya dipenuhi rentetan kejadian yang dia alami akhir-akhir ini.
Semua berawal dari rencana pernikahannya dengan Jelita Arumi Atmojo. Meski hubungan itu bukan terjadi dari keinginannya sendiri, Atharazka sudah memilih untuk menerima keputusan kedua keluarga. Baginya, menikahi Jelita hanyalah bagian dari tanggung jawabnya sebagai putra keluarga Bagaskara sekaligus Wakil Direktur Askara Group.
Namun kenyataan berkata lain. Beberapa jam sebelum akad dimulai, perempuan yang seharusnya menjadi mempelai wanita justru menghilang tanpa jejak. Yang berdiri di sampingnya saat ijab kabul berlangsung bukan Jelita, melainkan Amora Dania Respati.
Atharazka mengembuskan napas panjang.
"Benar-benar di luar dugaan."
Ia masih mengingat jelas telepon dari Danendra Atmojo sehari sebelumnya. Saat itu, pria yang juga Direktur Utama D'Endra Group tersebut meminta maaf sekaligus menjelaskan situasi yang terjadi. Tanpa banyak pertimbangan, Atharazka menyetujui pergantian pengantin.
Bukan karena ia menginginkan Amora. Bukan pula karena ia merasa kasihan kepada keluarga Atmojo.
Ia hanya tidak ingin kedua keluarga menjadi bahan pembicaraan para relasi bisnis yang telah memenuhi gedung pernikahan. Membatalkan acara di saat semua tamu sudah hadir hanya akan memperbesar kerugian dan mempermalukan nama besar kedua perusahaan.
"Itu pilihan yang paling masuk akal," gumamnya pelan.
Meski demikian, bukan berarti semua rasa kecewanya ikut menghilang. Jelita telah mempermalukannya.
Bagi Atharazka, tindakan perempuan itu bukan hanya sekadar penolakan terhadap sebuah perjodohan. Ia menganggap Jelita telah mengabaikan komitmen yang sudah disepakati dua keluarga besar.
Tangannya mengepal perlahan.
"Kalau memang dari awal tidak ingin menikah, seharusnya bilang sebelum semuanya sejauh ini."
Nada kesal tampak jelas di wajahnya. Beberapa saat kemudian ia memejamkan mata, berusaha mengendalikan emosinya. Sekarang semuanya sudah terlambat. Statusnya telah berubah menjadi suami Amora.
Meski begitu, Atharazka sama sekali tidak berniat menjalani pernikahan tersebut layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Baginya, hubungan mereka hanya sebatas ikatan di atas kertas demi menjaga kepentingan dua keluarga.
Tatapannya beralih ke arah pintu kamar, mengingat perempuan yang kini menempati kamar di sisi kanan kamarnya.
"Enam bulan."
Hanya itu yang ada di kepalanya. Ia akan memberikan waktu agar keadaan kedua keluarga kembali stabil. Setelah semuanya tenang, ia sendiri yang akan mengurus proses perceraian. Dengan begitu, Amora bisa kembali pada kebebasannya, sementara dirinya dapat mengakhiri pernikahan yang sejak awal tidak pernah ia inginkan.
Atharazka mengusap wajahnya pelan.
"Aku tidak akan memberikan harapan apa pun," batinnya mantap. "Amora tidak pantas hidup dalam hubungan yang dipenuhi kepura-puraan. Dan aku juga tidak berniat memainkan peran menjadi suami yang baik hanya demi menjaga nama baik keluarga."
Setelah mengambil keputusan itu, ia melangkah menuju meja kerjanya.
Tumpukan dokumen Askara Group sudah menunggu untuk diperiksa. Baginya, pekerjaan jauh lebih mudah dihadapi daripada mencoba memahami apa yang terjadi saat ini. Untuk sementara, ia memilih menenggelamkan diri dalam pekerjaan, berharap kesibukan mampu mengalihkan kekacauan yang masih memenuhi isi kepalanya.
.
.
.
Setelah memastikan koper kecilnya sudah tersimpan rapi di kamar yang kini menjadi miliknya, Amora memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya. Masih banyak barang miliknya yang tertinggal di sana, mulai dari pakaian kerja, perlengkapan mandi, hingga beberapa dokumen penting yang akan ia perlukan saat mulai kembali bekerja sebagai Manager Pemasaran D'Endra Group.
Sebelum keluar dari unit apartemen, Amora sempat melirik ke arah pintu kamar Atharazka. Pintu itu masih tertutup rapat. Dan ia teringat jelas ucapan suaminya beberapa saat lalu.
"Kalau saya sedang di kamar, jangan ganggu."
Amora mengembuskan napas pelan.
"Aku enggak perlu izin, kan?" gumamnya lirih.
Daripada mengetuk pintu dan justru membuat Atharazka terganggu, ia memilih mengirimkan sebuah pesan singkat melalui aplikasi chat.
to: Mas Razka
Mas Razka, aku pulang sebentar ke rumah buat ambil barang-barang. Nanti aku balik lagi.
Setelah mengirim pesan itu, Amora memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia tidak berharap balasan. Baginya, setidaknya Razka akan tahu ke mana dirinya pergi.
Tak lama kemudian, ia keluar dari apartemen. Lorong di lantai tujuh belas tampak lengang. Langkah Amora terdengar pelan menuju lift sambil terus memikirkan kehidupan barunya yang berubah begitu drastis hanya dalam waktu dua hari.
Lift berhenti di lantai dasar. Begitu keluar menuju area lobi, Amora langsung melihat mobil yang ia pesan melalui aplikasi sudah menunggu di depan pintu utama. Ia mempercepat langkah agar pengemudi tidak menunggu terlalu lama.
"Selamat siang, Mbak Amora?" tanya sopir setelah ia membuka pintu belakang.
"Iya, Pak. Maaf ya, bikin nunggu."
"Enggak papa, Mbak. Baru juga beberapa menit."
Amora membalas dengan senyum tipis sebelum menyebutkan alamat rumah keluarganya.
Mobil pun perlahan meninggalkan kawasan apartemen elite tersebut. Selama perjalanan, Amora lebih banyak memandangi jalan raya yang dipenuhi kendaraan. Biasanya perjalanan menuju rumah terasa menyenangkan, tetapi kali ini pikirannya dipenuhi berbagai hal.
Ia memikirkan kehidupan barunya bersama Razka. Dan juga memikirkan Jelita.
Amora menggenggam ponsel di pangkuannya. Pagi tadi ia sempat menghubungi mamanya, Fina, berharap ada perkembangan baru. Sayangnya jawaban yang diterima tetap sama.
"Belum ada kabar dari Kak Jelita."
Amora memejamkan mata sejenak.
"Kamu ada di mana sebenarnya, Kak?" batinnya lirih. "Seenggaknya kasih kabar kalau Kakak baik-baik saja. Mama sama Ayah pasti kepikiran."
Ia sama sekali tidak berniat menyalahkan kakaknya. Rasa khawatir jauh lebih besar daripada rasa kecewa.
Di balik semua kekacauan yang terjadi, Amora hanya ingin memastikan bahwa perempuan yang selama ini selalu melindunginya itu masih dalam keadaan selamat.
Dengan pikiran yang terus dipenuhi berbagai kemungkinan, Amora membiarkan mobil melaju menuju rumah yang telah menjadi tempat ia tumbuh sejak kecil, berharap kepulangannya kali ini dapat sedikit mengurangi kegelisahan yang memenuhi hati kedua orang tuanya.
crt2 yg lain nya aku msh nunggu kelanjutan nya lho... 🥰🥰🥰