NovelToon NovelToon
Belenggu Janji Dan Rasa

Belenggu Janji Dan Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: "Emy"

seorang pria dingin yang terjebak di situasi tak terduga. Pria itu di nikah paksa oleh warga setempat, menikahi gadis sma kelas 3 bernama Rara Sephyra. Dalam hitungan detik statusnya berubah menjadi seorang suami.
Namun di sisi lain dia juga memiliki tunangan seusianya.
Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya.
Apakah si pria akan mempertahan pernikahannya?
Atau akan memilih tunangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon "Emy", isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Athur berjalan keluar dari area kamar mandi dengan langkah pelan namun mantap. Rambutnya yang sedikit basah membingkai wajah datarnya yang kaku. Langkah kakinya yang tanpa suara membuat Fino sama sekali tidak menyadari bahwa sang "Pawang Utama" sudah berdiri tegak tepat di belakang punggung kurusnya.

"...tetap bakal gue rontokin giginya pakai gagang sapu kontrakan!"

Kalimat sesumbar Fino baru saja lepas dari bibirnya ketika sebuah tangan kekar tiba-tiba mendarat di kerah belakang seragam abu-abunya.

Sret!

"Aduh, aduh! Siapa nih main tarik baju—" Fino menoleh dan langsung menelan ludahnya bulat-bulat. Wajah datar Athur yang sedingin es sudah berada tepat di depan matanya.

Tanpa sepatah kata pun, Athur mencengkeram tengkuk Fino lalu menjepit kepala remaja itu di bawah ketiaknya—sebuah gerakan headlock khas kakak ipar yang sedang menjinakkan adik lelaki yang terlalu banyak bicara. Tangan Athur yang bebas dengan gemas mengacak-acak rambut Fino sampai berantakan seperti sarang burung.

"Aduh! Bang! Ampun, Bang! Putus leher si ganteng penunggu kontrakan, Bang!" jerit Fino dramatis, berusaha melepaskan diri namun tenaganya sama sekali bukan tandingan otot kawat sang mafia.

Rara yang melihat itu refleks menutup mulutnya, menahan tawa yang hampir meledak melihat adiknya yang sok jagoan mendadak mengkeret seperti kerupuk tersiram air.

Nina yang berdiri di samping Rara hanya bisa menyengir lebar. Sama sekali tidak berniat membantu kembarannya, Nina justru melangkah mundur perlahan. "Sukurin lu, No! Makanya jangan kebanyakan gaya," ledek Nina telak. Sebelum Fino sempat membalas dengan tatapan maut, Nina sudah ngacir berlari menyelamatkan diri menuju kamar untuk berganti baju dan bersiap mandi.

Sambil berjalan ke arah kamar mandi belakang, pikiran Nina berkecamuk. Namun, begitu dia melangkah masuk ke dalam ruangan semen kasar tersebut, langkah kakinya mendadak terhenti. Keningnya mengernyit heran.

Nina mendekati dinding tripleks pembatas kayu yang biasanya dipenuhi lubang-lubang kecil bekas lapuk dan rayap. Matanya mengerjap tak percaya. Lubang-lubang yang biasanya membuat mereka selalu waswas saat mandi itu kini sudah tidak ada. Dinding itu telah ditambal dengan rapi menggunakan lembaran tripleks baru dan kokoh yang dipasang sangat rapat dari arah luar.

“Kapan Kak Athur memperbaikinya?” batin Nina takjub.

Ada secercah rasa aman yang mendalam merayap di hati Nina. Kehadiran Athur yang diam-diam begitu perhatian mulai membuat rumah kontrakan tripleks ini terasa seperti memiliki benteng pelindung. Namun, di balik rasa aman itu, bayang-bayang ketakutan kembali menghantui dadanya. Nina kembali meremas jemarinya, membayangkan bagaimana jika hubungan pernikahan siri Rara terbongkar oleh teman-teman sekolah, terutama oleh pihak sekolah yang bisa membatalkan beasiswa mereka kapan saja.

Sementara itu, di belahan kota lain, atmosfer yang berbeda sedang mendidih.

Alden duduk di tepi ranjang kamarnya yang luas dan mewah. Tatapannya kosong, namun rahangnya mengeras rapat. Bayangan Rara yang mencium tangan pria misterius itu tadi pagi, serta keributan di kantin yang membuat gadis pujaannya berakhir di ruang BK, terus berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Ditambah lagi, sikap Fino yang sangat aneh dan sengaja menghalanginya di gerbang pulang sekolah tadi membuat insting Alden berteriak bahwa ada sesuatu yang besar yang sedang disembunyikan darinya.

"Nggak bisa. Gue harus tahu siapa cowok itu," gumam Alden frustrasi.

Dengan gerakan cepat, Alden menyambar jaket denimnya yang tergeletak di kursi. Ia melangkah lebar keluar rumah, mengabaikan panggilan beberapa pelayan. Alden menaiki motor sportnya, memakai helm, dan langsung menyalakan mesin. Suara raungan knalpotnya membelah keheningan sore itu saat Alden memutar gas dalam-dalam, mengendarai motornya membelah jalanan kota dengan satu tujuan pasti: rumah kontrakan Rara.

Alden tidak tahu bahwa motor sportnya sedang mengarah lurus ke arah singa yang sedang terbangun, kakak kandungnya sendiri, yang siap menerkam siapa saja yang mengusik wilayah barunya.

Alden mematikan mesin motor sportnya di mulut gang sempit yang menuju ke kontrakan Rara. Begitu ia membuka helm dan turun dari motor, langkahnya mendadak terhenti. Dari arah berlawanan, tampak Tika sedang berjalan terburu-buru dengan wajah penuh kecemasan.

"Eh, Alden? Lu ngapain ke sini?" tanya Tika kaget melihat cowok populer itu sudah berdiri di depan gang rumah sahabatnya.

"Gue mau ketemu Rara. Lu sendiri ngapain?" sahut Alden dingin.

"Gue khawatir sama Rara gara-gara kejadian di ruang BK tadi! Makanya gue ke sini," jawab Tika ketus, masih agak kesal karena urusan sekolah tadi siang.

Sementara itu, di dalam rumah, Nina baru saja selesai berganti baju setelah mandi. Ia melihat Athur dan Dino yang masih terlibat debat kecil yang sengaja dibisikkan—Fino yang masih mengelus lehernya sambil mengomel tengil, dan Athur yang menatapnya dengan pandangan malas. Nina memilih untuk tidak ikut campur. Ia mengambil buku pelajarannya, berniat duduk di teras depan yang sedikit lebih sejuk untuk membaca.

Namun, begitu Nina membuka pintu tripleks depan, jantungnya serasa copot. Hanya berjarak beberapa meter dari teras kontrakan, Alden dan Tika sedang berjalan berdampingan menuju ke arahnya.

Jika Nina berbalik masuk dan menutup pintu, tindakan itu akan terlihat sangat mencurigakan. Apalagi, Alden dan Tika sudah telanjur melihatnya dan melambaikan tangan ke arahnya. Otak Nina berputar cepat. Demi memberikan sinyal darurat kepada orang-orang di dalam rumah, ia sengaja mengeraskan suaranya hingga melengking.

"EHH!! ALDEN!! TIKA!! KALEAN MAU KE RUMAH KAK RARA YAA?!" teriak Nina heboh sambil melambaikan tangan dengan gerakan yang dibuat-buat.

Di dalam rumah, teriakan melengking Nina bak sirine gempa bumi. Rara yang sedang memegang sudit di dapur langsung membelalakkan mata. Fino yang tadinya mau mengomeli Athur seketika membeku.

"Mampus! Si Alden nekat ke sini, Kak!" bisik Fino panik setengah mati. Tatapannya langsung beralih pada Athur, lalu ke Rara. Jika Alden masuk dan melihat kakak kandungnya ada di kontrakan kumuh ini dalam kondisi semi-permanen, tamat sudah riwayat mereka semua! Beasiswa terancam, dan rahasia besar ini akan meledak.

Berbeda dengan kepanikan luar biasa yang melanda Rara dan Fino, Athur justru bersikap sangat santai. Pria itu berdiri tegak, melipat kedua tangannya di dada dengan wajah sedingin es, seolah kedatangan adiknya bukanlah ancaman besar.

"Mas! Mas Athur, tolong sembunyi di kamar belakang sekarang!" perintah Rara panik. Ia dan Fino langsung maju, memasang badan, dan mencoba mendorong tubuh kekar Athur agar masuk ke dalam kamar.

Namun, tubuh tegap berotot kawat milik sang mafia itu sama sekali tidak bergeser satu sentimeter pun. Mau sekuat apa pun Fino dan Rara mendorong, Athur tetap berdiri kokoh laksana batu karang di tengah ruang tamu sempit itu.

"Ayo dong, Bang! Jangan sok kuat sekarang! Itu adek lu sendiri yang datang! Kalau dia tahu lu di sini, urusannya bisa panjang, Bang!" bisik Fino frustrasi, tenaganya sudah habis untuk mendorong dada tegap Athur.

Mendengar langkah kaki Alden dan Tika yang semakin dekat di luar, air mata keputusasaan mulai menggenang di pelupuk mata Rara. Ia tahu, jika suaminya ini tidak mau bekerja sama, nasib masa depan adik-adiknya akan hancur malam ini.

Rara berhenti mendorong. Ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada, menatap langsung ke manik mata Athur dengan pandangan memohon yang teramat sangat, sarat akan ketakutan dan air mata.

"Mas... aku mohon. Tolong sembunyi demi kami. Demi beasiswa Fino dan Nina. Aku mohon, Mas..." Isak kecil lolos dari bibirnya.

Melihat air mata istri kecilnya yang kembali menetes karena ketakutan, runtuh sudah keegoisan Athur. Sorot matanya yang dingin melunak sekejap. Pria itu menghela napas pendek. Ia sebenarnya memiliki rencana tersendiri. Sebagai seorang mafia, bersembunyi di dalam kamar sempit seperti pecundang bukanlah gayanya. Ia justru ingin melihat sejauh mana nekatnya sang adik datang ke wilayahnya.

Athur membalikkan tubuhnya dengan tenang. Ia menyambar sebuah topi hitam milik Fino yang tergantung di paku dinding, lalu memasangnya rendah hingga menutupi sebagian dahi dan matanya. Tak lupa, ia mengambil masker kain hitam dari saku jaketnya yang tergeletak di kursi, lalu memakainya hingga hanya menyisakan sorot matanya yang tajam dan mengintimidasi.

Dengan penampilan misterius namun sangat elite itu, Athur justru melangkah tegap menuju ruang depan, bersiap memperlihatkan dirinya tepat saat bayangan Alden dan Tika muncul di ambang pintu kontrakan.

1
Embhul82
bagus ceritanya q suka
Emy: makasih sudah mau mampir. Jangan lupa kritik dan saran
total 1 replies
Embhul82
up lagi kak 🤭
Brigita
kurang paham di ini sih
Emy: makasih bnyak kak sudah di koreksi. sebagai manusia pasti tetap ada kesalahan. Alhamdulillah kak sudah di perbaiki
total 1 replies
Brigita
lanjutt truss kakk😍👍💪
Emy: terimakasih kak
total 1 replies
Brigita
semangat kakkk💪💪💪👍😍
Emy: Makasih sudah hadia kak. kritik dan sarannya y kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!