NovelToon NovelToon
The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkaqia

​"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Gala

Gedung hotel bintang lima di kawasan Segitiga Emas Jakarta itu sudah dipadati oleh jajaran mobil mewah berseri premium saat SUV hitam Arsen tiba. Begitu pintu mobil dibukakan oleh petugas valet, Senja sempat menahan napas melihat kemewahan yang tersaji di depan matanya. Karpet merah membentang luas, lampu kristal raksasa menggantung megah, dan alunan musik klasik terdengar sayup-sayup dari dalam ballroom.

​Senja melangkah agak ragu, hak sepatunya terasa sedikit canggung di atas karpet tebal. Arsen yang menyadari hal itu mendadak melambatkan langkahnya, lalu menekuk lengan kanannya sedikit.

​"Pegang lengan saya kalau kamu nggak mau jatuh dan bikin malu," bisik Arsen lempeng, pandangannya tetap lurus ke depan.

​Senja mendengus pelan, tapi situasi yang asing ini memaksanya untuk menurut. Dia menyelipkan jemarinya di lengan tuxedo Arsen. Begitu kulitnya bersentuhan dengan kain jas Arsen, Senja bisa merasakan otot lengan bosnya yang mengeras kokoh—mengingatkannya lagi pada fakta kalau cowok di sebelahnya ini punya fisik yang terlalu terlatih untuk ukuran CEO agensi iklan.

​Begitu mereka melangkah masuk ke dalam ballroom, Senja langsung merasakan atmosfer yang aneh.

​Acara ini katanya adalah jamuan bisnis dan amal, tapi interaksi di dalamnya terasa sangat berjarak. Orang-orang berpakaian mahal saling melempar senyum formal, namun mata mereka bergerak lincah menilai sekeliling. Dan yang paling membuat Senja heran adalah reaksi para tamu saat melihat kehadiran Arsen.

​Setiap kali Arsen melewati kerumunan, obrolan orang-orang di sekitar mereka mendadak mereda. Beberapa pengusaha paruh baya yang kelihatan sangat dihormati bahkan buru-buru menundukkan kepala sedikit atau memberi gestur hormat yang terlalu segan saat bertatapan dengan Arsen.

​"Pak Arsen, suatu kehormatan Anda bisa hadir malam ini," sapa seorang pria tua berambut putih yang mengenakan pin emas eksklusif di jasnya. Pria itu menyalami Arsen dengan kedua tangan, membungkuk agak dalam.

​Arsen cuma mengangguk tipis, dingin seperti biasa. "Ya."

​Senja yang berdiri di samping Arsen cuma bisa membatin heran. Ini bapak-bapak yang di koran kemarin baru dapet penghargaan pengusaha terkaya kok malah kayak takut banget sama bos gue? Malik Media segede apa sih sampai bisa bikin konglomerat tunduk begini?

​"Kamu tunggu di sini sebentar. Saya ada urusan dengan penyelenggara di depan," ucap Arsen setelah mereka berdiri di dekat meja bar yang agak tenang.

​"Oke, Pak," jawab Senja lega karena akhirnya bisa lepas dari pusat perhatian.

​Begitu Arsen berjalan menjauh, Senja mengambil segelas minuman soda dari nampan pelayan dan bersandar di meja tinggi, menikmati interior ruangan. Namun, ketenangannya nggak bertahan lama. Seorang pria muda dengan setelan jas abu-abu modern dan potongan rambut klimis mendadak berjalan mendekat sambil membawa segelas sampanye.

​"Sendirian, Cantik? Saya belum pernah lihat kamu di acara seperti ini sebelumnya," sapa pria itu dengan senyum percaya diri yang menurut Senja agak berlebihan. Matanya langsung turun, menatap lekuk tubuh Senja di balik gaun satin hitamnya dengan berani. "Kenalin, saya Adrian. Dari Reksa Holding."

​Senja memaksakan senyum formalnya keluar. "Senja."

​"Nama yang manis, sesuai sama orangnya," ujar Adrian, memajukan tubuhnya hingga jarak mereka agak terlalu dekat untuk ukuran orang asing. Tangannya dengan berani bergerak hendak menyentuh helai rambut Senja yang tergerai di bahu. "Kamu ke sini sama siapa? Kalau bosan, gimana kalau setelah ini kita cari tempat yang lebih privat buat—"

​Srek.

​Sebelum tangan Adrian sempat menyentuh rambut Senja, sebuah tangan besar berkemeja hitam dengan jam tangan mewah mendadak mencengkeram pergelangan tangan Adrian di udara. Cengkeramannya kelihatan sangat kuat sampai-sampai Adrian langsung meringis kesakitan, membelalakkan matanya kaget.

​Senja menoleh dan mendapati Arsen sudah berdiri di sampingnya. Wajah Arsen bener-bener datar, tapi sepasang mata elangnya memancarkan kilat yang luar biasa gelap dan berbahaya—jauh lebih mengerikan daripada saat dia marah soal revisi proposal di kantor.

​"P-Pak Arsen?" cicit Adrian, wajah percaya dirinya seketika berubah pucat pasi. Tubuhnya bahkan mulai gemetaran kecil saat menyadari siapa yang sedang memegang tangannya.

​"Lepaskan tangan kamu dari asisten saya, Adrian," ucap Arsen. Suaranya pelan, sangat tenang, tapi getaran baritonnya terdengar seperti vonis mati yang dingin di telinga. "Atau saya pastikan besok pagi saham Reksa Holding nggak akan punya nilai lagi di pasar."

​Adrian menelan ludah dengan susah payah, keringat dingin mulai tampak di pelipisnya. "M-maaf, Pak Arsen. Saya nggak tahu... saya bener-bener nggak tahu kalau dia orang Anda. Saya permisi."

​Begitu Arsen melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar, Adrian buru-buru berbalik dan berjalan cepat setengah berlari, menghilang di antara kerumunan tamu seolah-olah dia baru saja melihat monster.

​Senja berdiri terpaku, menatap punggung Adrian yang ketakutan, lalu beralih menatap Arsen yang sekarang sedang merapikan lengan tuxedo-nya yang sedikit bergeser. Jantung Senja berdegup kencang, bukan karena digoda Adrian, tapi karena aura kepemilikan dan intimidasi yang barusan dipancarkan oleh Arsen bener-bener nyata dan pekat.

​"Pak..." panggil Senja pelan, suaranya agak tercekat. "Bapak nggak perlu sampai mengancam saham perusahaannya kayak gitu juga kali."

​Arsen menoleh perlahan, menatap Senja dengan pandangan intens yang bikin Senja mendadak lupa cara bernapas.

​"Saya sudah bilang di mobil kemarin, Senja," sahut Arsen dingin, melangkah satu senti lebih dekat hingga aroma parfum maskulinnya kembali mengunci kesadaran Senja. "Jangan biarkan serigala mendekat. Dan selama kamu pergi bersama saya, kamu adalah tanggung jawab saya. Nggak ada satu orang pun di ruangan ini yang boleh menyentuh apa yang menjadi milik saya."

​Senja menelan ludah, meremas gelas di tangannya erat-erat. Kata-kata 'milik saya' dari mulut Arsen barusan... entah kenapa terdengar jauh lebih berbahaya dari sekadar hubungan antara bos dan asisten kantor biasa.

1
Arya Suluran
bagus banget jalan ceritanya
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!