Alceena Brox Riccardo (26 tahun), seorang diva papan atas Hollywood, mendapati dunianya runtuh saat kekasihnya mengirimkan undangan pernikahan tanpa kata putus.
Terluka dan menolak terlihat malang oleh paparazzi, ego Alceena memberontak.
Di sebuah bar eksklusif di Los Angeles, dia meluapkan amarahnya dan secara impulsif mengajak seorang pria asing yang dikiranya gigolo untuk menjadi pria simpanannya.
Pria itu adalah Xander Hayes-Stone (25 tahun), seorang pemuda kaya asal Chicago yang juga sedang melarikan diri dari pengkhianatan cinta.
Malam di penthouse mewah Alceena menjadi awal dari ikatan kontrak yang rumit di antara mereka.
Berawal dari pelampiasan dendam dan ego badai dua manusia yang patah hati, hubungan tanpa status ini perlahan menyeret mereka ke dalam pusaran, rahasia masa lalu, dan takdir baru yang tak terduga di bawah gemerlapnya kota Los Angeles.
~~~~~~
Happy reading 🌷🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#7
Keheningan kembali merayap di antara sudut-sudut penthouse mewah itu saat matahari Los Angeles perlahan-lahan tenggelam di balik garis cakrawala, meninggalkan semburat warna merah keunguan yang melankolis di langit sore.
Xander Hayes-Stone masih duduk di posisi yang sama, menatap lekat-lekat gelas kristal di genggamannya. Cairan amber di dalam gelas itu memantulkan kilau cahaya kota yang mulai menyala satu per satu, tampak berkilauan namun terasa begitu dingin.
Sudah dua minggu.
Tepat empat belas hari dia menginjakkan kaki di Los Angeles. Dua minggu yang terasa seperti neraka duniawi di mana dia mencoba menghapus setiap jengkal ingatan tentang kota asalnya.
Tidak ada Chicago di sini. Tidak ada aroma angin danau yang dingin, tidak ada gedung-gedung pencakar langit yang familier, dan yang paling menyakitkan, tidak ada bayangan wanita yang menjadi pusat semestanya selama empat tahun terakhir.
Nora Amelie Stone.
Nama itu terukir begitu dalam di lubuk hatinya yang paling pekat, sebuah nama yang kini berubah menjadi belati yang terus-menerus mengoyak dadanya tanpa ampun.
Dua minggu lagi, wanita itu akan melangsungkan pernikahan megah di Chicago.
Kekasihnya... tidak, mantan kekasihnya, akan berjalan di altar, bersumpah setia sehidup semati dengan pria lain.
Hati Xander berdenyut sangat kencang hingga tangannya yang memegang gelas bergetar halus.
Kenyataan yang paling kejam dari hubungan mereka bukanlah karena Nora tidak mencintainya.
Kenyataannya jauh lebih rumit, tabu, dan menghancurkan nurani. Nora bukan orang lain. Dia adalah kakak sepupunya sendiri. Putri dari saudara kandung ayahnya, tumbuh besar dalam lingkaran keluarga yang sama, membawa nama besar keluarga Stone yang terhormat.
Selama empat tahun, mereka menjalani hubungan tersembunyi yang gila di bawah bayang-bayang ketakutan dan rasa bersalah.
Mereka saling mencintai dalam diam, berciuman di sudut-sudut gelap mansion keluarga, dan berjanji untuk saling memiliki di balik pintu yang terkunci rapat.
Hingga akhirnya, petaka itu datang.
Nora dijodohkan oleh keluarga besar mereka dengan seorang pria dari kalangan Medis yang setara demi kelangsungan dinasti bisnis.
Mendengar kabar penjodohan itu, sesuatu di dalam diri Xander pecah.
Dengan keberanian yang gila—keberanian yang bercampur dengan rasa putus asa yang akut setelah empat tahun lamanya tidak pernah berani jujur kepada dunia soal hubungan terlarang mereka—Xander nekat melakukan tindakan paling berani sekaligus paling bodoh dalam hidupnya.
Tepat pada hari Pengumuman calon suami untuk sang kekasih, Di hadapan Orang tua nya, Xander Bersimpuh. Dia menyatakan cintanya yang salah, mengeluarkan sebuah cincin, Dia Sudah Lama ingin menikahi Sang Sepupu.
Skandal besar meledak dalam semalam.
Badai kemarahan meruntuhkan dinding-dinding kehormatan keluarga Stone.
Orang Tuanya tidak percaya bahwa dua anak manusia yang mengalirkan darah yang sama bisa saling mencintai sedalam itu. Hubungan itu dianggap sebagai aib moral yang harus segera dikubur hidup-hidup.
Dan di sinilah dia sekarang, di Los Angeles. Kota pelarian yang sebenarnya adalah sebuah pengasingan halus yang dipaksakan oleh kedua orang tuanya.
Sang ayah, Daddy Kaelix Hayes Stone, dan sang mommy, Lavender Lynne, dengan wajah penuh kekecewaan dan air mata, menyuruhnya pergi sejauh mungkin dari Chicago hingga pernikahan Nora selesai terlaksana.
Mereka mengira jarak ribuan mil bisa menyembuhkan kegilaan putranya. Namun nyatanya, pengasingan ini ternyata semakin membuatnya hancur. Berada di kota asing yang bising ini justru membuat rasa sepi dan bersalahnya berlipat ganda, menggerogoti jiwanya hingga tak tersisa.
Xander memejamkan mata indahnya yang memiliki dua warna berbeda. Bayangan masa lalu berputar tanpa kendali.
Seandainya mereka bukan sepupu? Apakah mereka akan bersama? Apakah dunia akan tersenyum pada mereka?
Jika saja takdir sedikit saja berbaik hati mengubah garis keturunan mereka, Xander sangat yakin mereka akan hidup bahagia selamanya.
Mereka akan membangun rumah kecil di pinggir kota, saling mencintai tanpa perlu bersembunyi, dan mewujudkan impian sederhana mereka untuk memiliki tiga orang anak yang lucu. Tiga anak impian yang sering mereka bicarakan sambil berbisik di bawah selimut malam Chicago.
"Oh Tuhan... kenapa rasanya sesakit ini," ucap Xander lirih, suaranya parau, hampir tercekat di tenggorokan.
Dia berdiri dengan langkah yang agak goyah akibat pengaruh alkohol, berjalan menuju meja pantry mini bar milik Alceena untuk kembali menuangkan minuman dari botol wiski mahal itu.
Setitik air mata yang sedari tadi ditahannya hampir saja jatuh, namun dia segera mengusapnya dengan kasar. Pria itu tampak begitu rapuh di balik tubuh kekarnya yang tegap.
Dari kejauhan, Alceena Brox Riccardo yang masih duduk di sofa raksasanya mengamati setiap gerak-gerik Xander. Meskipun TV di depannya masih menyala, fokusnya sepenuhnya tertuju pada punggung tegap yang kini tampak bergetar halus di dekat konter dapur. Alceena mendengar gumaman lirih pria itu. Kata-kata yang sarat akan keputusasaan dan cinta yang mati-matian.
Alceena hanya bisa bergumam dalam hati, Secinta itu dia pada kekasihnya?
Ada rasa kagum sekaligus sesak yang aneh muncul di dada Alceena melihat bagaimana seorang pria bisa sehancur ini karena kehilangan wanita yang dicintainya. Perasaan itu sangat kontras dengan pengalamannya sendiri.
Sedangkan si brengsek Aldridge... mantan kekasihku itu, malah mengkhianatiku dengan menikahi orang lain begitu saja tanpa penyesalan, batin Alceena getir.
Perbandingan itu membuat Alceena merasa semakin meratapi nasibnya sendiri, namun di sisi lain, melihat Xander yang menderita membuat rasa kemanusiaannya terketuk.
Alceena bangkit dari sofa. Dia berjalan pelan menuju kamarnya sebentar, mengambil selembar sapu tangan kain sutra berwarna putih miliknya, lalu melangkah mendekati meja pantry.
Langkah kakinya sengaja dibuat lembut, tidak ingin mengejutkan sang pria yang sedang tenggelam dalam lautan duka.
Dia mendekat dan mengulurkan tangannya, memberikan sapu tangan itu pada Xander.
Xander yang sedang menatap kosong ke arah botol minuman keras mendadak merasakan kehadiran seseorang.
Dia mendongak, menatap Alceena dengan sepasang mata heterochromia-nya yang tampak sayu dan sedikit kemerahan. Keangkuhan pria itu seolah luruh untuk sesaat. Dia menerima sapu tangan itu dari jemari Alceena.
"Terimakasih," ucap Xander pendek, suaranya sangat rendah dan dalam. Dia menggunakan kain lembut itu untuk mengusap wajahnya, mencoba mengembalikan ketenangannya yang berantakan.
Alceena bersandar pada pinggiran meja pantry, menatap Xander dengan sepasang mata indahnya yang biasanya dipenuhi kilatan percaya diri, namun kini tampak dipenuhi rasa ingin tahu dan empati.
"Kau... sangat merindukan kekasihmu, Nora?" tanya Alceena pelan, mencoba menyelami samudera luka di hati pria Chicago itu.
Mendengar nama Nora kembali diucapkan oleh bibir wanita lain, pertahanan emosional Xander yang rapuh seketika berubah menjadi dinding es yang tebal.
Sisi protektif dan dinginnya kembali mencuat dalam sekejap. Dia tidak ingin dikasihani, dia tidak ingin rahasia terlarang keluarganya dikulik oleh seorang wanita asing yang baru ditemuinya semalam di bar.
Namun dengan dingin, Xander menatap Alceena tajam.
"Aku di sini untuk bercinta bersamamu, bukan untuk diinterogasi," jawab Xander dengan nada suara yang bergetar penuh ancaman maskulin.
Sebelum Alceena sempat memprotes atau mengeluarkan kata-kata cerewetnya, Xander melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka dalam satu gerakan cepat.
Tangan kokohnya mencengkeram tengkuk Alceena, menarik tubuh wanita itu mendekat, dan langsung membungkam bibir Alceena dengan ciuman yang sangat panas dan menuntut.
Ciuman itu tidak memiliki kelembutan; itu adalah luapan dari rasa frustrasi, amarah, dan kerinduan terlarang yang membakar jiwanya. Xander melumat bibir merah Alceena dengan intensitas yang tinggi, seolah mencoba menenggelamkan rasa sakitnya ke dalam kehangatan tubuh sang diva.
Alceena terkejut, matanya membelalak saat punggungnya membentur tepian meja marmer pantry.
Gairah yang tiba-tiba meledak itu sempat membuatnya terbuai selama beberapa detik, namun akal sehatnya segera kembali berontak. Ditambah lagi, gerakan Xander yang menuntut membuat tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih memberikan sinyal protes.
Alceena mengerang di sela-sela ciuman mereka, tangannya mendorong dada bidang Xander dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Dia memalingkan wajahnya ke samping, memutuskan tautan bibir mereka dengan napas yang terengah-engah.
Namun Alceena mengatakan dengan suara yang sedikit bergetar dan wajah yang memerah, "Maafkan aku... Aku... aku... masih nyeri."
Kalimat itu meluncur begitu saja, jujur dan tanpa kepura-puraan. Rasa perih di area pangkal pahanya akibat pergumulan intens semalam di pengalaman pertamanya membuat Alceena tidak sanggup jika harus menghadapi keganasan Xander yang sedang dikendalikan oleh emosi gelap saat ini.
Mendengar pengakuan jujur itu, gerakan Xander seketika terhenti.
Cengkeramannya di tengkuk Alceena mengendur, berubah menjadi usapan ibu jari yang lembut di rahang wanita itu. Tatapan matanya yang berbeda warna menatap wajah Alceena yang tampak sedikit pias namun dipenuhi rona kemerahan karena malu.
Kesadaran bahwa dia baru saja menyakiti wanita yang masih polos semalam membuat rasa tanggung jawab Xander kembali muncul.
Xander mendekatkan wajahnya, berbisik tepat di depan kening Alceena dengan napasnya yang hangat beraroma wiski. "Aku akan pelan..." kata Xander, menawarkan sebuah kompromi di balik gairahnya yang masih membara.
Mendengar tawaran itu, ego Alceena kembali bergejolak. Kata 'pelan' dari pria yang beberapa detik lalu menangisi wanita lain terasa seperti penghinaan bagi harga dirinya.
Alceena menggunakan kedua tangannya untuk mendorong dada Xander lebih kuat, menciptakan jarak yang cukup di antara tubuh mereka.
"Tidak!" sentak Alceena dengan tatapan mata yang kembali menajam, mengusir segala bentuk kelemahan dari wajahnya.
"Aku bukan Noramu! Kau merindukannya, kau menangisinya di depanku, dan sekarang kau ingin meniduriku hanya untuk menjadikannya sebagai pelampiasan dan bayangan wanitamu itu? Kau brengsek juga rupanya!"
Alceena mendengus sinis, dadanya naik turun karena emosi yang kembali tersulut. Dia menolak menjadi obat penenang atau boneka pengganti bagi seorang pria yang hatinya terkunci di Chicago.
Mendengar makian dari Alceena, Xander tidak marah. Sebaliknya, sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman miring yang sangat tipis—sebuah ekspresi yang jarang sekali ditunjukkannya.
Dia menatap Alceena dengan tatapan menilai, seolah baru saja menemukan sesuatu yang menarik di tengah padang gurun yang gersang.
Xander tersenyum dan berkata dengan suara beratnya yang penuh pesona intimidasi, "Kau menarik, Nona Riccardo. Kau yang menawarkan diri semalam di bar, membawa kartu member VIP-mu, dan memintaku menjadi simpananmu tanpa ba-bi-bu. Tapi kenapa sekarang setelah berada di rumahmu sendiri, kau jadi jual mahal begini? Hm?"
Pertanyaan retoris itu dilemparkan Xander dengan nada mengejek yang halus, menantang Alceena untuk mengakui bahwa di balik dinding keangkuhannya sebagai seorang diva besar, wanita itu sebenarnya mulai terpengaruh oleh kehadirannya di penthouse mewah ini.