Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara Debu dan Tinta
Kehangatan dari teh panas dan roti yang baru saja ditelannya memberikan ilusi kekuatan, sejenis energi rapuh yang menyangga tubuh Elara agar tidak ambruk.
Namun, saat ia melangkah keluar dari dapur, meninggalkan tatapan-tatapan tajam dan bisik-bisik para pelayan di belakangnya, bahunya merosot turun.
Kemenangan kecil di dapur tadi terasa melelahkan. Ia telah memenangkan roti, tetapi ia sadar ia baru saja menyatakan perang terbuka terhadap kenyamanan hidupnya sendiri di kastil ini.
Elara berdiri di koridor batu yang sepi, bingung harus melangkah ke mana.
Kembali ke Menara Barat bukanlah pilihan, setidaknya tidak sekarang. Matahari pagi di luar sana tidak cukup kuat untuk menembus dinding batu menara yang tebal, yang artinya ruangan itu masih berupa peti es raksasa. Jika ia kembali ke sana, ia hanya akan duduk menggigil, menunggu waktu berlalu sambil menatap dinding yang berjamur. Ia butuh kehangatan. Ia butuh tempat di mana ia bisa merasakan jari-jarinya kembali.
Elara memutuskan untuk berjalan. Bukan untuk tujuan tertentu, melainkan untuk menjaga darahnya tetap mengalir.
Kastil Blackiron adalah labirin batu yang membingungkan. Berbeda dengan istana ayahnya yang dirancang dengan logika estetika—koridor yang mengarah ke taman, jendela besar yang menghadap matahari—Blackiron dirancang untuk strategi pertahanan.
Lorong-lorongnya sempit dan berbelok tajam, dirancang untuk membingungkan musuh yang menyerbu. Jendela-jendelanya tinggi dan sempit, lebih mirip celah panah daripada sumber cahaya.
Elara berjalan melewati deretan ruangan yang pintunya tertutup rapat. Gudang senjata. Ruang penjaga. Ruang pertemuan yang gelap. Semuanya memancarkan aura maskulin yang keras dan tidak ramah. Tidak ada sentuhan lembut di sini. Tidak ada vas bunga, tidak ada tirai berwarna cerah. Hanya batu abu-abu, kayu gelap, dan besi hitam.
Langkah kakinya yang berbalut sepatu satin tipis nyaris tak terdengar di lantai batu, membuatnya merasa seperti hantu yang gentayangan di rumah orang lain.
Di ujung sayap timur, koridor itu melebar. Karpet di lantai ini lebih tebal, dan dinding-dindingnya dilapisi panel kayu ek tua yang dipoles mengkilap. Udara di sini terasa berbeda—lebih kering, berbau lilin lebah dan sesuatu yang tua namun menenangkan. Aroma kertas.
Elara berhenti di depan sebuah pintu ganda raksasa yang terbuat dari kayu mahoni gelap, diukir dengan relief serigala dan naga yang sedang bertarung. Ia ragu sejenak. Tangannya terulur, melayang di depan gagang pintu kuningan yang berat. Apakah ia boleh masuk? Di rumah suaminya, apakah ada tempat yang terlarang baginya?
Kau adalah Duchess, bisik suara kecil di kepalanya, suara sisa-sisa harga diri yang ia pertahankan mati-matian di dapur tadi. Ini rumahmu juga.
Elara mendorong pintu itu. Berat, namun engselnya terawat baik dan tidak berderit, pintu itu mengayun terbuka tanpa suara.
Napas Elara tercekat pelan.
Ruangan di baliknya adalah perpustakaan. Namun menyebutnya sekadar perpustakaan terasa meremehkan. Itu adalah sebuah katedral pengetahuan. Ruangan itu menjulang setinggi dua lantai, dengan rak-rak buku yang menempel di dinding dari lantai hingga ke langit-langit yang melengkung.
Ribuan buku dengan punggung kulit yang retak dan judul-judul emas yang memudar berjejer rapi, menciptakan dinding warna-warni yang redup—cokelat tua, merah marun, hijau hutan, dan hitam pekat.
Yang terbaik dari semuanya: ruangan ini hangat.
Sebuah perapian raksasa di ujung ruangan menyala terang. Batang-batang kayu besar terbakar di dalamnya, mengirimkan gelombang panas yang menjilat udara dingin dan mengisi ruangan dengan aroma kayu bakar yang nyaman.
Elara melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya, dan menyandar sejenak pada kayu pintu yang kokoh. Rasanya seperti masuk ke dalam pelukan hangat setelah berjam-jam diterpa badai. Matanya terpejam sejenak, menikmati sensasi udara hangat yang membelai pipinya yang kaku.
Ruangan itu sunyi, hanya diisi oleh suara kretek api yang menenangkan dan desau angin yang tertahan di balik jendela kaca tebal. Elara membuka matanya dan mulai menjelajah.
Karpet tebal bermotif rumit menutupi lantai kayu, meredam langkahnya sepenuhnya. Ada beberapa kursi kulit bersandaran tinggi yang diletakkan menghadap perapian, serta sebuah meja kerja besar dari kayu eboni yang tertata rapi di dekat jendela.
Elara berjalan menyusuri rak-rak buku. Ia menyentuh punggung-punggung buku itu dengan ujung jarinya, merasakan tekstur kulit kasar dan debu halus yang menempel. Judul-judulnya berat dan serius: Strategi Perang Kekaisaran Kuno, Hukum Agraria Vhaloria Utara, Anatomi Binatang Buas Pegunungan, Sejarah Pengkhianatan Para Bangsawan.
Tidak ada novel romansa. Tidak ada kumpulan puisi cinta. Ini adalah perpustakaan seorang prajurit dan penguasa, bukan seorang penyair. Koleksi ini mencerminkan pemiliknya: pragmatis, keras, dan berorientasi pada kelangsungan hidup.
Elara menarik sebuah buku tebal bersampul biru tua: Flora dan Fauna Musim Dingin: Panduan Bertahan Hidup.
Ia membawanya ke salah satu kursi kulit di depan perapian. Kursi itu begitu besar hingga Elara merasa tenggelam di dalamnya. Ia menarik kakinya naik ke atas kursi, menyembunyikannya di balik rok gaun tidurnya, lalu membuka buku itu. Halaman-halamannya kuning dan rapuh, berbau vanila tua.
Untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di tanah Draxos, Elara merasa... aman. Di sini, di antara ribuan kisah yang terdiam, ia tidak perlu menjadi pengantin yang ditolak atau majikan yang diabaikan. Ia hanya seorang pembaca.
Waktu meleleh bersama hangatnya api. Elara tenggelam dalam bab tentang tanaman obat yang tumbuh di bawah salju, melupakan rasa lapar yang masih tersisa dan dinginnya menara yang menunggunya kembali.
Lalu, gagang pintu utama berputar.
Suara logam mekanis itu kecil, tapi di keheningan perpustakaan, bunyinya setajam letusan pistol.
Jantung Elara melompat ke tenggorokan. Ia menurunkan kakinya dengan cepat, merapikan gaunnya, dan duduk tegak. Buku di pangkuannya terasa berat tiba-tiba. Apakah itu Silas? Atau Martha yang datang untuk mengusirnya?
Pintu terbuka.
Bukan pelayan yang masuk.
Duke Kaelen Draxos melangkah masuk ke dalam ruangan. Ia tidak mengenakan seragam militer lengkap seperti kemarin. Kali ini, ia mengenakan kemeja putih linen yang lengan bajunya digulung hingga siku, memperlihatkan lengan yang kuat dan berotot, serta rompi hitam yang tidak dikancing.
Rambut hitamnya sedikit berantakan, seolah ia baru saja menyisirnya dengan jari karena frustrasi.
Pria itu melangkah masuk dengan aura yang mendominasi ruangan seketika. Namun, langkahnya terhenti tiba-tiba saat matanya menangkap pergerakan di dekat perapian.
Kaelen membeku. Tangannya masih memegang gagang pintu.
Mata abu-abunya bertabrakan dengan mata Elara.
Keheningan yang terjadi bukanlah keheningan damai seperti sebelumnya. Ini adalah keheningan yang tegang, padat, dan bermuatan listrik. Seperti momen ketika seekor serigala menemukan rusa di dalam sarangnya.
Elara menahan napas, tangannya mencengkeram erat buku di pangkuannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menunggu bentakan. Ia menunggu perintah untuk keluar. Ini ruang kerjanya. Aku menyusup ke wilayah pribadinya.
Kaelen menatapnya, lalu pandangannya turun ke buku di pangkuan Elara, kemudian kembali ke wajahnya. Ekspresinya tidak terbaca. Wajah itu adalah topeng pualam yang sempurna. Tidak ada kemarahan, tapi juga tidak ada sambutan.