NovelToon NovelToon
MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: yurisii

Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29

Cahaya matahari pagi mulai menyelinap lembut lewat celah tirai jendela kamar, menyebarkan sinar keemasan yang hangat dan tidak menyilaukan. Udara di dalam ruangan masih terasa sejuk dan segar, sisa kelembapan semalam yang perlahan hilang tergantikan oleh kehangatan baru yang datang bersama pagi.

Elio sudah terbangun sejak beberapa menit yang lalu. Ia tidak bergerak cepat atau langsung bangkit berdiri; sebaliknya, ia hanya berbaring miring menghadap ke samping, menopang kepalanya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain tergeletak santai di atas selimut. Matanya terfokus sepenuhnya pada sosok yang masih terlelap nyaman di sampingnya.

Dilihatnya wajah Alena yang damai dalam tidurnya. Kelopak matanya tertutup rapat, membayangkan bulu mata panjangnya yang terlihat jelas terkena sinar matahari. Bibirnya sedikit terbuka, menghembuskan napas yang teratur dan lembut, sesekali terlihat sedikit bergerak seolah sedang bermimpi hal yang menyenangkan. Rambutnya yang terurai terhampar indah di atas bantal, beberapa helai menempel di pipi dan dahinya yang terlihat semakin halus dan putih bersih.

Elio menatapnya dengan pandangan yang lembut, penuh kekaguman sekaligus rasa sayang yang tak tersembunyi. Baginya, pemandangan ini adalah hal terindah yang bisa ia lihat setiap pagi—jauh lebih menenangkan daripada pemandangan apa pun di luar sana. Namun, tidak lama kemudian, sifat iseng dan nakal yang selalu ada dalam dirinya mulai muncul kembali, mengusik ketenangan itu.

Dengan senyum kecil yang mulai terukir di bibirnya, Elio perlahan menggerakkan tangan kanannya. Jari telunjuk dan ibu jarinya menjulur pelan mendekati wajah Alena, bergerak sangat hati‑hati seolah takut membangunkan gadis itu terlalu cepat. Namun, begitu jari‑jarinya sudah berada tepat di ujung hidung yang mungil dan manis itu, ia langsung mencubit dan menariknya sedikit lebih kuat dari yang diperkirakan.

“Uhh—!”

Alena terkejut seketika. Matanya terbuka lebar dalam sekejap, tangannya langsung terangkat secara refleks menepis tangan yang masih mencubit hidungnya, dan kepalanya terangkat sedikit sambil mengerutkan dahi menahan rasa sakit dan kaget.

“Elioooo!” serunya dengan suara yang masih serak karena baru bangun tidur, matanya melotot menatap pria di sampingnya yang justru terlihat tertawa lepas dengan wajah paling polos dan tidak berdosa yang pernah ia lihat.

Elio menahan perutnya sambil tertawa pelan agar tidak terlalu berisik, namun matanya berbinar penuh kegembiraan melihat reaksi gadis itu. “Pagi, sayang… rasanya hidungmu pas sekali untuk ditarik, sama seperti boneka yang selalu aku mainkan saat kecil,” ucapnya dengan nada bercanda, seolah apa yang baru saja ia lakukan adalah hal paling wajar di dunia.

Alena langsung membenamkan wajahnya kembali ke bantal, lalu menoleh lagi dengan pipi yang sudah memerah bukan karena malu, melainkan karena kesal. Ia mengusap‑usap ujung hidungnya yang terasa sedikit perih, lalu mendengus kesal. “Kamu benar‑benar tidak berubah! Baru saja malam tadi kita berbagi kehangatan, pagi‑pagi sudah mulai mengganggu lagi! Apa tidak ada hal lain yang lebih bermanfaat untuk dilakukan selain mengerjai orang yang baru bangun tidur?”

Namun, protes itu hanya membuat Elio semakin terhibur. Ia mendekatkan wajahnya, lalu mencium ujung hidung yang tadi ditarik itu dengan lembut sebagai “ganti rugi”, namun senyum nakalnya masih belum hilang. “Maaf, maaf… tapi lihat saja, wajahmu saat terkejut itu sangat lucu. Tidak bisa ditahan rasanya untuk tidak melakukannya.”

Alena hanya mendengus lagi, lalu membalikkan badan memunggungi Elio, berusaha menunjukkan bahwa ia benar‑benar sedang kesal dan tidak ingin diajak bicara untuk sementara waktu. Elio hanya menggeleng sambil tersenyum, tahu bahwa sifat gadisnya itu tidak akan bertahan lama—namun kali ini, ia sepertinya salah perhitungan.

Setelah keduanya selesai membersihkan diri dan berpakaian rapi, mereka turun ke ruang makan. Di meja makan sudah tersedia berbagai hidangan sarapan yang lezat: nasi goreng hangat, telur mata sapi, roti bakar, serta teh manis dan susu yang masih mengepulkan uapnya. Suasana rumah terasa tenang, mengingat kedua kakek mereka baru saja mengirim pesan bahwa mereka akan pulang menjelang siang nanti.

Elio duduk di kursi yang biasa ia tempati, tepat di samping Alena. Ia segera mengambilkan lauk untuk gadis itu, menaruhnya rapi di piringnya sambil tersenyum ramah. “Ini telurnya, kamu suka kan yang matang pas?” tanyanya dengan nada lembut.

Namun, Alena hanya melirik sekilas tanpa menjawab, lalu mengambil sendok dan garpunya sendiri, memakan makanan itu dengan wajah datar dan mulut terkunci rapat. Ia sama sekali tidak melirik ke arah Elio, seolah pria itu tidak ada di ruangan yang sama.

Elio tertegun sejenak, lalu mencoba lagi. “Tadi malam tidur nyenyak kan? Aku mendengarmu mendengkur sedikit lho…”

“Tidak mendengkur,” jawab Alena singkat dan datar, tanpa menoleh sedikit pun.

Elio tersenyum kecut, menyadari bahwa kesal gadis itu ternyata cukup dalam. Ia mencoba berbagai cara untuk mencairkan suasana: menceritakan hal lucu yang terlintas di pikirannya, memuji masakan yang enak, bahkan menawarkan untuk menyuapi—namun semuanya hanya dijawab dengan anggukan kecil, gelengan kepala, atau diam total.

Hingga perjalanan menuju sekolah pun masih sama. Di dalam mobil, Elio mencoba memegang tangan Alena, namun gadis itu perlahan menarik tangannya dan meletakkannya di pangkuan sendiri. Ia hanya menatap ke luar jendela, menikmati pemandangan jalanan pagi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Sesampainya di sekolah, suasana itu tetap berlanjut. Begitu turun dari mobil, Alena langsung berjalan cepat menuju kelas tanpa menunggu Elio berjalan berdampingan seperti biasa. Ia duduk di kursinya, membuka buku pelajaran dan membacanya dengan serius, namun jelas sekali dari raut wajahnya bahwa ia masih menahan rasa kesal.

Bima yang baru saja masuk kelas dan melihat pemandangan ini langsung mengerutkan dahi, merasa heran. Ia duduk di sebelah Elio, lalu mencondongkan badan berbisik pelan. “Wah, ada apa nih? Biasanya kalian berdua datang sambil tertawa dan bercanda, hari ini malah saling mendiamkan. Apa kamu melakukan kesalahan besar lagi, Elio?”

Elio hanya menghela napas panjang sambil mengangkat kedua bahunya, terlihat pasrah namun tetap tersenyum kecil. “Pagi tadi aku hanya menarik hidungnya sedikit saja, dan dia langsung marah sampai sekarang. Rasanya dia benar‑benar ingin membuatku menyesal seharian ini.”

Bima tertawa pelan sambil menepuk pundak sahabatnya itu. “Kamu memang tidak pernah berhenti mencari masalah sendiri. Kalau sudah begini, kamu harus sabar menunggu sampai dia puas sendiri.”

Sementara itu, di sudut lain halaman sekolah, ada sepasang mata yang mengamati suasana itu dengan penuh perhatian. Jena yang baru saja turun dari kendaraannya, melihat bagaimana Alena berjalan terpisah dan tampak tidak mau berbicara dengan Elio, langsung merasa ada celah yang bisa ia manfaatkan. Di dalam hatinya, ia berharap ini adalah awal dari pertengkaran besar yang bisa memisahkan mereka berdua.

“Mungkin hari ini adalah kesempatanku,” gumamnya pada dirinya sendiri, lalu tersenyum licik.

Menjelang jam istirahat pertama, Elio berdiri berjalan menuju halaman belakang sekolah yang sepi dan teduh, tempat biasa ia pergi untuk menghirup udara segar saat ingin menenangkan pikiran. Belum sempat ia duduk di bangku kayu yang ada di bawah pohon rindang, langkah kaki seseorang terdengar mendekat.

“Elio…”

Suara itu sudah sangat ia kenal, dan ia tahu persis siapa pemiliknya. Elio hanya melirik sekilas dari sudut matanya, lalu kembali menatap ke arah taman tanpa memberi tanggapan apa pun.

Jena berjalan mendekat dengan wajah yang dibuat sedih dan lembut, berusaha terlihat paling peduli. Ia berdiri tepat di hadapan Elio, mencoba menatap matanya. “Aku melihat tadi pagi… Alena terlihat tidak baik padamu. Apakah kalian bertengkar? Kalau begitu, mungkin aku bisa mendengarkan ceritamu. Setidaknya ada seseorang yang bisa mengerti perasaanmu selain dia.”

Namun, harapan Jena langsung hancur seketika. Elio tidak hanya tidak menoleh, tapi juga tidak mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun. Ia berdiri tegak, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana seragam, dan suaranya terdengar datar serta dingin tanpa ada nada ramah sedikit pun.

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya masalah kecil yang akan selesai dengan sendirinya nanti,” jawabnya singkat, berusaha mengakhiri percakapan itu secepat mungkin.

Namun, Jena tidak mau menyerah begitu saja. Ia melangkah lebih dekat, mencoba menyentuh lengan Elio namun ditahan dengan gerakan halus namun tegas. “Tapi kalau dia terus bersikap seperti itu, apakah kamu tidak lelah? Aku selalu ada di sini untukmu, Elio. Lebih baik bersama orang yang benar‑benar menghargaimu daripada bersama orang yang mudah marah hanya karena hal sepele.”

Mendengar kata‑kata itu, Elio akhirnya menoleh sepenuhnya. Tatapannya tajam dan dingin, membuat Jena langsung mundur selangkah secara tidak sadar. Suaranya terdengar tegas dan tidak bisa dibantah lagi.

“Dengar baik‑baik, Jena. Apapun masalah yang terjadi antara aku dan Alena, itu adalah urusan kami berdua. Tidak ada tempat untuk orang lain ikut campur, apalagi mencoba mencari keuntungan dari situasi itu. Sekalipun dia marah, mendiamkan, atau bahkan memarahiku seharian, itu tetap lebih baik daripada mendengarkan kata‑kata yang tidak perlu dari orang yang tidak tahu apa‑apa tentang hubungan kami.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih jelas. “Ingatlah hal ini: tidak ada satu pun hal yang bisa membuatku berpaling dari Alena. Bahkan jika dia memarahiku sepanjang hidup, aku akan tetap menunggu sampai dia tersenyum lagi. Jadi, tolong jangan pernah mencoba mendekat lagi dengan alasan apa pun. Aku tidak akan pernah menggubrisnya.”

Setelah mengucapkan kalimat itu, Elio langsung berbalik badan dan berjalan pergi meninggalkan Jena yang berdiri terpaku di tempatnya, wajahnya memerah karena malu dan marah yang tertahan. Rencana yang ia harapkan justru berakhir dengan kekecewaan yang lebih besar dari sebelumnya.

Sementara itu, dari balik tembok pagar yang agak jauh, Alena yang sebenarnya diam‑diam mengikuti Elio dari belakang tanpa ia sadari, mendengar seluruh percakapan itu dengan jelas. Wajahnya yang tadinya masih tegang dan kesal perlahan melunak, rasa kesal yang menumpuk seharian itu perlahan berubah menjadi rasa haru dan senyum yang ingin ia sembunyikan.

Ia tahu, meskipun Elio sering mengerjai, iseng, dan membuatnya kesal, pria itu selalu memiliki tempat yang paling istimewa hanya untuk dirinya seorang. Bahkan saat mereka sedang bertengkar sekalipun, ia tetap tidak akan memberi ruang bagi orang lain untuk masuk di antara mereka.

Dengan langkah yang lebih ringan dan hati yang jauh lebih tenang, Alena berjalan menyusul Elio yang baru saja berhenti di ujung lorong. Ia menyentuh lengan pria itu dengan lembut, lalu saat Elio menoleh dengan pandangan sedikit terkejut, gadis itu akhirnya tersenyum malu namun tulus.

“Kalau begitu… mulai sekarang, kamu harus berjanji tidak akan menarik hidungku lagi, ya?” ucap Alena dengan suara lembut, tanda bahwa perang dingin mereka akhirnya berakhir.

Elio langsung tersenyum lebar, lega melihat suasana kembali membaik. Ia segera menggenggam tangan Alena erat‑erat, lalu mengangkatnya dan mencium punggung tangan itu dengan lembut. “Baiklah, aku berjanji… setidaknya untuk hari ini saja. Besok kita lihat lagi ya?”

Alena mendengus kesal lagi namun kali ini disertai tawa kecil, lalu memukul lengan Elio pelan. “Dasar tidak bisa diajak serius!”

1
Tri Wahyuni
Semngat terus ya.
Tri Wahyuni
DONE ya kak🤭👍
Yuri: thanks kak 😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!