Faris Arjuna hanyalah pemuda kampung yang datang ke Jakarta dengan modal nekat, sebuah tas usang, dan mimpi besar untuk mengubah nasib keluarganya.
Diremehkan karena miskin, dihina karena tidak punya koneksi, Faris harus menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari jalanan yang penuh preman, persaingan bisnis yang kejam, hingga konflik dengan orang-orang berkuasa, semuanya menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik penampilannya yang sederhana, Faris memiliki keberanian, kecerdasan, dan tekad yang tidak bisa dihancurkan.
Mampukah seorang anak kampung menaklukkan Jakarta dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik orang kaya saja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Uji Nyali di Depan Pintu Bos
Sekitar satu jam kemudian, Faris keluar dari ruang ganti yang ada di gudang seragam itu dengan penampilan yang berubah total, beda banget sama pemuda lusuh yang masuk ke sana tadi. Dia pake setelan jas hitam rapi, bersih, bagus, dan pas banget di tubuhnya, bikin dia kelihatan jauh lebih gagah, berwibawa, dewasa, dan kelihatan kayak orang yang udah terlatih jadi pengawal profesional bertahun-tahun lamanya. Rambutnya yang agak panjang sedikit udah dipotong sama ditata rapi sama tukang cukur yang ada di lantai bawah gedung itu atas perintah Pak Hardi, bikin dia makin kelihatan rapi dan sopan. Kalau orang yang nggak tau asal-usulnya pasti nggak bakal nyangka kalau dia cuma anak kampung yang baru dateng ke Jakarta hari ini juga.
Faris berhenti sebentar di depan cermin besar yang ada di dalam lift, dia natap bayangannya sendiri dari atas sampe bawah, periksa penampilannya biar rapi dan sopan banget. Rasanya dia nggak kenal lagi sama orang yang ada di cermin itu, rasanya dia jadi orang yang beda banget dari Faris yang dia kenal selama ini. Dia bukan lagi Faris pemuda dari Sidoarjo yang capek-capek jalan kaki nyari kerjaan dari pagi sampe sore dan sering ditolak orang. Dia sekarang adalah Faris Arjuna, pengawal pribadi Bu Viona Adhitama, orang yang dipercaya buat menjaga nyawa dan keselamatan orang paling penting di perusahaan besar ini, orang yang punya tanggung jawab besar banget.
"Perubahan emang cepet banget dan luar biasa ya kalau udah dikasih kesempatan sama Tuhan," batinnya sambil nyentak jasnya biar makin rapi dan nggak ada yang kusut. "Tapi inget Faris, baju cuma penutup badan, jabatan cuma nama doang, hati, sifat, sama prinsip kamu harus tetep sama kayak dulu, jangan sampe berubah jadi sombong, jahat, atau lupa diri gara-gara dapet jabatan baru dan lingkungan baru. Tetep jadi orang jujur, berani, sama baik kayak dulu, itu yang paling penting."
Pas dia balik lagi ke depan ruangan kerja Viona di lantai atas, tiba-tiba dia ngeliat ada keributan kecil yang menarik perhatian orang-orang yang lewat di sana. Dua orang pria pake baju safari hitam kelihatan garang, kasar, dan galak banget, lagi berdebat sama sekretaris Viona yang kelihatan panik, takut, sama bingung banget nggak tau harus ngapain buat halangi mereka masuk.
"Kami harus ketemu Bu Viona sekarang juga dan di saat ini juga! Ini masalah penting, mendesak, sama menyangkut keselamatan perusahaan! Jangan halangi kami terus-terusan atau nanti kalian yang menanggung akibatnya!" teriak salah satu dari dua orang itu kasar, mukanya merah padam menahan emosi dan marah, suaranya kenceng banget sampe bergema di sepanjang lorong.
Faris langsung jalan cepet mendekat ke sana, matanya jelalatan ngamatin gerak-gerik mereka, ngeliat ekspresi muka mereka, ngeliat cara mereka berdiri dan ngomong. Insting bertahan hidupnya langsung bangun dan ngasih sinyal bahaya yang kuat banget ke otaknya. Dia yakin banget, seratus persen yakin, dua orang ini pasti masih satu kelompok, satu perintah, atau setidaknya satu tujuan jahat sama orang-orang yang nyerang Viona di terminal tadi. Gaya bicara kasar, tatapan mata yang jahat, sama cara berdiri mereka yang sombong dan mau memaksa orang lain persis sama banget kayak orang-orang tadi di terminal.
Tiba-tiba Faris ngeliat tangan salah satu pria itu gerak curiga dan sembunyi-sembunyi, dia nyelipin tangannya ke dalem saku jas bagian dalamnya dengan gerakan yang terburu-buru dan rahasia banget, seolah dia mau ambil atau nyiapin sesuatu yang berbahaya.
"Senjata! Mereka bawa senjata tajam atau senjata api buat nyerang Bu Viona!" batin Faris cepat dan waspada, dia langsung siap siaga, ototnya dia tegangkan pelan-pelan, dia siap ngelawan atau nangkep serangan mereka kapan aja. "Mereka bawa senjata terlarang masuk ke kantor resmi, itu bahaya banget buat keselamatan semua orang di sini, apalagi Bu Viona yang ada di dalem sana."
Tanpa nunggu aba-aba, tanpa mikir panjang lagi, tanpa takut sama jumlah atau kekuatan mereka, Faris langsung melangkah cepat mendekat ke depan pintu ruangan Viona, dia berdiri tegak, gagah, dan lebar menghalangi jalan mereka biar nggak bisa masuk sama sekali. Tangannya dia masukin ke saku celana santai, tapi di jari kanannya masih terselip rokok Gajah Baru yang ujungnya udah dia kertek rapi tadi, gayanya santai, tenang, dan sengklek banget tapi tatapannya tajam banget kayak elang yang ngeliat mangsanya.
"Maaf ya Mas-mas sekalian yang terhormat, Bos saya Bu Viona lagi sibuk banget, lagi rapat penting, dan nggak bisa diganggu siapapun sekarang juga," kata Faris dengan nada bicara yang sopan, halus, dan ramah banget tapi dingin, tegas, sama berwibawa banget, bikin bulu kuduk orang yang denger rasanya merinding dan segan. "Kalau ada keperluan penting atau mau ngomong urusan resmi, silakan daftar dulu di meja resepsionis, bikin janji temu resmi, nanti kalau Bu Viona punya waktu luang dan berkenan dipanggil bakal kami kabarin. Ini kantor resmi yang punya aturan ketat, bukan pasar atau tempat kumpul preman yang bisa masuk sembarangan, masuk paksa, atau ngomong kasar gini aja."
"Minggir lu anak kecil! Jangan ikut campur urusan orang gede yang nggak ngerti apa-apa! Lu siapa berani ngalangin kami dan ngatur-ngatur kami hah?!" bentak salah satu pria itu kasar dan marah banget, dia langsung dorong bahu Faris sekuat tenaga biar Faris jatuh atau minggir ketakutan. Dia ngerasa Faris cuma anak muda kurus sama lemah yang gampang banget dikasihani atau ditakut-takutin.
Tapi Faris cuma bergeser sedikit aja ke belakang karena dorongan itu, dia malah senyum tipis dan sinis banget, terus dia muterin bahunya santai seolah dorongan keras sekuat tenaga itu cuma kayak sentuhan anak kecil atau angin lewat doang yang nggak ada rasanya sama sekali.
"Saya bilang sekali lagi dan ini terakhir kali: buat janji temu dulu dengan cara yang sopan dan benar kalau mau ketemu Bu Viona," ulang Faris tenang tapi nadanya udah mulai mengandung ancaman yang serius banget, nunjukin kalau dia udah nggak sabar dan mau bertindak keras kalau mereka tetep ngeyel.
Pria itu makin marah dan emosi, dia mau ngangkat tangannya lagi buat mukul atau dorong Faris lebih keras lagi, tapi belum sempet tangannya naik ke atas atau nyentuh badan Faris, Faris udah gerak lebih cepet dari kilat dan lebih halus dari angin. Dalam satu gerakan cepat, terukur, dan kuat banget, Faris nyekel pergelangan tangan pria itu dengan kencang sampe pria itu teriak kaget, diputer dengan arah yang bikin sakit banget sampe tulangnya rasanya mau copot, terus ditekan ke bawah dengan tenaga yang pas banget sampe pria itu nggak kuat nahan sakit dan akhirnya berlutut di lantai marmer yang keras itu, mukanya pucat banget menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Aduh! Sakit banget! Lepasin tangan gue! Lepasin sekarang juga lu anak kurang ajar!" teriak pria itu kesakitan, suaranya parau sama nggak berdaya banget, dia berusaha narik tangannya tapi nggak bisa gerak sedikit pun karena cengkeraman Faris kenceng banget dan nggak bisa dilepas.
Faris mendekatkan mulutnya ke telinga pria itu, bisik dengan nada dingin, datar, dan menakutkan banget yang cuma bisa didengerin sama pria itu aja. "Dengerin baik-baik apa yang saya bilangin dan turutin perintah saya, Mas. Di sini aturannya saya yang tentuin selama saya jagain Bu Viona, bukan kalian. Jangan nyari masalah atau bertindak kasar sembarangan kalau kalian nggak sanggup nanggung akibatnya sama sakitnya nanti. Paham kan sekarang rasanya?"
Pria satunya lagi kaget dan panik banget ngeliat temennya tumbang gampang banget cuma dalam satu gerakan doang, dia langsung maju dengan emosi meledak mau nyerang Faris dari belakang biar Faris kaget dan jatuh, tangannya udah diangkat tinggi mau ngasih hantaman keras ke kepala Faris. Tapi Faris udah tau dan ngeduga gerakan itu dari tadi, dia cuma nunduk dikit biar hantaman itu meleset, terus ngeluarin satu tendangan sapuan kenceng banget ke kaki bagian bawah lawan sampe pria itu kehilangan keseimbangan, jatuh terguling keras ke lantai marmer sampe bunyi brak yang nyaring, bikin orang-orang yang ada di sekitar sana teriak kaget dan panik.
Suasana di lantai itu mendadak hening total, sunyi banget, nggak ada satu orang pun yang berani ngomong, gerak, atau napas kenceng-kenceng. Semua orang ngeliat Faris yang berdiri tegak, tenang, santai, dan gagah banget di tengah ruangan itu sambil masih pegangin tangan pria yang berlutut itu, sementara dua orang yang kelihatan sangar, kuat, dan berbahaya tadi sekarang terbaring atau berlutut di lantai, meringis kesakitan, ketakutan, dan nggak kuat bangun sama sekali.
Pintu ruangan Viona tiba-tiba terbuka lebar dengan cepat. Viona keluar karena denger suara gaduh, teriakan, sama bunyi keras yang kenceng banget dari luar ruangannya. Dia berhenti di ambang pintu, natap pemandangan di depannya dengan mata melotot kaget, bingung, dan nggak percaya banget sama apa yang dia liat. Dia bener-bener nggak nyangka, baru satu jam Faris kerja, baru satu jam dia pake seragam kerja resmi, pemuda itu udah berhasil buktikan kalau keputusan dia ngangkat Faris jadi pengawal itu bener banget, tepat banget, dan nggak salah sama sekali. Faris bener-bener orang yang dia cari selama ini, orang yang bisa dia andelin dan percayain nyawanya.
Viona jalan mendekat pelan-pelan, dia natap kedua orang itu dengan pandangan yang sedingin es, penuh kebencian, kekecewaan, sama kemarahan yang besar banget karena mereka berani nyerang dan ganggu dia di kantor sendiri yang seharusnya aman.
"Keamanan! Cepat seret dua orang ini keluar dari gedung ini sekarang juga, buang mereka sejauh mungkin dari sini!" perintah Viona keras, tegas, dan kenceng banget sampe bergema di sepanjang lorong. "Pastikan mereka nggak bakal bisa masuk ke sini lagi atau nyamperin saya lagi seumur hidup mereka! Kalau mereka berani balik lagi, langsung tangkap dan serahin ke polisi atas tuduhan ganggu keamanan sama mau nyerang saya!"
Beberapa petugas keamanan gedung langsung lari nyamperin dengan cepat, terus dengan kasar banget mereka seret kedua orang itu keluar dari sana sambil teriak-teriak minta ampun, ninggalin jejak debu sama suara rintihan kesakitan mereka yang makin lama makin menjauh.
Setelah keadaan udah bener-bener aman, tenang, sama rapi lagi, Viona muterin badannya natap Faris yang masih berdiri tegak, sopan, dan siap siaga di sana. Kali ini, senyum tipis yang muncul di bibirnya bukan senyum kemenangan atau senyum formal biasa, tapi senyum tulus yang bener-bener keluar dari hati, penuh rasa lega, rasa terima kasih, sama rasa kagum yang besar banget. Dia ngerasa dapet tameng pelindung yang kuat banget, yang bisa dia andelin kapan aja dia butuhin.
"Pilihan yang tepat banget dan keputusan yang nggak pernah saya sesali," bisik Viona pelan dan lembut banget, cuma bisa didengerin sama Faris aja. "Kamu bener-bener orang yang saya cari selama ini, orang yang jujur, berani, sama punya kemampuan yang luar biasa. Makasih banyak Faris, kamu udah nyelamatin saya lagi dan udah buktikan kalau kamu layak banget jadi pengawal saya."