NovelToon NovelToon
Faristya

Faristya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Bad Boy
Popularitas:759
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.

Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.

"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.

Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"

"Gue juga gak mau."

"Bagus. Berarti kita sepakat."

Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."

Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.

Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?

Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Pagi yang penuh kecurigaan

Tya baru saja melangkahkan kaki melewati gerbang sekolah setelah turun dari ojek. Wajahnya terlihat masih menyisakan kekesalan sejak pagi. Belum sempat Tya berjalan lebih jauh, dua sosok yang baru tiba dari arah samping langsung menghampirinya.

"Morning, Tya," sapa Megan dengan senyum tipis.

Tya menoleh dan membalas dengan anggukan kecil, "Pagi."

Sementara Starla memperhatikan Tya dari ujung kepala hingga kaki. Dahinya berkerut heran. "Eh, tumben lo naik ojek?" Tanyanya. "Gak di antar Pak Rahmat?"

Tya menghela nafas pelan. "Panjang ceritanya."

Tanpa berpikir dua kali, Starla langsung menyahut dengan wajah polos. "Ya udah, pendek kan."

Tya langsung memejamkan mata sesaat. Ia menarik nafas dalam-dalam, berusaha meredam kesal yang sejak pagi belum juga hilang.

"Kenapa?" Tanya Megan heran, memperhatikan perubahan ekspresi sahabatnya.

Tya menggeleng pelan, "Gue ceritain nanti aja," ujarnya lesu. "Lagi gak mood."

Starla dan Megan saling pandang sejenak. Sementara Tya mencengkram tali tasnya semakin erat. Sejak pagi, ia sudah dibuat kesal dengan Faris dan Dhyo, sekarang Starla justru menyahut spontan seperti ini.

"Kenapa sih hari ini semua orang bikin gue emosi?" Batin Tya.

Starla memicingkan mata ketika melihat Tya yang tiba-tiba diam. "Jangan-jangan," gumamnya pelan. "Soal Faris, pasti."

"YA KALAU BUKAN DIA SIAPA?!"

Jawaban itu keluar begitu saja dari mulut Tya dengan nada yang jauh lebih keras dari yang ia sadari.

Starla langsung membeku di tempat. Kedua matanya membulat, senyum di wajahnya perlahan menghilang. Di sampingnya, Megan ikut tersentak kaget. Ia berkedip beberapa kali sebelum menatap Tya dengan ekspresi heran.

Suasana mendadak hening beberapa saat. Tya yang baru menyadari dirinya membentak, langsung menghela nafas pelan sambil mengusap pelipisnya.

"Sorry," gumam Tya lirih. "Emosi gue lagi jelek."

Starla yang sempat terdiam akhirnya mengangkat kedua tangannya sambil nyengir tipis. "It's okay, no problem."

Sementara Megan menatap Tya dengan ekspresi tenang. "Tenangin diri lo dulu, Ty," ujarnya. "Nanti kalau udah lebih tenang, baru cerita."

Tya terdiam sejenak. Pandangannya bergantian mengarah kepada kedua sahabatnya itu. Akhirnya, ia mengangguk pelan. "Iya," suaranya jauh lebih tenang dari beberapa saat lalu. "Nanti gue cerita."

Belum sempat mereka kembali melangkah, suara deru sebuah motor terdengar mendekat dari arah gerbang. Sebuah motor melesat pelan melewati samping mereka menuju area parkir sekolah.

Ketiganya refleks menoleh. Di atas motor itu, Faris terlihat mengendarainya dengan wajah datar seperti biasa. Tanpa memedulikan sekitar, ia langsung melaju ke arah parkiran.

Starla memiringkan kepala, "Eh, itu kan motornya Dhyo?"

Megan ikut memperhatikan motor itu. "Iya," gumamnya heran. "Kok yang bawa Faris? Dhyo mana?"

Sementara Tya hanya memandang datar ke arah parkiran. Tidak ada sedikit pun komentar yang keluar dari mulutnya. Ia tahu bagaimana motor itu bisa berpindah tangan pagi ini.

Beberapa saat Tya memandang ke arah parkiran. Tanpa mengalihkan pandangan, ia menyenggol pelan lengan Starla. Dagunya terangkat, menunjuk ke arah Faris yang baru saja memarkirkan motor itu.

"Dia tuh yang nyolong," celetuk Tya.

Starla langsung mengernyit, "Hah?"

Megan juga bereaksi sama, tatapannya bergantian mengarah pada Faris, lalu kembali pada Tya. "Nyolong?" Ulangnya.

Tya mendengus pelan. Sementara Starla justru semakin bingung. Dahinya berkerut dalam. "Tunggu, bentar..." Ia mengangkat telapak tangannya. "Maksud lo apa? Kok gue malah makin gak ngerti?"

"Gue udah bilang," ujar Tya datar. "Panjang ceritanya."

Starla membuka mulut, begitu pula Megan yang tampak hendak bertanya lagi. Namun, sebelum keduanya sempat mengucapkan sepatah kata pun, dua motor melaju memasuki area parkir.

Motor pertama dikendarai Andre, sementara Dhyo duduk di jok belakang dengan wajah yang tampak masih kesal. Di belakang mereka, Lex menyusul dengan motornya sendiri.

Begitu motornya berhenti, Dhyo langsung turun dari jok belakang. Dengan gerakan cepat, ia melepas helmnya lalu melangkah lebar menghampiri Faris.

"WOI RIS!" Seru Dhyo kesal. "Lo tuh keterlaluan, ya! Yang minta dijemput siapa, yang ninggalin gue siapa!"

Faris menoleh sekilas dengan wajah datar, seolah tidak merasa bersalah sedikit pun. "Gue bilang pinjem."

Jawaban singkat itu justru membuat Dhyo semakin mendelik. Lex yang baru turun dari motornya ikut menimpali. "Wah, parah lo Ris. Pinjem apa nyolong?"

"Lo diem bisa gak?!" Ujar Faris sambil melontarkan tatapan tajam ke arah Lex.

Starla memperhatikan pertengkaran kecil itu dari kejauhan, lalu mengangguk-angguk kecil. "Ooh," gumamnya pelan. "Pantesan tadi lo bilang dia nyolong."

Megan mengangguk pelan, tatapannya masih mengarah ke arah empat cowok itu. "Walaupun katanya pinjem, caranya tetap aja salah."

Tya tidak ikut menanggapi. Ia hanya berdiri diam di tempat dengan kedua tangan memegangi tali tasnya. Tatapannya lurus ke depan, menarik nafas panjang dan menghembusnya perlahan.

Setelah drama sejak pagi, Tya benar-benar sedang berusaha menenangkan diri agar emosinya tidak kembali meledak.

Setelah merasa emosinya sedikit lebih stabil, Tya mengalihkan pandangan dari arah parkiran. "Yuk," ujarnya singkat pada dua sahabatnya. "Masuk kelas."

Starla dan Megan mengangguk, lalu mulai melangkah di sisi kanan dan kiri Tya.

Dari arah parkiran masih terdengar suara Dhyo yang terus mengomel, diselingi sahutan Lex dan Andre yang entah menimpali atau justru memperkeruh keadaan.

Tya sama sekali tidak berniat menoleh. Baginya, meladeni geng badboy itu hanya akan menghabiskan tenaga. Terlebih lagi, ketuanya adalah Faris.

Di area parkir, Dhyo yang sedari tadi masih memasang wajah kesal perlahan menghentikan omelannya. Entah mengingat apa, sudut bibirnya tiba-tiba terangkat membentuk seringai jahil.

Insting tukang gosip Dhyo mendadak aktif. Ia melirik ke kanan dan kiri, memastikan tidak banyak orang yang memperhatikan. Lalu, ia melangkah mendekat ke arah Faris. Dengan suara yang sengaja direndahkan, ia berbisik.

"Eh, gimana rasanya tidur sekamar sama Tya?" Ujar Dhyo jelas sedang memancing reaksi Faris.

"Hah?" Alis Lex terangkat tinggi. "Gila, Tya udah tinggal di rumah lo?

Andre ikut menatap Faris dengan ekspresi tak kalah terkejut. Sementara Dhyo mengangguk penuh semangat.

"Iya," ujar Dhyo sambil menahan tawa. "Tadi pagi Faris ngeluh sakit pinggang. Terus, lingkar mata Tya juga hitam."

Lex langsung melongo beberapa saat. Lalu tersenyum penuh arti. "Gue ngerti maksud lo, Dhyo."

Andre yang awalnya hanya mendengarkan, kini justru memalingkan wajah, menahan tawa. "Sangat paham." Gumamnya dengan suara yang bergetar.

Dhyo tertawa puas. "Kan?" Ujarnya bangga. "Pikiran kita sama."

Faris memejamkan mata beberapa saat. Tangannya terangkat mengusap wajahnya dengan kasar, seolah sedang menahan migrain yang datang mendadak.

"Kenapa gue masih temenan sama manusia-manusia gak ada gunanya ini?" Gumam Faris lirih, nyaris tak terdengar.

Andre kemudian berdehem pelan, berusaha menahan sisa tawanya. "Bener Ris?" Ujarnya penasaran.

"Bener apanya?!" Ujar Faris meninggi.

Andre mengangkat kedua tangannya. "Ya, itu... Yang dibilang Dhyo."

Dhyo menyela dengan wajah polos yang dibuat-buat. "Lah, gue kan cuma menyampaikan fakta."

"Fakta apaan, sialan!" Bentak Faris kesal. "Lo aja yang provokasi dari tadi!"

Dhyo semakin terkekeh, sama sekali tidak goyah menghadapi tatapan tajam Faris. "Cocok padahal."

"Cocok jidat lo!" Sahut Faris.

Dengan gerakan kasar, Faris meraih tangan Dhyo, lalu menepuk kunci motor itu ke telapak tangannya dengan sedikit lebih keras dari seharusnya. "Nih!" Gerutu Faris. "Kunci motor lo!"

Dhyo meringis sambil mengusap telapak tangannya. "Woi! Pelan dikit napa!"

Faris menghela nafas kasar. Tatapannya menyapu satu per satu wajah ketiga sahabatnya. Telunjuknya terangkat, menunjuk mereka bergantian.

"Lo... Lo... Dan lo!" Ujar Faris dengan rahang mengeras. "Dengerin baik-baik! Jangan pernah cocokin gue sama Tya."

Faris memberi jeda sejenak, lalu menegaskan dengan wajah penuh keyakinan. "Karena sampai kapan pun, gue gak bakal suka sama dia."

Hening sesaat, lalu Dhyo menyeringai semakin lebar. "Ah, yang bener?" Godanya. "Biasanya orang yang ngomong gitu tuh, ujung-ujungnya malah yang paling duluan jatuh."

"Cieee," sambung Lex sambil menyenggol pelan lengan Andre.

Andre yang sedari tadi berusaha terlihat netral, akhirnya ikut terkekeh. "Iya juga, Ris. Jangan-jangan nanti malah lo sendiri yang kemakan omongan."

Faris menatap langit beberapa saat. Ia benar-benar mulai kehilangan kesabaran menghadapi tiga manusia di depannya. Lalu, ia menghela nafas panjang yang terdengar berat.

"Pikiran kalian rusak!" Ujar Faris.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Faris membalikkan badan dan mulai melangkah meninggalkan area parkir.

"Woi, Ris!" Panggil Dhyo, masih dengan tawa.

Faris sama sekali tidak menggubris. Langkahnya tegap menuju gedung sekolah. Di belakangnya, suara tawa mereka justru semakin pecah.

"Hahaha!"

"Tuh kan ngambek!"

"Ketua kabur!"

Faris hanya mengangkat satu tangan tanpa menoleh, melambaikannya asal sebagai isyarat agar mereka berhenti. Tentu saja, tak satu pun dari ketiga sahabatnya berniat ingin berhenti.

Sementara itu, di dalam kelas, Tya baru saja meletakkan tasnya di atas meja. Ia duduk di kursinya sambil menghela nafas panjang.

Starla yang sejak tadi masih dipenuhi rasa penasaran langsung memutar badan menghadap Tya. "Ty," panggilnya pelan. "Gue masih bingung."

Tya melirik sekilas. "Apaan?"

"Kok lo bisa tau motor Dhyo ada di Faris?" Tanya Starla penasaran. "Sampai bilang dia yang nyolong segala."

Megan yang berdiri di sampingnya ikut mengangguk pelan. "Iya, emangnya tadi pagi ada apa?"

Tya memejamkan mata sejenak. Lalu akhirnya menjawab dengan suara pelan, meski nadanya masih terdengar sedikit ketus. "Mulai kemarin sore, gue udah tinggal di rumahnya."

Starla dan Megan langsung terdiam. Keduanya mengucapkan kata 'hah' hampir bersamaan.

"Kok gak cerita?" Tanya Starla spontan.

Megan ikut mengangguk. "Iya. Kenapa baru bilang sekarang?"

Tya menyandarkan punggungnya ke kursi. "Belum saatnya," jawabnya. "Gue aja masih gak percaya sekarang tinggal di rumah dia."

Tya mengetuk-ngetuk meja dengan jemarinya, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Ia menghela nafas pelan, sebelum akhirnya mulai bercerita. Ia menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi.

Semakin lama mendengarkan, ekspresi Starla dan Megan berubah berkali-kali. Sesekali mereka saling pandang, lalu kembali menatap Tya berusaha mencerna semua cerita yang baru saja mereka dengar.

"Jadi gitu ceritanya," ujar Tya lirih. "Makanya, gue tuh kesel banget hari ini. Semalam kurang tidur, eh paginya Dhyo datang dan buat teori. Bikin mood gue berantakan, tau gak."

Saat Tya akhirnya selesai bercerita, ia menatap langit-langit kelas, seolah beban yang sejak pagi dipendamnya akhirnya sedikit berkurang. Sementara di depannya, dua sahabatnya masih diam, jelas belum sepenuhnya percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.

Keheningan sempat menyelimuti mereka beberapa saat. Megan menghela nafas pelan. Tatapannya melembut saat melihat sahabatnya.

"Pasti berat ya, Ty," ujar Megan lirih. "Dalam waktu sesingkat itu, hidup lo berubah banyak."

Tya hanya tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak benar-benar sampai ke matanya. Starla menepuk pelan pundak Tya. "Ya, walaupun situasinya aneh banget," ucap Starla mencoba menghibur. "Lo gak sendirian kok, masih ada gue sama Megan."

Megan mengangguk pelan. Tya menatap keduanya bergantian, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum kecil yang kini terlihat lebih tulus.

"Thanks," ucap Tya lirih.

Setidaknya, di tengah kekacauan yang terjadi, ia masih memiliki dua sahabat yang selalu siap mendengarkan tanpa menghakimi.

Starla yang sejak tadi mengangguk-angguk pelan, tiba-tiba memicingkan mata. Raut wajahnya berubah seolah baru mengingat sesuatu.

"Eh bentar," gumam Starla.

Tya dan Megan menoleh bersamaan. Starla menatap Tya, "Tadi pagi lingkar mata lo emang hitam. Terus kata Dhyo, Faris sakit pinggang." Lanjutnya sambil mengusap dagu. "Kalau dipikir-pikir, teori Dhyo ada benarnya juga."

Mata Tya langsung membelalak. Ia mendelik tajam ke arah Starla. "Please, deh!" Serunya pelan, masih menjaga suara agar tidak menarik perhatian kelas. "Lo jangan ikut-ikutan!"

Starla langsung mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, tapi senyumnya justru semakin lebar. "Lah, gue cuma nyambungin fakta."

"Fakta dari mana?!" Balas Tya cepat. "Gue kurang tidur gara-gara ribut sama dia semalaman! Dia sakit pinggang karena tidur di sofa! Bukan karena yang lo pikirin!"

Megan yang sedari tadi mendengarkan akhirnya tak kuasa menahan senyum. "Nah," ujarnya tenang. "Itu penjelasan yang masuk akal."

Starla mengangguk pelan. "Iya, sih," gumamnya. "Tapi gara-gara Dhyo ngomong gitu, otak gue jadi ikut kehasut."

Tya mengusap pelipisnya pelan sambil menggeleng putus asa. "Fix," gumamnya pelan. "Dhyo itu penyebar virus."

Mendengar itu, Starla dan Megan langsung tertawa kecil. Sementara Tya hanya bisa menghembuskan nafas panjang, merasa pagi itu penuh dengan manusia-manusia yang pikirannya sama-sama eror.

^^^Bersambung...^^^

1
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 🤭🤭
Enz99
bagus banget
xuer jinghao
dan sehat selalu 💪💪
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih kak, semoga kakaknya juga sehat selalu😄
total 1 replies
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 😍😍
Shintara
Faris : Dari sekian banyak cewek di dunia ini, kenapa harus lo?
Tya : Karena lo gak mampu cari cewek kayak gue 🤣🤣🤣
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Hehehe bener banget kak🤭
total 1 replies
Shintara
❤️❤️❤️
Shintara
lanjut kak..
jangan lupa mampir juga ya. ❤️
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Siap kak, terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!