Lin Meilin adalah agen intelijen modern papan atas yang ditakuti karena keahliannya dalam taktik pertempuran dan racun mematikan. Namun, sebuah misi rahasia untuk merebut kembali Giok Dinasti Long yang hilang di luar negeri justru berakhir tragis. Meilin dikhianati oleh rekan seperjuangannya sendiri hingga sekarat.Saat tetesan darah Meilin menyentuh permukaan giok kuno tersebut, keajaiban mistis terjadi. Jiwanya terlempar melintasi waktu dan terbangun di dalam tubuh Permaisuri Lin—seorang wanita berkedudukan tinggi namun memiliki kepribadian yang sangat lemah dan penakut. Di dunia kuno ini, Permaisuri Lin baru saja diracun oleh selir kesayangan kaisar dan dibuang hingga terabaikan di Istana Dingin yang sunyi.Kini, tidak ada lagi permaisuri lemah yang bisa ditindas! Dengan jiwa agen rahasia yang haus akan keadilan, Meilin bangkit untuk mengacak-acak seisi istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amber Mist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Wajah dari Masa Depan
Meilin terkekeh dingin, sepasang matanya berkilat penuh permainan taktis yang luar biasa memikat. Ia melangkah mundur, merapikan kembali sabuk taktis militernya yang dipenuhi oleh belati perang dan botol-botol racun kimia. "Simpan dulu tenagamu untuk memimpin pasukan pembersihan besok pagi, Yang Mulia. Skenario kehancuran logistik klan Hua... biar aku yang mengeksekusinya malam ini."
Tengah malam tiba diiringi oleh hembusan angin perbatasan yang membawa kabut tebal bersuhu minus nol derajat. Di bawah kegelapan pekat yang menyelimuti tebing Celah Guanshan, Lin Meilin bersama sepuluh pemuda yatim piatu didikannya yang mengenakan seragam tempur hitam ketat bergerak melesat tanpa suara melewati garis pertahanan luar musuh. Langkah kaki mereka seringan bayangan berkat kombinasi teknik spionase modern dan aliran Qi internal tingkat menengah yang kian matang.
Misi sabotase malam pertama di bawah komando sang agen rahasia modern telah dimulai, siap menghentakkan garis pertahanan enam puluh ribu pasukan aliansi barat dengan taktik penghancuran senyap abad ke-21.
Kabut tebal yang menyelimuti Celah Guanshan menjadi tabir pelindung yang sempurna bagi pergerakan Lin Meilin. Bersama sepuluh pemuda yatim piatu pilihan dari Toko Obat Seribu Penawar, ia bergerak menyusuri lereng tebing batu yang curam tanpa menimbulkan getaran sekecil apa pun. Pakaian tempur hitam ketat yang mereka kenakan menyatu sempurna dengan kegelapan malam, menyisakan siluet samar yang bergerak secepat bayangan hantu.
Di bawah tebing, kompleks penyimpanan logistik klan Hua terlihat dijaga ketat. Obor-obor minyak besar menyala di setiap sudut, memperlihatkan ratusan gerobak kayu penuh gandum yang ditutupi kain terpal tebal. Dua ribu prajurit patroli berjalan dalam formasi melingkar dengan pedang terhunus.
Formasi patroli statis dengan interval pergantian sif setiap lima belas menit. Amatir, analisis Meilin dalam hati menggunakan kalkulasi taktis militer modern.
Meilin memberikan isyarat tangan berwujud kode alfabet intelijen yang telah ia ajarkan kepada timnya. Sepuluh pemuda itu langsung menyebar ke titik-titik buta yang telah ditentukan, masing-masing membawa tabung bambu berisi bubuk fosfor peledak ringan yang dipadukan dengan minyak pinus pekat buatan toko obat. Tugas mereka adalah memasang sumbu picu otomatis di roda gerobak logistik.
Meilin sendiri melesat menuju tenda logistik utama tempat komandan penjaga klan Hua berada. Gerakannya seringan bulu berkat aliran Qi tingkat menengah yang kian matang.
Sleb!
Sebelum seorang prajurit jaga di dekat pintu tenda menyadari kehadirannya, belati perang Meilin telah memotong urat leher belakangnya dengan akurasi mekanis. Pria itu ambruk tanpa sempat mengeluarkan suara, langsung ditangkap oleh Meilin dan disembunyikan di balik tumpukan jerami.
Meilin menyelinap masuk ke dalam tenda. Di atas meja kayu tengah, terletak dokumen manifes distribusi logistik untuk seluruh pasukan aliansi barat. Meilin bergerak cepat, mengamankan dokumen penting itu ke dalam saku sabuk taktis militer di pinggangnya. Informasi intelijen adalah senjata terkuat sebelum pertempuran dimulai.
Tepat saat ia hendak melangkah keluar, suara langkah kaki sepatu bot militer yang berat terdengar mendekat dari arah teras luar. Meilin dengan lincah melompat ke atas, mencengkeram balok kayu penyangga atap tenda, dan menahan napasnya di balik bayang-bayang kegelapan atap kain.
Tirai tenda disibak. Dua orang pria melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Pastikan seluruh pasokan gandum ini dipindahkan ke garis depan sebelum fajar," ujar salah seorang pria dengan nada suara bariton yang berat dan penuh wibawa. Pria itu mengenakan pakaian pelindung baja hitam dengan jubah bulu serigala kelabu—ciri khas panglima militer tingkat tinggi dari Kerajaan Bei.
Pria itu memunggungi posisi Meilin, namun begitu ia berbalik untuk memeriksa peta di atas meja, sepasang mata elang Meilin mendadak membelalak lebar. Jantung sang agen rahasia modern berpacu hebat dengan kecepatan yang tidak pernah terjadi sebelumnya semenjak ia bertransmigrasi ke dunia kuno ini.
Saraf bertarungnya membeku sesaat karena rasa keterkejutan yang teramat pekat.
Pria yang berdiri di bawah sorotan lampu obor itu memiliki rahang yang tegas, potongan rambut pendek rapi di bawah helm bajanya, dan sepasang mata dingin yang tanpa emosi. Wajah itu, postur tubuh itu, bahkan cara berjalannya... sangat identik dengan Davin, rekan organisasi The Ghost yang telah menembak dadanya dan mengkhianatinya demi Giok Dinasti Long di gudang bawah tanah pelabuhan London.
Davin?! Bagaimana mungkin dia berada di zaman ini?! batin Meilin berteriak kencang, menahan riak kepanikan taktis di dalam kepalanya.
Menggunakan analisis psikologi forensik yang dikuasainya, Meilin mencoba meneliti setiap jengkal wajah pria di bawahnya. Kemiripannya mencapai sembilan puluh sembilan persen. Namun, ada yang berbeda; pria ini memancarkan aura kekuatan dalam (Qi) yang sangat padat dan matang, tipe kultivasi tingkat puncak yang hanya bisa didapatkan setelah latihan beladiri kuno selama belasan tahun.
"Panglima Bei Davin, semua persiapan sudah selesai," ujar komandan klan Hua di sampingnya dengan sikap yang sangat membungkuk hormat. "Sekte Teratai Hitam di ibu kota dikabarkan telah gagal, tetapi dengan kehadiran Anda di sini membawa kavaleri besi, kita pasti bisa meruntuhkan Celah Guanshan besok pagi."
Pria yang dipanggil Panglima Davin itu hanya mendengus dingin, melipat kedua tangannya di depan dada bidangnya. "Sekte Teratai Hitam hanyalah sekumpulan tikus tanah yang tidak berguna. Jangan samakan pasukanku dengan mereka. Bergeraklah sekarang juga sebelum pasukan Kaisar Long Feng menyadari taktik kita."
Setelah kedua pria itu keluar dari tenda untuk memeriksa barisan gerobak, Meilin merosot turun dari balok atap kayu dengan langkah yang sedikit goyah. Pikirannya dipenuhi oleh konspirasi yang jauh lebih besar dan mengerikan. Jika pria itu benar-benar Davin yang ikut terlempar melintasi waktu akibat ledakan energi Giok Dinasti Long malam itu, maka musuh masa depannya kini telah menjelma menjadi penguasa militer tertinggi di Kerajaan Bei.
Namun, Meilin dengan cepat menggelengkan kepalanya, memaksa kontrol emosinya kembali ke tingkat dingin seorang agen elit. Siapa pun kau, Davin atau panglima Bei... jika kau berdiri di jalur balas dendamku, aku akan memastikan pedangku memotong lehermu untuk kedua kalinya, batin Meilin penuh kebengisan yang pekat.
Meilin melangkah keluar dari tenda, mengeluarkan sebuah peluit bambu kecil dan meniupnya dalam frekuensi frekuensi rendah yang hanya bisa didengar oleh timnya.
Blar! Blar! Blar!
Dalam hitungan detik, rangkaian ledakan berantai dari bubuk fosfor peledak ringan meledak hebat di seluruh area gudang logistik klan Hua. Api berwarna hijau zamrud yang sangat panas menyembur ke udara, dengan cepat melalap ratusan gerobak gandum menjadi abu dalam sekejap mata. Suara jeritan histeris dari dua ribu prajurit patroli klan Hua seketika pecah, memicu kepanikan massal yang luar biasa besar di tengah kegelapan malam yang berkabut.
"Kebakaran! Ada musuh menyusup! Lindungi panglima!" teriakan panik menggema di seluruh lembah.
Di tengah kekacauan kobaran api hijau dan kepulan asap tebal, Meilin bersama sepuluh pemuda yatim piatunya melompat menjauh, melesat ringan kembali menuju lereng tebing Celah Guanshan.
semangat up nya kak, Terima kasih sdh up beberapa bab kak😍😍.. utk jam berapa nya kau up terserah aja ya.. aku selalu menantikan kelanjutan cerita mu ini.. semoga sampai tamat 😍😍😍
semangat ya
semoga sampai tamat ya😍😍
semangat up nya💪💪
Yuk, voting, kalian lebih suka aku upload di jam brp?
Yang setia ikutin, pencet " ikuti" + kasih 💫 bintangmu ya.
Hamba butuh dukungan kalian
semangat thor nulisnya nya🤭
kalo berkenan mampir thor😉