“Cinta bisa menjadi rumah yang nyaman, atau justru belenggu yang tak terlihat”
Arin sudah menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dan sangat sukses. Pernikahan yang diimpikan banyak orang. Dari Luar kehidupan Arin sangat sempurna, suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan status sosial yang dihormati. Namun, hanya Arin yang tahu bahwa di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.
Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak butuh siapapun. Tekanan, trauma, stres, dan emosi yang sering ditahan oleh Arin perlahan menumpuk di dalam dirinya, dengan mengabaikan rasa sakit dan setiap trauma yang menghampirinya, tanpa sadar tubuh Arin mulai bereaksi terhadap setiap beban yang selama ini dia abaikan. di malam yang tenang tanpa kendali Arin mulai berjalan dalam tidurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byKaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Rumah Yang Tak Pernah Ada
Tiga bulan telah berlalu sejak Arin berhenti bekerja di Regen Hotel. Nathan sudah mencoba mencarinya di apartemennya, tetapi Arin tidak ada di sana. Ketika ia meminta asistennya untuk memeriksa kembali, ternyata unit itu sudah ditempati orang lain.
"Bagaimana?" tanya Nathan, memastikan apakah sekretarisnya telah menemukan informasi yang ia cari.
"Saya sudah mengecek hampir semua hotel, Pak. Nona Arin tidak melamar di salah satu pun," jawab sekretarisnya.
Nathan terdiam, perasaan bersalah menggerogotinya. Sebenarnya, ia ingin memberikan Arin pekerjaan, sebuah bentuk penebusan.
"Saya akan terus mencari, Pak. Mungkin dia melamar di tempat lain," usul sang sekretaris.
Nathan menggeleng. "Tidak usah. Hentikan pencarian. Tiga bulan sudah cukup." Ia berdiri, bersiap pergi.
"Baik, Pak," sang sekretaris mengangguk ringan, lalu menyaksikan Nathan beranjak pergi.
...*****...
Lebih dari tiga bulan yang lalu, Arin meninggalkan kota. Ia pergi begitu saja, tanpa rencana, tanpa tujuan. Hanya membeli tiket kereta pertama yang tersedia, asalkan menjauh dari kehidupan lamanya. Kota kecil ini jadi pelariannya, meski hingga kini, ia bahkan tak tahu nama tempat ia tinggal.
"Maaf, Bu… Maaf!" seru Arin gugup saat minuman di nampannya tumpah ke meja pelanggan di sebuah warung makan kaki lima di pasar.
"Cepat bersihkan!"
"Maaf ya, Bu… karyawan ini masih baru. Saya minta maaf," ucap pemilik warung, yang langsung datang menghampiri. Tatapannya pada Arin tajam, penuh tuduhan.
Lima belas menit setelah pelanggan itu pergi, pemilik warung memanggil Arin. Ia menyodorkan amplop putih kecil.
"Ini gajimu. Besok, tidak usah datang lagi."
Arin terdiam. "Bu, saya selalu bekerja dengan baik. Itu kecelakaan, dan tadi pun anak Ibu yang tak sengaja menyenggol saya…"
Wanita itu menyeringai. "Aku memang tak pernah berniat mempekerjakanmu. Suamiku yang nekat menerima. Lagipula, kau terlalu sering menggoda pelanggan pria sejak kau datang. Warungku bukan tempat untuk perempuan seperti mu. Pergi! Pergi dari sini!"
Tanpa ampun, ia mendorong Arin hingga hampir tersungkur. Sejumlah pasang mata di pasar langsung menoleh. Tatapan mereka menusuk, mempermalukan Arin lebih dalam. Ia terpaku, tubuhnya membeku. Sebelum sempat bicara lagi, tasnya sudah dilemparkan ke arahnya, dan pintu warung ditutup dengan keras.
Tak punya pilihan lain, Arin memutuskan pulang, mengabaikan pandangan orang-orang yang terus mengikutinya.
Pukul sepuluh malam, ia tiba di kos, sebuah ruangan sempit yang telah ia sewa selama tiga bulan terakhir. Tanpa suara, Arin melangkah masuk, lalu merosot di dekat lemari kayu tua. Ia menarik lutut ke dada, memeluknya erat, seolah itu satu-satunya tameng yang masih tersisa.
Air matanya jatuh begitu saja, membasahi pipi dan pakaiannya.
"Sampai kapan aku harus seperti ini? Sampai kapan aku harus terus bersembunyi?" isaknya pecah dalam kesunyian.
"Ma…"
Tangannya mencengkeram lengan sendiri, tubuhnya meringkuk di dekat lemari tua, sementara kilas balik kembali membanjiri pikirannya.
Flashback On
Arin adalah anak tunggal. Ayah kandungnya meninggal saat ia masih kecil, meninggalkan Mamanya untuk membesarkannya seorang diri. Mereka hanya berdua, saling menggantungkan hidup satu sama lain.
Ketika Arin menginjak usia tujuh belas tahun, Mamanya memutuskan menikah lagi, dengan harapan bisa membangun kehidupan yang lebih baik bersama pria yang terlihat mapan dan menjanjikan.
Namun, pernikahan itu bukan awal baru, melainkan awal kehancuran. Bukan kebahagiaan yang datang, melainkan neraka dalam bentuk kekerasan dan pelecehan yang perlahan menghancurkan hidup Arin dan Mamanya.
Suami baru Mamanya adalah pria yang cukup kaya, memiliki rumah besar, dan awalnya bersikap sangat baik. Ia bahkan berjanji akan menyekolahkan Arin hingga ke universitas ternama. Untuk sesaat, semuanya tampak berjalan lancar, hingga suatu malam, segalanya berubah.
Arin mendengar teriakan. Tanpa pikir panjang, ia berlari ke kamar Mamanya.
Di sana, ia melihat Mamanya terpuruk di lantai. Wajahnya lebam, tangan kirinya membiru, dan darah mengalir di sudut bibir. Arin terpaku. Tapi hanya sejenak. Ia segera memeluk Mamanya, berusaha melindunginya dari pria yang berdiri di depan mereka, dengan tangan terangkat, siap memukul lagi.
Tangan itu hampir menghantam wajah Arin. Tapi sebelum sempat mengenai pipinya, Mama menjerit sangat keras.
Ayah tiri Arin terhenti. Ia menatap mereka, Mama yang tergeletak dan Arin yang memeluknya sambil menangis. Dengan nada dingin dan penuh cemooh, ia berkata.
"Jangan jadi seperti Mamamu. Suka menggoda pria lain. Perempuan rendahan."
Lalu ia pergi begitu saja, meninggalkan keduanya dalam tangis dan luka.
"Ma… Mama nggak apa-apa?" tanya Arin, suaranya parau, jemarinya gemetar saat menyentuh wajah Mama yang penuh luka dan air mata.
Mama mencoba tersenyum, walau jelas sulit. "Mama nggak apa-apa… Ini akan segera membaik," ucapnya pelan sambil mengelus kepala Arin. "Tapi, Sayang… kalau ini terjadi lagi, jangan keluar kamar, ya? Tetap di dalam. Mengerti?"
Arin menggeleng keras. "Nggak mau, Ma… Aku nggak mau Mama sendirian." Arin berdiri, lalu menarik tangan Mama dengan paksa. "Ayo, kita pergi dari sini. Aku nggak mau tinggal di sini. Aku benci tempat ini!"
Namun sang Mama menahan tangannya. "Tidak. Kita nggak akan pergi. Ini rumah kita, ini rumahmu."
"Aku nggak mau! Mama, tolong… ayo pergi…" isak Arin, suaranya pecah. Namun sebelum tangisnya menjadi teriakan, Mama buru-buru menutup mulutnya.
"Arin! Dengar Mama!" bisiknya cepat dan tegas. "Kita nggak akan ke mana-mana. Ini rumah kita."
Arin terdiam. Matanya memandangi wajah Mama yang kini tampak lebih kuat, meski tubuhnya masih gemetar.
"Ma…" ucapnya lirih. Hanya satu kata itu yang lolos dari bibirnya, karena sisanya hanyalah tangis yang ditahan, dan rasa takut yang tak bisa diucapkan.
"Dengar, Sayang. Ini semua hanya kesalahpahaman. Setelah Mama bicara dengan Ayahmu, dia akan mengerti. Oke? Sekarang, kembali ke kamarmu dan jangan keluar," ucap Mama pelan. Ia mendorong Arin lembut agar segera pergi.
Arin masih menangis, sesekali menoleh ke belakang menatap Mamanya, sebelum akhirnya melangkah kembali ke kamarnya dengan berat hati.
Sejak malam itu, Arin sesekali mendengar suara bentakan dan jeritan dari arah kamar Mama. Tapi ia tak berani keluar. Ia hanya meringkuk di sudut lemari pakaian, memeluk lututnya erat, kebiasaan yang selalu ia lakukan setiap kali merasa takut.
Pernah suatu malam, Arin diam-diam keluar dari kamarnya dan pergi ke kamar Mama. Ia mencoba membujuk Mama untuk kabur bersamanya. Tapi seperti biasa, Mama tetap teguh, ia menolak.
Arin tidak mengerti. Ia tak paham kenapa Mama memilih tetap tinggal. Sampai akhirnya, malam itu datang.
Arin berdiri membeku di depan pintu kamar Mama. Dari celah yang terbuka, ia menyaksikan sendiri ayah tirinya mendorong Mama hingga terjatuh ke lantai.
"Dasar wanita penyakitan! Murahan!" makinya. Lalu ia meludahi wajah Mama dan pergi begitu saja, bahkan tanpa melihat Arin yang berdiri terpaku di ambang pintu.
Setelah pria itu pergi, Arin perlahan mendekat. Matanya berkaca-kaca, dadanya sesak. Ia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
Mama segera berdiri, menyeka air mata dan darah di wajahnya, lalu mencoba merapikan rambutnya. Ia tersenyum kecil, seolah tak terjadi apa-apa, lalu menarik Arin untuk duduk bersamanya di sofa.
Dengan nafas panjang yang tertahan, Mama menggenggam tangan Arin dan mengelusnya pelan.
"Mama nggak bisa menyembunyikan ini darimu lebih lama…" suaranya nyaris berbisik, getir. "Mama sakit, Sayang. Dokter bilang… Mama kena kanker Glioblastoma, kanker otak yang mematikan. Waktu Mama… nggak lama lagi."
Air mata Mama mengalir, dan ia langsung memeluk Arin. Arin tak bisa menahan tangisnya. Dunia seakan runtuh di sekelilingnya.
"Mama nggak ingin meninggalkanmu sendirian… Bagaimana nanti kamu hidup? Kamu masih terlalu kecil…" Mama kembali memeluknya erat seolah tak ingin lepas.
Arin melepas pelukan itu perlahan. Ia menatap wajah Mama yang tampak lelah namun tetap berusaha kuat.
"Ma… Aku sudah besar. Aku tujuh belas tahun, dan sebentar lagi lulus sekolah. Mama nggak perlu khawatir… Lebih baik kita pergi dari sini. Kita bisa mulai lagi dari awal. Ayo, Ma, aku mohon…"
Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya. Tapi Mama hanya menggeleng, pelan namun pasti.
Arin menangis lagi. Ia tak mengerti. Rumah ini bukan rumah, ini neraka bagi mereka. Tapi Arin tidak tahu soal kenyataan menyakitkan yang diketahui Mamanya: mereka tidak punya uang. Rumah lama mereka sudah dijual, dan semua uangnya diberikan pada Ayah tiri untuk mengembangkan bisnisnya.
Karena di hadapan kabar kanker otak yang mengintai hidupnya, Mama merasa tak punya tempat untuk pergi dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Lalu muncullah seorang pria, membawa janji palsu tentang kasih sayang, tempat tinggal yang lebih layak dan masa depan cerah bagi Arin. Pria itu datang seperti penyelamat, menjanjikan peran seorang ayah yang akan menyayangi Arin selamanya.
Mama memeluk Arin lebih erat lagi, tenggelam dalam sesal yang begitu dalam. Ia tahu, semua ini adalah kesalahan besar. Dan waktu tidak bisa diputar kembali.
Flashback Off