NovelToon NovelToon
Dewa Pedang Malas

Dewa Pedang Malas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cara Dewa Pedang "Berlatih" (Rebahan)

​Dua hari berikutnya berlalu bagaikan surga dunia bagi Ji Huang. Sejak insiden Tetua Kelima yang berakhir dengan berlututnya sang tetua secara misterius, paviliun reyot milik Ji Huang mendadak menjadi zona terlarang. Tidak ada satu pun pelayan atau murid cabang yang berani melintas, apalagi mengetuk sisa-sisa pintu kamarnya yang kini ditutupi seprai putih tipis.

​Ji Huang memanfaatkan ketenangan ini dengan sangat maksimal. Kegiatannya sehari-hari hanya berkisar antara tidur siang di atas kasur bulu angsa barunya yang empuk, bangun untuk makan bebek panggang manis yang dibelikan ayahnya, lalu kembali menatap langit-langit sambil berguling malas.

​Namun, kedamaian absolut itu pecah berantakan pada pagi hari ketiga.

​Sret!

​Kain seprai pintu kamarnya disingkap dengan sentakan kasar. Ji Lan melangkah masuk dengan napas memburu. Wajah cantiknya ditekuk, memancarkan kepanikan yang luar biasa hingga alis tipisnya bertaut rapat. Di tangan kanannya, dia memegang sebuah botol porselen kecil berwarna merah menyala.

​"Ji Huang! Bangun, dasar pemalas!" Ji Lan berteriak jutek, langsung berdiri di samping kasur Ji Huang yang masih terbungkus selimut hangat. "Hari ini utusan dari Keluarga Utama pusat kota datang! Kenapa kamu masih bisa mendengkur seperti babi?"

​Ji Huang perlahan membuka satu matanya, menatap sepupunya dengan pandangan polos nan lelah. "Sepupu jutek... matahari baru saja naik tiga jari. Kenapa kamu hobi sekali merusak mimpi indahku tentang arak madu?"

​"Mimpi indhamu akan berubah jadi mimpi buruk kalau kamu tidak cepat bertindak!" Ji Lan mendengus ketus. Dia menghentakkan botol porselen itu ke atas dada Ji Huang. "Ambil ini! Ini Pil Pengumpul Esensi Lapis Rendah. Aku menukarkan seluruh jatah kontribusiku bulan ini di Aula Obat untuk mendapatkan dua butir pil ini. Cepat telan!"

​Ji Huang duduk dengan malas, membiarkan selimutnya melorot. Dia mengambil botol porselen itu, membukanya, lalu mendekatkan hidungnya untuk mencium aroma pil di dalamnya. Setelah sedetik, dia menjauhkan botol itu dengan ekspresi lempeng, menggelengkan kepalanya dengan jujur tanpa filter.

​"Pil ini kualitasnya buruk sekali, Sepupu. Proses pemurniannya gagal total, banyak ampas kotoran herbal yang tertinggal di dalam. Kalau aku memakan ini, dantian-ku tidak akan bertambah kuat, justru perutku yang akan mulas seharian. Buang saja, ini mubazir," ucap Ji Huang blak-blakan.

​"K-kamu...!" Wajah Ji Lan seketika memerah karena emosi yang meluap. Dada indahnya naik turun menahan geram. "Dasar tidak tahu diuntung! Aku mengorbankan tabunganku demi pil itu agar saat orang pusat memeriksa meridianmu nanti, dantian-mu tidak terlihat sekosong rumah hantu! Kamu dari kemarin kerjaannya cuma rebahan, tidak mau berusaha sedikit pun, dan sekarang malah menghina pilku?!"

​Ji Huang mengerjapkan matanya polos. Dia menaruh botol pil itu di meja, lalu menatap Ji Lan dengan tatapan serius yang teduh.

​"Sepupu, siapa bilang aku tidak berusaha? Dua hari ini aku sedang berlatih dengan sangat keras," kata Ji Huang tenang.

​"Berlatih?!" Ji Lan tertawa sinis, matanya melotot tajam. "Berlatih tidur siang maksudmu?!"

​"Kultivasi itu bukan tentang duduk kaku bermeditasi sampai pantatmu kapalan dan pegal, Sepupu," jawab Ji Huang jujur dari lubuk hatinya yang merupakan mantan Dewa Pedang. "Itu cara yang bodoh. Kultivasi sejati adalah menyelaraskan napas dengan ritme alam semesta. Saat aku tidur siang dengan rileks, jiwanya sebenarnya sedang menuntun energi spiritual alam untuk membersihkan meridian tubuh baru ini secara otomatis."

​"Bualan gila macam apa—"

​Sebelum Ji Lan menyelesaikan kalimat makiannya, Ji Huang tiba-tiba mengulurkan tangan kanannya, menangkap pergelangan tangan Ji Lan yang halus dengan lembut secara polos.

​Hap.

​Ji Lan tersentak, tubuhnya menegang saat kulit mereka bersentuhan. Wajah juteknya mendadak merona merah karena tindakan tiba-tiba itu. "J-Ji Huang! Lepaskan! Apa yang kamu—"

​"Rasakan saja," potong Ji Huang pelan, memejamkan matanya.

​Ji Lan mendadak terdiam. Melalui pergelangan tangannya yang digenggam, seutas aliran energi spiritual yang sangat murni, hangat, dan sehalus sutra tiba-tiba mengalir masuk ke dalam persepsinya. Aliran energi itu bergerak di dalam tubuh Ji Huang dengan kecepatan yang luar biasa konstan, berputar di dantian-nya yang kini tidak lagi kering.

​Mata Ji Lan membelalak kencang hingga hampir keluar dari kelopaknya. "T-Tingkat Pengumpulan Qi... Lapis ke-2?! Bagaimana bisa?! Dua hari lalu dantian-mu benar-benar kosong!"

​"Sudah kubilang, kan? Aku menembus Lapis ke-2 saat sedang bermimpi makan bebek panggang kemarin siang," Ji Huang melepaskan genggaman tangannya, lalu tersenyum polos tanpa beban. "Sangat mudah. Makanya, jangan menyuruhku memakan pil mulas itu lagi."

​Ji Lan mematung di tempat, otaknya mendadak macet total. Menembus lapis kultivasi sambil bermimpi tidur siang? Logika dunia macam apa ini?!

​TETT! TETT! TETT!

​Sebelum Ji Lan sempat mencerna keterkejutannya, suara tiupan terompet tanduk yang berat dan nyaring mendadak menggema dari arah gerbang depan kediaman cabang. Derap langkah kaki sekelompok kuda spiritual yang bertenaga terdengar menggetarkan tanah paviliun mereka.

​Utusan dari Keluarga Utama pusat kota telah tiba.

​"Mereka sudah sampai..." Ji Lan langsung tersadar dari syoknya, wajahnya kembali menegang penuh kecemasan.

​Di halaman depan kediaman cabang, rombongan mewah yang terdiri dari empat kereta kuda berornamen emas baru saja berhenti. Murid-murid cabang dan para tetua langsung berbaris, membungkuk hormat dengan tubuh gemetar.

​Dari kereta terdepan, turunlah seorang pemuda berusia sekitar sembilan belas tahun yang mengenakan jubah sutra putih sulaman perak khas Keluarga Utama. Wajahnya tampan namun dipenuhi guratan arogansi yang mendalam. Di pinggangnya tergantung sebilah pedang giok yang mahal. Dialah Huang Fu, salah satu jenius dari pusat kota yang telah mencapai Tingkat Pengumpulan Qi Lapis ke-5. Di sampingnya, berdiri seorang pria paruh baya berpakaian abu-abu yang matanya setajam elang, sang pengawal pribadi.

​"Di mana sampah bernama Ji Huang itu?" Huang Fu bertanya dengan nada dingin dan meremehkan, mengabaikan sambutan para tetua cabang. "Aku tidak punya waktu untuk duduk di aula yang bau ini. Bawa aku langsung ke tempatnya. Aku ingin melihat trik kotor apa yang dia gunakan hingga bisa melumpuhkan Huang Jian."

​Para tetua cabang tidak berani membantah. Dengan patuh, mereka memandu Huang Fu dan pasukannya berjalan melewati koridor dalam, langsung menuju paviliun reyot di sudut belakang kompleks.

​Di halaman paviliun Ji Huang yang ditumbuhi beberapa pohon buah liar, atmosfer mendadak menjadi sangat mencekam saat rombongan Keluarga Utama melangkah masuk.

​"Ji Huang! Keluar dari kamarmu dan berlutut menyambut Utusan Utama!" salah satu tetua cabang berteriak dengan lantang, mencoba mencari muka di depan Huang Fu.

​Kain seprai putih yang menutupi pintu kamar perlahan tersingkap. Ji Huang melangkah keluar dengan gerakan yang sangat lambat. Penampilannya benar-benar membuat Huang Fu mengernyitkan dahi jijik. Pemuda itu masih mengenakan jubah linen compang-camping yang belum sempat diganti karena malas, dan kakinya hanya dialasi sepasang sandal rumah kayu yang longgar.

​Di belakangnya, Ji Tian ikut keluar dengan wajah panik, kedua tangannya memegangi sebilah pelindung panci dapur yang tebal, bersiap melindungi anaknya jika situasi memburuk dengan kebodohannya yang khas.

​"Kamu yang bernama Ji Huang?" Huang Fu melangkah maju, menatap Ji Huang dari atas ke bawah dengan pandangan bagai melihat tumpukan sampah di pinggir jalan. Aura tekanan Lapis ke-5 miliknya sengaja dilepaskan, membuat debu di halaman paviliun beterbangan. "Sampah beruntung yang dirumorkan melumpuhkan sepupuku? Berlutut sekarang, dan biarkan aku memeriksa meridianmu untuk melihat sihir hitam apa yang kamu gunakan!"

​Ji Huang tidak berlutut. Dia bahkan tidak berkedip menghadapi tekanan energi tersebut. Dengan wajah polos tanpa dosa, dia mengucek matanya yang masih mengantuk, lalu melirik ke arah bayangan pohon buah liar di halaman yang sedang teduh.

​"Matahari siang ini sedang sangat bagus untuk melanjutkan tidur siang," ucap Ji Huang blak-blakan dengan nada malas yang luar biasa jujur. Dia menatap Huang Fu dengan pandangan lempeng. "Bicaramu berisik sekali dan mengotori halaman kamarku dengan debu. Bisakah kamu pergi saja dari sini? Kalau kamu beneran mau memeriksa meridian, periksa saja pantat kuda mu yang ada di depan gerbang sana, jangan meridian pemalasku ini."

​Seluruh halaman paviliun seketika berubah menjadi sunyi senyap, sekering gurun pasir.

​Ji Lan di belakang hampir saja memekik ketakutan, sementara Ji Tian mulai gemetar memeluk pelindung pancinya. Di depan seorang jenius Lapis ke-5 dari Keluarga Utama, Ji Huang dengan polosnya justru menyuruh orang tersebut untuk pergi memeriksa pantat kuda.

​Niat membunuh yang sangat pekat mendadak meledak dari sepasang mata Huang Fu yang kini menyipit tajam.

1
Shen shandian luo
semua di labeli fana..tusuk gigi fana segala
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!