NovelToon NovelToon
Rahasia Ratu Yang Di Anggap Mandul

Rahasia Ratu Yang Di Anggap Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Identitas Tersembunyi / Lari Saat Hamil
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: chas_chos

Kerajaan Zorvath, sebuah negeri yang megah dan agung, dipimpin oleh Raja Reynold Arcturus Zorvath dan Ratu Aurelia Elyse Zorvath. Mereka telah mengikat janji suci selama 20 tahun, namun takdir masih belum memperkenankan mereka untuk memiliki penerus. Empat musim berganti, dari panasnya matahari hingga dinginnya salju, namun harapan akan kehadiran pewaris tahta masih belum terwujud.

Zorvath, sebuah kerajaan yang dikelilingi oleh pegunungan yang menjulang tinggi, menjadi saksi bisu atas perjuangan pasangan kerajaan ini. Desakan dari berbagai pihak semakin kuat, menguji kesabaran dan cinta mereka. Namun, Raja Reynold dan Ratu Aurelia tetap teguh, memegang erat janji mereka untuk menjaga kerajaan dan cinta mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chas_chos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Masa kini 7

---

Istana tanpa ratu

Istana Zorvath tidak pernah terasa sedingin ini.Setiap lorong, setiap pilar marmer, setiap jendela besar yang memantulkan cahaya pagi tampak diselimuti kabut muram. Para pelayan berjalan dengan langkah setengah ragu, seolah suara sepatu mereka bisa memecahkan sesuatu yang rapuh. Tidak ada tawa, tidak ada percakapan ringan—yang ada hanya bisik-bisik yang hilang begitu mendengar langkah penjaga.

Semuanya berubah sejak Ratu Aurelia menghilang.

Dan Raja Reynold adalah bayangan dari dirinya yang dulu.

---

Ruang kerja raja yang megah kini kacau seperti medan perang. Dokumen-dokumen penting berserakan di lantai: laporan bencana, permintaan bantuan pangan, penyakit di Akademi Howard, hingga surat ancaman halus dari beberapa bangsawan. Tidak satu pun yang disentuh.

Di meja kerjanya, Raja Reynold duduk membungkuk, kedua siku menopang kepalanya. Mantelnya kusut, rambutnya kacau, dan matanya merah—bertanda ia lebih sering bergadang daripada tidur. Tembok di belakangnya dipenuhi coretan, peta, dan catatan yang ia buat ketika obsesinya mencari Aurelia meraih puncaknya.

Namun yang paling menyayat adalah foto Ratu Aurelia yang tergeletak di meja.

Bingkainya retak.

Retak yang ia buat sendiri saat emosinya meledak malam sebelumnya.

Raja meraih foto itu dengan tangan bergetar. Ibu jarinya menyusuri wajah lembut Aurelia dalam potret itu. Senyum lembut yang dulu mampu menenangkan badai di hatinya kini justru menjadi penyebab badai yang baru.

“Kamu di mana sayang?” bisiknya, suaranya hampir patah.

Sebuah ketukan pelan terdengar di pintu. Reynold tidak menjawab. Tidak peduli siapa yang berdiri di luar, ia tidak ingin diganggu.

Liam menempelkan kepalanya ke pintu dan berbicara dengan suara hati-hati.

“Salam yang mulia, semoga Zorvath selalu diberkati dewa-dewi” ucap Liam dengan kepala menunduk

" Para bangsawan ingin bertemu anda di istana timur yang mulia" lanjut Liam

" Banyak tugas yang sudah anda abaikan hingga membuat para bangsawan serta pejabat khawatir" Liam terus berbicara walaupun raja Reynold hanya menanggapi seadanya.

Tanpa banyak kata , raja berdiri dari duduknya . Dan berjalan ke ruang pertemuan di istana timur

---

Raja Reynold datang dengan Liam di belakang nya.Para bangsawan serta pejabat yang melihat kedatangan raja Reynold langsung membungkuk dan memberi salam namun mata mereka mengamati dengan cermat: wajah pucat sang raja, lingkaran hitam di bawah matanya, mantel yang tidak diseterika, serta gelas anggur kosong di samping singgasana.

Ini bukan lagi raja yang mereka takuti dahulu.

Duke Halsten, bangsawan tertua dengan janggut putih panjang, melangkah maju. “Yang Mulia, kami datang membawa keprihatinan mendalam… mengenai masih hilangnya yang mulia ratu aurelia.”

Raja tidak merespons.

Lady Mirreth, yang dikenal licin dalam diplomasi, menambahkan, “Rakyat resah. Kekurangan pangan semakin parah. Wabah di Akademi Howard tidak tertangani. Dan—”

Raja Reynold mengangkat tatapannya, mata gelapnya tajam seperti pisau.

“Dan…?” suaranya rendah, dalam, dan penuh peringatan.

Lady Mirreth menelan ludah. “Dan kerajaan memerlukan kepemimpinan yang stabil.”

Lord Torvan mengambil alih. “Yang Mulia, kami memahami duka Anda. Namun kerajaan tidak bisa berhenti hanya karena… kehilangan ratu.”

BRRAAK!

Suara hantaman tangan raja menggema keras.

Semua bangsawan terdiam.

Raja Reynold berdiri, bahunya tegang, rahangnya mengeras. “Aurelia bukan sekadar ratu,” katanya dengan suara bergetar menahan amarah. “Ia istriku. Setengah dari jiwa ini. Dan kalian… berani mengatakan ia hanya ‘kehilangan’?”

Langkah demi langkah ia turun dari singgasana. Mantel hitamnya bergoyang mengikuti gerakannya.

“Sejak kapan kalian peduli pada kerajaan?” Raja Reynold mendesis. “Yang kalian pedulikan hanyalah kehormatan , kesenangan, apa kalian pernah berfikir tentang kesusahan rakyat, kalau kalian berfikir kenapa kalian tidak menyumbangkan sedikit harta kalian untuk menangani masalah kelaparan ini.”

Kerumunan para bangsawan dan pejabat saling pandang, sebagian tersinggung, sebagian lainnya menelan ketakutan diam-diam. Tidak ada yang berani menjawab langsung—tidak setelah melihat bagaimana tangan raja tadi bergetar antara amarah dan keputusasaan.

Suasana ruang pertemuan terasa semakin pengap. Udara seperti berhenti bergerak, menunggu siapa yang akan berbicara lebih dulu.

Lord Torvan akhirnya menarik napas panjang, mencoba mengendalikan situasi.

“Yang Mulia…” ucapnya perlahan.

“Kami—tentu saja—peduli kepada rakyat. Tetapi tugas itulah ada di tangan Anda. Anda raja mereka. Hanya Anda yang memiliki wewenang menandatangani perintah pembelian pangan, membuka akses gudang cadangan, memutuskan tindakan untuk Akademi Howard.”

Nada suaranya tenang, namun setiap kata menyiratkan tuduhan.

Raja Reynold menyipitkan mata.

Lord Torvan melanjutkan, “Ketidakhadiran Anda dalam rapat-rapat penting membuat banyak keputusan terhambat. Jika rakyat menderita…” ia berhenti sejenak, suaranya sengaja dibuat lebih berat,

“Mereka akan menyalahkan Anda, Yang Mulia.”

Kata-kata itu menghantam udara seperti pedang tumpul.

Raja Reynold tersenyum kecil—senyum samar, pahit, nyaris gila.

“Rakyat… akan menyalahkanku?” ia berbisik. “Apa itu yang kalian inginkan? Menggoyahkan kepercayaan kepada raja… agar kalian dapat merebut kuasa?”

Napas para bangsawan tercekat. Liam, yang berdiri di sisi ruangan, mengepalkan tangan, khawatir situasi akan meledak kapan saja.

Lady Mirreth melangkah maju, bersuara lembut seperti racun yang disamarkan.

“Tidak ada yang ingin merebut kuasa, Yang Mulia. Kami hanya… mengingatkan. Tanpa ratu. Tanpa pewaris. Tanpa stabilitas. Rakyat membutuhkan simbol kekuatan. Seorang pemimpin yang… berdiri tegak.”

Matanya yang tajam memandangi kondisi raja secara sengaja.

Rambut kusut. Mata merah. Mantel berantakan.

“Namun yang mereka lihat…” ia menunduk pura-pura hormat,

“…adalah raja yang sedang hancur.”

Kata itu seperti petir menyambar tulang.

Hancur.

Raja Reynold mematung. Urat di lehernya tampak menegang. Napasnya berat dan tidak teratur—seperti seseorang yang sedang berperang melawan dirinya sendiri.

Beberapa bangsawan mulai kehilangan ketakutan awal mereka. Melihat raja melemah membuat mereka semakin berani.

Lord Torvan, yang selalu menyimpan ambisi di balik senyum sopannya, angkat bicara.

“Yang Mulia… kerajaan bukan hanya tentang cinta dan kehilangan. Ini tentang tanggung jawab. Jika Anda tidak mampu menjalankan tugas sementara ratu menghilang, maka demi kerajaan—”

“Diam.”

Suara itu rendah, dalam, namun mengguncang seluruh ruangan.

Lord Torvan terputus seketika.

Raja Reynold melangkah turun dari singgasana. Setiap langkahnya bergema seperti pukulan palu. Ia berdiri terlalu dekat dengan para bangsawan—dekat cukup untuk membuat beberapa dari mereka menahan napas.

“Dengar baik-baik,” ucapnya, suaranya rendah namun mengancam.

“Selama Aurelia belum ditemukan, siapa pun yang mencoba mengisi posisinya… akan kukubur hidup-hidup bersama ambisinya.”

Beberapa bangsawan tersentak.

Lady Mirreth mundur setengah langkah.

“Selama aku bernapas,” lanjut Reynold, suaranya kini mengguncang, “tidak ada satu pun dari kalian yang menyentuh tahta ini. Atau bahkan bermimpi tentang menggulingkanku.”

Hening panjang menelan ruangan.

Liam menyadari satu hal yang membuat dadanya terasa berat:

Raja Reynold bukan hanya marah.

Ia takut.

Takut kehilangan Aurelia sepenuhnya.

Takut kehilangan dirinya sendiri.

Dan ketakutan itu membuatnya berbahaya.

Akhirnya Lord Torvan membungkuk, memutus ketegangan yang hampir pecah menjadi api.

“Kami… mengerti, Yang Mulia. Mohon maaf jika kata-kata kami menyinggung.”

Satu per satu para bangsawan mengikuti, membungkuk. Namun mata mereka tidak lagi memancarkan hormat.

Yang tampak hanya perhitungan.

Dan sesuatu yang lebih gelap.

Keinginan menggulingkan.

---

Setelah Para Bangsawan Pergi

Ketika aula akhirnya kosong, Raja Reynold berdiri memandangi pintu besar yang tertutup. Bahunya turun seolah seluruh beban kerajaan menimpa dirinya seorang.

Ia tidak menyadari Liam mendekat pelan.

“Yang Mulia…” Liam berkata hati-hati, “Anda tidak harus menghadapi semua ini sendirian.”

Raja Reynold tidak menjawab.

Matanya mulai berkaca-kaca—bukan karena kemarahan, tetapi karena kelelahan yang tak terlihat.

“Aurelia…” bisiknya, hampir tak terdengar. “Jika kau tidak kembali… aku tak tahu seberapa lama aku bisa bertahan.”

Liam merasakan sesuatu yang dingin merayap di punggungnya.

Untuk pertama kalinya sepanjang ia mengenal raja, ia melihat sesuatu yang tak pernah ia lihat sebelumnya.

Keruntuhan.

Seorang raja yang kehilangan cinta… sekaligus kehilangan dirinya sendiri.

20 Desember 2025

Happy reading

1
chas_chos
🤕🤕🤕
雨点⃟ᦠLyra Veyᦠ⃟凊湜
Aureliaa, balik gihh, nanti yang ada si rajanya depresod🤭
Sishrye
wkwkwk pasti si cewek bucin akut😂
Sishrye
oh berarti kabar Aurelia mandul itu ga benar ya Thor?
Berarti ini udaa beberapa tahun kemudian begitu kah🙈
Greta Ela🦋🌺
Kayaknya Ratu Aure kebanyakan pikiran deh. Istirahat dulu ratu, kalau udah merasa baikan kembali aja ke istana☺️
Greta Ela🦋🌺
Baik juga Bibi Ema ini
Greta Ela🦋🌺
Dipanggil princess gitu ya🥰
⋆. 𐙚 ˚hiatus💨ᴛ⑅⃝ˢ🐈ʚଓ𓂃ෆ˚
bingung mo komen apa
Alyaaa_Lryyy.
cinta sehidup smati, tp knp ratu kburr pdhl raja mnerima smua kekurangan dan kelebihan ny🥺
chas_chos
🤕🤕
한스 |HANSEN|
Udah di maafin 👉👈 soalnya bentar lagi puasa 👉👈
Cerita Tina
Rajanya keren sih, ga kepancing emosi dan wibawa banget.
Bad Girl..
wahai ratu Aurelia..kembalilah engkau. supaya Olivia tidak menguasai kerajaan. 😭😭😭😭
⋆. 𐙚 ˚hiatus💨ᴛ⑅⃝ˢ🐈ʚଓ𓂃ෆ˚
udih😒
雨点⃟ᦠLyra Veyᦠ⃟凊湜
jangan sampai dimadu ratu aurelia😭
d_midah (Hiatus)
🥰🥰 Suka banget sama pendidikan kayak gini
d_midah (Hiatus)
Hati kamu tidak bisa berbohong, ia sangat rindu🥰
한스 |HANSEN|
ini gimana kak konsep nya 🤣🤣🤣
한스 |HANSEN|
kerasukan duda ketempelan karena mabuk wipol @Tina
Bad Girl..: Woylah...dari mana datangnya komentar ngakak ini..🤣🤣🤣
total 5 replies
한스 |HANSEN|
kasih kit Kat aja kak🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!