Ada alasan kenapa banyak orang menyebutnya Perfect Husband.
Leo J memiliki semua yang diimpikan seorang wanita. Ia setia, bertanggung jawab dan mencintai istrinya dengan cara yang membuat siapa pun iri.
Namun, cinta itu tidak pernah sederhana.
Leo J mencintai dengan cara yang berlebihan. Terlalu melindungi, terlalu posesif, terlalu takut kehilangan. Hingga terkadang, cintanya itu terasa menyesakkan.
Di masa lalu, pria yang kini begitu memuja istrinya itu... pernah mencintai wanita lain hingga rela memberikan seluruh dunianya.
Pada suatu hari, mereka dipertemukan dalam satu meja. Keheningan berubah menjadi sesak ketika Leo J menatap wanita yang pernah menjadi alasan hidupnya.
"Sekarang, Leo ada di depanmu, Kiara. Apa yang ingin kau katakan padanya?"
Yuna mengizinkan mereka berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29 Hmm
'Lalu? Lalu … bukankah biasanya kau meledak-ledak dan berbicara tanpa henti untuk mengomel.'
“Hmm, tidak ada,” jawab Leo pada akhirnya. Dia melangkah dan lebih dulu masuk kedalam bath up. “Kemari.” Leo mengulurkan tangannya.
“Biar ku bersihkan dulu rambutmu,” ucap Yuna. Dia tidak menerima uluran tangan Leo. Yuna menggeser kursi dan duduk di belakang bath up. Meminta Leo untuk bersandar dan Yuna membersihkan rambutnya dengan lembut, dengan pijatan lembut yang terasa menentramkan. Melepaskan lelah pada sendi-sendi yang tegang.
Leo memejamkan matanya, antara menikmati pijatan pada kepalanya dan memikirkan sikap nyonya yang sama sekali tidak marah dan bahkan tidak mengomel. Apakah nyonya kehabisan kata untuk omelan terampilnya.
“Mom,” panggil Leo pelan dengan membuka mata. Ia menatap langit-langit kamar mandinya.
“Ya?”
“Apa kau mencintaiku?” pertanyaan konyol. Sangat konyol. Leo merasa menjadi orang paling payah karena kehilangan kata-kata untuk memulai sebuah perbincangan. Ternyata, lebih menyenangkan jika istrinya ngomel dari pada diam dan tidak terdeteksi di mana letak kekesalannya. Leo bisa mengerti strategi lawan dalam bisnis tetapi untuk menyelami hati Yuna saat ini, ia tidak mampu.
“Ya. Aku mencintaimu, Dad,” jawab Yuna tanpa ragu. Namun ia hanya menjawab itu. Tidak ada jawaban lagi dan atau tidak ada pertanyaan ulang. Kenapa Leo menanyakan itu, atau apakah tuan suami ingin pijatan diarea yang lain.
Leo kesal dengan situasi ini. Bicaralah semaumu, jangan begini, seru Leo dalam hati.
Yuna dengan perhatian mengguyur kepala Leo dan ia mengusapnya dengan handuk setelahnya, agar sisa airnya tidak menetes di wajah Leo.
“Sudah,” ucap Yuna lembut.
Leo mengangguk pelan. Ia mengangkat kepalanya.
“Kemari, duduklah di depanku,” ujarnya. Dia mengulurkan tangannya.
Kali ini Yuna menyambut uluran tangannya. Dia menggenggam tangan Leo, masuk ke dalam bathup dengan hati-hati lalu duduk di pangkuan Leo. Laki-laki itu langsung memeluknya. Mengusap perut Yuna penuh kelembutan.
“Kamu kenapa?” tanya Leo. Dia menurunkan tali bra Yuna dan menyandarkan kepalanya dia pundak Yuna.
Terasa helaan nafas panjang wanita itu. “Kenapa apanya?” dia balik bertanya lagi.
“Apa ada sesuatu yang menyakiti hatimu?” tanya Leo. Ia mendekap Yuna dalam suhu air yang hangat, dalam aroma wangi vanilla.
“Tidak ada,” jawab Yuna pasti dan tenang.
“Kamu bohong.”
“Kenapa aku harus berbohong.”
Dan Leo tidak menemukan jawaban. Dia kehilangan semua kata-katanya. Dia takut ucapannya salah dan semakin membuat Yuna marah tetapi tidak mau mengatakannya. Tidak mau mengatakan bagian mana yang membuatnya marah. Itu akan semakin membingungkan.
Leo melepas satu tangannya. Dia mengambil air di telapak tangannya dan menjatuhkannya di pundak Yuna. Mengambil lagi dan menjatuhkannya lagi. Air hangat itu perlahan membasahi pundak Yuna.
“Sekarang, aku yang akan memijitmu,” ucap Leo. Dia tidak mau membahas tentang pertemuan Yuna dan Kiara. Meskipun dia menyimpan banyak pertanyaan tapi dia tidak ingin bertanya lagi untuk saat ini.
Leo memijat pundak Yuna dengan lembut.
“Bagaimana, apa ini terasa enak?” tanyanya.
Yuna mengangguk. “Hu’um,” jawabnya tanpa membuka mulut.
“Apa kau ingin minuman hangat? Aku akan membuatnya untukmu.”
“Tidak.”
“Apa kau ingin makan sesuatu?”
“Aku tidak ingin apa-apa,” jawab Yuna.
Leo menghela nafas panjang. “Apa kau ingin mendengar sebuah cerita?” Leo menawarinya.
Kali ini Yuna mengangguk. “Boleh,” jawabnya.
Leo tersenyum dan ia mulai bercerita. “Pada zaman dahulu. Ada seorang putri cantik yang terkurung,” Leo mengawali ceritanya. Dan kali ini Yuna terkekeh. Kisah yang sering Leo ceritakan. Pada akhirnya Leo akan bangga karena menjadi pangeran yang menyelamatkan sang putri.
Leo segera mencium pipi Yuna begitu ia mendengar suara tawa kecil Yuna. Dia lega.
“Apa kau ingin mendengarkan cerita selanjutnya?” tanya Leo.
“Bagaimana jika sekarang aku saja yang melanjutkan ceritanya,” jawab Yuna.
“Hmm, boleh. Aku akan mendengarkannya dengan baik,” jawab Leo semangat. Dia berhenti memijit pundak Yuna. Kini ia memeluk Yuna dan mengusap perutnya di bawah air.
“Putri Rapunzel, begitu julukannya,” Yuna melanjutkan.
Leo mengangguk, dan ia mencium pipi Yuna lagi.
“Ada seorang pangeran yang selalu datang saat ia merasa membutuhkan bantuan.”
Leo tersenyum lebar mendengar ini. Dia adalah pangeran itu, pikirnya.
“Pangerang yang menggandeng tangannya saat ia berlari. Memayunginya saat ia kehujanan, membelanya saat ia dihukum.”
Dan detik itu juga, Leo tahu jika itu bukan dirinya. Wajahnya berubah seketika.
“Apakah saat ini kau tengah mengingatnya?” tanya Leo tak suka.
“Bukankah kau yang mengingatkanku?!” jawab Yuna.
Leo tidak menjawabnya. Dia mengalihkan pandangan dan mengambil nafasnya.
“Tidak perlu dilanjutkan,” ucapnya. Dia mengambil sabun dan menyabuni tubuh Yuna. Setelah itu, ia beranjak dan membersihkan dirinya, kemudian keluar dan mengganti bajunya. Ia menyiapkan baju ganti untuk Yuna.
“Terima kasih,” ucap Yuna.
“Hmm.” Dan Leo keluar kamar meninggalkannya.
🍃🍃🍃
Di rumah Dimas. Mereka tengah bersiap untuk berkunjung ke rumah Papa Nugraha. Akan ada makan malam di sana yang akan dihadiri juga oleh keluarga Nora dan Mahaeswara. Tuan besar juga mengundang Ayah Yuna sebenarnya, tetapi karena jarak yang cukup jauh, Ayah meminta maaf karena tidak bisa hadir pada acara itu.
Dimas dan Nora sudah mengganti pakaian mereka. Dan mereka mengambil sisir dengan bersamaan.
“Oh, maaf,” ucap Nora. Mereka menjadi kaku dan seolah baru saja kenal satu sama lain. Membawa debaran yang meletup-letup dalam dada.
“Silahkan,” ucap Dimas. Dia mempersilahkan Nora untuk mengambil sisirnya terlebih dahulu.
Nora mengangguk dan mengambil sisir itu. “Sini. Aku ingin menyisir rambutmu,” ucap Nora.
Dimas menatapnya sejenak lalu membungkukkan sedikit badannya untuk mengizinkan Nora menyisir rambutnya.
Pelan, Nora menyisir rambut Dimas dengan jantung yang berdegup merdu. Mereka pernah seperti ini, dulu. Tetapi dengan posisi yang berbeda. Dulu, Dimas yang menyisir rambut Nora.
“Apakah anak-anak sudah siap?” tanya Dimas.
“Sudah. Mereka bersama asistennya masing-masing,” jawab Nora. Dia merapikan rambut Dimas. “Selesai,” ujarnya.
Dimas mengangkat wajahnya dan kembali menatap Nora. Ia melangkah satu langkah dan membuat kecupan di kening Nora.
“Terima kasih,” ucapnya.
Nora mengangguk. Sebuah kecupan dan ucapan yang benar-benar mendebarkan. Tidak banyak interaksi antara mereka. Dimas masih menata hatinya. Menata semua rasa kecewanya. Nanti, pada makan malam di rumah Papa. Akan ada Lee disana. Nora akan bertemu dengan Lee. Ada rasa yang menyakiti hatinya saat memikirkan itu, meskipun dari cerita Nora, Lee tidak pernah membalas perasaannya.
Sesampainya di rumah Papa Nugraha.
Seperti biasa, Mama selalu hangat menyambutnya. Beliau mencium Kakak Zora dengan sayang dan kemudian menggendong Baby Aurora. Beliau tersenyum bahagia, melihat Dimas berkunjung dengan istri dan anak-anaknya.
“Apa Lee belum datang?” tanya Dimas setelah ia tidak melihat ada mobil Leo di halaman, dan dia juga tidak menemukan ada Lee di rumah ini.
“Belum,” jawab Mama.
“Pekerjaan banyak hari ini, mungkin dia istirahat sebentar di rumah,” sambung Papa. Beliau memangku kakak Zora.
Dimas mengangguk. Sementara Nora diam dan tidak berbicara apapun.
_____________
nah gitu aja,kalo Yuna lagi ngambek jawabnya i love you,i love you,i love you terus aja leo🤣🤣,ya Allah aku ngakak
yaelaaaah aq d bawa k alam mimpi pas ngetik komen🤣🤣🤣🤣