Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DBL35
PERTEMUAN YANG TAK TERHINDARKAN 2
Keputusan menjaga jarak itu ternyata tidak bertahan selama yang mereka bayangkan. Bahkan belum genap tiga hari. Begitu Lala dan Deva berjalan lebih dulu menuju area loading dock bersama beberapa staf operasional, koridor yang semula ramai mendadak menjadi sunyi.
Tinggal Romi dan Jelita. Untuk pertama kalinya sejak pagi itu... mereka benar-benar berdua.
"Kalau akses loading dari belakang dipakai semua, kendaraan vendor bakal numpuk di jam yang sama," ujarnya sambil memperhatikan denah.
Romi mengangguk.
"Nanti saya minta tim operasional buka akses samping. Jalurnya memang jarang dipakai, tapi cukup buat mengurai antrean."
"Itu lebih baik."
Romi kembali mengangguk singkat. Percakapan mereka tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Singkat.
Efisien.
Tanpa emosi.
Setidaknya, begitulah yang terlihat.
Mereka kemudian berhenti di area balkon dalam gedung yang menghadap taman. Angin dari pendingin udara berembus pelan, membuat suasana mendadak jauh lebih tenang dibandingkan area ballroom yang sejak tadi ramai oleh staf. Dan saat itulah ponsel Lala berdering.
Wanita itu melirik layar sebentar.
"Maaf, Pak, boleh saya angkat telepon?" tanya Lala meminta izin sang atasan.
"Kalau penting banget, angkat saja, La,” balas Romi.
"Baik, Pak, terima kasih. Saya akan sebentar."
Lala menjauh bersama dua orang staf lainnya yang juga ikut memeriksa area gedung. Suara langkah kaki mereka perlahan menghilang di ujung koridor hingga suasana mendadak terasa lengang.
Tinggallah Romi dan Jelita.
Tidak ada yang langsung berbicara. Jelita memandang taman di balik dinding kaca, sementara Romi berdiri beberapa langkah di sampingnya. Mereka hanya dipisahkan beberapa langkah, tetapi dua hari yang mereka habiskan untuk saling menjaga jarak terasa menciptakan batas yang jauh lebih lebar daripada itu.
Jelita akhirnya mengembuskan napas pelan.
"Kayaknya..."
Romi menoleh.
"...kita lumayan berhasil."
"Berhasil apa?"
"Jaga jarak."
Romi terdiam.
Jelita tersenyum kecil. Senyum yang justru terlihat lebih lelah daripada bahagia.
"Hampir tiga hari."
"Baru dua hari."
Jelita terkekeh pelan.
"Benar, dua hari tapi rasanya… lebih dari itu."
Keheningan kembali turun.
Aneh. Padahal dulu mereka bisa mengobrol tentang apa saja. Sekarang bahkan mencari satu kalimat pembuka saja terasa sulit.
Romi memandang lurus ke arah taman.
"Kamu kelihatan capek."
Jelita menoleh.
"Kelihatan ya?"
Romi mengiyakan. "Sedikit."
Jelita tersenyum tipis.
"Beberapa hari ini banyak kerjaan."
"Sepertinya… itu bukan jawabannya." Kalimat itu keluar begitu saja.
Jelita terdiam. Tatapannya perlahan turun ke lantai.
"Lagian..."
ia mengembuskan napas pelan.
"...aku memang lagi belajar biar bisa biasa."
"Biasa?"
"Iya."
"Biasa nggak ngobrol sama kamu."
Kalimat itu diucapkan begitu pelan, nyaris seperti gumaman. Namun setiap katanya tetap sampai ke telinga Romi. Dadanya mendadak terasa sesak. Ia memejamkan mata sejenak, lalu mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya mengakui Sesuatu yang sejak dua hari terakhir terus berusaha ia sangkal.
"Aku juga."
Jelita mengangkat wajahnya.
Romi masih menatap taman, namun dengan tatapan kosongnya.
"Awalnya kupikir bakal gampang."
Ia tersenyum hambar.
"Tapi ternyata..."
kalimatnya menggantung.
"...nggak segampang itu."
Jelita menggigit bibir bawahnya pelan. Selama dua hari terakhir ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini memang keputusan yang benar. Namun mendengar Romi mengatakan itu… seluruh benteng yang susah payah ia bangun mendadak retak.
"Berarti..." suaranya hampir berbisik, "...bukan aku aja."
Romi menggeleng pelan. "Bukan."
Keheningan kembali hadir. Namun kali ini rasanya berbeda. Bukan canggung, melainkan terlalu banyak hal yang ingin diucapkan, tetapi sama-sama memilih menahannya.
Beberapa detik kemudian Romi kembali membuka suara.
"Kita nggak salah."
Jelita mengangguk pelan.
"Iya."
"Cuma..."
Ia menarik napas panjang.
"...ternyata menjaga jarak jauh lebih susah daripada yang kubayangin."
Jelita tersenyum. Namun senyum itu membuat matanya tampak berkaca-kaca.
"Tahu nggak sih, Mas? Tadinya aku sedih banget ngebayangin kalau ternyata cuma aku yang ngerasa begini."
Romi menoleh. Untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka pagi itu tatapan keduanya benar-benar bertemu. Tidak ada senyum. Tidak ada juga candaan. Hanya dua orang yang akhirnya sama-sama menyadari satu hal.
Perasaan itu tidak hilang hanya karena mereka memilih diam. Justru diam membuat semuanya terasa jauh lebih nyata.
Tepat ketika suasana mulai berubah semakin sunyi, langkah kaki kembali terdengar dari ujung koridor. Lala berjalan mendekat sambil menyimpan ponselnya.
"Maaf, Pak. Teleponnya agak lama."
Dalam sekejap Romi mundur selangkah. Ekspresinya kembali tenang dan profesional. Tak berbeda jauh dengan Jelita, wanita itu juga segera membuka kembali tabletnya.
"Oke, kita lanjut lihat area loading dock."
Seolah beberapa menit tadi tidak pernah terjadi apa-apa. Padahal keduanya tahu bahwa hanya dengan percakapan sesingkat itu, keputusan yang mereka buat dua hari lalu mulai kehilangan kekuatannya.
Dan untuk pertama kalinya… mereka sama-sama menyadari bahwa yang sedang mereka lawan bukanlah jarak, melainkan perasaan yang diam-diam sudah tumbuh jauh lebih besar daripada yang ingin mereka akui.
Survei lokasi berakhir hampir menjelang tengah hari.
Beberapa catatan terakhir sudah disepakati. Tim operasional gedung kembali berdiskusi dengan tim konsultan mengenai perubahan alur registrasi dan penempatan area presentasi. Suasana kembali dipenuhi pembicaraan teknis, seolah beberapa menit sebelumnya tidak pernah ada percakapan yang nyaris meruntuhkan keputusan yang mereka buat.
Jelita menutup tabletnya.
"Kalau begitu, semua data yang kami butuhkan sudah lengkap. Sisanya nanti kami kirim lewat surel."
Romi mengangguk.
"Baik."
Hanya itu.
Begitu pekerjaan kembali mengambil alih, mereka seolah kembali menjadi dua orang profesional yang baru saling mengenal.
Lala menghampiri sambil membawa beberapa dokumen.
"Pak, ruang kontrol sudah selesai dicek. Semua sesuai."
"Oke."
"Kalau begitu kami tinggal dampingi Bu Jelita sampai lobi."
"Nggak usah. Saya sekalian turun."
Lala mengangguk tanpa berpikir macam-macam. Mereka akhirnya berjalan bersama menuju lift tanpa kembali membuka percakapan. Sesekali Romi menjawab pertanyaan teknis dari staf operasional, sementara Jelita berdiskusi dengan Deva mengenai revisi layout. Tak lama kemudian, mereka tiba dI depan lift, dan begitu pintunya terbuka, Jelita menghentikan langkahnya.
"Terima kasih atas waktunya, Pak Romi," ucap Jelita dengan senyum profesional.
"Sama-sama. Semoga presentasinya lancar."
Jelita mengangguk.
"Kami pamit."
Ia melangkah masuk ke dalam lift bersama Deva. Sesaat sebelum pintu menutup, pandangannya tanpa sadar kembali mencari satu sosok di luar.
Romi masih berdiri di tempatnya. Tatapan mereka kembali bertemu hanya sepersekian detik lalu pintu lift tertutup.
Sementara itu, Romi masuk ke ruang kerjanya. Tatapannya kembali jatuh pada ponsel di atas meja. Untuk waktu yang lama, ia hanya memandang layar yang tetap gelap, namun akhirnya ia meraihnya. Romi baru saja membuka ruang percakapan dengan Jelita.
Jarinya mulai bergerak.
Udah sampai kantor?
Ia menatap kalimat itu cukup lama.
Namun…
Tok. Tok. Tok.
Romi buru-buru menyimpan ponselnya di atas meja.
"Masuk."
Lala muncul sambil membawa map.
"Maaf, Pak. Ini notulen hasil survei tadi. Saya pikir Bapak mungkin mau cek dulu sebelum saya kirim ke tim konsultan."
"Taruh saja."
Lala meletakkan map itu di meja. Namun kali ini ia tidak langsung pergi.
Romi mengangkat kepala.
"Masih ada lagi?"
Lala tampak ragu.
"Hm… anu, Pak. Boleh saya tanya sesuatu?"
Romi menaikkan satu alisnya ke atas.
"Apa?"
Lala lalu tersenyum kecil.
"Sebenarnya… saya penasaran. Bapak sama Bu Jelita sebelumnya sudah sering kerja bareng ya?"
"Nggak juga. Baru dua kali kerja bareng. Proyek sebelumnya sama proyek yang ini."
Baru dua kali?
Lala semakin bingung. Kalau memang baru dua kali bertemu, kenapa keduanya terlihat begitu paham ritme kerja masing-masing?
"Tapi tadi kelihatannya Bapak sama Bu Jelita kayak udah ngerti cara kerja masing-masing."
“Oh ya?”
"Maaf kalau saya salah, Pak. Tapi tadi kelihatannya Bapak sama Bu Jelita bukan kayak dua orang yang baru kenal."
Ruangan mendadak sunyi. Romi tidak langsung menjawab. Tatapannya perlahan bergeser ke arah ponsel yang masih menampilkan ruang percakapannya dengan Jelita.
Ia sempat mengira semua itu masih bisa disembunyikan. Bahwa selama mereka menjaga jarak dan bersikap profesional, tak seorang pun akan menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Ternyata ia salah.
Kalau Lala saja mulai menyadarinya, lalu berapa lama lagi mereka bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa?
Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.
Ditunggu semua komenannya.
Love sekeboon buat kalian💐