Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Gifarka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.
Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.
Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, yang terjadi adalah...
Dada gadis itu naik-turun dengan napas yang terasa luar biasa sesak.
"Serend*h itu gue di mata lu, Arka? Lu nggak pernah ngaca?! Adu bac*t kita dari dulu selalu dimulai dari lu yang cemburuan gak jelas!" teriak Lintang frustrasi, air matanya mengalir deras membasahi pipi.
"GUE CUMAN NGAMANIN APA YANG MASIH GUE PUNYA!"
Bentakan bariton Arka kali ini menggema begitu kencang di sepanjang koridor rumah.
Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cegil is Back
Lintang refleks menghentikan aktivitasnya dengan tabung oksigen. Dengan dahi berkerut bingung, ia melangkah cepat menghampiri Zahiya untuk ikut melongok ke luar jendela.
Jantung Lintang mendadak berdegup ugal-ugalan. Di tengah lapangan bawah, sosok jangkung Arka berdiri dengan sangat mencolok mengenakan jersi basket nomor 7 tanpa lengan. Otot-otot lengannya yang kokoh terpampang jelas, memancarkan aura intimidasi yang sangat pekat.
"Loh? Kok dia ikutan main basket?" gumam Lintang keceplosan dengan mata membulat.
"Nah, kan! Lu yang ugal-ugalan ngejar dia aja kagak tau kabar ginian!" cerocos Zahiya polos, sama sekali tidak sadar kalau Lintang sebenarnya adalah istri sah cowok itu. "Tapi gila sih, Lin. Musuh pertama tim pusat itu cabang Madiun. Itu artinya... cowok manis lu bakal adu mekanik langsung sama si Van tentara VOC itu!"
Lintang meremas jemarinya di dalam saku celana. Dari kejauhan, dia bisa melihat Arka sedang menatap tajam ke arah Van setelah melepas jabatan tangan mereka.
Arka tentu tidak lupa dengan wajah blasteran di depannya ini. Mengingat tahun lalu Van sempat viral satu sekolah karena berani menembak Lintang, otomatis situasi sekarang membuat Arka jauh lebih waspada.
Lintang sekarang sudah menjadi miliknya, dan status pernikahan mereka yang masih menjadi rahasia besar membuat Arka harus menahan diri agar tidak bertindak gegabah.
Seolah memiliki ikatan batin, sepasang mata elang Arka mendadak bergerak memutar, lalu mengunci pandangannya lurus ke arah jendela ruang PMR—tepat ke arah tempat Lintang berdiri.
Tatapan Arka dari kejauhan itu terasa sangat dingin, tajam, dan penuh tuntutan posesif.
Lewat sorot mata itu, Arka seolah sedang mengirimkan sinyal peringatan berkadar tinggi agar Lintang tidak macam-macam selama pertandingan berlangsung.
...----------------...
Suara bariton Pak Hanafi kembali menggema memecah suasana melalui pengeras suara sekolah, memberikan instruksi tegas yang langsung menggerakkan ribuan murid.
"Diberitahukan untuk seluruh supporter dan murid dari semua cabang, harap segera mengosongkan area lapangan luar dan langsung bergeser masuk ke dalam gedung aula indoor pusat! Pertandingan pertama akan dibuka oleh cabang basket, disusul cabang voli setelahnya!"
Dalam sekejap, lautan manusia langsung bergerak rusuh berbondong-bondong memenuhi gedung olahraga indoor yang serbaguna itu. Tribun di sekeliling lapangan besar tersebut langsung penuh sesak oleh riuh yel-yel supporter yang siap menonton laga pembuka.
Tim PMR pun tidak tinggal diam. Sebagai Leader, Lintang langsung sibuk memberikan komando cepat kepada anggotanya untuk memindahkan posko darurat ke area tribun bawah.
Posisinya sengaja ditaruh di titik paling strategis agar tim medis bisa langsung bergerak duluan kalau sampai ada pemain yang cedera di lapangan nanti.
Tepat di barisan bangku tribun dekat posko darurat PMR, rombongan tim basket pusat ternyata juga sudah duduk berkumpul di sana, menunggu giliran untuk turun ke lapangan.
Suasana aula mendadak bising oleh kasak-kusuk heboh dari rombongan siswi cabang daerah yang duduk di barisan tribun atas. Mata mereka semua langsung tertuju pada sosok jangkung berjersey nomor punggung 7 yang sedang duduk lempeng di sana.
"Eh, eh, buset... itu nomor punggung tujuh siapa namanya, sih? Ganteng banget, bjirr!" bisik seorang siswi dari cabang Kebumen sambil menyenggol lengan temannya.
"Namanya Arka! Atlet silat pusat, tapi kok tumben sekarang main basket, ya?" sahut siswi pusat di dekatnya, bangga memamerkan aset sekolah mereka.
"Aduhh, meleleh gue liat otot lengannya! Kira-kira dia udah ada pawangnya belum ya? Kalau belum, mau gue pepet pas art night ntar malam!" timpal siswi dari cabang Klaten dengan mata berbinar-binar penuh harap.
"Mimpi lu! Jangankan dipepet, dilirik aja kagak bakal. Dia mah kulkas sepuluh pintu, anti cewek!" cibir siswi pusat mematahkan harapan anak cabang.
Mendengar kasak-kusuk centil yang makin melunjak di barisan tribun atas, Lintang yang sedang bersiap siaga mendadak kehilangan kesabarannya. Jiwa ugal-ugalannya yang sempat padam sebulan lalu langsung menyala-nyala kembali.
Dengan wajah garang, Lintang langsung berkacak pinggang dan mendongak menatap gerombolan siswi tersebut.
"HEH, HEH, HEH! TUTUP MATA LU PADA! JANGAN JELALATAN!" sembur Lintang lantang, tidak peduli dengan posisi siaganya. "Awas aja ya lu pada berani mepet! Langkahin dulu nih tabung oksigen gue!"
Aksi labrak massal dari Lintang itu sontak memicu tawa renyah dari siswi-siswi GA Pusat yang berada di tribun. Mereka semua sudah khatam luar dalam kalau Lintang adalah crush berat Arka nomor satu di sekolah ini.
"Yaelah, Lintang! Mulai deh mode cegilnya kumat!" ledek salah satu siswi pusat sambil tertawa. "Sadar, Lin! Ngaku-ngaku doang lu, emang dianggep sama tu kulkas?"
"Tau nih! Lagian pawang dari mana, dilirik aja kagak pernah, awokawok!" sahut yang lain ikutan menyiram bensin ke emosi Lintang.
Mereka semua sama sekali tidak tahu saja, kalau di rumah, si kulkas sepuluh pintu itu sudah resmi jadi suami siri Lintang yang posesif setengah mati.
"Bodo amat! Pokoknya cowok gue ini, titik! Kagak ada yang boleh lirik!" balas Lintang makin ngegas, memicu sorakan meledek dari seisi tribun penonton.
Beberapa siswi cabang daerah yang melihat ketegasan Lintang langsung berbisik ngeri. "Gila, serem amat. Ternyata kalau mau deketin Arka, kita harus ngelawan fans beratnya yang modelan preman PMR begini dulu."
Tepat saat Lintang masih sibuk membacoti cewek-cewek tribun, suara peluit wasit berbunyi nyaring dari arah tengah lapangan, diiringi instruksi agar tim basket segera turun untuk memulai kuarter pertama.
Rombongan anak basket pusat yang tadinya duduk di area tribun langsung bangkit berdiri dan bergerak turun beriringan menuju lapangan utama.
Leon berjalan paling depan sambil memutar-mutar bola di jarinya, disusul oleh Nakra dan Bagas yang sibuk melakukan tos tangan untuk membakar semangat. Arka, dengan jersi nomor 7 andalannya, berjalan paling belakang dengan langkah tegap nan kaku.
"Misi, preman PMR! Jangan galak-galak, ah!" seloroh Leon sambil tertawa jenaka saat rombongan mereka mulai melintasi posko medis darurat Lintang.
Nakra dan Bagas ikut terkekeh pelan sambil mengangguk sopan melewati Lintang, memaklumi aksi ugal-ugalan cewek itu barusan.
Lintang yang menyadari rombongan cowok-cowok jangkung itu melintas langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Jiwa ugal-ugalannya mendadak kembali bergejolak.
Begitu giliran Arka yang melangkah tepat di depannya, Lintang langsung menangkupkan kedua tangan di depan dada dengan mata berbinar-binar penuh harap.
"Arkaaa, semangaattt!" seru Lintang heboh dengan suara yang sengaja diimut-imutkan, persis seperti fans garis keras yang sedang menyemangati idolanya.
Langkah kaki tegap Arka tidak berhenti, wajahnya pun tetap lurus menatap lempeng ke depan seolah mengabaikan seruan itu.
Namun, tepat saat tubuh bongsornya melewati Lintang, tangan kanan Arka yang tadinya menggantung santai mendadak terangkat ke udara.
Tanpa menoleh, tanpa sepatah kata pun, Arka memberikan satu acungan jempol yang mantap ke arah Lintang, sebelum akhirnya dia melangkah lebar mengekor di belakang Leon memasuki lapangan tengah.
Detik itu juga, Lintang langsung memegang kedua pipinya yang mendadak terasa panas. Cewek berambut kuncir kuda itu langsung mesem-mesem sendiri, salah tingkah dan baper brutal bak remaja yang baru pertama kali dinotis oleh crush idamannya.
Sementara itu, seisi tribun aula indoor langsung ikut meledak histeris seketika. Pekikan dan jeritan dari ratusan siswi bergemuruh memekakkan telinga, iri setengah mati melihat Lintang berhasil mendapatkan respons langka dari si kulkas kutub utara.
"KYAAAAAA! DEMI APA ARKA KASIH JEMPOL KE LINTANG?!"
"HEH SUMPAH! GUE GA SALAH LIAT KAN?! KULKASNYA BISA JAWAB SEMANGAT, ANJIRRR!"
Zahiya yang berdiri di sebelah Lintang langsung mencengkeram bahu sahabatnya itu dengan gemas, mengguncang-guncangnya brutal. "Lintang, asu! Lu kesambet apaan bisa dapet jempol dari Arka?! Gila, mimpi apa lu semalem?!"