Di lanjutkan season 2.
Mohon maaf jika up nya sedikit ya, soalnya author nulis 2 judul. 🙏🙏🙏
Moli adalah seorang gadis SMA yang periang. namun di balik cerianya itu Dia adalah seorang gadis yang sangat kesepian.
hingga suatu ketika Dia beretemu dengan seseorang yang lelaki yang masih duduk di bangku SMP bernama Yoga. Seiring berjalannya waktu mereka mulai akrab.
namun di sisi lain. hubungannya dengan sang kekasih (Diki) justru mulai retak karena kedatangan wanita lain. wanita yang telah lama mengenal Diki dari kecil.
Hubungan Moli dan Diki pada akhirnya merenggang. sementara Moli kini mulai terbiasa dengan kehadiran Yoga yang menurutnya bisa membuat dirinya selalu tersenyum menggantikan ruang sepi yang selama ini terjadi.
penasara.??? yukk langsung aja kepo in???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motifasi_senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tujuh
Sudah hampir satu jam lebih Diki bersama sahabat masa kecilnya. Lia saputri itulah nama gadis tersebut. Parasnya cantik, rambutnya pendek sebahu. Tingginya sekitar 165 cm. Diki sudah mengenalnya sejak umur enam tahun. Mereka berpisah ketika Diki pindah ke Jakarta, sementara Lia masih di Bandung. Mereka tak saling kontak selama 1 tahun. Hingga suatu ketika tanpa disengaja dunia maya mempertemukan mereka lewat instagram. Keajaiban bukan?
“Aku kangen banget tahu sama kamu Dik...” Lia bergelendotan manja pada Diki yang masih fokus menyetir. “Kamu nggak berubah ya... masih tetep ganteng.” Goda Lia manja.
“Iya aku juga kangen kamu...” Diki mengacak acak rambut Lia dengan tangan kirinya.
“Kamu mau langsung ke apartemen atau ke rumah ku dulu?”
“Mampir dulu deh... Kangen juga sama Om Yudha... aku juga penasaran sama keluarga baru kamu.” Celoteh Lia panjang lebar.
Sekitar jam enam sore mereka sampai di tempat tujuan. Lia turun dari mobil berjalan mendekati halaman rumah Diki. Ia melihat ke sekeliling rumah itu. Rumah yang besar. Nggak kaget sih... keluarga Diki memang orang kaya.
“Assalamualaikum...”
Diki memasuki rumahnya menuntun koper milik Lia. Lia menoleh memandangi seisi ruangan itu. Tak jauh beda dengan rumahnya yang dulu. Didalam nya penuh dengan hiasan yang lumayan membawa harga. Ada jam besar antik di pojok dan sebuah lukisan besar di bagian ruang tamu. Masih banyak lagi...
“Waalaikumsalam... eh ada tamu...” jawab Santi ketika mendengar suara salam.
Lia tersenyum. “Sore tante...” Lia berjabat tangan dengan Santi.
“Sini duduk...”
Santi menarik lengan Lia menyuruhnya duduk di sova ruang tamu.
“Makasih Tante...”
“Kalian ngobrol dulu...Aku ganti baju bentar... nggak lama kok.
Lia mengangguk. “Iya... bawel!”
“Ini Lia kan? Temennya Diki dari Bandung?” tanya Santi dengan senyuman manis.
“Iya tante...”
“Cuma sendirian kesini?”
“Iya... Papa Mama masih sibuk... jadi minta jemput Diki...”
“Mau minum apa Ia?” tanya Diki ketika sudah berada diruang tamu.
“Air putih aja...”
Sementara mereka ngobrol Diki pergi ke dapur mengambilkan minuman beserta cemilan.
“Rencana nya disini mau tinggal sama siapa?” tanya Santi.
“Di apartemen Tante... punya Om Yudha. Kata Papa untuk sementara aku tinggal di situ...”
“Nginep disini dulu kan malam ini? Udah malam juga...”
Lia tersenyum. “Boleh tante... kalau di ijinin...”
“Ish kamu! Ya jelas di ijinin dong...” Santi menyenggol bahu Lia.
Diki sudah berada di ruang tamu membawa nampan berisi 1 gelas air putih dan roti potong coklat. “Ini dia cemilannya udah datang...”
“Ya udah kalian ngobrol aja... Mama mau masuk kamar dulu...” Santi beranjak dari tempat duduk meninggalkan mereka berdua.
Mereka terus mengobrol hingga jam sembilan malam. Obrolannya begitu asik. Tentu saja karena mereka sudah lama tak bertemu, pastilah rasa kangen memuncak di hati masing masing.
“Kapan-kapan aku boleh kan main kesini lagi?”
“Ya boleh dong...”
Lia melirik ke belakang Diki, melihat ada seseorang yang sedang menuruni anak tangga. “Siapa itu Dik? Saudara tiri kamu?” Lia bergeming menatapi lelaki itu dari ujung kaki hingga kepala. Tampan juga dia...
“Iya itu Saudara tiri aku... Yoga.” Jawab Diki malas.
“Yoga!” panggil Lia ketika Yoga sudah sampai di lantai satu.
Yoga hanya menoleh cuek. Ia tak peduli siapa itu, apa lagi yang berurusan dengan Diki. Bodo amat deh!
“Woi! Kalau dipanggil tuh dijawab!” semprot Diki yang melihat yoga tak bergeming.
Yoga masih tak menghiraukan mereka. Ia masuk ke dapur mengambil minuman kemudian balik lagi ke kamar nya. Yang pertama di tak begitu tertarik dengan cewek yang terlihat centil, yang ke dua Dia adalah temen Diki. Tambah males buat kenalan.
“Sory ya... Dia emang gitu orang nya...” kata Diki sedikit jengkel.
“Iya nggak papa... mungkin dia mengantuk...” Lia tersenyum. Bukan tersenyum pada Diki sebenarnya tapi pada seseorang yang baru saja Ia lihat. Ganteng juga tuh Bocah!
06.10 WIB
Moli sudah siap dengan tampilan nya. Hari ini rambut panjangnya di biarkan tergerai. Sudah ada sarapan di atas meja tapi Moli mengabaikannya. Ia langsung berangkat ke sekolah di atar pak Ujang.
“Nggak sarapan dulu Non?” tanya pak Ujang yang siap menyalakan mobilnya.
“Nggak... nanti makan di kantin aja...” jawab Moli yang langsung duduk dan membayangkan apa yang akan di lihatnya hari ini. Kata-kata Diki yang kemarin pagi kini terngiang di kepalanya. Seperti apa kira-kita gadis itu? Cantikkah? Baikkah Dia? Akh menyebalkan bukan?!
“Kira kira tuh Cewek baik nggak ya?” gumam Moli lirih.
Jikalau memang Dia teman Diki tentu saja sikap nya mungkin akan baik padanya.
“Udah sampai Non...” kata pak Ujang membuyarkan lamunan Moli.
Moli turun dari mobilnya melangkah menuju kelas nya di lantai dua. Ia bertemu dengan kedua sahabatnya yang sedang berjalan di koridor.
“Manyun gitu... kenapa?” Tanya Mia penasaran.
“Lagi dapet kali Dia...” Kekeh Fani yang langsung ditimpuk Moli.
“Sakit Woi!” gerutunya.
Sementara di rumah Diki pagi nya sedikit ramai karena kehadiran Lia. Santi dan Yudha begitu menyambutnya dengan senang hati. Apalagi Lia adalah sahabat Diki dari kecil.
“Sini ikut sarapan...” ajak Santi ketika Lia keluar dari kamar tamu. Ia sudah memakai seragam SMA lengkap.
Lia mengangguk. “Iya Tante...”
Lia duduk di samping Diki yang sedang makan roti tawar. Sementara Yudha sarapan dengan nasi goreng. “Mau langsung sekolah?” tanya Yudha.
“Iya Om... sekalian bareng Diki... biar ada temen...”
“Iyalah... kan kamu belum paham daerah Jakarta juga...” sambung Santi yang sedang menaruh sepiring nasi goreng di atas meja. Mungkin buat si Yoga.
Yoga turun dari kamarnya dan duduk tanpa mengucapkan satu kata apa pun. Ya seperti biasanya Dia memang selalu begitu. Rasa nya malas aja ngobrol sama mereka.
Lia melirik nya. “Ternyata masih SMP?” ucapnya dalam hati ketika melihat Yoga memakai seragam putih dongker.
“Aku berangkat dulu... yuk Lia... nanti telat...”
Diki menggamit kunci mobilnya dan menggendong tas punggungnya berjalan keluar.
“Kamu nggak mau bareng kita...” tanya Lia pada Diki yang masih sibuk dengan nasi gorengnya.
“Nggak.” Jawabnya singkat.
Cuek banget kan? Itulah sifat Yoga. Kalau sudah dari awal nggak suka ya sampai kapan pun tetep nggak suka.
Lima belas menit kemudian mereka sampai di sekolahan. Diki langsung mengantarkan Lia menuju ruang kepala sekolah. “Aku duluan ya...” Diki berlalu meninggalkan Lia yang berada di ruang KEPSEK.
Jam pelajaran belum juga di mulai. Seisi kelas saling mengobrol dengan teman sebangkunya. Ada juga yang sedang bermain game di ponsel, ada juga yang sedang main Tik tok sambil joget joget.
“Pagi cantik...” Sapa Diki pada kekasihnya. Moli tersenyum tipis.
Mia berkerut dahi. “Lo lagi marahan sama Diki?”
“Nggak...”
“Kok cuek gitu?... bohong banget deh...” Mia menyentil hidung mancung sahabatnya itu.
“Nanti lo tahu...”
“Selamat pagi anak anak...” kata pak Agus. Di belakangnya ada seorang gadis yang membuntutinya. Senyum ramahnya saat masuk membuat seisi kelas meliriknya terutama para cowok.
Alamak itu dia! “Jadi itu orang nya...” Moli mencibir.
Seisi kelas menatap gadis itu. Mereka saling bersahutan menggodanya.
“Wah ada anak baru nih...” ucap Tara selaku ketua kelas.
“Kenalan dong...” sambung Budi si gigi tonggos.
Huuu!! Semua meneriakinya.
“Sudah-sudah... kenalin ini teman baru kalian, pindahan dari Bandung... namanya Lia.” Pak Agus menjelaskan.
“Silahkan Lia... kamu bisa duduk di kursi yang kosong.
Lia melangkah mencari kursi yang kosong. Dan hanya ada satu kursi yaitu di samping Fani. Kursi urutan ke satu dari belakang.
“Hi... salam kenal...” sapa Lia pada Fani. Fani tersenyum tipis.
Usai duduk Fani memainkan jarinya melambai pada Diki yang duduk di sampingnya. Melihat Itu Moli menekan-nekan meja dengan pensil nya. “Menyebalkan!” gerutu Moli lirih.
Moli dibuat jengkel. kenapa juga harus satu kelas? Kelas lain kan masih banyak. Ide siapa sih masukkan tuh cewek kesini? Moli terus mengomel dalam hati.
Bell berbunyi tanda istirahat.
Tanpa ragu Lia mendekati Diki yang sedang memasukkan buku kedalam laci. “ Kantin yuk Dik... aku pengen beli minuman...” ajak Lia manja.
Mia dan Fani yang semula cuek kini di buat heran. Sejak kapan Lia dekat dengan Diki. Kelihatannya mereka sudah kenal lama. Mia melirik pada Moli yang masih diam dengan buku novelnya.
“Eh Mol... lihat tuh...” Mia menyikut lengan Moli. “Kok mereka udah akrab sih?” tanya Mia.
Moli yang masih sibuk dengan bacaan nya mendesah lirih. “Biarin lah...”
“Ayo Dik...” Lia terus menarik lengan Diki. Diki bangkit mengikuti Lia. Sebelum pergi Ia sempat melempar senyum pada Moli. Maksudnya apa? Mau pamer? Moli semakin bertekuk muka.
Sebetulnya Lia belum mengetahui hubungan antara Diki dan Moli. Diki lupa bercerita bahwa dirinya sudah punya kekasih. Hanya saja Diki tak tahu perbuatannya itu membuat Moli cemburu. Cowok emang nggak peka ya?
“Nggak salah lihat gue kan?” Fani berkerut dahi melihat tingkah manja Lia pada Diki.
“Siapa nya Diki Dia Mol?” sambung Mia. “Bukan pacar barunya kan?”
Ck! Si Mia juga menyebalkan. Kenapa juga harus ngomong begitu. Udah tahu dari pagi si Moli cemberut aja. “Aaaaa! Bete! bete!” Moli memukul meja dengan telapak tangannya.
Mia dan Fani saling pandang. Kayak nya bener ada yang cemburu nih. “Moli! Gue jadi bingung lihat nya... Sebenarnya tuh cewek siapa?” tanya Fani.
Moli mengerucutkan bibirnya. Wajahnya masih di tekuk sebal. “Dia itu sahabat kecil nya Diki...”
“Ooo...”
Brengsek emang mereka berdua. Giliran udah di jelaskan jawabannya O doang. Tadi semangat banget tanya nya. Ck!
“Pantes lah mereka akrab...” ceplos Fani memainkan ujung poninya.
“Udah lah Moli sayang... jangan cemburu. Mereka Cuma teman kan?...” Mia mencoba meredakan kecemburuan Moli.
Moli mendesah. “Iya iya... kantin yuk. Laper gue...” Moli nyengir.
“Wo... dasar!!” Mia menjitak kepala Moli. Mia emang paling jahil tapi paling sayang juga.
“Dik... kamu belum punya pacar?” tanya Lia yang sedang memainkan botol minuman.
“Udah... tuh orangnya...” Diki menunjuk salah satu cewek yang sedang berjalan dengan dua sahabatnya.
Lia menoleh menatap tiga cewek yang sedang berjalan menuju kantin. “Yang mana?”
“Yang di sisi kiri...”
“Yang pakai bando kuning?”
“iya...”
Lia terdiam. “Itu kan cewek yang duduk di depan gue...” batin Lia.
Diki melambaikan tangan pada mereka bertiga. Mia dan Fani hanya nyengir. “Sini gabung...” ucap Diki.
“Nggak deh kita disini aja...” jawab Fani jutek dan langsung duduk di kursi kosong di sisi kanan mereka. Fani menarik lengan Moli yang masih berdiri. “Duduk sini. Jangan mau duduk sama mereka.” Semprot Fani.
“Lo apaan sih Fan... mereka juga Cuma teman kan...” timpal Mia. “Sana gih duduk bareng mereka...” Mia menyuruh Moli bergabung dengan Diki dan Lia yang masih memandang ke arah mereka.
Moli mengatur nafas berjalan mendekati mereka. “ Boleh duduk...”
“Boleh...” Jawab Lia dengan senyum.
“Pacarnya Diki kan?”
“Iya.” Moli mengangguk.
Lia melirik penampilan gadis itu. Wajahnya cantik. Kulitnya bersih tanpa ada satu jerawat yang hinggap disana. Dia lebih tinggi dari dirinya. “Jadi ini pacar Diki? Masih cantikkan gue...” Gumamnya dalam hati.
“Udah berapa lama kalian pacaran?” tanya Lia sinis.
Moli yang merasa aneh pada sikap Lia ikut menjawab dengan ketus. “sekitar 4 bulan.”
Ternyata Lia tak sebaik yang Dia kira. Terlihat penuh sesuatu pada saat Ia berbicara. Sepertinya Ia tak suka dengan Moli, terlihat dari cara Dia bertanya terlihat sinis dan cuek.
“Dik nanti Aku anterin ke apartemen ya...” Mia bergelayut pada Diki dihadapan Moli. Sungguh menyebalkan bukan? Mia yang melirik melihat itu jadi kasihan pada Moli.
“Udah gue bilangin, Nggak usah kesana!” semprot Fani lirih.
“Nggak punya etika banget sih tuh cewek!” timpal Mia melihat tingkah manja Lia.
Moli hanya diam melihat tingkah manja Lia. Ingin rasanya menjambak rambut itu cewek. Kegatelan banget! Udah tahu pacarnya ada disini. Si Diki juga sama aja, di gelendoti Lia nurut banget.
“Gue pergi dulu...” Moli bangkit meninggalkan mereka berdua. Lia tersenyum sinis.
“Mau kemana Mol?” tanya Diki. Sementara Moli terus melangkah tanpa menoleh. Fani dan Mia langsung menyusul. “Kan udah gue bilang... nggak usah nimbruk mereka.” Cerocos Fani.
“Lo nggak papa kan?” tanya Mia.
“Nggak papa... santai aja.” Moli tersenyum tipis menyembunyikan kecemburuannya.
Diki hendak mengejar namun di tarik oleh Lia. Ia kekeh merayu Diki supaya tak mengejar Moli. “Biarin aja... mungkin dia mau ke toilet kan...” cerocosnya ngasal.
***
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
semoga jd novel terbaik 😍😍😍
maaf ya thor kalau aq kasih kritikan ✌️✌️✌️
semoga lebih teliti lagi ya thor
Truss hubungan nya Ama season 1 apa?
Jangan lupa mampir di cerita saya yang berjudul Cinta Abdinegara dan Putih Abu-Abu di tunggu feedback nya 🤗🤗🤗
Terimakasih 🙏🙏🙏