NovelToon NovelToon
Suamiku Bukan Ojol Biasa

Suamiku Bukan Ojol Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Wanita Karir / Rumah Tangga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

Amira melangkah perlahan di samping Luki, jemari mereka saling bertaut erat. Cara berjalan Luki yang tenang dan penuh wibawa seolah mengumumkan kepada semua orang bahwa malam ini, merekalah pemenang yang sesungguhnya.

Di sudut teras, rahang Risma mengeras. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap tajam ke arah Angga, meminta penjelasan atas kekacauan ini.

Angga hanya mampu menggelengkan kepala dengan mimik heran dan frustrasi. Mobil Grand Livina milik Amira jelas-jelas masih parkir di Mall Ibu, lalu wanita berbekal baju kantor yang dikejar anak buahnya tadi itu siapa? Hanya karena ia memberi instruksi untuk tidak memeriksa rombongan Alphard demi menjaga perasaan Raka, celah kecil itu justru dimanfaatkan Amira untuk meloloskan diri dan datang tepat waktu.

Ratna menatap Amira dari atas ke bawah dengan tatapan penuh kebencian. Gaun pengantin yang membalut tubuh Amira jelas berharga ratusan juta rupiah, belum lagi biaya sewa tiga unit mobil Alphard dan sepuluh pengawal bertubuh tegap.

"Ayah... apakah Ayah yang merencanakan semua lelucon ini?!" cecar Ratna dengan nada kesal setengah berbisik.

"Rencana apa?" sahut Pak Handoko santai, pandangannya tak lepas dari cucu kesayangannya.

"Ayah rela menghamburkan uang ratusan juta cuma demi membiayai drama Amira malam ini?! Ingat ya Yah, nanti Ayah juga harus membiayai pernikahan Risma!"

"Cih! Enggak sudi aku membiayai anak orang lain!" balas Pak Handoko menohok. "Kalau saja dia punya budi pekerti yang baik, mungkin aku masih bisa mempertimbangkannya."

"Risma itu anak baik dan penurut, Ayah!"

"Penilaian orang yang sudah cinta buta tidak bisa dipercaya," tandas Pak Handoko dingin.

"Aku benar-benar kecewa sama Ayah!"

"Kecewa kenapa?"

"Ayah terlalu memanjakan Amira! Kalau suatu saat Amira jadi anak boros yang suka menghambur-hamburkan uang, itu semua murni kesalahan Ayah!"

Pak Handoko terkekeh sinis. "Amira itu anak yang pekerja keras dan penuh perhitungan—sama seperti kamu. Bedanya, cucuku tidak buta oleh nafsu duniawi seperti kamu."

Belum sempat Ratna membalas, Luki dan Amira sudah berdiri tepat di hadapan mereka.

"Selamat malam, Mamah Mertua..." sapa Luki dengan senyum tipis. "Maaf kami datang agak terlambat. Hanya ini yang bisa Luki persembahkan untuk Amira malam ini. Jangan khawatir, nanti Luki akan buatkan pesta pernikahan yang jauh lebih mewah."

Ratna melangkah maju, mendekatkan wajahnya ke telinga Luki seraya berbisik tajam, "Hentikan omong kosongmu. Aku tahu semua kemewahan ini dibiayai kakeknya Amira! Jadi kamu tidak usah banyak tingkah dan menyombongkan diri!"

Luki baru saja hendak menyela, tetapi Pak Handoko sudah menyela dan langsung mendekap Amira erat-erat.

"Cucuku... Hampir saja Kakek menyerahkan perusahaan pada Mamahmu kalau kamu tidak datang," bisik Pak Handoko dengan suara bergetar. Setitik air mata menetes di pipinya—menatap Amira selalu mengingatkannya pada almarhum putranya.

"Aku datang, Kakek... Aku tidak mungkin ingkar janji," sahut Amira lembut, walau di dalam hati terasa ada kepahitan yang menyengat saat menyadari kedatangannya sempat dijadikan bahan taruhan.

Ratna sebenarnya sudah gatal ingin menyemprot Amira habis-habisan, tetapi para tamu undangan dan kolega bisnis mulai mendekat untuk mengabadikan momen tersebut dengan kamera ponsel mereka.

"Sudah makin malam, Nyonya. Mari kita langsungkan akad nikahnya," sela Pak Penghulu yang sudah mengurut dada menunggu hampir dua jam. Biasanya pengantin yang menunggunya, tetapi malam ini justru ia yang dibuat menunggu.

"Baiklah, mari kita mulai," ucap Pak Handoko seraya meraih tangan Amira dan Luki, menuntun mereka menuju meja akad. Kehadiran mereka bertiga langsung menyedot seluruh perhatian di area teras.

Amira duduk berdampingan dengan Luki di hadapan Pak Penghulu, sementara Pak Handoko mengambil posisi di sebelah penghulu untuk bertindak sebagai wali nikah menggantikan almarhum ayahnya.

Pak Penghulu membetulkan letak kacamata lalu menatap Luki. "Mas Luki, boleh tahu mas kawin apa yang Anda bawa?"

"Saya sudah siapkan mas kawinya, Pak. Soalnya dia sendiri enggak bawa apa-apa," potong Ratna ketus. Ia menepuk tangannya dua kali. Seorang asisten rumah tangga bergegas membawa nampan berisi seserahan mukena dan sajadah yang sudah dihias cantik.

"Astaga... saya sampai lupa," cetuk Luki menepuk jidatnya polos.

Risma yang sejak tadi menahan gemuruh di dadanya akhirnya melihat celah sempurna untuk menjatuhkan Amira. "Astaga... Kamu tidak usah menyewa mobil mewah dan pengawal sebanyak itu hanya demi berpura-pura jadi orang kaya, kalau mas kawin saja sampai lupa!"

"Iya, kamu kan cuma tukang ojol," timpal Raka tak kalah sinis. "Kamu ini benar-benar menyedihkan. Menyewa tiga Alphard dan pengawal bisa, tapi mas kawin malah kelewatan!"

Suasana di teras seketika riuh oleh bisik-bisik para tamu:

"Apa? Suaminya Amira cuma tukang ojol?!"

"Ih, sudah ojol malah gaya-gayaan pura-pura kaya. Memalukan sekali!"

"Padahal tinggal terima nasib jadi ojol aja, enggak usah banyak tingkah!"

"Demi kelihatan kaya sampai menyewa baju dan mobil... Kasihan Amira."

"Tapi walaupun dia ojol, dia bela-belain loh. Biaya sewa itu pasti lebih dari seratus juta. Sepertinya dia benar-benar tulus sama Amira..."

"Mana mungkin uang tukang ojol!" selak Raka dengan nada tinggi. "Ini pasti pakai uangnya Amira!"

Para tamu kembali terperanjat. "Apa?! Amira benar-benar tertipu dong? Suaminya tampan sih, tapi buat apa kalau cuma modal tampan tapi enggak punya uang!"

"Aduh, kasihan sekali nasib Amira..."

"DIAM KALIAN SEMUA!"

Suara Pak Handoko menggelegar, memotong keributan di area teras. "Ini acara sakral! Kenapa kalian semua malah berisik seperti di pasar?!"

Seketika seluruh tamu bungkam dan kembali mengunci pandangan pada meja akad.

Pak Penghulu berdehem pelan. "Apakah Anda benar-benar tidak membawa mas kawin, Mas Luki?"

"Iya, Pak. Saya benar-benar lupa menyiapkan hal penting seperti mukena, sajadah, Al-Qur'an, dan tasbih," jawab Luki santai. Ia lalu menoleh pada Ratna dengan senyum manis. "Mamah Mertua, terima kasih banyak sudah menyiapkan seperangkat alat shalat ini. Ini sangat berharga bagi saya."

"Cih! Cepat lakukan akadnya, aku mau acara ini segera bubar!" desis Ratna sinis.

"Baiklah, kita akan melangsungkan ijab kabul dengan mas kawin seperangkat alat shalat ini ya," tutur Pak Penghulu.

"Tunggu sebentar, Pak," potong Luki halus. "Saya mau menambahkan mas kawin kecil ini."

Luki merogoh saku jas mewahnya, lalu mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah marun. Dengan gerakan anggun, ia membuka tutup kotak tersebut di atas meja. Sebuah cincin berhias batu permata memantulkan kilau cahaya yang sangat menyilaukan di bawah lampu teras.

Pandangan semua orang tertuju pada kotak merah itu.

"Ah, paling itu cuma barang imitasi, Pak!" celetuk salah seorang tamu dari belakang.

"Iya! Mana ada tukang ojol sanggup beli cincin berlian seperti itu!"

"Hey anak muda, jangan main-main dengan akad nikah! Simpan saja mainan pasarmu itu!"

Luki hanya tersenyum tipis. Ia mengangkat kotak beludru itu sedikit lebih tinggi. "Coba kalian perhatikan pelan-pelan... Kalau kalian menganggap ini cincin mainan, berarti kalian semua tidak cocok disebut orang kaya."

"Astaga, menantu Bu Ratna ini sombong sekali ya!" seru seorang tamu kesal.

"Tunggu dulu!"

Seorang wanita paruh baya bersetelan sangat elegan—salah satu investor perhiasan terkemuka yang hadir—melangkah maju mendekati meja akad. "Boleh saya lihat lebih dekat?"

Luki menyerahkan kotak itu tanpa ragu. Wanita itu mengeluarkannya dari kotak, mengamati kejernihan batunya secara saksama, lalu memeriksa ukiran mikro di bagian bawah lingkar cincin.

Mata wanita itu seketika membelalak sempurna. Mulutnya menganga lebar.

"Ini... ini Nirvana Royals Diamond!" jerit wanita itu histeris dengan nada gemetar. "Perusahaan kita bisa bangkrut seketika kalau berani menyebut permata ini barang palsu!"

Dengan tubuh gemetar hebat dan wajah pucat pasi, wanita itu mundur dua langkah seraya menyerahkan kembali cincin itu dengan kedua tangannya. "Ini... ini asli! Maafkan saya... Maafkan saya, Tuan!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!