Retno punya semua yang diinginkan oleh gadis seusianya, kedua orang tua sempurna, harta dan kehormatan. Hidupnya sangat bahagia dan disiplin, ayah bilang disiplin membedakan manusia dengan binatang. Sejak kelas dua sekolah dasar saat bangun tidur Retno tidak boleh keluar dari kamarnya sebelum membereskan tempat tidurnya, kelas tiga ayah memeriksa kerapihan tempat tidurnya.
"Kerapihan tempat tidur akan mengubah duniamu dan menentukan siapa dirimu" pesan ayah selalu.
Saat kedua orang tuanya meninggal Retno tak tahu apa yang harus dilakukan sampai dirinya bertemu dengan Keanu Hartono
"Retno....maukah kau ikut denganku.?" Keanu menghembuskan nafas panjang, antara yakin dan tidak dengan ucapannya namun kata ajakan itu sudah meluncur dari bibirnya.
Retno menatap wajah didepannya, tak ada senyum disana kecuali sepasang mata yang menatapnya serius. Retno menimbang kesungguhan dalam tatapan itu, Retno hanya bertemu Keanu beberapa kali itupun tanpa komunikasi karena biasanya ia datang menemui ayah. Retno hanya tersenyum dan mengangguk jika bertemu sebagai tanda penghormatan pada tamu ayahnya. Sekarang laki-kaki ini mengajaknya tinggal dirumahnya.
Keanu Hartono adalah seorang CEO NSP Bank yang terpaksa turun lapangan untuk mengatasi Kredit Macet seorang pengusaha daerah yang telah meninggal dunia bernama Bintoro Aldi ayah Retno. Keanu tahu betul apa yang terjadi dengan keluarga tersebut termasuk menyaksikan bagaimana ekonomi keluarga tersebut pelan-pelan hancur. Keanu juga menjadi saksi gadis yang dulunya ceria itu pelan-pelan kehilangan senyumnya. Gadis ABG yang membuat dunianya jungkir balik!
Bagaimana nasib membawa Retno dan adiknya, ikuti kisah ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part-7 Tamu Agung
Pak Sucipto ke bandara pagi-pagi, Nyonya dan tuan muda akan datang kerumah ini. Seluruh penghuni rumah sibuk berbenah, membersihkan dan merapikan semua barang agar berada ditempatnya. Bik Sumi, Siti Sendari dan Tarjo sampai berkeringat luar dalam, Retno dan Aldi ikut membantu. Sambil berbenah Retno mengamati foto keluarga yang ada diruang tamu, seorang wanita cantik bermata biru dan seorang pemuda tampan dengan mata yang sama, Andre. Sepasang mata Keanu bermata coklat seperti ayahnya dengan tatapan yang teduh. Ada rasa kawatir di hati Retno dengan kedatangan orang tua dan adik Keanu, disamping dirinya bukan anggota keluarga Retno juga merasa tidak tahu harus bagaimana dan posisinya sebagai apa dirumah ini. Seandainya saja Keanu ada disini tentu semua akan berbeda. Semoga saja Kakak sudah menceritakan kehadiranku dirumah ini.
Jam 09.00 WIB mobil memasuki pekarangan, pak Bambang sibuk membuka pintu pagar. Semua siap menyambut tamu agung rumah ini, kedua telapak tangan Retno berkeringat juga seluruh badannya. Ia seperti demam ketika melihat dua orang turun dari mobil yang di bawa pak Sucipto.
"Selamat datang Nyonya, tuan muda" pak Bambang mempersilahkan masuk.
Setelah bersalaman Nyonya Marsha dan Andre menuju kamar Nenek, terlihat mereka berpelukan. Sepasang bola mata Nenek berkaca begitupun Nyonya Marsha dan Andre. Retno dan Aldi berada dibelakang mereka, ketika berbalik Retno melihat Nyonya dan Andre tersenyum tipis padanya dan Aldi. Rasanya tubuh Retno seperti tersiram air es, sejuk. Nyonya ternyata lebih cantik dari fotonya begitupun Andre, selain mata birunya banyak kemiripan wajahnya dengan Keanu.
"Retno dan Aldi, apa kabar?" Nyonya dan Andre menyapanya.
"Kabar baik Nyonya, Sir" Retno mengangguk hormat.
"Bukan begitu memanggilnya, kita adalah keluarga. Panggil saja Mom, kalian sudah tak memiliki orang tua bukan?" Nyonya Marsha mengelus kepala Aldi begitupun juga Andre.
"Terima kasih Mom" Retno mengangguk hormat juga Aldi, anak itu mengikuti saja apa yang dilakukan kakaknya.
"Berapa umurmu sekarang?" tanya Nyonya Marsha, wanita itu menatap Retno sedetik lebih lama. Gadis itu mengingatkannya akan Raisa anak perempuan satu-satunya yang tak berumur panjang.
"Tujuh belas tahun Nyonya.. Mom.." Retno menutup mulutnya, belum terbiasa dengan panggilan itu. Marsha dan Andre tertawa kecil dibuatnya.
"Baiklah, kalian semua boleh kembali ke aktivitas seperti biasanya saya akan istirahat dulu"pamit Nyonya Marsha, keduanya menuju lantai dua. Sebelum melangkah ke tangga tatapan Andre dan Retno bertemu namun gadis itu segera menunduk.
.........
Makan malam mereka berkumpul di meja makan ber-empat. Retno agak kaget dengan menu makanan diatas meja, selain berat ternyata bik Sumi pandai juga membuat masakan Eropa. Bik Sumi dan pak Sucipto sudah lama bekerja dikeluarga ini, begitupun bik Siti, Pak Tarjo dan Pak Bambang kepala Satpam yang menjaga rumah.
Bagi orang Eropa, dinner menjadi sangat penting bagi tubuh mereka setelah lelah beraktifitas di luar. Makanya demi memanjakan tubuh, makan malam biasanya dibuat lebih komplit dan berat ketimbang makan siang dan sarapan. Ada sebuah pepatah diet mengatakan, "breakfast like a king, lunch like a prince, and dinner like a pauper." Di Eropa, prinsip ini justru malah kebalikannya. Orang Eropa cenderung makan sangat sedikit di pagi hari dan menyantap makanan berat saat malam. Hebatnya lagi, orang Eropa sudah terbiasa menyantap makanan fresh from the oven setiap hari meskipun harus repot memasak dulu. Ide tentang menyimpan makanan lalu besoknya dimakan kembali biasanya hanya bertahan selama satu hari, lalu sisanya dibuang.
"Makanmu sedikit sekali Retno, apakah kau kurang menyukai makanan western?"
"Tidak Mom, memang makan saya segini."
"Kamu harus menambahnya Retno agar tubuhmu lebih berisi, mau kutambah..?"
"Cukup Andre, aku akan mengambilnya sendiri jika kurang."
"Semoga kedatangan kami kesini tetap membuatmu dan Aldi nyaman ya."
"Tentu saja Mom."
"Bagaimana dengan sekolahmu Retno?" Marsha menatapnya.
"Semester-1 sudah selesai, minggu depan pengambilan raport."
"Semoga hasilnya baik ya, Aldi juga" Andre melihat Aldi yang sedari tadi diam, makan malam membuat Retno dan Aldi masih canggung.
Keluarga baru, orang baru, beda budaya dan makanan yang berbeda. Untung yang tersajikan diatas meja masih makanan halal, Nyonya Marsha dan Andre adalah muslim seperti Keanu dan tuan Hartono ayahnya tapi Retno belum tahu sejauh mana keislamannya. Kehidupan di Eropa sangat berbeda dengan Indonesia untuk itu Retno harus tetap waspada, berhati-hati atas segala tindakannya.
"Retno, apakah kau menyukai pesta?" Andre bicara hati-hati.
"Tidak Andre" Retno menggeleng lalu menunduk, menghabiskan makanan dengan sendok terakhirnya.
"Baiklah, jika ada teman-temanku datang kau boleh berada dikamarmu."
"Terima kasih Andre."
"Disini bukan Amerika Son, kamu harus mengendalikan diri"nasehat Marsha.
"Hanya berkumpul teman-teman lama Mom."
"Baiklah, asal tidak berisik. Keanu tidak menyukai keributan Son."
"Andre mengerti Mom."
"Kamu ngapain Retno, biar Siti dan Sumi yang membereskan meja.
makan" Nyonya Marsha mengerutkan keningnya.
"Tidak apa-apa Mom, saya suka membantu mereka juga Aldi."
"Kalian anak baik ya?" Marsha kembali mengelus kepala Aldi.
"Terima kasih Mom."
"Baiklah, kami pergi dulu ya."
Usai membereskan meja makan dan membersihkan piring kotor bersama bik Sumi dan Siti Sendari Retno masuk kamarnya. Lega, semua kekawatirannya tentang Nyonya Marsha dan Andre tak terjadi. Mereka orang baik seperti juga semua yang ada dirumah ini. Retno sangat beruntung mengenal mereka, baru saja Retno meletakkan kepalanya dibantal ketika ponselnya berdering. Sejak kehadiran Ibu dan adiknya Keanu sering menelponnya, mungkin kawatir.
"Assalamualaikum Retno, bagaimana harimu?"
"Waalaikumssalam, baik Kak Alhamdulillah, semoga Kakak juga baik di Swiss."
"Syukurlah, Kakak kawatir kalian belum bisa menyesuaikan diri dengan kedatangan Mommy dan Andre."
"Mereka baik, Kakak jangan kawatir."
"Retno, bagaimana jika kamu dan Aldi tinggal di Swiss dan sekolah disini?"
Keanu menghela nafas panjang, ia tak berhenti kawatir memikirkan Retno dan Aldi.
"Aku belum siap hidup disana Kakak, lagi pula aku menghawatirkan Nenek..."
"Ya, aku lupa.." Keanu meremas rambutnya, gelisah.
Retno mendengar helaan nafas panjang Keanu di ponsel, ia seperti bisa merasakan kegelisahan dan kekawatiran pemuda itu terhadap dirinya dan Aldi yang tak tersampaikan lewat kata-kata. Nyonya Marsha dan Andre begitu baik, tak ada yang perlu dikawatirkan.
"Baiklah Retno, good night. Wassalamualaikum."
"Waalaikumssalam" Retno meletakkan ponselnya.
Retno membuka sedikit gorden jendela, dilangit rembulan bulat penuh cahayanya yang keemasan menyinari kegelapan malam. Purnama ke-empat sejak Keanu pamit pergi ke Swiss. Dadanya berdesir mengingat kekawatiran Keanu kepadanya dan Aldi, disisi lain hatinya merasa sepi. Setiap mengingat Keanu hatinya merasa hampa, ada sesuatu yang sulit diterjemahkan. Keanu adalah seseorang yang terlalu tinggi untuk diraih tapi Retno merasa begitu dekat, meski jarak memisahkan keduanya.
...........
Assalamualaikum
Vote& Comment untuk membangun cerita
Terima kasih atensinya.
Salam
Semoga bisa diterima 🤭