A Mystery Thriller Novel
Hansel hanyalah biang onar di sekolah lamanya. Predikat cowok tampan yang suka menebar cinta sana-sini melekat kuat. Namun saat terpaksa pindah sekolah, semuanya berubah. Hansel dihadapkan pada perkara sulit. Tepatnya saat seorang gadis misterius dengan tatapan kosong mengatakan, "Aku bisa membuat hidupmu lebih menarik dibanding kisah dari novel thriller."
Anehnya, gadis itu benar. Kasus-kasus bunuh diri marak terjadi di SMA Gajah Mada. Yang mengherankan: kenapa si gadis misterius ikut menjadi korban?
Teror tak berhenti sampai di situ. Setelah kasus bunuh diri, dilaporkan ada seorang gadis yang menginjak mata manusia di depan gerbang.
Hansel tentu tak tinggal diam, mendadak ia berubah menjadi Detektif Holmes-Poirot. Dibantu dengan rekan sejawat, Ali dan Grisel, ia akan mengungkap siapa dalang di balik semua ini. Namun yang tidak Hansel tahu, akan ada luka besar yang menunggunya di akhir permainan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Minnie Harissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Enam: Ningsih Sri Wahyuni
Sebelumnya...
Aku semakin ketakutan saat sosok itu mulai tertimpa cahaya remang-remang, menampakkan seseorang berjaket hoodie hitam serta celana training hitam. Ia menunduk dalam. Wajahnya tak jelas kelihatan, tapi dapat kulihat rahang kaku itu menyunggingkan senyum sinis.
Langkahnya terhenti begitu ia telah berdiri di depanku dengan jarak kira-kira dua meter. Ia mengangkat wajahnya. Dan seketika aku membelalak.
Dia...
Tangan orang itu terangkat, seolah dari jarak begitu ia tetap bisa mengirim sebuah cekikan ke leherku dan mematahkannya.
"Pelac*r!" serunya dengan suara rendah yang hampir habis. Wajah sopan dan bersahajanya selama ini menghilang entah ke mana.
Sial.
"Selain memacari Dimas, cowok yang terkenal tajir, dia juga pacaran sama Dieter---salah satu cowok paling ganteng di sekolah."
Sosok itu menatap mataku lekat-lekat. Tampak berpikir atau... membaca sesuatu!
"Tapi masih berani-beraninya kemarin dia ikut Dennis ke apartemennya."
Tidak salah lagi. Dia membaca pikiranku!
"Astaga... kamu bahkan minta bayaran setelah kencan kalian?" ia mendesis, dengan sorot bengis yang aku yakin tak pernah ia tampakkan di kesehariannya.
"Benar-benar bit*h!" timpal sebuah suara berat dari pojok gelap lain. Sosok itu bergerak mendekat. Kala dirinya mulai terkena cahaya, disibaknya hoodie abu-abu yang menutupi kepalanya.
Aku semakin lemas. Apa sebenarnya hubungan orang-orang ini? Kenapa mereka tiba-tiba melakukan hal seperti ini?
Ia mendekat padaku. Menatap tajam lalu mencondongkan tubuhnya untuk membisikkan sesuatu yang lebih mirip geraman hewan buas, "Kamu tahu, ini mungkin bakal jadi pertemuan terakhir kita."
Lalu tiba-tiba saja, tanpa aku sadari saat ia mengambilnya, ponselku sudah berada dalam genggamannya. Dengan tangan yang sudah dilapisi sarung tangan abu-abu ia mengutak-atik benda itu. Aku tak tahu apa yang dia lakukan. Tapi kemudian ia mengeluarkan sebuah ponsel dari saku training abu-abunya dan berganti mengutak-atik benda itu. Dering ponselku berbunyi dan ia seperti mengetik sesuatu di sana.
Sebenarnya apa yang dia lakukan?
Bukannya mengembalikan ponselku, ia malah melemparnya ke belakang. Bunyi yang beradu dengan lantai tak terlalu keras, pertanda ia hanya melemparnya pelan.
Aku semakin bertanya-tanya.
Tapi ia malah menyingkir, kembali ke dalam kegelapan dan aku tak lagi dapat menemukan sosoknya di sana. Kini kusadari sosok pembaca pikiran tadi telah lenyap juga. Namun aku melupakan sesuatu sampai sebuah tarikan napas berat menyentak. Darahku berdesir. Seluruh tubuhku melemas sampai rasanya telah bertukar menjadi jeli.
Sosok itu berjalan memutar. Setiap langkah yang diambilnya berhasil meningkatkan bunyi detak jantungku lebih menggila lagi.
Dia jauh membuatku lebih tercengang. Orang... orang yang sudah lama sekali tidak kulihat. Cowok pertama yang aku sukai, tapi juga cowok yang terus mengabaikanku untuk seorang gadis munafik. Gadis yang kata orang-orang lebih cantik dariku yang dulunya hanya cewek gendut yang kotor---sehingga terus-menerus diidentikkan dengan seekor ****. Cewek yang sangat disukai banyak orang karena sikap lemah lembutnya. Cewek yang terus saja sok baik dan menganggap dirinya masih lebih baik dibanding denganku setelah sekian lama.
Aku menatap pilu sosok itu. Kini tubuhnya berbalut hoodie seperti yang lain, hanya berbeda pada warna putihnya saja. Namun berbeda dengan yang lain, ia lebih memilih celana pendek putih sebagai benda yang melindungi bagian bawah tubuhnya. Kulitnya putih tak berpigmen, dengan kepala yang ditumbuhi rambut putih seluruhnya. Kedua mata merah yang berhias bulu mata putih itu, menatapku lembut. Bibirnya menyunggingkan senyum lebar, tapi garis matanya tampak malas dan turun.
"Sekarang ulangi perkataanku! Aku adalah seorang pendosa."
"Aku adalah seorang pendosa," ucap mulutku menuruti perintahnya. Keringat dingin yang sejak tadi mengucur deras di seluruh tubuhku bertransformasi menjadi gumpalan es. Aku menggigil penuh kengerian.
"Aku akan menebus dosa-dosa itu dengan mengakhiri hidupku sendiri."
Deg.
"Aku akan menebus dosa-dosa itu dengan mengakhiri hidupku sendiri." Desiran darah yang begitu cepat, seakan bisa menumbangkanku kapan saja.
"Dengan cara gantung diri."
"Dengan cara gantung diri."
Saat melihat matanya lekat-lekat, tanpa diminta tubuhku berjalan sendiri menuju ke meja administrasi, di mana seutas tali putih tergeletak di sana.
Harusnya aku pergi setelah melihat lilin aneh di atas meja.
🥀🥀🥀
Sincerely,
Dark Pappermint
puas juga gk apa"x dia mati😏
apa mungkin Gisel, Seno dan si mantannya Gisel arghh... bingung aku