NovelToon NovelToon
Secret Admirer

Secret Admirer

Status: tamat
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Tamat
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Macet

Ketika Laura mendapatkan surat cinta, dia dengan tekad bulat akan menyusuri jejak sang pengagum!

....

Laura ingin rasanya memiliki seorang pacar, seperti remaja di sekitarnya. Sayangnya, orang-orang selalu menghindar, ketika bersitatap dengannya. Jadi, surat cinta itu membawanya pada ambisi yang kuat! Mampukah Laura menemukan si pengagum dan mendapatkan akhir bahagia yang ia impikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Macet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Sesi Curahan Hati

Sesi Curahan Hati

"Jadi bagaimana keadaan Yuna saat ini?" tanyaku memulai perbincangan. Wafi melirik sesaat kemudian kembali sibuk dengan tugas sekolah yang belum selesai.

"Ketika terjatuh dari motor, Yuna menggunakan helm. Cideranya tidak terlalu parah," kata Wafi. "Nanti sepulang sekolah kita jenguk ke rumahnya."

Aku mengangguk mengiyakan, duduk di sebelah Wafi yang sedang fokus. Penilaianku tidak pernah salah, laki-laki ini memang tampan. Aku terus memandanginya.

"Sampai kapan kau duduk di bangkuku? Tidak memiliki bangku atau bagaimana?" kata Mutia dengan judes. Dia memang duduk di samping Wafi selama ini. Aku bangkit dan tersenyum canggung, melontarkan kata maaf kemudian kembali ke meja sendiri.

Ngomong-ngomong soal Mutia, aku jadi teringat kejadian kemarin. Pada waktu Wafi datang berkunjung dan dia begitu marah, apa hubungan mereka tidak begitu baik? Padahal mereka berada di satu meja yang sama.

Aku menoleh untuk melihat keberadaan Mutia dan Wafi, tetapi yang kulihat Wafi sudah berjalan ke mari dengan tas di genggamannya. Aku menaikkan alis lantaran bingung, apa lagi melihat Wafi yang menatap tajam teman sebangkuku hingga pergi. Kini dia duduk di sampingku.

"Apa?" Dia menatap bertanya dan kemudian aku menggeleng. Mendadak aku gugup lagi.

"Jadi kenapa menatapku intens?" tanya Wafi. Kini dia meletakkan alat tulisnya, sepenuhnya fokus ke arahku.

"Aku... em..., kenapa kau duduk di sini? Tidak biasanya." kataku kemudian merutuk dalam hati. Rasa penasaranku selalu membuatku malu pada akhirnya.

Dia terkekeh, kenapa juga aku memiliki teman yang begitu tampan seperti ini? Dia berkata, "Akhir-akhir ini aku sibuk, jadi tidak bisa berbicara dengan waktu lama bersama kalian berdua. Jika terus dibiarkan, pertemanan kita pasti akan renggang. Oleh sebab itu, mari berbicara banyak untuk hari ini,"

Aku terpaku sejenak.

"Apa lagi Yuna tidak ada di sini, hari ini kita berbicara berdua saja." katanya berbisik dengan nada mengajak nikah. Tidak, itu membuatku seperti perempuan yang dimabuk asmara!

"Sudah! Aku ingin belajar." kataku kemudian membuka buku.

Dia tertawa cukup keras. "Membuatmu salah tingkah ternyata tidak sesusah yang kupikirkan."

***

Aku mengaduk-aduk kuah bakso yang tersisa. Sedari tadi Wafi terus tersenyum tanpa niat membuka pembicaraan. Aku ingin melarikan diri dari situasi canggung ini.

Kujauhkan mangkok dari hadapanku, karena memang aku sudah selesai menyantap bakso tersebut.

"Apa aku boleh bercerita?" tanyaku. Aku ingin menceritakan soal si pengagum rahasia, entah dorongan dari mana. Hatiku seolah berkata, bahwa aku bisa bercerita pada Wafi.

"Ceritakanlah."

Wafi memangku dagu masih dengan senyuman. Aku semakin gugup, bagaimana jika si pengagum itu adalah Wafi? Bagaimana jika tidak?

"Kau pernah jatuh cinta?" kataku kemudian menutup mulut. Kok malah pertanyaan ini yang terlontar.

Dia yang pada dasarnya sedang meminum teh manis langsung batuk-batuk. Aku spontan menepuk-nepuk pundaknya lantaran panik. "Kamu baik-baik saja?" tanyaku.

"Ya, sekarang lebih baik," jawabnya. Wafi duduk dengan benar dan memandangku serius. "Kenapa kamu bertanya soal itu?"

Aku memalingkan wajah, pipiku panas tidak tahu kenapa. "Aku hanya penasaran. Apakah salah apabila bertanya?"

"Tentu saja tidak, aneh saja tiba-tiba kau bertanya tentang cinta. Padahal selama ini kamu tampak tidak peduli."

Tersenyum. Hal itu yang bisa kulakukan sekarang. Siapa bilang aku tidak peduli dengan percintaanku sendiri? Aku juga manusia normal yang kepikiran siang dan malam perihal surat cinta.

"Jawab saja, kau pernah jatuh cinta atau tidak?" Aku kekeuh untuk bertanya. Tipe perempuan yang Wafi suka seperti apa,  ya?

"Aku pernah jatuh cinta, pada satu perempuan," Dia berubah sendu. "Dia begitu baik tetapi tidak peka sama sekali. Padahal selama ini aku selalu ada di sisinya, yang dia lirik adalah orang lain. Tidak adil, bukan?"

Aku terdiam, memikirkan perkataan itu. Bukan bermaksud percaya diri, aku merasa lontaran kata itu merujuk padaku. Tidak mungkin!

"Ya, mungkin saja semua akan berubah apabila kamu mengungkapkan rasa sukamu." kataku tajam.

"Mungkin saja."

Keadaan canggung seperti ini tidak pernah membuatku betah. Aku mengusap wajah guna menutupi ekspresi jengkel.

"Kau sendiri pernah jatuh cinta?" tanya Wafi.

"Hmm... Mungkin saja, aku juga tidak begitu yakin." Jangan tertawa, yang kukatakan adalah isi pikiranku. Sepanjang tujuh belas tahu aku hidup, tidak pernah berada di lingkaran laki-laki. Sederhananya, tidak dekat. Mungkin hanya Wafi dan... Zen.

"Kenapa ragu? Tidak mungkin kau tidak pernah jatuh cinta. Walaupun sebatas mengagumi," kata Wafi. "Bagaimana dengan aku? Tidak jatuh cinta?"

Jika Wafi yang berkata seperti itu, aku tidak lagi gugup. "Tidak, kita kan teman. Teman tidak seharusnya saling menyukai." kataku dengan mantap.

Ekspresi Wafi menjadi datar, berkata, "Ya tidak salah, tetapi banyak perempuan yang terjerumus dalam friendzone."

"Oke, oke! Lupakan pertanyaan jatuh cinta itu, kembali ke topik. Aku ingin bercerita." kataku menghela nafas panjang. Hampir saja lupa.

"Apa yang ingin kauceritakan?" tanya Wafi.

"Jangan tertawa setelah kuceritakan dan jangan menyela," kataku. "Aku tidak pernah sama sekali berpacaran."

Sudah kuduga Wafi berekspresi tidak percaya.

"Beberapa hari yang lalu, saat aku sedang membuka lokerku. Aku menemukan sesuatu di dalamnya. Itu mengejutkan," kataku. "Sebuah surat cinta pertama yang kuterima."

Jeda sejenak, aku meraih air putih dan meminumnya sampai tandas.

"Surat cinta itu berisi kata-kata manis yang membuatku terbang di lapisan awan ke tujuh. Aku tidak menyangka selama ini ada yang diam-diam memperhatikanku," kataku. "Sayang sekali aku tidak tahu siapa pengirimnya, aku tidak mengerti kenapa dia harus merahasiakan hal ini. Padahal bisa saja kami jadian jika dia sesuai tipeku."

Aku menunggu tanggapan dari Wafi, tapi dia diam tanpa respon. Apa yang dia pikirkan hingga tak mau menatapku?

"Menurutmu selanjutnya-" Belum sempat kuselesaikan perkataanku, tanganku ditarik kebelakang hingga tubuh terjatuh tidak estetis.

Seorang perempuan berdiri dengan angkuh menatapku tajam, kesalahan apa yang kuperbuat hingga diperlakukan seperti ini?

"Jauhi pacarku!" serunya. Dia diliputi amarah, kesampingkan itu, siapa yang dimaksud dengan pacarnya? Wafi?

"Kau perempuan tidak tahu malu, kenapa dekat-dekat dengan pacarku. Mentang-mentang kami baru putus, kau mengambil kesempatan!" Kembali dia membentak dan itu membuatku pusing.

"Dia pacarmu Wafi? Kenapa sangat cerewet," kataku dengan kecewa. Padahal kupikir Wafi belum pernah beroacaran sama halnya dengan aku.

"Bukan, aku tidak mengenalnya." elak Wafi dan menjauhkan tangan perempuan itu. Aku melihat seragamnya, di sana tertera nama Cindy Claudia.

"Cindy Claudia, jika ingin mencari masalah jangan kepadaku," kataku tajam. "Jikapun benar Wafi adalah pacarmu kenapa melampiaskannya padaku? Kami hanya sebatas teman."

"Teman kok demen?!" Teriakan itu menggelegar di penjuru kantin. Bukan Cindy yang berteriak tapi Zen si biang rusuh yang kini berjalan ke arah kami.

"Hai, Musuh!" Dia menyapa dengan senyuman ramah, tetapi hatinya pasti terselubung niat jahat untuk kembali menjatuhkanku.

"Tampaknya drama selanjutnya akan dimulai, mau berdiskusi untuk judul dramanya?" kata Zen. "Bagaimana jika, Aku dan Mantan Pacar Teman baikku."

Selain aneh, Zen ternyata norak juga. Lihat saja, sebagian murid sudah tertawa mendengar perkataan Zen.

"Masih sempat-sempatnya melamun? Gara-gara kamu aku putus dengan Wafi!" ujar Cindy dan menjambakku brutal. Aku meringis merasakan rambutku ditarik. Mereka semua batu atau apa, tidak adakah yang berniat menghentikan nenek lampir ini?

"Lepas!" Aku menyentak kasar tangannya setelah berhasil lepas dari jambakan. Sekilas kurapikan tatanan rambutku dan melipat lengan baju, aku harus membuat perhitungan pada perempuan sialan ini.

1
tishabhista
lanjutttt...
Pena Macet: ceritanya udah tamat kak/Smile/
total 1 replies
Mona
lanjut kakkkk
Mona
Asekk dapat surat cinta 🔥
Queen Woo
absen dl kk
Shinn Asuka
Tidak bisa menunggu untuk membaca karya baru dari author yang brilian ini.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!