Cover by me
Aidan Putra Bimantara—polisi muda berpangkat Ipda, hidupnya lurus dan rapi kayak barisan upacara. Sementara Yura Khalisa, tetangganya sekaligus mahasiswi tingkat akhir, yang sudah akrab dengan kalimat "Proposal kamu direvisi ya, Dek" dari dosen pembimbing yang sepertinya kurang kerjaan.
Mereka ini sebenarnya sudah seperti keluarga. Aidan menganggap Yura itu adik, dan Yura juga menganggap Aidan itu kakak. Pokoknya zona nyamanlah.
Tapi entah karena semesta lagi iseng atau mereka lagi sial, sebuah insiden tolol membuat mereka harus menikah dan tinggal serumah. Iya, satu atap. Satu kamar. Satu kasur, eh?.
Yang bikin tambah absurd, Aidan sampai harus melangkahi dua kakak laki-lakinya yang masih betah menjomblo. Bayangkan, bukan cuma melangkahi... ini mah loncat jauh ke babak yang belum waktunya!
Dan begitulah, dimulailah kisah rumah tangga Aidan dan Yura, dua orang yang niatnya cuma bertetangga, eh malah jadi teman hidup.
Mau tau kelanjutan ceritanya klik di bawah ini👇🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Diri Polisi vs Harga Sebotol Susu
Begitu sampai dikamar, Yura kembali membuka map yang di berikan oleh Aidan tadi sore, karena ia hanya melihat isi map itu sekilas. "Pemberkasan." ia membaca kalimat awal bercetak tebal yang tertulis disana. "Buset, nih persyaratannya udah kayak persiden mau ikut pemilu aja. Banyak bener." ucap Yura geleng-geleng kepala. "Haduh, gue udah pusing di buat proposal gue yang revisi melulu dan sekarang pusing gue di tambahin sama nih persyaratan pemberkasan buat jadi bini si indomilk." Yura membaringkan kepalanya di atas meja belajar. "BUNDA!! YURA GAK MAU NIKAH SAMA INDOMILK. RIBET!!" teriaknya dari dalam kamar.
Sementara Rita yang berada di lantai bawah terperanjat kaget mendengar teriakan Yura. "Emang mulut tu anak minta di sumbangi ke panti sosial aja, seneng banget teriak-teriak di dalam rumah!" gerutu Rita melangkah masuk kedalam kamarnya.
Tiba-tiba pintu kamar Yura di ketuk. "Masuk" jawabnya dari dalam ogah-ogahan, masih menyandarkan kepalanya di atas meja belajar.
"Kenapa malah teriak-teriak sih Ra udah kayak lutung." ternyata yang mengetuk pintu itu Wira.
Yura menegakkan kepalanya. Mengapa ia melupakan Wira yang datang kesini sih? Ia menjadi sedikit takut pada sang kakak mengingat betapa brutalnya Wira tadi menghajar Aidan. Yura malah diam sambil garuk-garuk kepala.
"Makannya jangan aneh-aneh waktu orangtua gak di rumah. Kamu pikir nikah sama abdi negara itu enak hah?! Kita tau kalian udah temenan dari kecil, tapi kan ya mikir Ra, sekarang kamu sama Aidan itu udah dewasa. Dulu kecil mungkin gak ada batasan buat kalian sekedar main bareng di satu ruangan, tapi sekarang itu beda, kalian udah besar. Masa gak paham juga sih dek?!" kini suara Wira sedikit meninggi ia juga frustrasi akan adik satu-satunya ini, mungkin ia masih tidak terima dengan ini semua.
"Kita gak ngapa-ngapain mas" jawab Yura pelan karena takut.
"Gak ngapa-ngapain tapi tindi-tindian?!" ucap Wira seraya mendelikkan matanya jengah.
Yura memejamkan kedua matanya lelah. Mau di jelaskan sejelas-jelasnya pun keputusan sang ayah tidak akan berubah dan akan tetap menyuruh Aidan untuk tanggung jawab.
"Skripsi wae durung rampung, malah mau resepsi sih Ra, Ra." ucap Wira lagi seraya menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir. "Wes tidur. Gak usah begadang urusan syarat-syarat jadi Bhayangkari itu, besok baru di pikirin."
Yura mengangguk saja, kini ia pindah, berjalan menaiki ranjang.
________________________
TIm mulai bergerak ke rumah pelaku yang sudah di intai sebelumnya. Berdasarkan dari laporan ibu korban, motif dari penculikan ini adalah karena sang ayah yang tidak mampu membayar hutang pada pelaku dan karena emosi pelaku malah menculik remaja tersebut dan remaja tersebut juga mengaku pada orangtuanya kalau dia di ancam dengan senjata api serta borgol.
Saat tiba di lokasi para tim mulai bergerak dengan perlahan dan hati-hati agar tidak ketahuan, beberapa polisi berjalan ke area belakang rumah tersangka berjaga disana. Mereka mulai mengepung rumah tersangka tersebut. Aidan yang berada di posisi terdepan membuka pintu rumah tersangka yang ternyata tidak di kunci.
"Ayo, masuk-masuk, cepet!" instruksinya pelan, semua polisi mengikuti instruksi Aidan dan masuk kerumah tersangka.
Mengingat terduga pelaku menyimpan senjata, para anggota polisi mulai mengambil tempat berpencar untuk menjaga seisi rumah.
Seroang wanita yang merupakan istri pelaku terlihat kaget karena tiba-tiba terdapat banyak orang mengenakan rompi polisi ada di dalam rumahnya. Aidan memberikan isyarat jari telunjuk yang di tempelkan di bibir pertanda menyuruh wanita itu untuk diam, wanita itu mengangguk dengan wajah ketakutan.
Para anggota polisi membuka satu demi satu pintu yang ada di rumah itu dengan perlahan, namun nihil, tidak ada pelaku disana, namun di ujung sisi rumah tersebut terdapat satu ruangan yang sepertinya benar-benar di jaga dan di kunci dari dalam, dengan segera Aidan menginstruksikan beberapa anggota polisi untuk mendobrak pintu tersebut.
"Buka, buka, buka!" seru mereka, sembari mendobrak pintu tersebut.
Bam! Bam! Bam!
Dan pintu akhirnya terbuka, memperlihatkan dua pelaku yang ada disana.
"TIARAP! TIARAP! TIARAP!" seru Aidan membuat pelaku panik.
"Wa, borgol, borgol!" Pinta Aidan pada Dewa—salah satu anggotanya. Dewa memberikan satu borgol pada Aidan dan selanjutnya juga memborgol satu pelaku lainnya.
"Diam, diam, diam!" suara Tio—anggota Aidan yang lain melihat tersangka mulai meronta-ronta saat di pegang oleh beberapa polisi.
Aidan dan anggotanya yang lain mencari beberapa barang bukti dan mendapati beberapa samurai yang ada di atas lemari.
"Diam-diam, jangan bergerak!" seru beberapa polisi karena satu tersangka meronta-ronta, ingin di lepas.
Bukan berhenti, tersangka yang usianya sudah tidak lagi mudah itu terus memberontak ingin di lepas.
"Awas, lepas!" pekik terduga pelaku.
Kini tujuh petugas turun tangan untuk mengamankan pelaku. Aidan yang tadinya masih sibuk mengamakan beberapa barang bukti menghampiri pelaku yang sudah di pegang oleh tujuh anggotanya. "Kooperatif, dimohon kooperatif!" ucap Aidan.
Saat akan di bawa keluar pria itu kembali berulah, jujur ketujuh anggota polisi itu sedikit kewalahan dengan aksi pelaku, lihat saja kini ia malah berguling-guling di atas lantai. Namun mereka tidak kehabisan akal dan tenaga perlahan tapi pasti mereka mampu mengamankan pelaku yang sedikit banyak ulah.
"Aman, aman. Clear" seru beberapa anggota polisi karena berhasil menguasai pelaku. Mereka akhirnya menggotong pelaku keluar namun tanpa di duga pelaku tersebut kembali meronta tidak ingin di amankan.
"Lepas, gue gak mau ikut!" pekik pelaku.
Melihat suaminya di gotong oleh para anggota polisi, istri terduga pelaku terlihat menangis histeris. "Ini ada apa pak?" ujarnya.
"Ibu tau, suami ibu melakukan tindak pidana penculikan dengan korban anak usia tujuh belas tahun" jelas Aidan.
Wajah sang istri terlihat tidak kaget "tapi pak, mereka sekeluarga memiliki utang pada kami" ucap wanita tersebut berusaha membela sang suami.
Entah mengapa mendengar itu Aidan sedikit geram "Anda tau, kalau Anda memiliki masalah pada orangtuanya, dengan orangtuanya saja, jangan anak di bawa-bawa sampi di culik segala. Itu sudah termasuk pidana, paham?!" jelas Aidan penuh penekanan. "Bawa, bawa" instruksi Aidan menyuruh anggotanya memembawa pelaku keluar rumah dan diamankan masuk kedalam mobil.
Penindakan kini berlanjut untuk mencari barang bukti yang ada di kamar pelaku. Benar saja, Tio menemukan beberapa Sajam yang di sembunyikan di bawah tempat tidur, tanpa di duga mereka juga menemuka bong sabu beserta empat klip sabu. Ternyata terduga pelaku juga sebagai pemakai obat-obatan terlarang. Pelaku bisa terkena pasal berlapis kalau seperti ini. Mereka kembali menemukan barang bukti berupa pisau lipat kecil dan tentunya borgol.
Aidan menemukan beberapa obat psikotropika didalam tas kecil. Tidak hanya itu, barang bukti lain berupa pistol dan juga pelurunya di temukan.
"Borgol dan pistolnya udah di temukan ya, berarti udah ada kesesuaian." ucap Aidan pada anggotanya yang masih menggeledah kamar pelaku. Mengingat bahwa remaja yang sempat di culik itu mengatakan barang bukti yang di gunakan untuk mengancamnya berupa borgol dan pistol.
"Siap sudah ndan."
Akhirnya operasi malam ini telah selesai, mereka kembali ke polres dan tinggal menggali keterangan dari terduga pelaku disana.
Mereka akhirnya dalam perjalanan ke kantor, namun di pertengahan jalan Aidan menepikan kendaraannya di sebuah mini market yang masih buka di jam dini hari.
"Kok ke Indomart bang?" tanya Dewa seraya turun dari atas motor.
"Mau beli minum, haus." jawab Aidan, memang setiap kali bertugas seperti ini mereka akan kehilangan banyak tenaga. Apa lagi mengahadapi pelaku yang banyak tingkah, tidak bisa diam seperti pelaku tadi.
Sementara Dewa sudah merasa sanksi jika Aidan berkata ingin beli minum. Tapi ia tetap membuntuti Aidan.
Mereka pun memasuki area mini market, membuka salah satu lemari pendingin. Aidan mengambil kotak susu indomilk rasa cokelat favoritnya.
Nah kan, walaupun Dewa melihat itu sudah tidak kaget karena memang sudah biasa melihat Aidan meminum susu yang cocoknya di minum oleh bocah ingusan bukan polisi sangar seperti mereka. Hanya saja setelah ini ia yakin ini kanit satu yang kelakuannya lebih-lebih ajaib dari si Tio pasti akan berbuat sesuatu yang menjatuhkan harga dirinya.
"Bang, bang, jatuhi harga diri polisi banget dah tuh minumanmu." ucap Dewa melirik kotak susu yang di genggam Aidan, ia menelan salivanya susah payah, menunggu sesuatu yang pastinya akan terjadi.
"Gak usah ngebacot deh wa. Tadi waktu berangkat gue belum minum makannya badannya kayak ada yang kurang. Udah nih, sana bayar. Ini duitnya" Aidan mengeluarkan selembar uang dari dalam dompetnya dan memberikannya pada Dewa.
Nah kan bener. Akal bulusnya Aidan, kalau yang jaga kasir itu perempuan, dia bakalan jadiin Dewa atau Tio sebagai tumbal, tumbal menanggung malu maksudnya. Ya kali Aidan dengan wajah ganteng dan dengan rompi bertuliskan 'Polisi' ini mau jatuhi harga dirinya di depan mbak-mbak kasir. Big no! Dia harus stay cool dengan predikat polisi paling ganteng sepolres yang tidak memiliki cela di mata kaum hawa.
Dewa ingin menolak tapi ini kanitnya. Akhirnya dengan terpaksa ia membawa kotak susu itu menuju kasir.
Mbak-mbak kasirnya sudah menahan tawa melihat salah satu minuman yang di sodorkan oleh Dewa adalah sekotak susu indomilk.
Wajah Dewa rasanya ingin di pindahin ke bokong saja saat ini. Dewa melirik Aidan yang malah biasa saja.
Setelah melakukan pembayaran mereka keluar mini market tersebut. Sebelum melanjutkan berkendaranya. Mereka meminum minuman yang mereka beli tadi, untuk melepaskan dahaga. Dan betapa terkejutnya Dewa ketika melihat Aidan membuka masker milikinya dan memperlihatkan wajahnya yang babak belur.
Pantas saja sejak tadi Aidan tidak melepaskan maskernya ternyata ada sesuatu yang berharga yang di sembunyikan oleh pria itu disana.
"Bwahaha, itu aset berharga Polres kenapa? Gak mungkinkan ke pentok pintu, sampai segitunya" tawa Dewa akhirnya pecah, seketika ia melupakan apa yang baru saja terjadi.
"Ngeledekin gue Lo hah!" Aidan menendang bokong Dewa dengan tidak santai. Tapi bukannya marah Dewa malah sibuk tertawa ngakak.
"Jarang-jarang loh bang tu muka yang dirawat dan jaga seperti anak sendiri bisa bonyok begitu."
Aidan tidak menanggapinya "Nah, udah balik nih tenaga gue. Yuk lanjut jalan. Apa Lo mau gue tinggal aja di sini?" ucap Aidan setelah membuang kotak susunya yang sudah kosong ketempat sampah.
"Weh, jangan dong. Entar balik sama siapa saya bang?"
"Naik angkot." Aidan menghidupkan mesin motornya. Dengan segera Dewa melompat ke jok motor belakang takut Aidan nekat dan benar meninggalkannya.
...Aset polres👆...
suka bgt sm Aidan dan yura