Pada hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya, Aruna justru dipaksa menikah dengan pria yang paling ia benci.
Pria itu adalah Adrian Mahesa, pewaris keluarga Mahesa Group yang dingin, arogan, dan terkenal tidak memiliki hati.
Pernikahan mereka bukanlah tentang cinta.
Melainkan kesepakatan.
Ayah Aruna terlilit utang besar yang mengancam keluarganya. Satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Adrian: menikah dengannya selama dua tahun.
Aruna mengira dirinya hanya akan menjadi istri pajangan.
Namun setelah menikah, ia menemukan banyak hal yang tidak masuk akal.
Mengapa Adrian diam-diam selalu melindunginya?
Mengapa pria itu menyimpan foto masa kecilnya?
Dan mengapa keluarga Mahesa tampak begitu takut jika Aruna mengetahui kebenaran tentang kematian ibunya?
Ketika rahasia masa lalu mulai terungkap, Aruna harus memilih.
Meninggalkan Adrian dan membalas dendam.
Atau tetap bersama pria yang perlahan berhasil merebut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VeLynme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kakek yang Kembali
"Akhirnya Kakek menemukanmu."
Kalimat itu menggantung di udara.
Tak seorang pun bergerak.
Tak seorang pun berbicara.
Waktu seolah berhenti.
Aruna hanya mampu menatap pria yang berdiri beberapa meter di hadapannya.
Wajah itu...
Sama persis dengan pria yang muncul dalam kepingan ingatannya.
Tatapan mata yang hangat.
Senyum yang tenang.
Namun kini wajah itu dipenuhi garis-garis usia.
Rambutnya mulai memutih di pelipis.
Meski demikian, sorot matanya tetap tajam.
Mata seorang pemimpin.
Mata seseorang yang telah melewati terlalu banyak peperangan.
Air mata Aruna perlahan mengalir.
Tanpa ia sadari.
Tanpa ia mampu menahannya.
"Ka... Kek?"
Suara itu terdengar lirih.
Hampir seperti bisikan.
Pria itu mengangguk pelan.
"Aku minta maaf."
Hanya tiga kata.
Namun tiga kata itu terasa begitu berat.
Seolah membawa penyesalan selama puluhan tahun.
---
"Tidak mungkin..."
Jonathan mundur selangkah lagi.
Tatapannya dipenuhi ketidakpercayaan.
"Surya..."
Ia menggeleng.
"Tidak."
"Ini tidak mungkin."
Pria yang dipanggil Surya tersenyum tipis.
"Aku memang tidak menyangka kau akan menua secepat ini, Jonathan."
Nada suaranya tenang.
Tidak ada amarah.
Tidak ada kebencian.
Justru ketenangan itulah yang membuat Jonathan semakin gelisah.
Karena Jonathan mengenal Surya.
Dan ia tahu.
Semakin tenang pria itu...
Semakin berbahaya dirinya.
---
Mahendra berdiri perlahan.
Tubuhnya masih gemetar.
"Pak Surya..."
Pria tua itu menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Lima belas tahun.
Tidak.
Lebih dari tiga puluh tahun sejak terakhir kali mereka saling melihat.
"Kau masih hidup."
Suara Mahendra terdengar serak.
Surya mengangguk.
"Ya."
"Tapi..."
Mahendra menelan ludah.
"Kami semua mengira Bapak sudah meninggal."
"Aku memang harus mati."
Jawaban itu membuat semua orang terdiam.
Harus mati?
Apa maksudnya?
---
Surya melangkah masuk.
Pasukan bertopeng gagak tetap berjaga di setiap sudut ruangan.
Disiplin.
Hening.
Tidak satu pun dari mereka berbicara.
"Aku memilih menghilang."
kata Surya.
"Bukan karena aku takut."
"Tapi karena tidak ada pilihan lain."
Jonathan tertawa pendek.
"Aku sudah menduga."
Surya menatapnya.
"Belum."
"Kau tidak pernah benar-benar menduga."
Tatapan keduanya saling bertemu.
Dan seluruh ruangan merasakan ketegangan yang tidak terlihat.
Seolah dua pemain catur yang telah bertarung selama puluhan tahun akhirnya kembali duduk di papan yang sama.
---
"Jelaskan semuanya."
kata Aruna.
Suaranya bergetar.
Namun matanya tetap menatap Surya.
Ia lelah.
Lelah terus hidup di tengah potongan-potongan kebenaran.
Lelah mendengar rahasia yang hanya dibuka setengah.
Hari ini...
Ia ingin semuanya selesai.
Surya menatap cucunya.
Lama.
Sangat lama.
Kemudian ia mengangguk.
"Kau memang berhak tahu."
---
"Tiga puluh dua tahun yang lalu..."
Surya mulai bercerita.
"...aku membangun organisasi itu."
Mahendra memejamkan mata.
Ratih menunduk.
Sementara Jonathan hanya diam.
"Awalnya bukan organisasi kriminal."
kata Surya.
"Itu jaringan informasi."
"Kami mengumpulkan data."
"Mengungkap korupsi."
"Membongkar perdagangan manusia."
"Membantu aparat yang masih jujur."
Aruna mengernyit.
Itu jauh berbeda dari bayangannya.
"Awalnya kami percaya..."
Surya menarik napas panjang.
"...bahwa informasi bisa menyelamatkan dunia."
"Lalu?"
tanya Adrian.
"Lalu manusia berubah."
Jawaban itu sederhana.
Namun menyakitkan.
---
"Semakin besar organisasi..."
kata Surya.
"...semakin banyak orang yang menginginkan kekuasaan."
Tatapannya perlahan beralih kepada Jonathan.
"Dan salah satunya adalah dia."
Jonathan tersenyum tipis.
"Aku hanya lebih realistis."
"Realistis?"
Surya menggeleng.
"Kau menjual informasi."
"Kau memeras orang."
"Kau membunuh."
"Kau menghancurkan organisasi yang kita bangun."
Jonathan tidak membantah.
Karena semua itu benar.
Namun ia tetap tersenyum.
"Dunia memang seperti itu."
katanya.
"Bukan."
balas Surya.
"Kau yang memilih menjadi seperti itu."
---
Ruangan kembali sunyi.
Aruna memperhatikan wajah kakeknya.
Tidak ada kebencian di sana.
Hanya kekecewaan.
Kekecewaan yang sangat dalam.
"Ketika aku sadar organisasi tidak bisa diselamatkan..."
lanjut Surya.
"...aku memutuskan menghilang."
"Kenapa tidak membubarkannya?"
tanya Dimas.
Surya tersenyum pahit.
"Karena aku sudah terlambat."
"Separuh anggota berpihak kepadaku."
"Separuh lagi mengikuti Jonathan."
"Jika aku tetap muncul..."
Tatapannya menjadi kosong.
"...akan terjadi perang saudara."
"Dan ribuan orang akan mati."
---
"Jadi Bapak memilih menghilang."
kata Mahendra.
Surya mengangguk.
"Semua orang harus percaya bahwa aku mati."
"Lalu siapa Atlas?"
tanya Aruna.
Surya tersenyum.
"Akhirnya pertanyaan itu muncul."
Ia memandang seluruh ruangan.
"Atlas bukan orang."
"Atlas adalah..."
Ia berhenti.
"...sumpah."
Semua orang mengernyit.
"Sumpah?"
ulang Adrian.
Surya mengangguk.
"Siapa pun yang memegang identitas Atlas..."
"...wajib melindungi data terakhir organisasi."
"Bukan menguasainya."
"Bukan menjualnya."
"Tapi memastikan data itu tidak jatuh ke tangan yang salah."
---
"Lalu kenapa Ibu menyimpannya?"
tanya Aruna.
Surya menutup mata sesaat.
"Alya mengetahui aku masih hidup."
Ruangan kembali sunyi.
"Ia menemukanku."
"Beberapa bulan sebelum kematiannya."
Air mata mulai memenuhi mata Surya.
"Aku memintanya pergi."
"Aku memintanya melupakan semuanya."
"Tapi Alya menolak."
Senyum bangga muncul di wajah pria tua itu.
"Dia sama keras kepalanya seperti ibunya."
Aruna tanpa sadar ikut tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya...
Ia mendengar seseorang bercerita tentang ibunya sebagai seorang anak.
Bukan sebagai korban.
---
"Alya berkata kepadaku..."
Suara Surya melemah.
"'Ayah, kalau semua orang terus lari, siapa yang akan menghentikan mereka?'"
Ruangan kembali hening.
"Itu kalimat terakhir yang kudengar darinya."
Air mata Surya akhirnya jatuh.
"Aku tidak pernah bertemu lagi dengannya."
Aruna merasakan dadanya sesak.
Selama ini ia mengira hanya dirinya yang kehilangan.
Ternyata...
Kakeknya juga kehilangan anak perempuan satu-satunya.
Dan penyesalan itu terus menghantuinya.
---
"Pak Surya."
Jonathan tiba-tiba berbicara.
"Kau masih belum menjawab satu hal."
Surya menatapnya.
"Kenapa memilih Aruna?"
"Itu pertanyaan yang bagus."
Surya mengangguk pelan.
Lalu menoleh kepada cucunya.
"Karena aku tidak mempercayai siapa pun."
"Tidak Mahendra."
"Tidak Ratih."
"Tidak Dimas."
"Bahkan tidak Alya."
Semua orang terkejut.
Namun Surya melanjutkan sebelum ada yang menyela.
"Bukan karena kalian jahat."
"Tapi karena kalian semua sudah menjadi bagian dari permainan."
Tatapannya melembut.
"Sedangkan Aruna..."
"...adalah satu-satunya orang yang lahir tanpa dosa masa lalu."
---
Jonathan tertawa pelan.
"Indah sekali."
katanya.
"Sayang sekali semuanya sia-sia."
Surya mengangkat alis.
"Oh?"
Jonathan perlahan mengeluarkan ponselnya.
Kemudian memperlihatkan layar kepada Surya.
"Terlambat."
katanya singkat.
Surya melihat layar itu.
Dan untuk pertama kalinya sejak datang...
Ekspresinya berubah.
Matanya membelalak.
"Apa yang kau lakukan?"
Jonathan tersenyum puas.
"Aku memang datang sendirian."
"Tapi aku tidak pernah bekerja sendirian."
Jantung Mahendra langsung berdegup keras.
"Jonathan..."
Pria tua itu mengangguk pelan.
"Selama kita berbicara di sini..."
Ia melihat jam di pergelangan tangannya.
"...anak buahku sudah menuju rumah persembunyianmu."
Keheningan langsung menyelimuti ruangan.
Senyum Surya perlahan menghilang.
Karena ia tahu.
Di rumah persembunyian itu...
Masih ada sesuatu.
Sesuatu yang bahkan lebih penting daripada data Atlas.
Lebih penting daripada organisasi.
Lebih penting daripada dirinya sendiri.
Dan sesuatu itu...
Tidak boleh jatuh ke tangan Jonathan.
Bersambung...