Tepat di hari perceraian mereka, Kirana Zhafira menyaksikan Damar Rafardhan tewas mengenaskan akibat tertabrak truk demi menyelamatkan cincin pernikahan mereka yang terjatuh. Kirana keliru menilai pernikahan dingin mereka selama dua tahun sebagai tanda ketidakpedulian. Namun, rahasia pilu membubung saat ibu mertuanya menyerahkan dompet Damar yang berisi foto pernikahan mereka dan cincin berlumuran darah kering.
Penyesalan terdalam menghantam Kirana begitu menyadari betapa sang suami sangat mencintainya dalam diam. Di tengah keputusasaan dan rasa sepi yang mencekam, keajaiban waktu terjadi. Kirana terbangun dan mendapati dirinya terlempar ke masa dua minggu sebelum tragedi maut itu merenggut Damar.
Berbekal kesempatan kedua dari semesta, Kirana bertekad meruntuhkan dinding es di antara mereka. Ia bersumpah akan mengejar cinta Damar, mengubah takdir tragis yang mengintai, dan memperjuangkan akhir bahagia yang tertunda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETAKUTAN YANG NYATA.
Kirana masih membeku dalam keterkejutan. Di dalam remang kamar yang sempit oleh jarak, ia bisa merasakan kehangatan napas Damar yang menerpa kulit wajahnya. Namun, ketika netranya perlahan turun ke bagian tubuh pria di atasnya, kesadaran Kirana mendadak tersentak. Ia baru menyadari bahwa Damar sama sekali tidak mengenakan baju. Suaminya hanya memakai celana pendek santai, mengekspos dada bidang yang kokoh serta perut berotot yang tercetak jelas.
Melihat pemandangan yang belum pernah ia saksikan selama dua tahun pernikahan mereka, wajah Kirana langsung memerah hebat.
"Kyaaa!"
Kirana berteriak spontan sambil refleks mengangkat kedua telapak tangan untuk menutupi wajahnya. Namun, rasa penasaran yang teramat besar membuat jemarinya tidak merapat sempurna. Melalui celah di antara jari telunjuk dan jari tengahnya, matanya tetap melirik, otomatis masih bisa melihat dengan jelas wajah tampan Damar yang kini menatapnya datar.
Damar mendengus pelan, alisnya terangkat sebelah. "Kenapa malah kamu yang berteriak? Bukankah kamu sendiri yang tiba-tiba masuk ke kamarku?"
Pertanyaan logis itu membuat Kirana tersedak ludahnya sendiri. Seketika bulu kuduknya meremang. Di bawah kukungan ini, kehangatan kulit Damar felt begitu nyata, mengikis keraguan bahwa ini hanyalah sebuah ilusi semata. Pria ini benar-benar hidup.
"Kenapa... kenapa Kakak ada di sini?" tanya Kirana dengan suara bergetar, masih setengah linglung.
Damar menatapnya lurus, tidak habis pikir dengan pertanyaan istrinya. "Ini kamarku, Kiran. Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau masuk ke kamarku subuh-subuh begini? Dan sepertinya, aku sudah pernah memberimu peringatkan dulu."
Damar sengaja menjeda kalimatnya. Ia merunduk lebih dalam, mendekatkan bibirnya tepat di sisi telinga Kirana hingga menyentuh beberapa helai anak rambutnya.
"Jangan pernah masuk ke kamarku di waktu pagi. Kalau tidak, aku tidak bisa menjamin diriku bisa menahan diri," bisik Damar dengan suara bariton yang berat dan serak.
Ancaman terselubung itu seketika memicu naluri bertahan hidup Kirana. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menggunakan kedua tangannya untuk mendorong dada bidang Damar sekuat tenaga. Detik berikutnya, Kirana memanfaatkan celah untuk bangkit dari ranjang, membalikkan badan, lalu berlari sekencang mungkin keluar dari kamar suaminya menuju kamarnya sendiri.
Brak! Cklek!
Begitu masuk ke dalam kamarnya, Kirana langsung menutup pintu rapat-rapat dan memutar kunci dua kali. Napasnya memburu, jantungnya bertalu-talu di dalam rongga dada. Ia bersandar pada daun pintu sambil memegangi dadanya yang bergejolak.
Kirana masih benar-benar heran dengan apa yang baru saja terjadi. Apakah kejadian mengerikan tentang kematian suaminya tiga hari yang lalu itu hanya sebuah bunga tidur? Tapi, mengapa mimpi itu terasa begitu nyata, begitu menguras emosi, dan kenapa alur mimpinya terasa sangat panjang dan mendetail? Kirana benar-benar tidak habis pikir dengan batasan antara kenyataan dan mimpi yang kini mengabur.
Saat sedang sibuk bergelut dengan pikirannya, mata Kirana tidak sengaja melirik ke arah jam dinding. Ia tersentak kaget. Waktu subuh sudah hampir habis, dan ia belum melaksanakan kewajibannya. Dengan tergesa-gesa, Kirana langsung berlari ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Setelah menggelar sajadah, ia melaksanakan salat dengan khusyuk. Setelah selesai dan masih dalam duduk bersimpuhnya, Kirana menengadahkan kedua tangannya, berdoa dengan kesungguhan yang teramat dalam dari lubuk hatinya.
"Ya Allah, jika peristiwa mengerikan kemarin hanyalah sebuah mimpi, maka jauhkanlah takdir buruk itu dari kami. Bantu diriku untuk memperbaiki hubungan rumah tangga ini menjadi lebih baik. Aku benar-benar berharap kisah kami memiliki akhir yang bahagia," bisiknya lirih dalam doa.
Setelah selesai menunaikan kewajibannya dan melipat mukena, rasa cemas kembali menggelitik hatinya. Kirana ingin memastikan sekali lagi, memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa suaminya memang masih bernyawa di dunia ini.
Kirana perlahan memutar kunci dan membuka pintu kamarnya. Langkah kakinya membawa dirinya menuju area ruang tengah. Begitu pandangannya terbuka luas ke arah ruang makan, jantung Kirana berdesir. Di sana, seperti biasa, Damar sudah duduk tegap mengenakan kemeja kerja rapinya, sibuk menyesap kopi hitam dari cangkir keramiknya.
Mencoba bersikap sewajar mungkin, Kirana melangkah lurus menuju dapur. Ia mengambil sebuah gelas dan mengisinya dengan air putih, sekadar alasan agar tidak terlihat mencurigakan di depan suaminya. Namun, tepat saat ia baru saja menenggak air itu, suara Damar tiba-tiba memecah keheningan.
"Nanti sore saya jemput jam empat."
Kirana seketika menghentikan tegukannya. Gelas di tangannya bergetar halus. Ia berbalik perlahan, menatap punggung tegap suaminya dengan tatapan tidak percaya.
Damar kembali melanjutkan kalimatnya tanpa menoleh. "Kita dapat undangan pernikahan dari Paman. Kamu ingat, kan? Waktu kita menikah dulu, Paman dan Tante bela-bela datang dari luar kota. Jadi tidak enak kalau kita absen."
Kirana tertegun di tempatnya berdiri, lidahnya mendadak kelu untuk bersuara. Seluruh tubuhnya meremang hebat. Kalimat itu, intonasi itu, bahkan susunan katanya sama persis dengan apa yang ada di dalam ingatannya. Ini adalah rangkaian kejadian yang sama persis sebelum peristiwa kematian suaminya terjadi. Mereka memang pergi ke undangan paman sebelum petaka itu dimulai.
Damar bangkit dari kursi tempat duduknya. Ia meraih sebuah paper bag besar yang sejak tadi tergeletak di kursi sebelah, lalu melangkah menghampiri Kirana dan menyodorkannya.
"Pakai ini nanti sore," ucap Damar datar.
Kirana menerima tas kertas itu dengan tangan yang sedikit lemas. Rasa penasaran yang bercampur ketakutan membuat Kirana langsung mengintip ke dalam isi tas tersebut. Detik itu juga, napasnya seolah tercekat. Di dalamnya terdapat baju gamis, hijab, dan sebuah kotak perhiasan kecil dengan warna dan model yang sama persis dengan apa yang ada di dalam mimpinya.
Kirana memeluk paper bag itu dengan erat, menatap punggung Damar yang kini melangkah pergi meninggalkan rumah. Pikiran Kirana berkecamuk hebat. Apakah takdir mengerikan itu akan benar-benar terulang kembali di dunia nyata?
GANBATEEE NEE 😁🤗💪
semangat yaa update nyaa😁😁😁
semoga benang takdir bisa terurai dan dalang dibalik Kematian damar bisa terungkap semuanya . semangat kiran, jaga damar dr takdir tragis nya 💪💪