NovelToon NovelToon
Menikahi Ayah Mantanku

Menikahi Ayah Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia_halusinasi

Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.

Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.

"Kamu siapa ?"

"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"

Duarrr...

Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.

"Sayang ! Siapa yang datang ?"

Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.

Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.

Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Bab 16: Kejutan yang menunggu di rumah utama

Setelah kejadian lucu dengan ranjang yang ambruk, suasana di rumah Pak Joko tetap terasa hangat dan penuh tawa.

Namun kebahagiaan itu harus sedikit terganggu ketika ponsel Arga berdering lagi, kali ini bukan dari Gilang, melainkan dari asisten rumah tangganya- Bi Mari.

"Sayang, aku angkat telepon dulu yah !"

Arga berdiri, dia berencana sedikit menjauh dari meja makan. Agar tidak menganggu mereka.

Diana mengangguk dan sedikit menggeser kursinya,

"Iya, Mas" Ujar Diana

Sebelum pergi, Arga sedikit membungkuk pada mertuanya, dan di balas anggukan pula oleh keduanya.

Arga duduk di ruang tamu, dia segera mengangkat telepon dari Bu Mari.

"Ada apa, Bi?" Tanya Arga

Pasalnya, Jika Bi Mari sampai menelpon, itu berarti ada sesuatu yang urgent.

"Tuan, maafkan kesalahan Bibi!" Ujar Bi Mari dengan suara pelan, seperti ketakutan.

"Memangnya ada apa?" Arga masih bersikap tenang.

"Nyonya tua ( ibu Arga ) datang kemari, beliau menanyakan keberadaan Tuan, dan - "

Bi Mari bergetar ketakutan,

"Apa yang bibi katakan?" Arga sedikit menekan katanya

"Tuan, Maafkan Bibi. Bibi tidak tau kalau Nyonya tua belum mengetahui tentang pernikahan Tuan" Ujarnya takut

"Bibi mengatakan bahwa Tuan dan Nyonya sedang pergi ke kampung halaman Nyonya" Ujarnya semakin pelan

Arga menghembuskan nafasnya berat, tangan kiri memijat pelipisnya

Diana datang menghampiri, karena merasa khawatir melihat gelagat suaminya.

Arga menoleh dan tersenyum.

Tetapi telinga nya masih mendengarkan penjelasan di seberang sana dengan wajah yang makin serius.

"Sekarang dimana Ibu ?" Tanya Arga

"Nyonya tua sedang beristirahat di kamarnya, Tuan. Beliau meminta Bibi untuk menghubungi Tuan, beliau mengatakan ingin bertemu"

"Baiklah, aku akan pulang hari ini!"

Setelah mengakhiri panggilan, ia menghela napas panjang lalu menoleh ke arah Diana yang duduk di sampingnya.

"Kenapa, Mas ?" Tanya Diana lembut

“Sayang, sepertinya kita harus mempercepat kepulangan ke kota. Ibuku sudah tahu tentang pernikahan kita” ujar Arga dengan nada menyesal.

Diana tidak tau harus berkata apa.

Dia rasanya belum siap untuk menghadapinya.

Baru saja mereka bersama, Diana takut mereka harus berpisah.

Bagaimana jika ibu mertuanya tidak merestui?

Tetapi bukankah dia sudah bertekad, bahwa apapun yang terjadi, dia sudah siap.

"Apa yang harus aku lakukan, Mas ?" Tanya Diana pelan.

Arga tersenyum, dia memeluk istrinya dengan sayang, membelai rambutnya lembut.

"Kamu tidak perlu melakukan apapun, cukup menjadi dirimu sendiri, ibuku memang berwatak keras, tetapi dia sebenarnya orang yang baik, kamu percaya kan sama aku?" Jelas Arga

Diana mengangguk mengerti, meski hatinya terasa berat untuk berpisah lagi dengan orang tuanya.

“Ya udah, Mas. aku siap-siap dulu yah.”

Sebelum bersiap membereskan barang,

Diana dan Arga menghampiri Pak Joko dan Bu lestari yang saat ini sedang duduk di teras.

Diana menggenggam tangan kedua orang tuanya dengan erat.

“Bapak, Ibu… Mas Arga ada urusan penting, jadi kami harus pulang ke kota hari ini juga." Ujarnya

”Bapak sama ibu mau kan ikut kita? supaya aku bisa jagain ibu sama bapak!" ajak Diana dengan penuh harap.

"Benar Bu- Pak, ikutlah dengan kami, agar Diana merasa tenang" Ujar Arga menimpali

Pak Joko dan Bu Lestari saling berpandangan,

lalu tersenyum lembut sambil mengusap punggung tangan putri mereka.

“Terima kasih, Nak. Kami sangat menghargai niat baik kalian. Tapi maafkan Bapak sama Ibu, kami lebih nyaman tinggal di sini. Kami sudah terbiasa dengan suasana desa, tetangga-tetangga yang sudah kami kenal puluhan tahun, dan tanah tempat kami menanam. Jika ikut ke kota, rasanya kami akan merasa seperti ikan yang ditaruh di air yang asing,” jawab Pak Joko dengan nada halus namun tegas.

“Benar kata Bapak, Nak. Kamu jangan khawatir soal kami. Kami sehat-sehat saja. Kamu cukup berbahagia bersama suamimu, itu sudah menjadi doa dan kebahagiaan terbesar bagi kami,” tambah Bu Lestari sambil menahan haru.

"Tapi Bu -"

"Ibu sama bapak akan baik-baik saja, kamu tenang aja." Bu lestari mengelus punggung putrinya lembut, usapan itu begitu menenangkan.

Mendengar penjelasan itu, Diana hanya bisa mengangguk pasrah. Ia tahu sifat orang tuanya yang tidak ingin merepotkan atau hidup bergantung sepenuhnya pada anak.

“Baiklah, jika itu yang Bapak dan Ibu inginkan. Tapi janji, kalau suatu saat sudah merasa kesepian atau butuh apa pun, segera hubungi kami ya.”

Keduanya mengangguk sambil tersenyum.

Akhirnya, Arga dan Diana pun bersiap-siap, mereka tidak membawa apapun, semua baju sengaja di tinggalkan untuk sewaktu-waktu jika mereka kembali.

Saat mereka bersiap melangkah menuju mobil,

Arga menyerahkan sebuah amplop tebal dan sebuah kartu ATM kepada Pak Joko.

“Pak, ini sebagai tanda terima kasih saya atas kepercayaan dan restu yang Bapak dan Ibu berikan. Isinya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan pengobatan jika diperlukan.

Kartu ini juga sudah saya isi saldonya, bisa digunakan kapan saja. Selain itu, saya sudah menghubungi kontraktor untuk merenovasi rumah ini, Semua biaya akan saya tanggung sepenuhnya,” ujar Arga dengan nada pelan dan tulus.

"Bapak tidak ingin merepotkan"

Pak Joko menolak ingin mengembalikannya, namun Arga menahan tangannya dengan lembut.

“Anggap saja ini sebagai wujud bakti saya, Pak. Diana adalah istri saya, maka Bapak dan Ibu juga sudah menjadi orang tua saya. Jangan dipikirkan sebagai bantuan, tapi sebagai kewajiban saya.”

Mendengar itu, hati kedua orang tua itu terasa sangat terharu. Mereka menerima pemberian itu sambil mendoakan kebaikan yang tak terputus untuk Arga dan Diana.

Setelah berpamitan, mobil mereka pun melaju meninggalkan desa menuju kota.

Para tetangga yang melihat melambaikan tangan mereka dan mengucapkan selamat tinggal.

Diana membalas sapaan mereka dengan ceria.

...****************...

Perjalanan berlangsung lancar, dan tak butuh waktu lama mereka tiba di kediaman Arga.

Begitu turun dari mobil, Bu Mari berlari menghampiri mereka.

Wajah Bu Mari menunduk dalam,

"Maafkan saya Tuan - Nyonya!" Ujarnya penuh sesal

"Tidak apa-apa, saya yang salah, bibi tidak usah khawatir" Ujar Arga

Diana juga menganggukkan kepalanya, Bu Mari merasa sedikit lega.

Dia menuntun kedua majikanya ke dalam rumah.

Jantung Diana berdebar kencang, begitu juga Arga. Umurnya memang sudah 45 tahun. Tapi entah kenapa, setiap berhadapan dengan ibunya. Rasanya dia seperti anak kecil 10 tahun.

Di ruang tengah, duduk seorang wanita tua yang masih terlihat berwibawa meski usianya sudah lanjut.

Ia memegang tongkat kayu berukir indah, pakaiannya rapi dan anggun, dan tatapannya tajam namun menyimpan rasa penasaran yang mendalam.

Itu adalah Ibu Arga, Nenek Gilang — Nyonya Amara Wijaya.

Beliau sudah duduk dengan tenang, seolah sudah menunggu kehadiran mereka sejak lama. Udara di dalam ruangan terasa tiba-tiba menjadi dingin dan tegang.

Diana berkeringat dingin, langkahnya begitu berat dan kaku.

Tetapi Arga selalu menguatkan.

"Percaya sama aku" Ujarnya lembut

Meskipun Diana percaya pada Arga, tetap saja dia gelisah.

Kenapa rasanya se-menyeramkan ini. Batin Diana

Jantung nya kian berdegup kencang, sampai keringat menetes dari pelipisnya.

Arga segera mengatur napasnya, lalu melangkah masuk sambil memegang tangan Diana erat-erat.

“Ibu… kapan Ibu datang? kenapa tidak memberitahuku lebih dulu?” tanya Arga dengan nada setenang mungkin, tetapi wajah nya sedikit pucat

Ibunya tersenyum tipis, senyum yang sulit dibaca maknanya. Ia menatap Arga, lalu mengalihkan pandangannya perlahan ke arah Diana yang berdiri di sampingnya.

“Sejak kapan anakku ini menyembunyikan hal besar dari ibunya sendiri? Aku sudah menunggu sejak kemarin malam. Sekarang… jelaskan. Siapa wanita ini, dan apa hubungan kalian berdua?” tanya Nyonya Wijaya dengan suara lembut namun tegas, membuat jantung Diana berdegup kencang.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!