Di Desa Windu Sari yang tenang, hiduplah Bobon, bocah polos yang selalu lapar dan membantu Nenek Mira menjual tahu. Tanpa sadar, ia memiliki kekuatan aneh yang kadang muncul tiba-tiba.
Nenek Mira menyimpan rahasia besar tentang asal-usulnya. Ketika peristiwa tak terduga terjadi, sosok asing mulai mengintai desa. Siapa sebenarnya Bobon, dan apa yang tersembunyi dalam dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 - Desas-desus Desa
Keesokan paginya, Bobon bangun dengan perasaan yang berbeda. Ada energi baru mengalir di tubuhnya. Dia tidak tahu apakah itu karena segel keempat yang mulai retak atau karena tekadnya yang semakin kuat. Yang dia tahu, dia merasa lebih ringan dan lebih siap menghadapi apa pun.
Sarapan di istana kali ini dihadiri oleh seluruh keluarga kerajaan. Bahkan Pangeran Sakti hadir, meskipun dia duduk di ujung meja dengan wajah cemberut. Bobon memperhatikan Pangeran Sakti dari kejauhan. Ada sesuatu di mata pemuda itu yang membuatnya tidak nyaman.
"Bobon, hari ini ada pertemuan dengan para utusan dari 10 Sekte Besar," kata Raja Arya. "Kami ingin kau hadir."
"Aku? Tapi aku tidak mengerti apa-apa tentang politik, Yang Mulia."
"Kau tidak perlu mengerti politik. Kau hanya perlu hadir dan menjadi dirimu sendiri. Mereka ingin melihat Pendekar Dewata."
Bobon mengangguk meskipun tidak yakin. Dia tidak suka menjadi pusat perhatian. Dia lebih suka duduk di sudut dan makan dengan tenang.
Setelah sarapan, Bobon berjalan ke taman untuk mencari ketenangan. Dia duduk di bawah pohon besar dan menatap langit biru. Pikirannya melayang ke Nenek Mira, ke desanya, ke semua yang telah hilang.
"Kau Bobon?" suara lembut menyapanya.
Bobon menoleh. Seorang gadis muda dengan pakaian sederhana berdiri di depannya. Wajahnya familiar. Gadis itu adalah salah satu pengungsi dari kemarin.
"Aku Bobon. Kau siapa?"
"Namaku Sari. Aku dari Desa Sumber Air. Desaku dihancurkan tiga hari lalu."
Bobon merasakan dadanya sesak. "Aku turut berduka."
Sari duduk di samping Bobon. "Aku dengar kau juga kehilangan desamu. Dan nenekmu."
Bobon menunduk. "Iya."
"Aku tahu rasanya. Kehilangan segalanya dalam semalam. Tapi aku juga tahu, kita harus terus berjalan."
Bobon menatap Sari dengan kagum. Gadis ini lebih muda darinya, tapi matanya penuh keteguhan.
"Kau kuat," kata Bobon.
"Aku harus kuat. Untuk adik-adikku. Mereka tidak punya siapa-siapa lagi."
Bobon mengangguk. Dia mengerti perasaan itu. Dia juga harus kuat untuk Nenek Mira. Untuk semua yang telah dikorbankan.
"Bobon, aku dengar kau punya kekuatan besar," kata Sari pelan. "Apa benar?"
"Aku tidak tahu. Aku hanya bisa melakukan hal-hal aneh kadang-kadang."
"Tolong lindungi kami. Aku tahu ini permintaan yang egois. Tapi aku tidak mau kehilangan siapa pun lagi."
Bobon merasakan beban di dadanya. Tapi di sisi lain, ada kehangatan. Seseorang mempercayainya. Seseorang bergantung padanya.
"Aku akan melindungimu," kata Bobon. "Dan semua orang di sini. Aku berjanji."
Sari tersenyum. "Terima kasih, Bobon. Kau baik sekali."
Mereka duduk bersama dalam keheningan. Bobon merasa ada kedamaian di samping Sari. Mungkin karena mereka sama-sama kehilangan. Sama-sama mencari tempat berpijak.
Saat Bobon kembali ke istana, dia melihat kerumunan orang di halaman depan. Para utusan dari 10 Sekte Besar telah tiba. Mereka berpakaian dengan seragam masing-masing. Ada yang berjubah putih, ada yang berselendang biru, ada yang bertopi bambu.
Bobon memperhatikan mereka dari kejauhan. Para utusan itu tampak serius dan penuh wibawa. Mereka berbisik-bisik satu sama lain, sesekali menatap ke arah Bobon.
"Kau Bobon?" seorang pria tua dengan jubah putih mendekatinya.
"Iya. Saya Bobon."
"Aku Tetua Gunung Suci. Aku ingin bicara denganmu."
Bobon mengangguk dan mengikuti pria tua itu ke ruang pertemuan. Di dalam, para utusan sudah duduk melingkar. Raja Arya duduk di kursi utama. Pangeran Bima dan Pangeran Sakti duduk di sampingnya.
"Silakan duduk, Bobon," kata Raja Arya.
Bobon duduk di kursi yang disediakan. Dia merasa canggung. Semua mata tertuju padanya.
"Jadi ini Pendekar Dewata?" kata seorang utusan dari Sekte Pedang Ganda. "Dia hanya bocah gendut."
"Apa kau yakin dia orang yang tepat?" sahut utusan dari Sekte Puncak Guntur.
Raja Arya mengangkat tangannya. "Saudara-saudara, aku sudah memeriksa tanda segel di tubuhnya. Ini adalah tanda Pendekar Dewata. Tidak ada yang bisa memalsukannya."
"Tapi dia tidak terlihat seperti pendekar," kata utusan Sekte Es Utara. "Dia terlihat seperti anak desa biasa."
Bobon merasa tidak nyaman dengan semua komentar itu. Dia ingin pergi dan makan sesuatu. Tapi dia ingat janjinya pada Sari. Dia harus kuat.
"Aku tidak ingat siapa aku dulu," kata Bobon dengan suara pelan. "Tapi aku tahu aku punya kekuatan. Dan aku akan menggunakannya untuk melindungi orang-orang."
Semua orang diam. Mereka terkejut mendengar kata-kata Bobon. Kata-kata itu sederhana, tapi datang dari hati yang tulus.
"Kau benar-benar Pendekar Dewata," kata Tetua Gunung Suci. "Hanya Pendekar Dewata yang bisa berbicara seperti itu."
Tetua Gunung Suci bangkit dan membungkuk pada Bobon. "Maafkan keraguanku. Aku menerimamu sebagai Pendekar Dewata."
Para utusan lain mengikuti. Satu per satu mereka membungkuk. Bobon hanya duduk diam, tidak mengerti apa yang terjadi.
Setelah pertemuan, Pangeran Bima mendekati Bobon. "Kau hebat, Bobon. Kau berhasil meyakinkan mereka."
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Pangeran."
"Itulah yang membuatnya hebat. Kau tidak berbohong. Kau tidak berpura-pura. Kau hanya menjadi dirimu sendiri."
Bobon tersenyum. "Aku lapar, Pangeran. Bolehkah aku makan sekarang?"
Pangeran Bima tertawa. "Tentu. Aku akan antar kau ke dapur."
Di dapur istana, Bobon makan dengan lahap. Para koki tersenyum melihatnya. Mereka sudah terbiasa dengan kebiasaan Bobon.
"Bobon, kau tahu," kata Pangeran Bima sambil duduk di sampingnya. "Desas-desus tentangmu sudah menyebar ke seluruh benua. Semua orang membicarakan Pendekar Dewata yang bangkit."
"Apa kata mereka?"
"Beragam. Ada yang percaya, ada yang meragukan. Ada yang takut, ada yang berharap. Tapi yang pasti, namamu sudah dikenal."
Bobon berhenti makan. "Aku tidak suka dikenal, Pangeran. Aku hanya ingin hidup tenang."
"Kau tidak bisa hidup tenang, Bobon. Kau punya takdir besar. Kau harus menerimanya."
Bobon menghela napas. Dia tahu Pangeran Bima benar. Tapi itu tidak membuatnya lebih mudah.
Malam harinya, Bobon duduk di balkon kamarnya. Dia memandangi bintang-bintang dan merenungkan semua yang terjadi. Hidupnya berubah begitu cepat. Dari bocah gendut penjual tahu menjadi Pendekar Dewata yang dicari semua orang.
"Apa yang harus aku lakukan?" bisiknya pada bintang-bintang.
Seperti biasa, tidak ada jawaban. Tapi di dalam hatinya, dia merasakan sesuatu. Sebuah panggilan. Panggilan untuk maju. Panggilan untuk menjadi lebih kuat. Panggilan untuk melindungi.
Bobon memegang kain biru di sakunya dan menggenggamnya erat. "Aku akan melakukannya. Aku akan menjadi Pendekar Dewata. Untuk Nenek Mira. Untuk Sari. Untuk semua orang yang membutuhkanku."
Dan di bawah sinar bulan, Bobon berjanji pada dirinya sendiri. Dia akan membuka semua segelnya. Dia akan mengingat semua kenangannya. Dia akan menjadi kuat.
Apapun risikonya.