Satu lembar uang sepuluh ribu rupiah terakhir di dompet Satria sudah berubah bentuk menjadi gumpalan lecek.
Di depannya, layar mesin ATM berkedip-kedip, menampilkan menu penarikan tunai yang terasa mengejek.
Satria menghela napas berat. Ia menekan tombol "Informasi Saldo". Dia sudah tahu angkanya akan mengenaskan, tapi dia tetap perlu melihatnya untuk memastikan seberapa jauh dia harus menahan lapar minggu ini.
Layar berganti. Angka yang muncul membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
SALDO REKENING ANDA:
Rp 270
Bukan 270 ribu. Bukan pula 270 juta. Hanya dua ratus tujuh puluh rupiah.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Sisa Waktu: 00:58:42
Target Pengeluaran: Rp 50.000.000,00
Status Saat Ini: Rp 0 / Rp 50.000.000,00
Peringatan: Kegagalan akan mengakibatkan sanksi 'Kemiskinan Absolut' (Saldo dipotong menjadi Rp 27).
“Lima puluh juta. Satu jam."
"Kepala bapak kau ambyar!” umpat Satria,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 25
Pagi berikutnya di kediaman keluarga Hendarso dimulai dengan sebuah pemandangan yang hampir membuat Freya menjatuhkan cangkir teh hangatnya ke atas lantai.
Di ambang pintu ruang tamu, berdiri seorang pria yang tampak sangat asing.
Tidak ada lagi sarung kotak-kotak pudar yang biasanya melambai-lambai ditiup angin. Tidak ada lagi kaus oblong putih melar yang bagian lehernya sudah menyerupai kain lap, dan yang paling krusial: sepasang sandal jepit karet legendaris yang tipis sebelah itu telah lenyap dari muka bumi.
Sebagai gantinya, Satria berdiri dengan tegap mengenakan setelan jas hitam ready-to-wear yang ia beli di departemen store pusat perbelanjaan lokal seharga tujuh ratus ribu rupiah,lengkap dengan kemeja putih bersih dan celana bahan yang pas di kakinya.
Rambutnya yang biasa acak-acakan laksana sarang burung kini telah disisir rapi ke belakang menggunakan minyak rambut murah beraroma maskulin yang cukup tajam.
Satu-satunya hal yang tersisa hanyalah sepasang sepatu pantofel kulit lokal yang bunyinya agak keras saat menginjak lantai.
Tuk! Tuk! Tuk!
Satria berjalan mendekat, lalu membetulkan letak kerah jasnya dengan gestur yang sok keren.
"Bagaimana, Mbak Freya? Sesuai dengan draf kontrak lisan kita kemarin."
"Demi menjaga martabat keluarga Hendarso saat berkunjung ke area komersial, sarung keberuntungan gua resmi masuk ke dalam masa karantina di dalam tas ransel."
Freya mengerjapkan matanya beberapa kali.
Ia meletakkan cangkir tehnya dengan tangan yang agak gemetar, matanya menyapu penampilan baru Satria dari atas sampai bawah.
Harus ia akui di dalam hati meski gengsinya menolak keras untuk mengucapkannya bahwa ketika mas-mas absurd ini melepaskan sarungnya dan memakai pakaian formal, auranya mendadak berubah drastis.
Ada kesan gagah, misterius, dan... tampan yang selama ini tersembunyi di balik kain sarung lapuknya.
"K-Kamu... beneran Mas Satria yang kemarin ngelempar sandal jepit kan?" tanya Freya dengan nada suara yang agak gugup, wajahnya mendadak terasa sedikit hangat.
"Gak salah beli baju kan? Kok... kok kelihatan kaku banget kayak orang mau pergi ke kondangan?"
Satria langsung mendengus, merusak aura kerennya dalam satu detik.
"Aduh, Mbak, jangan ditanya."
"Ini jas harganya tujuh ratus ribu, tapi rasanya kayak dibungkus pakai kain kafan ketat banget."
"Ketiak gua rasanya gak bisa napas dari tadi."
"Kalau bukan demi profesionalitas kerja sebagai pengawal elit berpenghasilan mi instan, gua udah balik pakai daster."
Freya langsung tertawa lepas, rasa gugupnya hilang seketika digantikan oleh rasa geli yang biasa.
"Ih, dasar! Tapi... ya sudahlah, mendingan begini daripada kamu dikira mau ronda di kantor Papa nanti."
"Ayo, Papa sudah nunggu di dalam mobil."
Tiba-tiba, ponsel di dalam saku celana bahan Satria bergetar pelan.
Satria sengaja memperlambat langkahnya, membiarkan Freya berjalan lebih dulu menuju mobil tua mereka. Ia meraba ponselnya dan melihat notifikasi berwarna merah menyala dari Sistem Total Reversal.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN - DETEKSI INDIKATOR GAYA]
Perhatian Pengguna! Sistem mendeteksi peningkatan ketampanan sebesar 45% akibat pelepasan sarung kutukan.
Peringatan Keras: Jangan biarkan target (Freya) terlalu terpesona pada penampilan luar Anda. Ingat, status Anda saat ini adalah JOMBLO LEGENDARIS yang sedang menyamar sebagai pengawal miskin.
Misi Sampingan Hari Ini: 'Supir Setia Tanpa Tanda Jasa'.
Tugas: Ambil alih kemudi mobil tua Baskoro. Antarkan mereka ke gedung pertemuan bisnis. Pastikan Anda berakting seperti supir amatir yang sering salah oper gigi.
Hadiah Tambahan: Kelancaran akuisisi senyap tahap dua oleh Satria Corporation tetap terjaga.
Satria memutar bola matanya masygul.
'Sistem protektif amat sama status jomblo gua. Lagian siapa juga yang mau tebar pesona, ini ketiak gua beneran kejepit jas!' umpatnya dalam hati.
"Pak Baskoro, biar saya aja yang nyetir hari ini. Bapak duduk di belakang sama Mbak Freya biar kelihatan kayak bos besar."
Ujar Satria saat tiba di samping mobil sedan tua tahun 90-an milik Baskoro yang mesinnya sudah berbunyi pincang.
Baskoro yang wajahnya masih tampak lesu mendongak, terkejut melihat penampilan baru Satria.
"Eh, Satria? Kamu... kelihatan gagah sekali hari ini."
"Ya sudah, terima kasih ya, kaki saya memang agak pegal karena kepikiran masalah utang rentenir itu."
Satria segera masuk ke kursi kemudi. Jas barunya terasa semakin menyiksa saat ia harus membungkuk masuk ke dalam mobil tua yang AC-nya hanya mengeluarkan angin suam-suam kuku itu.
Freya, entah karena alasan apa, alih-alih duduk di belakang bersama ayahnya, ia justru membuka pintu depan dan duduk di kursi penumpang, tepat di samping Satria.
"Mbak? Kok duduk di depan? Gua kan supirnya, ntar dikira kita lagi pacaran," goda Satria sambil memasukkan kunci kontak.
Wajah Freya langsung memerah padam. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela luar, pura-pura sibuk merapikan tasnya.
"I-Ih! Suka-suka gua dong! Di belakang itu sempit karena ada berkas-berkas Papa! Lagian siapa juga yang mau pacaran sama bodyguard absurd kayak lu!"
Satria terkekeh. Ia mulai menyalakan mesin mobil.
Kreeek... groook...
Sesuai instruksi sistem untuk berakting sebagai supir amatir, Satria sengaja menginjak kopling terlalu dalam dan memindahkan gigi satu dengan bunyi sentakan yang cukup kasar, membuat mobil tua itu melonjak ke depan seperti katak stres sebelum akhirnya berjalan stabil menyusuri jalanan ibu kota.
"Aduh, Satria, pelan-pelan," ujar Baskoro dari kursi belakang sambil memijat pelipisnya.
"Hari ini kita mau bertemu dengan salah satu rekan bisnis lama saya di sebuah restoran."
"Saya mau mencoba meminjam dana darurat untuk mencicil utang ke Bos Rentenir itu sebelum hari penyerahan minggu depan."
Freya menoleh ke arah ayahnya dengan tatapan sedih.
"Papa... apa gak ada jalan lain? Kenapa kita gak laporkan Om Budi ke polisi aja atas kasus penggelapan aset?"
Baskoro menggelengkan kepalanya lemah.
"Bukti-bukti tertulisnya sudah dimanipulasi sama dia, Freya."
"Di atas kertas, semua aset perusahaan dialihkan secara sah."
"Kita kalah telak di jalur hukum karena mereka punya pengacara-pengacara mahal."
Membayangkan keangkuhan pamannya dan ancaman dari bos rentenir, setitik air mata kembali menggenang di pelupuk mata Freya.
Tubuhnya agak bergetar menahan luapan rasa frustrasi yang mendalam.
Satria yang sedang fokus menyetir—sembari sesekali menahan jasnya agar tidak robek di bagian jahitan punggung melirik ke arah Freya dari sudut matanya.
Melihat gadis di sampingnya itu kembali bersedih, ada sesuatu yang menggelitik di dalam dadanya.
Tanpa perubahan ekspresi yang berarti, Satria dengan sengaja melakukan kesalahan oper gigi lagi.
Ia memindahkan tuas persneling dari gigi tiga langsung ke gigi satu secara mendadak.
JEGUK!
Mobil tua itu tersentak keras, membuat tubuh Freya dan Baskoro terdorong ke depan dengan kaget.
"Aduh! Satria! lu bisa nyetir gak sih?!" pekik Freya kesal, air matanya yang tadinya mau menetes langsung surut seketika karena kaget.
Satria menyengir lebar tanpa dosa, menampilkan deretan giginya yang rapi di balik setelan jas hitamnya.
"Maaf, Mbak Freya, Pak Baskoro! Ini persnelingnya agak mirip sama sifat Om Budi, suka ngajak ribut dan gak tahu posisi! Tapi tenang, selama saya yang pegang kemudi, mau mobilnya sekacau apa pun, saya jamin kita gak bakal nabrak pohon!"
Freya mendengus keras, namun ketegangannya perlahan mencair. Ia menatap profil samping wajah Satria yang dibalut jas formal tersebut.
Di balik kata-kata konyol dan cara menyetirnya yang menyerupai supir angkot ugal-ugalan, Freya tahu bahwa Satria sedang berusaha dengan caranya sendiri untuk mengalihkan perhatiannya dari rasa sedih.
Gadis itu memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela, sebuah senyuman hangat terukir jelas di wajah cantiknya.
'Dasar mas-mas sarung... biar udah pakai jas, tetep aja gesrek,' batin Freya dengan detak jantung yang mendadak bergerak sedikit lebih cepat dari biasanya.
Sementara itu, mobil sedan tua itu terus melaju membelah jalanan Jakarta, menuju ke sebuah tempat pertemuan yang tanpa mereka ketahui, telah dipersiapkan oleh Satria Corporation sebagai panggung pembantaian finansial berikutnya untuk menjatuhkan Budi Hendarso dari balik layar.