Kisah seorang mahasiswi, berasal dari keluarga berada dan di jodohkan paksa dengan seorang pengusaha muda tampan dan berbakat. Namun sayangnya mereka tidak saling mencintai, hingga akhirnya beberapa peristiwa membuat hubungan keduanya berubah setelah kehadiran orang ketiga...
Akan kah keduanya saling mencintai, atau semakin membenci...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom mimu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 07.
Plak...
Satu tamparan mendarat mulus di pipi Jimmy. Entah setan mana yang merasuki Lulu, sehingga dia memiliki keberanian menampar pacarnya itu. Mungkin rasa kecewa lah yang mendorongnya bersikap demikian. Padahal semenjak mereka menjalin hubungan, Lulu sama sekali tak pernah bersikap kasar sedikit pun.
"Aku benar-benar kecewa sama kamu!" Ucap Lulu seraya menjatuhkan air matanya dan meninggalkan Restoran.
"Sa...sayang, tunggu aku! aku bisa jelaskan! sayang!" Kejar Jimmy.
Tepat di depan halaman Restoran, Jimmy berhasil mencekal pergelangan tangan Lulu dan menghentikannya berlari.
"Sayang! dengarkan penjelasan ku dulu, itu semua tidak seperti yang kamu lihat! aku hanya mencintaimu, sayang! percayalah! cuma kamu yang ada di hatiku!" Tutur Jimmy.
"Bohong! lalu kenapa kamu bilang kamu mencintai wanita itu? apa kamu sudah tidak menganggap ku? dasar bajingan! selama ini aku selalu berpikir kalau kamu memang benar-benar serius denganku, tapi ternyata, hah? bulshit! tega kamu, Jim! aku benar-benar kecewa sama kamu!" Sahut Lulu penuh emosi.
"Sayang, dengarkan aku dulu! aku dengan Vina sedang berlatih dialog, barusan. Kami sedang menjalankan satu projek iklan, dan lagi aku tidak hanya berdua dengannya di sini, kami sedang menunggu model lainnya yang akan ikut meeting! please, percayalah! aku tidak mungkin mengkhianati kamu sayang! di hatiku cuma ada kamu seorang!" Tutur Jimmy panjang lebar.
Jimmy tersenyum senang di dalam hatinya. Lulu terlihat diam, dan tak memberontak lagi saat dirinya meraih kedua tangan pacarnya itu.
"Kalau kamu gak percaya, sebaiknya kamu ikut aku meeting, ya! aku akan kenalkan kamu pada semua model dan rekan kerjaku! biar semua orang tau kalau aku sudah memiliki gadis secantik kamu di sisi ku!" Ucap Jimmy seraya mengecup tangan Lulu.
"Apa benar begitu? kamu benar-benar tidak membohongi aku, kan Jim?" Lirih Lulu bertanya.
"Aku berani bersumpah, sayang! please, jangan marah lagi ya! sebaiknya sekarang kita ke dalam lagi ya! aku akan kenalkan kamu pada Vina terlebih dahulu! ayo!" Seru Jimmy seraya menggiring Lulu yang sepertinya sudah luluh karena bualannya itu.
Di dalam Restoran, Jimmy memperkenalkan Vina pada Lulu seperti aktingnya sebelumnya. Setelah keduanya saling mengenal, Jimmy hendak pamit ke toilet meninggalkan mereka berdua.
"Sayang, aku ke toilet dulu, ya! kalian berdua berbincang dulu saja, aku akan segera kembali!" Ucap Jimmy.
"Jangan lama-lama, Jim!" Seru Lulu.
"Jimmy benar-benar beruntung memiliki pacar seperti kamu, sepertinya kamu benar-benar mencintainya, ya!" Ucap Vina setelah kepergian Jimmy.
"Hm... apa aku begitu terlihat berlebihan, ya tadi! sorry ya! aku benar-benar sedang emosi tadi!" Sahut Lulu merasa tak enak karena sudah menuduh Vina yang tidak-tidak.
Tak berselang lama, Jimmy kembali dari toilet. Bertepatan dengan itu, dua pria muda menghampiri meja mereka dan ikut bergabung. Setelah diperkenalkan oleh Jimmy, ternyata kedua pria muda tersebut adalah rekan model yang dia bicarakan tadi pada Lulu.
"Senang berkenalan denganmu Nona cantik!" Ucap pria yang bernama Soni.
"Hei, lepaskan tangan pacarku! kau ingin aku pecat menjadi model, ya?" Ancam Jimmy yang membuat orang yang semeja dengannya terbahak. Tiba-tiba, seorang pria paruh baya menghampiri Lulu dan mengajaknya pulang.
"Non, Aden suruh Bapak jemput Non Lulu pulang!" Tutur Pak Kasim. Pria paruh baya yang menghampiri Lulu.
"Aden? siapa Aden? Bapak salah orang kali!" Ucap Lulu mengerutkan kening.
"Maksud Bapak, Den Devin, Non!" Sahut Pak Kasim.
"Oh, ya sudah! Bapak tunggu di depan saja, saya sebentar lagi menyusul!" Ucap Lulu.
"Sayang, kamu mau kemana? bukannya kita mau makan dulu, ya? terus, siapa itu Devin? kamu gak selingkuh dari aku, kan?" Cecar Jimmy saat Lulu mulai beranjak berdiri.
"De...Devin, putra rekan bisnisnya Papa, Jim! sepertinya Papa sedang bersama dia, jadi Papa menyuruh supirnya buat jemput aku!" Jawab Lulu.
"Kalau begitu, aku pulang sekarang, ya! permisi semuanya," Pamit Lulu seraya bergegas pergi meninggalkan Restoran.
"Bro, sejak kapan elo sembunyikan harta karun secantik itu? bagi kita buat nikmati juga, lah!" Ucap Beno.
"Dasar otak mesum, Lo! gua aja belum buka segelnya, elo udah ribut minta jatah!" Sungut Jimmy.
"Serius, Lo belum buka segelnya? wah, sepertinya cewek tadi benar-benar istimewa, nih!" Sahut Sini antusias.
"Kalian kenapa malah ngomongin cewek tadi, sih? gak ada kerjaan banget!" Gerutu Vina merasa terabaikan.
"Hehe... kita sampai lupa kalau ada yang bening juga di sini!" Kekeh Beno.
"Benar, Ben! kita sampai lupa kalau ada bidadari cantik juga di sini!" Sahut Soni.
"Haist! dasar kalian, paling bisa buat aku tak jadi marah!" Kekeh Vina tersanjung.
"Sudahlah, sebaiknya kita pesan makanannya! aku sudah benar-benar lapar sekarang!" Seru Jimmy mengakhiri perbincangan ketiga rekannya itu.
"Sepertinya Lulu sedang menyembunyikan sesuatu dariku! aku harus menyelidikinya secepatnya!" Batin Jimny.
Tepat pukul 07.00 malam, Lulu di jemput Devin di rumahnya. Gadis cantik itu menatap heran ke arah sang calon suami palsunya.
"Kenapa kamu malah menjemput ku? bukannya kamu mau dinner deng... emm..." Ucap Lulu tercekat karena Devin segera membekap mulutnya.
"Jangan kencang-kencang bicaranya! kamu mau Om Heru mendengar ocehan mu itu?" Cegah Devin setengah kesal.
"Emm... huu... dasar pria aneh, siapa suruh tak mengirim pesan terlebih dahulu!" Ucap Lulu setelah berhasil melepas bekapan tangan Devin dari mulutnya.
"Lulu, kenapa kamu belum bersiap? ayo sana, kasian nak Devin menunggu terlalu lama!" Tegur Pak Heru menghampiri.
Seketika kedua anak Adam tersebut membulatkan mata mereka. Dadanya menjadi kembang kempis di penuhi rasa cemas.
"Papa dengar omongan aku tadi gak, ya?" Batin Lulu.
"Gawat, semoga aja Om Heru gak mendengar ocehan gadis bar-bar itu, tadi!" Batin Devin.
"Lu! kamu tidak dengar Papa, ya? cepat ganti pakaian mu!" Tegur Pak Heru.
"I...iya, Pa! Lulu ke kamar sekarang!" Ucap Lulu seraya bergegas.
"Ayo duduk dulu, nak!" Seru Pak Heru menggiring Devin agar duduk di ruang tamu rumahnya.
"Terimakasih, Om!" Ucap Devin seraya mendaratkan bokongnya di salah satu sofa.
Keduanya terlibat perbincangan ringan seputaran bisnis. Devin sedikit lega, ternyata calon mertuanya itu tak mendengar percakapannya tadi bersama Lulu.
Sejurus kemudian, Lulu kembali dengan pakaian berbeda. Tak lupa, Lulu juga mengikat sebagian rambutnya dengan aksesoris berbentuk bunga yang dia punya. Menambah kesan sempurna untuk wajah cantiknya yang begitu menawan.
"Pa!" Seru Lulu yang membuat kedua pria berbeda generasi tersebut menoleh ke arahnya.
"Ya Tuhan, apa ini benar-benar putri Papa, ya? kamu cantik sekali sayang. Bukan begitu nak Dev?" Ucap Pak Haru meminta pendapat.
"Be...benar Om, Lu...luar biasa cantik!" Gugup Devin.
"Kalian terlalu lebay! ayo pergi! bukannya Papa tidak mengijinkan aku pulang larut, ya?" Sahut Lulu seraya menghampiri Devin yang tengah berdiri di samping Pak Heru.
Semilir wangi dari tubuh Lulu pun menyusup masuk ke indera penciuman Devin. Membuat pria yang berbeda usia dua tahun lebih tua dari Lulu itu sedikit terhipnotis.
"Kak? helo? kenapa masih bengong? ayo pergi!" Tegur Lulu.
"I...iya, ayo pergi! Om, kita pamit dulu ya!" Ucap Devin setelah tersadar.
.
.
.
.
.
Jangan lupa di jadikan favorit, like, komen, kasih gift dan votenya ya guys, see you next bab... 😘
3 like mendarat buatmu thor. semangat ya.