NovelToon NovelToon
PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA

Status: tamat
Genre:Berondong / Beda Usia / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: ara cahya

Terpaksa dia harus menyamar sebagai tenaga pengajar di sekolah bergengsi dan terkenal di kota tersebut.

Rencana tersebut terpaksa dilakukan lantaran, sampai detik ini, tersangka pembunuhan berantai yang melibatkan siswa SMA sebagai korbannya belum juga di temukan.

Alhasil, pihak kepolisian harus menggunakan cara tersebut.

Membuat Bulan, mau tak mau harus melakukan tugas yang di bebankan pada dirinya.

Bagaimana jadinya seorang polwan cantik, masuk ke dalam area sekolah. Bahkan menjadi seorang guru di sekolah tersebut.

Apa Bulan akan mengalami kesulitan, atau malah menemukan pelaku dari pembunuhan berantai tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ara cahya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PaS 07

Lagi, terjadi sebuah pembunuhan yang melibatkan siswa SMA. Berita tersebut membuat semua pihak gempar. Terutama para siswa SMA.

"Gila. Lagi-lagi menyasar pada kita." cicit Arya.

"Benar. Siapa sebenarnya dalang pembunuhan ini. Apa mungkin para korban memang saling mengenal?" tebak Mikel.

"Kita harus lebih waspada. Jangan sampai lengah. Bisa jadi tergetnya salah satu di antara kita." papar Jevo.

Arya dan Mikel mengangguk setuju. "Apalagi, semua sekolah sepertinya sudah memberikan tumbal. Dan sekolah kita masih aman sampai saat ini." sahut Mikel.

Ketiganya bersantai di samping sekolah. Tidak terlalu ramai dan sangat nyaman digunakan untuk berbincang.

"Hey,,, info apa yang elo dapat?!" teriak Arya, saat ada murid kelas satu yang bergerombol. Melihat ke layar ponsel.

Segera mereka menuju ke arah Jevo. Menyerahkan ponselnya ke Jevo. "Dari mana elo dapat?" tanya Jevo.

"Tiba-tiba ada yang ngirim." paparnya.

Jevo kembali melihat layar ponsel tersebut. "Sebaiknya elo hapus. Jangan elo sebarkan ke grup lain. Malah akan jadi bola liar." saran Jevo.

Dia mengangguk dan segera melakukan apa yang Jevo sarankan. "Semoga kita semua selalu berada dalam lindungan-Nya." ucapnya, setelah menghapus pedan tersebut.

"Amin." sahut yang lain.

Sama halnya seperti Jevo dan murid yang lain, Jeno juga sedang risau pada kasus pembunuhan kali ini. "Pasti dia seorang psikopat. Apa tujuannya coba."

Entah dari mana Jeno mendapatkan semua foto korban pembunuhan tersebut. Beserta semua biodata dan hasil penyelidikan pihak terkait.

"Gue harus segera menghubungi dia. Mereka tidak bisa diandalkan. Semakin lama, korban semakin banyak." gumam Jeno sendirian.

Sayup-sayup, Jeno mendengar suara perempuan berteriak. Segera Jeno yang duduk sendiri di bawah pohon mencari sumber suara tersebut.

Pikirannya melayang kemana-mana. Apalagi dia baru saja mendapatkan berita terburu mengenai pembunuhan berantai tersebut.

"Apa yang kalian lakukan?" tanya Jeno dengan ekspresi seperti biasa, datar.

Beberapa murid lelaki sedang menggoda seorang siswi. "Mereka kembali menggodaku." cicit Sella, berlindung di belakang Jeno.

Semua murid lelaki tersebut tersenyum, lalu pergi tanpa mengatakan apapun. "Terimakasih." ujar Sella, memberanikan diri memegang lengan Jeno.

"Maaf." Sella melepaskan tangannya, saat Jeno memandang ke arah lengannya.

"Boleh aku ikut. Aku takut sendiri." Sella berjalan di samping Jeno.

Sella mencuri pandang ke arah Jeno. Hingga Jeno menghentikan langkah kakinya. "Jangan mengekor padaku." ujar Jeno tanpa memandang Sella.

"Tapi aku takut, mereka akan kembali lagi." tutur Sella beralasan.

"Ckk,, carilah tempat ramai. Lagi pula, bukankah kamu juga punya teman."

"Aku tidak punya teman. Tidak ada yang mau berteman denganku." jelas Sella, menunduk sedih.

Jeno melirik ke arah Sella yang terlihat menundukkan kepala. "Merepotkan."

Jeno melangkahkan kakinya, Sella tersenyum senang. Kembali berjalan di samping Jeno.

Tanpa keduanya sadari, Bulan melihat semuanya. "Terlihat lugu. Tapi bukan cupu. Perempuan seperti dia, sangat mengerikan." gumam Bulan.

Beberapa saat yang lalu, Bulan ingin menyendiri. Melihat foto yang dikirimkan atasannya tanpa takut terlihat oleh guru lain.

Sebab, di ruang guru para guru sedang berkumpul, beristirahat sambil menunggu bel masuk berbunyi. Tapi siapa yang akan menduga, Bulan melihat sebuah pertunjukan drama yang indah.

Seorang murid perempuan sedang berbicara dengan beberapa murid lelaki. Bulan melihat dengan jelas, dia memberikan sejumlah uang pada salah satu dari mereka.

Kesepakatan. Bulan dengan mudah menebak jika mereka sedang melakukan sebuah perjanjian yang pastinya saling menguntungkan.

Bulan juga melihat anak didiknya, Jeno baru datang dan duduk di kursi yang ada dibawah pohon. Duduk sendiri, memikirkan sesuatu tanpa menghiraukan sekitarnya.

Hingga keadaan sepi, murid perempuan tadi berteriak. Memancing rasa penasaran dari Jeno. Bulan tersenyum, menggelengkan kepala. Dan yang terjadi, dapat dengan mudah Bulan bayangkan.

"Dia bernama Sella. Sejak dulu menyukai Jeno." ucap seseorang yang tiba-tiba berada di samping Bulan.

Siapa lagi jika bukan Jevo. "Lihat, dia terlihat lugu dan polos. Bagai kelinci kecil yang membutuhkan perlindungan. Tapi siapa yang tahu, jika dia serigala berbulu domba." Jevo memandang ke arah Sella dan Jeno yang berjalan menjauh dari mereka.

Bulan memandang intens ke arah Jevo. "Sejak kapan dia berada di sini. Pergerakan anak ini. Bagaimana bisa, gue nggak merasakan apapun." batin Bulan.

Tak biasanya, Bulan seperti ini. Semut mendekatpun, Bulan pasti akan merasakannya. Tapi ini, Bulan sama sekali tidak merasakan kedatangan Jevo di sampingnya.

"Berkediplah bu. Ibu bisa memandang saya sepuasnya. Saya akui, saya memang tampan." Jevo berkata dengan mengerlingkan sebelah matanya pada Bulan.

"Apa kedua orang tua kamu tidak pernah mengajari kami sopan santu." tekan Bulan, semakin kesal dengan ulah Jevo yang menggodanya.

Jevo memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Tentu saja saya diajari dengan baik. Bagaimana cara memperlakukan perempuan cantik, seperti ibu Bulan." kekeh Jevo.

Bulan memejamkan mata sebentar. Menahan emosinya. Meninggalkan Jevo tanpa mengatakan apapun.

Jevo memandang punggung Bulan dengan senyum di bibir. "Lucu sekali." gumam Jevo.

Mengalihkan pandangannya ke arah saudara kembarnya, setelah tubun Bulan tak terlihat. "Perempuan seperti itu lebih berbahaya dari pada Claudia." gumam Jevo.

"Aki harus mengingatkan Jeno." imbuhnya.

Bulan sampai di perpustakaan. Mengambil sebuah buku, duduk di sudut ruangan. "Kenapa tidak terpikirkan sejak tadi." ucapnya kesal.

Mengingat sejak pagi Jevo selalu menggodanya. "Tahan Bulan, jangan sampai tanganmu terkepal." ucapnya dalam hati.

Bulan ingin sekali meninju wajah mengesalkan dari Jevo. Tapi Bulan harus menahannya. Dia guru, dan Jevo murid.

Bisa-bisa dirinya akan terjerat kasus hukum jika memukul Jevo. "Ternyata misi seperti ini sangat sulit."

Bulan meletakkan ponselnya di dalam buku. Berpura-pura membuka buku, padahal dirinya sedang melihat pesan yang dikirimkan oleh atasannya.

Bulan mengirimkan semua foto dan berkas penyelidikan ke ponsel pribadinya. Lalu segera menghapus riwayat di ponselnya. Membersihkan semua jejaknya.

Bulan yakin, jika ponselnya juga sudah di sadap. Sehingga apapun yang dia lakukan akan mereka ketahui dengan mudah. "Gue harus bermain cerdik." batin Bulan.

Bulan menutup bukunya, memasukkan ponsel ke dalam sakunya. Pandangan Bulan meneliti setiap inci perpustakaan yang dapat dia lihat dengan mata.

"Sepi, sangat sepi." cicit Bulan.

"Benar bu, perpustakaan sekarang tidak seperti perpustakaan jaman dulu. Sekarang sudah ada ponsel. Cari apapun tinggal buka aplikasi di ponsel." ucap seorang perempuan.

Bulan menebak jika dia adalah petugas yang menjaga perpustakaan. Bulan tersenyum dan mengangguk.

"Tapi tetap saja, ada beberapa yang tidak bisa mereka temukan di ponsel pintar mereka. Dan hanya ada di sini." imbuhnya.

"Sejarah yang dengan sengaja ditutup." ucapnya lirih.

Bulan mengangguk paham. Mengerti apa maksud dari perkataannya. Bulan berdiri, mengembalikan buku yang telah dia ambil ke rak buku.

"Sejarah yang ditutup dengan sengaja." gumam Bulan. Memandang penjaga perpustakaan yang sedang merapikan buku. Padahal buku-buku sudah tertata dengan sangat rapi, menurut Bulan.

1
Musri
bolak balik d cek,sapa tau thor nya baik hati mau lanjutin season 2 nya🤭
Rayhan Febriansyah
kasian gara, setiap jatuh cinta harus merasakan sakit hatinya Krn merasa dirinya cacat jadi ga bisa menggapai cinta nya ..semoga gara mendapatkan kekasih yg bisa menerima dia apa adanya
Siska S
season 2 thor boleh😊
Reza Talita
kurang dong soal romantis nya Jeno sama bulan ..
Reza Talita
maaf kakak dama apa sama kakak soal kata sama sering ada jadi 😕
DeeDE
ibu yang hebat ibu yang keren... istri yg bijaksana...
etina_
Thor ini cerita nya udh end kahh?
ciru
cakeepp
ciru
cakeep
Rui Holib
nunggu kabar lanjut ceritanya kapan sudah kangen cerita jeno Dan bulan
Ami Siti
wah keren thoot,tapi kurang seru cb sampai bulan dan jeno menikah dan jeno lulus,bekerja...he he he tks
ciru
cakeepp
ciru
cakeep
Rhien
lanjut kak
semangat💪😊
ciru
cakeep. bab ini mengandung bawang yg pekat 😭😭😭😭😭
ciru
cakeep
ciru
😭😭😭😭😭😭😭smoga Gara bisa terselamatkan
ciru
cakeepp
ciru
cakeep
Sri Wahyuni
1000
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!