"Apa sekarang kamu puas?! Kamu saat itu memutuskan aku begitu saja dan sekarang kamu menikahi aku untuk menjadi istri ke dua. Bukan, tepatnya istri simpanan! Aku membencimu Arsen!" ucap Kinar
"Aku akan buktikan keseriusanku padamu bahwa kamu akan aku jadikan istri satu-satunya untukku, tidak apa-apa kamu membenciku, karena benci dan cinta beda tipis." ucap Arsen
Kinar yang mencintai mantan kekasih dan sekaligus suaminya itu begitu mudah, lalu bagai mana kisah rumah tangga mereka?
Apa yakin Arsen bisa menceraikan istri pertamanya yang memang wanita pilihan orang tuanya? Atau Kinar tetap selamanya akan menjadi istri ke dua dari Arsen?
Selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 7 Vokda Martini
Sudah 1 minggu pernikahan Arsen dan Kinar, 1 minggu juga Arsen menolak keingin istrinya yang ingin segera melakukan malam pertama.
Selama 1 minggu ini Kinar masih memimpikan tentang Martin dan 1 minggu juga Martin masih belum mengangkat telpon dari Kinar, bahkan pesan dari Kinar tidak ada yang di baca, itu membuat Kinar semakin kuatir pada Martin, ia juga sudah berkali-kali menghubungi Sinta, selaku sekretaris baru Martin dan sekaligus sahabat Kinar dari kecil, tapi Sinta lagi-lagi tidak aktif, sedangkan kalau ia menelpon lagi pada Marsel, ia tidak begitu percaya dengan jawaban dari Marsel, karena Marsel selalu tinggal di Australia, bahkan baru kembali saat istrinya meninggal karena melahirkan.
Marsel hanya berkunjung sesekali saja ke bandung, karena ia harus mengurus ibu mertua dan anaknya di Australia.
Kinar sekarang sedang bersiap-siap, karena hari ini suaminya tidak pulang ke rumah, ia bisa bebas untuk pergi, tadi pagi sebelum berangkat ke kantor suaminya sudah bilang akan pulang ke rumah istri pertamanya, karena hari ini istri pertamannya pulang. Kinar memakai jeans pendek sepaha dan memakai baju crop lengan pendek, tubuhnya yang tinggi menampilkan perut ratanya sedikit, karena ia memakai tengtop crop juga.
Kinar juga tadi sudah memesan taksi, dan taksinya sudah menunggu di luar gerbang rumah itu. Kinar berjalan ke luar dari kamar, ia langsung bilang ke Bi Asih, kalau ia akan keluar sebentar.
"Bi, saya keluar dulu."
Bi Asih melihat Kinar dari atas sampai bawah, pakaiannya begitu seksi.
"Non mau pergi kemana?"
"Mau cari angin sebentar."
Setelah mengatakan itu Kinar langsung keluar dari rumah. Sedangkan Bi Asih melihat jam yang sudah menunjukan pukul 21.00WIB.
"Non Kinar, kira-kira pergi kemana iya? Mana seksi banget lagi pakaiannya, sudah malam pula lagi." batin Bi Asih
Bi Asih walau pun bekerja baru 1 minggu yang lalu di rumah itu, ia selalu saja menghuatirkan Kinar, apa lagi saat Kinar hanya di kamar, ia selalu prihatin, bukan apa-apa, tapi bi Asih sudah mengetahui kalau Kinar adalah istri ke dua dari Arsen, ia yakin kalau Kinar sangat tersiksa dengan pernikahannya yang di rahasiakan, itu lah yang selalu membuat bi Asih kuatir pada Kinar.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama, Kinar sampai di club malam. Senyumannya mereka saat melihat club malam.
"Terima kasih pak."
"Sama-sama non."
Kinar langsung keluar dari mobil, ia langsung masuk ke club malam, untuk malam ini saja ia ingin melupakan masalah dengan Arsen dan Martin. Kinar duduk di depan bretender.
"Pak, Martini Rosso dua gelas."
"Baik nona."
Bretender itu langsung memberikan Kinar dua gelas Martini Rosso. Kinar langsung meminumnya seperti sedang haus, minuman beralkohol itu layaknya seperti air putih.
"Dua gelas lagi."
Bretender itu hanya mengangguk, ia mengisi dua gelas yang di serahkan Kinar. Kinar meminumnya hingga setengah, ia melihat ke arah lampu yang bergemerlap dan suara musik yang sangat besar di indra pendengarannya.
Kinar tersenyum meringis sambil meminum Martini Rosso lagi, ia mengingat kembali kejadian di mana ia untuk pertama kali meminum minuman beralkohol, itu semua karena Arsen, selama 1 bulan lamanya ia meminum minuman beralkohol untuk melupakan Arsen, tapi semuanya sia-sia, hingga ia memutuskan untuk bunuh diri, karena sudah benar-benar kehilangan arah, lalu ia di pertemukan dengan Martin, lelaki yang menolongnya dan memarahinya habis-habisan. Martin mengatai Kinar Gadis bodoh, dan Gadis tidak punyak otak, karena cinta akan mengorbankan nyawamu, begitulah yang sekarang di ingat oleh Kinar, bayangannya masih terlihat jelas walau pun kejadiannya sudah 5 tahun yang lalu.
"Aku tidak menyangka, untuk yang ke dua kalinya aku terjun bebas karena masalah percintaan." batin Kinar
Kinar memberikan dua gelas lagi dan lagi, hingga sekarang ia sudah menghabiskan 10 gelas vokda Martini Rosso.
Semakin malam Kinar mulai mencuim bau asap roko yang begitu menyengat di indra penciumannya, ia langsung membayar vokda Martini Rosso yang ia minum, lalu sekarang berjalan ke arah orang yang sedang berjoged untuk menghilangkan permasalahan yang ada di pikirannya. Kinar mulai berjoged dengan mengangkat ke dua tangannya, banyak lelaki hidung belang yang mendekati Kinar untuk sekedar mengajak ngobrol, tapi Kinar tidak peduli, ia masih asik berjoged dengan mengikuti alunan musik.
...****************...
Jam sudah menunjukan pukul 00.00WIB, Setelah Tiara mengobrol tentang jadwalnya bersama Arsen, sekarang mereka berdua akan melakukan malam yang indah seperti biasanya. Mereka berdua sudah sama-sama telanjang, dan Arsen sudah siap untuk menggempur istrinya, tapi suara getar telpon menghentikan aksinya yang sedang berciuman.
Dret... Dret...
Arsen segera mengambil ponselnya di meja dengan tubuhnya yang masih mengunci tubuh istrinya, ia melihat Bi Asih yang menelpon, lalu ia langsung mengangkat telponnya.
"Den Arsen, non Kinar sampai sekarang belum pulang."
Arsen yang mendengar ucapan dari bi Asih, ia langsung duduk.
"Pergi kemana?"
"Tidak tau den, katanya bilang cari angin, tapi pakaian non Kinar sangat seksi."
"Baik, saya akan segera mencarinya."
Setelah mengatakan itu Arsen langsung mematikan sambungan telponnya, ia langsung turun dari ranjang dengan tergesah-gesah, lalu mengambil baju dan celana jeans pendek. Tiara yang melihat suaminya tergesah-gesah ia jadi bingung.
"Mas mau kemana?"
"Maaf mas tidak bisa melanjutkannya, mas ada pekerjaan mendadak."
Arsen berbicara sambil memakai bajunnya dan celananya.
"Mas pekerjaan seperti apa? Ini sudah jam 12 malam?"
Tiara bingung sendiri melihat suaminya yang tergesah-gesah, dan tidak ada pekerjaan sampai selarut itu, biasanya juga kalau lembur hingga jam 9 malam, itu pun tidak pulang ke rumah dulu, tapi sekarang sudah ada di rumah, bahkan suaminya mengatakan ada pekerjaan mendadak.
Arsen tidak menjawab, ia langsung mengambil kunci mobil, lalu lari keluar dari kamarnya. Tiara yang melihat itu hanya menghela nafas berat, ada rasa kesal dan marah karena hasratnya belum tersalurkan, apa lagi ia sudah 2 bulan tidak pulang, ia sibuk bekerja menjadi model bahkan sudah terjun di dunia iklan.
"Apa Alex mabuk-mabukan lagi? Hingga mas Arsen pergi dengan tergesah-gesah?" batin Tiara
Alex yang memiliki nama lengkap Alex Adipati Rustama itu adalah adik dari Arsen, usianya baru saja 22 tahun, ia masih melanjutkan pendidikannya di bangku perkuliahan S2, dan kerjaan tiap harinya adalah mabuk-mabukan bersama semua teman-temannya.
Bahkan Arsen selalu di buat sibuk kalau adiknya itu sampai mabuk, karena kalau Alex dalam keadaan mabuk, Alex selalu emosi, hingga memukul siapa saja yang mengusik ketenangannya sedikit saja, hanya Arsen yang bisa melunakan hati Alex saat Alex dalam keadaan mabuk. Arsen melajukan mobilnya sambil sesekali menelpon istrinya, tapi lagi-lagi istrinya itu tidak mengangkat telpon darinya.
"Sebenarnya kamu pergi kemana Kinar? Tidak mungkin Kinar menemui kekasihnya yang ada di bandung selarut itu, seharusnya kalau Kinar akan menemui kekasihnya tadi siang bukan tengah malam seperti sekarang."
Arsen berbicara sendiri, ia sangat kuatir, apa lagi istrinya naik taksi, bukan ia tidak percaya pada seorang supir taksi, tapi ia hanya takut terjadi sesuatu pada istrinya.