Pernikahan yang diawali dengan perjodohan dan tak saling cinta, biasanya berakhir dengan sebuah cinta diantara keduanya. Namun ternyata apa yang Salma alami berbeda dengan kisah romansa pada umumnya.
Dua puluh tahun menikah dengan Aidil dan dikaruniai dua orang putra ternyata tak membuat Aidil bisa membuka hatinya untuk Salma. Hingga di suatu malam, akhirnya Salma mengetahui jika suaminya memiliki wanita idaman lain dalam pernikahan mereka.
Manakah yang akan Salma pilih? Bertahan demi anak-anaknya atau memilih berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkanmiliar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Jepit Rambut Milik Siapa?
Pagi itu, seperti biasa Salma sedang menyiapkan sarapan untuk ibu mertuanya. Tiba-tiba Diman, supir keluarga Pramudya datang menemui Salma.
"Nyonya Salma," panggil Diman.
"Iya, Pak. Ada apa?"
"Ini Nyah, saya tadi sedang bersih-bersih mobil tuan Aidil. Saya menemukan ini di jok depan mobil." Diman menyerahkan benda kecil kepada Salma.
"Jepit rambut?" gumam Salma sambil pikirannya berkelana.
"Apa itu bukan milik Nyonya?" Pertanyaan Diman membuat Salma tersentak.
"Eh? Iya, ini milik saya. Mungkin terjatuh saat saya naik di mobil mas Aidil. Terima kasih ya, Pak."
Diman sedikit membungkukkan badan kemudian berpamitan. Salma masih bergeming menatap jepit rambut bergambar mawar itu.
Salma memang memiliki rambut panjang. Namun ia tidak terlalu suka memakai aksesoris di rambutnya. Hanya sesekali mengikat rambutnya saja ke belakang seperti saat sedang memasak dan membereskan rumah.
"Jepit rambut siapa ini?" lirih Salma.
"Ada apa? Kenapa kau melamun?" Suara Evita membuat Salma tersadar.
"Eh? Mamih? Apa ada yang Mamih butuhkan?" tanya Salma yang memasukkan jepit rambut itu kedalam saku bajunya.
"Menu makanan kita hari ini?" bisik Evita.
Salma mengulas senyumnya. "Seperti biasa, Mih. Bukankah Mamih harus mengikuti menu diet dari dokter?"
"Haaah! Aku bosan, Salma. Aku ingin ayam goreng!" rengek Evita bak anak kecil.
Salma kembali tersenyum. "Ayam goreng tidak baik untuk kesehatan Mamih. Aku akan buatkan yang lain saja yang terbuat dari daging ayam. Bagaimana?"
"Tidak mau!"
Salma memutar otak untuk membujuk Evita. "Baiklah. Aku akan tanyakan pada Marko resep ayam goreng sehat yang bisa Mamih makan."
Seketika mata Evita berbinar senang. "Itu baru bagus!"
Salma menggeleng pelan dengan tingkah ibu mertuanya yang terkadang mirip dengan anak balita.
#
#
#
Tempat kursus memasak Chef Marko,
Jihan sedang mengiris bahan-bahan yang akan ia buat untuk menduplikasi masakan yang sudah dicontohkan oleh guru masaknya. Jihan memang selalu terdepan untuk soal cita rasa makanan.
Jihan merogoh tas slempang miliknya dan mencari sesuatu disana.
"Kemana perginya?" gumamnya.
"Ada apa, Jihan? Kau mencari sesuatu?" Marko menghampiri meja dapur milik Jihan.
"Umm, saya mencari jepit rambut saya, Chef. Biasanya saya selalu menaruhnya di dalam tas. Kenapa sekarang tidak ada?"
Meski Jihan memiliki rambut pendek sebahu, tapi ia suka memakai jepit rambut saat memasak. Menurutnya agar tidak mengganggu, ia memakai jepit rambut untuk mengatur rambutnya.
"Mungkin kau lupa menaruhnya. Atau mungkin terjatuh?" terka Marko.
"Mungkin saja ya, Chef. Saya sendiri juga lupa." Jihan menggaruk tengkuknya.
"Semoga saja cita rasa masakanmu tidak terpengaruh hanya karena masalah jepit rambut." Marko tersenyum kecil kemudian meninggalkan dapur milik Jihan.
#
#
#
Usai kursus memasak, Jihan bersiap untuk pergi ke kantor. Beberapa permintaan naskah untuk FTV harus segera Jihan buat. Nama Jihan mulai terkenal dalam industri tulis menulis ini.
Jihan berjalan menuju halte untuk menaiki bus. Ia menunggu sebentar sambil memeriksa ponselnya.
Sebuah mobil nampak berhenti di depan Jihan. Wanita itu menoleh dan melihat Aidil ada di dalam mobil itu.
"Apa kau butuh tumpangan?" seru Aidil dari dalam mobilnya. Ia membuka kaca mobilnya itu.
"Pak Aidil?" gumam Jihan menatap Aidil yang sedang tersenyum.
Tak bisa dipungkiri Jihan sangat mengagumi Aidil karena kebaikan hatinya.
"Apa boleh, Pak?" tanya Jihan balik.
"Tentu saja boleh. Naiklah! Lagipula kita searah. Aku akan ke kantor!"
Dengan senang hati Jihan menerima tawaran Aidil. Kali ini Jihan sudah paham jika dirinya harus duduk di jok depan mobil.
"Maaf ya, Pak. Saya merepotkan bapak terus."
Aidil tertawa ringan. "Ah tidak. Hanya kebetulan saja kan?"
Jihan mengangguk. Ya, semuanya hanya kebetulan. Pertemuan ini tentunya hanya kebetulan saja.
Namun karena selalu di dasari dengan kata 'kebetulan', hingga akhirnya semua mulai terbiasa dan menjadi 'disengaja'.
#
#
#
"Baiklah, rapat hari ini kita sudahi sampai disini dulu! Jika ada pertanyaan, silakan! Saya akan menjawabnya," ucap Aidil menutup meeting siang itu.
Para karyawan satu persatu meninggalkan ruangan meeting itu. Jihan yang hendak keluar, tiba-tiba dihentikan oleh Aidil.
"Apa kau sibuk?" tanya Aidil.
"Eh? Tidak sih, Pak. Apa ada yang bapak butuhkan?" tanya Jihan balik.
"Bagaimana kalau kita makan siang bersama?"
Jihan cukup terkejut dengan tawaran makan siang yang diucapkan Aidil. Matanya membola seakan tak percaya. Dan tentu saja, Jihan tak kuasa menolak.
Akhirnya mereka berdua makan siang di sebuah restoran Jepang di sebuah mall. Selama makan siang, mereka banyak mengobrol tentang keseharian mereka.
Jihan adalah wanita supel yang bisa membuat suasana berubah ceria. Celotehan dan canda tawanya membuat Aidil terpesona dengan kesederhanaan yang ditampilkan Jihan.
"Apa kau tidak ingin menikah lagi?"
Pertanyaan Aidil membuat Jihan terdiam. Aidil sendiri juga bingung kenapa ia bertanya hal semacam itu.
"Entahlah, Pak. Prioritas saya sekarang adalah Keisya. Saya tidak memikirkan hal lain," jawab Jihan dengan menundukkan wajahnya. Rasanya pertahanan hatinya akan runtuh jika membalas tatapan Aidil.
"Aku bangga denganmu. Kau wanita yang kuat."
Jihan kembali mendongak. "Terima kasih, Pak."
Usai makan siang, Jihan berjalan-jalan sebentar bersama Aidil. Mata Jihan tertuju pada sebuah toko aksesoris yang mengundangnya masuk.
"Pak, jika bapak mau duluan maka silakan saja. Saya ingin kesana dulu." Jihan menunjuk ke arah toko aksesoris.
"Kalau begitu aku temani ya!"
Kalimat Aidil membuat Jihan kembali kaget. Ia tak menyangka jika Aidil bersedia menemaninya berbelanja.
Jihan masuk ke toko dan melihat-lihat aneka jepit rambut yang berwarna warni.
"Kau suka memakai jepit rambut?" tanya Aidil.
"Iya, Pak. Biasanya saya memakainya saat sedang memasak. Tujuannya supaya rambut saya tidak ikut masuk ke dalam makanan yang sedang saya masak." Jihan tertawa lepas.
"Sini aku pakaikan!" Aidil merebut jepit rambut dari tangan Jihan.
"Pak Aidil?" Jihan kembali syok karena Aidil kini sedang menyentuh rambutnya dan memakaikan jepit rambut itu ke rambutnya.
Jihan menunduk malu. Entah kenapa jantungnya berdebar ketika Aidil berada sangat dekat dengannya.
"Cantik," gumam Aidil yang membuat Jihan mendongak.
Jihan yang patah hati, merasa sangat bahagia karena diperlakukan dengan istimewa oleh Aidil.
#
#
#
Salma melirik ke arah jam dinding di ruang keluarga itu. Masih belum ada tanda-tanda kepulangan suaminya.
Salma ingin menghubungi Aidil, tapi ia urung karena takut jika Aidil memang masih ada pekerjaan. Salma memutuskan untuk kembali ke kamar.
Salma duduk di depan meja riasnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin.
Salma membuka laci meja dan mengambil jepit rambut yang ditemukan Diman kala itu. Salma selipkan jepit rambut itu di rambutnya.
"Milik siapa ini sebenarnya? Kenapa perasaanku mulai tak tenang begini?"
Salma memegangi dadanya. "Selama dua puluh tahun, aku tidak pernah menemukan benda apapun yang mencurigakan dalam mobil mas Aidil. Kenapa sekarang ... aku merasa ada hal yang disembunyikan oleh mas Aidil?"
dewasa banyak ilmu yg d dapat dr cerita ini tentang kesabaran kedewasaan dalam ambil sikap meski cerita nya sederhana
Tapi ya sudahlah jk mmg sdh hrs ending.Terima kasih utk ceritanya kak
Di tunggu next ceritanya..semangat