NovelToon NovelToon
Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.

Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.

Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12: Analisis yang Diremehkan

Polres Buana tidak terlihat seperti tempat yang siap mendengar anak SMA bicara tentang penculikan berantai.

Di ruang depan, seorang petugas menerima laporan kehilangan dompet, dua orang berdebat soal motor terserempet, dan seorang ibu menangis karena anaknya belum pulang. Kipas angin besar berputar keras, tetapi udara tetap panas.

Arya Pratama berdiri di depan meja piket dengan map berisi laporan.

"Saya ingin bertemu penyidik kasus siswa SMA Negeri 1 Buana yang hilang," katanya.

Petugas piket menatap seragamnya. "Kamu keluarga korban?"

"Bukan, Pak. Saya teman sekolah."

"Kalau mau kasih dukungan, ke sekolah saja. Ini kantor polisi."

"Saya punya analisis lokasi dan prediksi kemungkinan kejadian berikutnya."

Petugas itu berhenti menulis. Lalu menatap Arya seperti mendengar anak kecil mengaku bisa menerbangkan pesawat.

"Analisis? Kamu kelas berapa?"

"Kelas X."

"Adik, pulang. Jangan main-main dengan kasus orang hilang."

Arya membuka map dan mengeluarkan peta. "Bagas hilang di titik buta CCTV gerbang samping. Lala hilang di halte belakang yang juga tidak terlihat kamera sekolah maupun toko alat tulis. Jika pola jarak dan waktu diikuti, area berikutnya adalah sisi utara sekolah, antara pukul 16.30 sampai 17.10."

Petugas piket menatap peta itu, lalu memanggil seseorang dari dalam.

"Bu Sari, ada anak sekolah bawa gambar. Katanya tahu penculik berikutnya."

Nada kalimat itu membuat beberapa orang di ruang tunggu menoleh.

Seorang perempuan berambut pendek keluar dari lorong. Usianya belum tiga puluh, seragamnya rapi, matanya tajam karena kurang tidur. Di dada kanannya tertulis SARI INDAH.

Komisaris Sari Indah.

Ia mengambil peta dari meja, melihat sekilas, lalu menatap Arya.

"Kamu yang buat?"

"Iya, Bu."

"Dari mana datanya?"

"Berita, pengamatan lokasi, dan jadwal kegiatan sekolah."

"Kamu menyentuh lokasi kejadian?"

"Tidak menyentuh barang bukti. Saya hanya melihat dari luar garis polisi dan area umum."

Sari menyipitkan mata. Jawaban itu lebih rapi daripada yang ia harapkan dari anak SMA.

Tetapi rapi bukan berarti benar.

"Dik Arya, ini bukan permainan detektif. Dua keluarga sedang hancur. Polisi sedang bekerja. Kalau semua siswa datang membawa teori, penyidikan akan kacau."

"Saya mengerti, Bu. Karena itu saya membuat laporan tertulis dan menahan rumor."

Petugas piket mengangkat alis. Beberapa orang di ruang tunggu berbisik.

Sari membuka halaman pertama laporan. Ada tabel waktu, lokasi, sudut kamera, dan jarak. Tulisan Arya rapi. Kesimpulannya jelas. Terlalu jelas untuk diabaikan, tetapi terlalu berani untuk diterima begitu saja.

"Kamu tahu istilah titik buta dari mana?"

"Dari logika garis pandang."

"Bukan dari film?"

"Film sering salah."

Sari terdiam setengah detik.

Jawaban itu membuatnya ingin marah, tapi juga sulit dibantah.

Ia meletakkan laporan di meja. "Baik. Saya terima. Nanti kami pelajari. Sekarang kamu pulang dan jangan melakukan penyelidikan sendiri."

Arya tidak bergerak. "Bu, kalau prediksi saya benar, Jumat sore akan ada korban lagi."

"Kami sudah meningkatkan patroli."

"Patroli di jalan utama tidak akan melihat area utara jika pelaku memakai jalur bangunan lama."

"Kamu tidak tahu rencana operasi polisi."

"Saya tahu kamera sekolah tidak menutup area itu."

Suara ruang depan mengecil. Orang-orang mulai benar-benar mendengarkan.

Sari menatap Arya lebih keras. "Adik, kamu pintar mungkin di kelas. Tapi di lapangan, ada prosedur. Ada saksi. Ada bukti. Ada risiko. Kamu tidak bisa datang dengan peta lalu menyuruh polisi bergerak sesuai tebakanmu."

"Itu bukan tebakan."

"Bagi kami, sebelum terbukti, itu hipotesis."

"Kalau menunggu terbukti, korban ketiga sudah hilang."

Kalimat itu menampar udara.

Wajah Sari berubah dingin. "Cukup."

Petugas piket langsung berdiri lebih tegak.

Arya tahu ia menekan terlalu keras. Ia menarik napas, lalu menunduk sedikit.

"Maaf, Bu. Saya tidak bermaksud meremehkan polisi. Saya hanya tidak ingin ada korban lagi."

Untuk sesaat, ekspresi Sari melunak. Lalu profesionalismenya kembali.

"Nomor teleponmu?"

Arya menulis di sudut laporan.

Sari mengambil map itu. "Kalau kami butuh klarifikasi, kami hubungi. Tapi kamu tidak boleh mendekati lokasi risiko tanpa izin. Mengerti?"

"Mengerti, Bu."

Arya berbalik pergi.

Di luar Polres, panas jalan terasa lebih keras. Rizky berdiri di dekat pagar dengan motor, helm tergantung di siku. Putri ada di sampingnya, wajahnya serius.

"Ditolak?" tanya Rizky.

"Diterima secara administratif. Ditolak secara otak."

Rizky meringis. "Bahasa lo makin serem."

Putri menatap pintu Polres. "Dia akan menelepon kalau kejadian itu benar."

"Aku berharap dia menelepon sebelum itu."

Namun Arya tahu harapan itu tipis. Orang dewasa jarang suka diberi tahu bahwa mereka melewatkan sesuatu oleh anak enam belas tahun.

Ia berjalan beberapa langkah, lalu berhenti.

"Kalau Jumat sore ada kabar, kalian berdua jangan ke sekolah belakang."

Rizky langsung protes. "Lah, lo sendiri?"

"Aku akan pulang."

Putri menatapnya datar. "Kamu bohong."

Arya tidak menjawab.

Di dalam gedung Polres, Komisaris Sari Indah kembali membuka laporan Arya. Ia membaca halaman prediksi sekali lagi, lalu mendengus pelan.

"Anak sekarang kebanyakan percaya diri."

Tetapi ia tidak membuang laporan itu.

Ia menyimpannya di laci paling atas.

Sari tidak langsung membuang laporan itu, tetapi ia juga tidak membacanya dengan serius. Seorang staf muda di sebelahnya sempat tertawa kecil saat melihat diagram panah Arya. "Anak sekarang kebanyakan nonton film detektif, Bu."

Arya mendengar jelas, namun tidak tersinggung. Ia malah menatap staf itu dan bertanya, "Kalau film detektif bisa membuat orang mengecek kamera mati, kenapa kantor polisi sungguhan belum mengeceknya sejak korban pertama?"

Ruangan itu langsung sunyi. Staf muda tadi menunduk pura-pura mencari berkas. Komisaris Sari mengangkat alis. Ia menahan marah sekaligus belum siap menerima bahwa anak SMA bisa menusuk lubang dalam prosedurnya.

"Dik Arya," katanya perlahan, "polisi bekerja dengan bukti. Keberanian bicara saja tidak cukup."

"Itu sebabnya saya membawa bukti awal." Arya membuka halaman kedua. Ada tabel menit, titik buta, kebiasaan korban, dan kemungkinan jalur keluar. "Ibu bisa abaikan kesimpulan saya. Tapi kalau Ibu abaikan data mentahnya, itu bukan kehati-hatian. Itu pemborosan waktu."

Putri yang menunggu di luar kaca melihat bahu Sari menegang. Rizky berbisik bahwa Arya sebentar lagi mungkin diusir. Namun Sari tidak mengusirnya. Ia mengambil foto tabel itu dengan ponsel dinas, lalu berkata bahwa ia akan memeriksa ulang jika ada waktu. Bagi kebanyakan orang, itu penolakan halus. Bagi Arya, itu berarti pintu belum sepenuhnya tertutup.

Sebelum keluar, ia berhenti di ambang pintu. "Bu, pelaku tidak menunggu polisi percaya. Dia hanya menunggu Jumat."

Di halaman Polres, Putri menatap map laporan di tangan Arya. "Kamu baru saja membuat satu ruangan polisi marah."

"Saya membuat mereka berpikir. Efek sampingnya marah."

Rizky mengusap tengkuk. "Kalau Jumat nanti tidak terjadi apa-apa, aku traktir bakso untuk merayakan kamu salah. Kalau terjadi sesuatu, aku tetap traktir karena kita butuh tenaga untuk panik."

Arya memasukkan ponsel ke saku. "Kalau mereka bergerak sekarang, kemungkinan korban ketiga bisa dicegah. Kalau tidak, setelah kejadian nanti kita punya pintu masuk resmi."

Putri tidak menyukai dinginnya kalimat itu, tetapi ia mengerti. Arya bukan berharap ada korban. Ia hanya cukup jujur untuk mengakui bahwa dunia sering bergerak setelah terlambat.

at Arya meninggalkan halaman Polres, ia menoleh sekali dan berkata sangat pelan, "Kalau Jumat ada yang hilang lagi, Bu Sari, telepon saya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!