Kisah seorang anak yang di buang oleh keluarganya karena memiliki sisik hitam memenuhi sekujur tubuhnya.
Ya, Kania anak itu. Anak yang membuat orang akan takut melihatnya. Akankah dia bahagia atau terpuruk di kehidupan ini. ikuti kisahnya sampai tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon akos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. TUJUH TAHUN KEMUDIAN.
TUJUH TAHUN KEMUDIAN.
Waktu terus berlalu hingga tidak terasa si kecil Kania kini sudah menginjak usia tujuh tahun dan mulai masuk sekolah dasar.
Kania tumbuh menjadi anak yang pintar dan rajin dan tentunya dengan paras yang cantik.
Bi Desi mendidik dan menyayangi Kania begitu tulus, Dia memperlakukan Kania bagai putri kandungnya sendiri.
Lain halnya dengan Gina, dari awal mula Bi Desi dan Kania datang ke kediaman mereka sepertinya perempuan dengan paras cantik dan selalu berpenampilan glamour itu begitu benci pada mereka berdua.
Entah apa yang membuat Gina seolah-olah ingin menelan hidup-hidup anak kecil yang tidak tahu apa kesalahanya pada perempuan itu.
Ada yang benci tentu saja ada yang menyukai Kania kecil. Ya Tuan Baron, pria yang sudah menginjak umur empat puluh tahun lebih itu menyayangi Kania seperti Dia menyayangi Rakhel. Tuan Baron tidak pernah membeda-bedakan kedua putri kecil yang berdiam satu atap denganya.
Setiap ada tugas diluar kota, Tuan Baron selalu menyempatkan diri untuk membeli boneka atau kah sekedar oleh-oleh untuk kedua anak gadis tersebut.
Pagi itu, Kania dan Rakhel sudah bersiap-siap berangkat ke sekolah bersama dengan Tuan Baron karena Tujuan mereka searah.
Mereka berdua bersekolah di sekolah elite para bangsawan.
Seperti biasa, Rakhel pasti menolak jika berangkat ke sekolah bersama dengan Kania. Entahlah, dia sudah di racuni pikiranya ataukah tidak oleh Ibunya, Rakhel juga tidak pernah menyukai Kania sama seperti Gina Ibunya.
"Apa kalian berdua sudah siap?," tanya Tuan Baron yang sudah berdiri di depan pintu dengan setelan jas hitam sembari mengancing jasnya di bagian pergelangan tanganya.
"Ayah, Aku tidak mau satu mobil dengan anak pelayan itu," tujuk Rakhel pada Kania.
"Rakhel, ingat, Ayah tidak pernah mengajarimu berkata kurang sopan seperti itu, Kania ini saudaramu juga, dia besar dan tumbuh satu atap denganmu," balas Tuan Baron dengan memplototkan kedua matanya pada Rakhel hingga membuat gadis kecil itu ketakutan dan berlari memeluk kaki Gina yang kala itu berdiri tak jauh dari mereka.
"Mas, kenapa Kamu begitu marah pada putri kita, toh apa yang di katakan Rakhel itu benar, Kania memang anak pelayan di rumah kita bukan?, jangan takut sayang, Mommy ada bersamamu," belah Gina sembari mengusap lembut rambut Rakhel yang kala itu bersembunyi di kaki jenjangnya.
"Gina, ini yang tidak Aku suka darimu, Kamu sering sekali membelah dan membenarkan ucapan dan perilaku Rakhel yang kurang baik. Ingat Gina, mungkin kamu menganggap hal ini wajar karena kamu Mommynya, tapi tanpa kamu sadari kalau kamu telah membentuk karakter Rakhel sejak dini untuk bersifat arogant dan tidak memiliki tata krama," kini bentakan Tuan Baron beralih ke Gina.
"Mas, Rakhel ini anak Kita kenapa kamu sering sekali memojokkanya dan membelah anak yang tidak kita tahu asal usulnya itu," kembali suara Gina meninggi melawan perkataan Tuan Baron.
"Gina.........,"
"Sudalah Tuan, Nyonya, tidak baik meributkan hal kecil seperti ini di depat anak-anak. Soal Kania itu gampang, biar Saya pesan taxi online untuknya, Kamu maukan sayang?," Bi Desi membelai rambut panjang Kania.
"Betul paman, Kania tidak apa-apa kok," Kania dengan senyum begitu manis walau sebenarnya hati kecilnya sedikit pilu dengan ucapan Rakhel dan Gina yang selalu memanggil anak tidak jelas.
"Itu kan Mas, apa Aku bilang, mereka berdua pasti tahu diri dengan posisi mereka dirumah ini jadi, Mas tidak perlu membuang banyak energi dan berpikir untuk membelah mereka apa lagi memojokkan Rakhel," senyum Gina sembari menatap kearah Bi Desi dan Kania.
"Aku pemimpin dirumah ini, barang siapa yang tidak suka dengan keputusanku boleh hengkang kaki sekarang juga," ucap Tuan Baron dengan tegas.
Ucapan Tuan Baron membuat keempatnya langsung terdiam. Ya, mau hidup seatap dengan Tuan Baron otomatis harus mengikuti perintah dan juga peraturan-peraturan yang sudah Dia tetapkan sebelum-sebelumnya.
Setelah perdebatan pagi itu, Kania dan Rakhel pun ikut dengan Tuan Baron.
"Bu Kania berangkat," cium Kania pada punggung tangan Bi Desi.
"Iya sayang, belajar yang rajin dan jangan nakal di sekolah. Ini bekal kamu dan harus di habisi," Bi Desi memberi sebuah rantang kecil pada Kania yang sudah di bungkus rapi dengan kain.
"Baik Bu, Assalamualaikum," ucap Kania berlari kecil kearah mobil dimana Tuan Baron dan Rakhel sudah berada di dalam mobil dan duduk pada kursi penumpang.
"Wa ‘alaikumus salam," balas Bi Desi menatap kearah Kania yang saat itu masuk kedalam mobil dan duduk bersampingan dengan Tuan Baron.
Tidak berselang lama kemudian, mobil mereka pun melaju, Pak Agus yang kala itu menjadi sopir pribadi Tuan Baron menjalankan kendaraan dengan kecepatan sedang menuju kearah sekolah sebelum menuju ke perusahaan Tuan Baron.
"Rakhel, apa tugas yang di berikan Ibu guru padamu sudah kamu selesaikan?," tanya Tuan Baron di tengah-tengah perjalan mereka menuju kearah sekolah.
"Su...dah," jawab Rakhel terbata-bata.
Bukan Tuan Baron namanya kalau dia tidak tahu kalau saat itu Rakhel sedang membohonginya.
"Ayah tidak suka kalau kamu berbohong, Mommymu itu benar-benar tidak pernah memperhatikanmu, Dia hanya sibuk dengan dunianya sendiri. cepat kerjakan sebelum kita tiba di sekolah,".
"Baik Ayah," Rakhel menguluarkan alat tulis dari tas kecilnya dan mulai mengerjakan tugasnya seperti perintah Tuan Baron.
Setelah Rakhel mulai menulis, Tuan Baron sedikit memutar badan kearah Kania yang saat itu menatap kearah luar jendela menikmati keindahan kota pagi itu.
"Kania, apa yang membuatmu sedih, tolong cerita pada Paman," Tuan Baron membelai pucuk kepala Kania hingga membuat gadis kecil itu sedikit tersentak.
"Maafkan Kania Paman, Kania hanya memikirkan keluarga Kania," jawabnya menunduk.
Tuan Baron mengerutkan dahinya, Dia benar Paham apa maksud ucapan Kania itu.
"Apa selama ini ada yang mengusikmu, bilang pada Paman biar paman menegurnya," kembali sekali lagi Tuan Baron membelai rambut panjang bocah itu.
Kania hanya menunduk dan tak berani mengangkat wajahnya, Tuan Baron pun tidak melanjutkan pertanyaanya karena tidak tegah membuat gadis kecil itu bertambah sedih.
Tidak berselang lama kemudian kini kendaraan yang mereka tumpangi sudah berhenti di depan sebuah bangunan mengah bertingkat tiga yang berdiri kokoh di pinggir jalan poros.
Pak Agus berlari kecil membuka daun pintu mobil bagian belakang.
"Silahkan Nona Rakhel,"
Rakel tidak menjawab, dia segera memasukkan alat tulisnya kedalam tas dan berlari menuju kearah pintu gerbang sekolah.
Setelah Rakhel, kini giliran Kania dibukankan pintu oleh Pak Agus.
"Silahkan Kania,"
"Terima kasih, Pak," ujarnya sambil keluar dari dalam mobil.
"Paman, Kania masuk dulu," Kania menyalami tangan Tuan Baron sembari menciumnya.
"Belajar yang Rajin, Jika ada yang mengganggumu beri tahu Paman, biar Paman membuatnya menjadi badut,"
Ucapan Tuan Baron membuat Kesedihan Kania berubah. Tuan Baron selalu bisa menghapus kesedihan gadis kecil itu dengan ucapan konyolnya walau kedengaranya tegas.
"Apa boleh Aku memeluk Paman walau sekejap saja," Kania sedikit memelas.
Lama Tuan Baron terdiam hingga Kania berbalik dan melangkah menuju ke pintu gerbang.
"Kemarilah, Kania boleh memuluk Paman kapan pun Kania mau," Tuan Baron keluar dari dalam mobil dan mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh kecil kania lalu membentangkan kedua tanganya.
Kania kembali berbalik dan menghamburkan pelukanya dalam tubuh besar Tuan Baron.
"Kania sayang Paman, terima kasih atas semuanya,"
"Paman juga menyayagimu seperti putri Paman sendiri, tetaplah kuat karena Paman akan selalu ada untukmu," Tuan Baron memeluk erat tubuh kecil Kania.
👉Terus beri like, coment, vote dan rate bintang lima. Terima kasih.
semoga saja tuan Baron bisa dengan cepat menyelesaikan urusan nya
apakah Arnold jodoh nya Kania 🤔
dia si Dewi ular 🐍 anak mu bang🤭
tau gak ya kalau Kania itu anaknya Lidia
semangat kak
sukurin lo nyonya GINA yang sombong
wah bisa seru ini cerita nya
semoga Kania dan bi Desi selalu di lindungi oleh ular raksasa itu
aku lanjut aja ah .... semoga tambah seru
kasian bayi itu dia juga tidak mau keluar dengan kulit yang seperti itu