Dia terlihat piawai bermain dengan ekspresi dan gesture tubuhnya. Bergaya dengan busana elegant dan mewah. Ketampanannya adalah anugerah dan ekspresi adalah bahasa jiwa. Membuat semua wanita dan rekan bisnisnya berdecak kagum.
Namun siapa sangka, di balik kegemilangan kariernya, ia menyimpan sisi gelap yang hidup di alam bawah sadarnya. Latar belakangnya Kesepian dan kepedihan hidupnya ia sembunyikan dengan sekeras-kerasnya hingga nyaris tidak memiliki kehidupan pribadi. Bahkan ia tidak mengerti apa itu cinta. Yang ia pahami hanya rasa sakit dan tersisih.
Dalam perjalanan alam bawah sadar ia menciptakan pribadi lain di saat ada guncangan emosional datang. Entah saat sedih atau gembira, bahkan saat bercinta,
ia menjelma menjadi pribadi lain yang bernama Rava Alexi Ortama, dengan sifat yang sangat cerdas, licik, dingin, psikopatik dan sangat bengis.
Saat menjadi Rava, yang ia pikirkan adalah mencari teman untuk dirinya di masa lalu. Semua orang harus mengalami rasa sakit, penderitaan, kesepian, ketakutan, sama seperti yang dirasakannya selama ini.
Penasaran dengan kisahnya, yuk simak jangan lupa tinggalkan jejak.
Cover by pinteres.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan kedua
Setiap orang pasti pernah berkhianat meski itu orang terdekat sekalipun.
"Beby..! Beb!" panggil Rina dari arah pintu gerbang berlari menghampiri Beby.
"Rina? ada apa kau lari lari? kaya di kejar debt collector saja" goda Beby, lalu tertawa kecil.
"Ah kau ini, di panggil dari tadi nggak dengar." Sungut Rina.
"Ayo cepat masuk, nanti kita terlambat!" sela Beby melirik jam tangannya.
Rina mengangguk lalu mereka berjalan bersama. Di sela sela langkahnya, Rina menceritakan kalau besok akan ada audisi untuk wanita berusia 20 tahun untuk di jadikan artis salah satu anak perusahaan agensi GN ENTERTAINMENT.
"Aku dengar gosip kalau Pak Rava memasukkan kau menjadi salah satu pesertanya." Kata Rina.
"Ah yang bener saja, hahahaha!" Beby tertawa terbahak bahak hingga mengundang perhatian karyawan lainnya. "Upss!"
"Serius Beb, kalau tidak percaya tanya galih deh." Rina berusaha meyakinkan sahabatnya.
Beby menghentikan langkahnya menoleh ke arah Rina. "Kau yakin?"
Rina pun menganggukkan kepalanya, kemudian Beby terdiam sesaat. "Kalau memang benar ya aku mau ikut, siapa tahu hidupku berubah tidak menjadi cleaning service lagi. Tapi kenapa aku ikut terpilih? bukankah karyawan di sini banyak yang lebih cantik?"
Rina menggelengkan kepala, ia juga tidak mengerti. Namun sepengetahuan dia, Rava yang menjadi bos besar perusahaan itu terkenal baik, dermawan, murah hati.
"Sudahlah, mungkin itu rezekimu." Kata Rina.
Terbersit keraguan di hati Beby tentang penilaian Rina terhadap bos nya itu. Apalagi setelah menyaksikan kejadian Mira yang di tuduh gila. Tapi Beby kembali menepisnya, bukankah audisi rame tame? tidak sendirian?
"Hei, malah bengong. Ayo kerja!" seru Rina.
Beby tertawa kecil, lalu masuk ke dalam pantry di ikuti Rina. Mereka berdua mulai melakukan pekerjaannya masing masing.
Detik berlalu, menit berganti. Beby menyekesaikan pekerjaannya dengan tenang. Jam istirahat, Beby di panggil Rava untuk menemuinya. Beby pun bergegas menemui Rava di ruangannya.
"Bapak memanggilku?" tanya Beby, berdiri di hadapan Rava.
Rava hanya mengangguk kecil, lalu menyerahkan selembar kertas kepada Beby.
"Isi formulir ini, besok aku akan mengikutsertakan kau ke dalam audisi yang akan di adakan oleh perusahaan." Jelas Rava.
"Maksud Bapak, aku mau di jadikan artis?" tanya Beby setengah tidak percaya
"Kau benar, tapi itupun kalau kau berhasil lolos dalam serangkaian tes." Kata Rava.
"Tes?" tanya Beby mengulang.
"Tentu saja, kau pikir bisa dengan mudah menjadi seorang artis?" Jelas Rava.
"Baik Pak, terima kasih sebelumnya!" sahut Beby senang.
Rava tersenyum, matanya terus memperhatikan setiap lekukan tubuh Beby. Menggigit bibir bawahnya dengan sorot mata tajam seakan ingin menelanjangi Beby.
Beby mengerutkan dahi memperhatikan raut wajah Rava, terlihat menakutkan. Tapi Beby bukanlah gadis penakut, ia balas tatapan Rava dan berkata.
"Bapak kenapa melihatku seperti itu?"
"Tidak ada!" sahut Rava. "Pergilah, dan persiapkan dirimu buat ikut audisi." Perintah Rava.
"Baiklah Pak!" Beby balik badan, lalu melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Rava.
Beby berlari menuju kantin menyusul Rina dan Galih. Untuk menyampaikan kabar berita bahagia dan harapan besar untuk Beby.
Sesampainya di kantin, Beby langsung duduk di kursi, berhadapan dengan Rina dan Galih. Lalu menceritakan apa yang di katakan Rava padanya di kantor
"Benar kan? itu bukan gosip?" tanya Rina.
"Benar Rin, aku senang sekali!" seru Beby antusias.
"Semoga berhasil dan lulus audisi." Timpal Galih.
"Terima kasih!"