NovelToon NovelToon
Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Serangan Pembunuh Bayaran Bertopeng.

Suasana meriah di pasar malam distrik timur Kota Kadipaten mulai terasa bergeliat sejak matahari tergelincir ke arah barat. Lentera-lentera kertas beraneka warna mulai digantung di sepanjang deretan kedai kayu, menyinari hilir mudik warga dan pedagang kain. Namun, di tengah hiruk-pikuk bau ketan bakar dan sate kambing, Erlang dan Sekar Arum berjalan dengan kewaspadaan yang kian merapat.

Langkah kaki Erlang yang memikul bambu tuanya mendadak melambat saat mereka memasuki sebuah lorong sempit berlantai tanah di belakang deretan gudang penyimpanan jagung yang sepi. Angin malam yang berembus dari arah timur mendadak membawa hawa yang sangat dingin dan amis, pertanda adanya niat membunuh yang sangat pekat sedang mengunci posisi mereka berdua.

"Nimas Sekar, berhenti sebentar," bisik Erlang santai namun nadanya berubah menjadi sangat waspada. "Waduh, tikungan di depan ini kok mendadak sepi sekali ya, padahal di jalan utama tadi ramai orang berjualan tahu petis."

Sekar Arum langsung menghentikan ayunan langkahnya, tangan kanannya secara refleks bergerak meraba lipatan kain di pinggangnya. "Aku juga merasakannya, Erlang. Getaran hawa di sekitar kita mendadak bergejolak tidak keruan. Ada yang sedang mengintai dari atas atap gudang."

Belum sempat Erlang menurunkan pikulan bambunya, tiga bayangan hitam melompat turun dari kegelapan atap rumbia dengan gerakan yang sangat luwes dan tanpa suara, mendarat tepat mengepung jalur depan dan belakang mereka. Ketiga orang asing itu mengenakan pakaian serbahitam yang ketat dan wajah mereka ditutupi oleh topeng kayu bermotif wajah raksasa bertaring. Di tangan mereka, tergenggam bilah belati panjang berlekuk tiga yang memancarkan pendaran cahaya biru, pertanda bilah besi murni itu telah diolesi racun katak pohon yang mematikan.

"Waduh, Gusti... malam-malam begini kok malah kedatangan tamu bertopeng seram toh," gurau Erlang polos, meskipun sepasang mata jernihnya langsung mengunci setiap pergerakan para pengepung. "Paman-paman bertopeng ini mau menawarkan mainan pasar malam atau ada urusan lain dengan kain lusuh saya?"

Salah seorang pembunuh bayaran yang berdiri di depan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mendengus rendah, lalu membuat sebuah gerakan tangan yang sangat rumit, menyilangkan kedua lengan di depan dada sebelum mengentakkan kaki kanannya ke tanah, menciptakan getaran hawa murni beraliran angin puyuh yang memutar debu-debu tanah membentuk pusaran kecil.

Melihat gerakan pembuka tersebut, sepasang mata bulat Sekar Arum di balik bedak kusamnya langsung membelalak sempurna karena syok yang amat sangat. “Gusti Allah... itu... itu jurus dasar 'Semburat Angin Pakuan'!” batin Sekar menjerit kencang, jantungnya berdegup sangat keras. “Itu adalah jurus rahasia komando pasukan sandiyuda istana ayahu sendiri! Mereka bukan pasukan bayaran Gagak Hitam biasa... mereka adalah prajurit elit rahasia dari lingkaran dalam Kerajaan Jenggala!”

"Erlang! Hati-hati!" teriak Sekar Arum panik, kegusaran batin tentang rahasia identitas aslinya kembali bergejolak hebat di dalam dadanya. "Jangan sampai terkena sabetan belati mereka! Gerakan kaki mereka menggunakan metode Langkah Bayang Keraton, serangannya sangat cepat dan bisa menembus titik murni secara acak!"

"Nggih, Nimas Sekar! Tetaplah berdiri di belakang saya!" sahut Erlang sigap.

Wusss!

Dua pembunuh bertopeng di depan melesat maju secara bersamaan dengan kecepatan yang hampir menyamai sambaran petir malam. Belati beracun mereka bergerak mematung, mengincar leher dan jantung Erlang dari dua sudut yang berlawanan. Serangan mereka beneran sangat rapi, disiplin, dan dingin, khas dari pasukan terlatih yang terbiasa membantai pejabat tinggi di dalam kegelapan kamar istana.

Erlang menggeser kaki kanannya membentuk setengah lingkaran, menggunakan gerak dasar Langkah Bambu Gurun untuk memiringkan tubuhnya setipis jengkal rambut. Sret! Sret! Dua mata belati beracun itu hanya berhasil merobek udara kosong di samping telinga Erlang.

Tanpa membuang waktu sekejap pun, pembunuh ketiga melesat dari arah belakang Sekar Arum, melepaskan sebuah pukulan telapak tangan yang memancarkan cahaya keunguan, sebuah teknik rahasia istana bernama Pukulan Penghancur Inti yang khusus digunakan untuk melumpuhkan aliran tenaga dalam musuh dalam sekali ketuk.

"Jangan berani-berani menyentuh Nimas Sekar toh!" bentak Erlang tegas.

Dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi manusia biasa, Erlang memutar tubuhnya secepat pusaran gasing. Pikulan bambu tuanya diayunkan menggunakan satu tangan dengan teknik Tepukan Bambu Air. Bakkk! Ujung bambu tua Erlang menghantam pergelangan tangan pembunuh ketiga dengan sangat akurat sebelum pukulan ungunya sempat menyentuh ujung jubah sutra biru Sekar.

Krak!

Suara patah tulang yang halus terdengar disusul lolongan tertahan dari balik topeng kayu tersebut. Pembunuh itu terlempar ke belakang sejauh lima langkah, memegangi tangannya yang mendadak terkunci total oleh getaran hawa murni tak terbatas milik Erlang.

Dua pembunuh lainnya yang melihat rekannya tumbang dalam sekali ketukan tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Aliran batin mereka justru kian dingin dan kejam. Mereka kembali menyilangkan belati, melepaskan gelombang pisau angin tak kasatmata yang berdesing kencang memenuhi lorong sempit, memotong tiang-tiang kayu gudang jagung di sekitar mereka hingga berjatuhan.

"Nimas Sekar, peluk punggung saya yang erat nggih!" seru Erlang panik melihat serangan pisau angin itu mengarah langsung ke posisi mereka berdua.

Sekar Arum yang hatinya sudah meleleh sepenuhnya sejak kejadian pagi tadi di paviliun tanpa ragu sedikit pun langsung merapatkan tubuh rampingnya, memeluk punggung hangat Erlang dengan kedua lengannya yang erat. Aroma harum murni dari tubuh Sekar mendadak membuat konsentrasi Erlang meningkat dua kali lipat menjadi kian tajam.

Bumss!

Pusaran energi hangat di balik baju Erlang meledak membentuk kubah pelindung murni beraliran panas setinggi badan manusia. Semua pisau angin tak kasatmata milik jurus rahasia istana Jenggala itu hancur berantakan menjadi uap air begitu menghantam permukaan kubah batin Erlang yang luar biasa kokoh.

"Waduh, paman-paman bertopeng ini beneran keterlaluan ya, menyerang terus tanpa mau diajak mengobrol baik-baik," kata Erlang santai sembari melangkah maju satu tindak membawa tubuh Sekar yang masih menempel erat di punggungnya.

Erlang mengentakkan ujung bawah bambu tuanya ke atas tanah dengan satu kali dorongan energi murni horizontal. Wuuusss! Sebuah gelombang tekanan beraliran panas menyapu permukaan tanah lorong, menciptakan angin kencang yang langsung menerbangkan topeng-topeng kayu ketiga pembunuh tersebut hingga hancur berkeping-keping di udara.

Begitu topeng mereka lepas, wajah-wajah asli para penyerang itu terpampang nyata di bawah temaram cahaya lentera pasar malam. Mereka adalah pria-pria paruh baya dengan potongan rambut cepak khas prajurit wetan, dan di leher kiri mereka masing-masing terdapat sebuah rajah tato kecil berbentuk burung garuda mencengkeram ular naga, tanda mutlak pasukan rahasia sandiyuda bentukan Tumenggung Rekso Prana.

Melihat wajah-wajah yang sangat ia kenali sebagai mantan pengawal kehormatan di lingkungan istana ayahnya, Sekar Arum mendadak lemas di dalam dekapan punggung Erlang. Rasa takut yang amat sangat menghimpit dadanya, bukan takut mati karena serangan, melainkan takut jika Erlang menyadari bahwa pembunuh-pembunuh kejam ini adalah orang-orang yang digerakkan dari pusat lingkaran keluarganya sendiri.

"M-mundur... kita harus mundur! Ilmu bocah ini sudah mencapai tingkat murni jagad raya!" seru salah seorang pemimpin pembunuh dengan suara bergetar ketakutan, menyadari bahwa seluruh teknik rahasia istana milik mereka tidak ada gunanya sama sekali di depan ketukan sebatang bambu tua Erlang.

Dalam sekejap mata, ketiga prajurit elit yang telah terluka itu melemparkan beberapa butir bom asap belerang ke atas tanah. Blarrr! Asap putih tebal seketika membubung tinggi membutakan pandangan, dan saat angin malam meniup sisa asap tersebut, ketiga sosok penyerang bertopeng itu telah melarikan diri melompati pagar pembatas distrik timur tanpa meninggalkan jejak fisik sedikit pun.

Erlang tidak berniat mengejar lebih jauh. Ia perlahan menurunkan sirkulasi hawa hangat di dadanya, lalu berbalik tubuh dengan lembut untuk memeriksa kondisi Sekar Arum yang tampak diam mematung dengan wajah yang sangat pucat pasi di bawah siraman cahaya lentera malam.

"Nimas Sekar... Nimas tidak apa-apa toh?" panggil Erlang perlahan dengan nada suara yang sangat lembut dan penuh kekhawatiran yang tulus. "Ada yang terluka tidak? Maaf nggih, tadi saya gerakannya agak terlalu cepat sampai membuat Nimas pusing."

Sekar Arum mengerjapkan sepasang matanya yang bulat, menatap wajah polos Erlang dengan binar mata yang dipenuhi oleh gejolak rasa bersalah, rasa cinta, dan dilema moral yang kian meremukkan batinnya. Ia menggelengkan kepalanya pelan, lalu merapikan kembali kain jubah sutra birunya yang agak berdebu dengan gerakan tangan yang sedikit bergetar halus.

"Aku... aku tidak apa-apa, Erlang," bisik Sekar Arum dengan suara yang terdengar sangat manis namun sarat akan kesedihan tersembunyi. "Terima kasih banyak ya... kau lagi-lagi sudah menepati janjimu untuk menjadi pelindung terbaik yang melindungiku dari mara bahaya luar malam ini."

"Ah, sudah menjadi kewajiban saya kok, Nimas," jawab Erlang santai sembari tersenyum renyah, kembali mengangkat pikulan bambu tuanya ke atas pundak kanan. "Tapi... paman-paman bertopeng tadi itu beneran aneh ya. Jurus-jurusnya rapi sekali seperti orang yang sering latihan berbaris di alun-alun besar. Apa mungkin mereka itu beneran orang-orang kiriman dari pejabat Kerajaan Jenggala yang tertulis di potongan surat kemarin toh?"

Sekar Arum memalingkan wajah cantiknya ke arah kegelapan malam, tidak berani menatap kejujuran di sepasang mata jernih Erlang. “Nggih, Erlang... mereka beneran orang-orang dari istana ayahku,” ratap Sekar di dalam lubuk batinnya yang paling dalam dengan penuh kepedihan. “Dan kenyataan itu membuatku kian tidak berani untuk jujur kepadamu tentang siapa diriku yang sebenarnya... Aku sangat takut jika takdir ini akhirnya akan memaksa kita untuk berdiri di dua sisi mata pedang yang saling berlawanan.” masih dalam batinya.

"Erlang," panggil Sekar perlahan, menguasai kembali ketegangan wajahnya dengan seulas senyuman manis yang dipaksakan sealami mungkin. "Mari kita segera meninggalkan lorong sepi ini dan berjalan kembali ke jalur utama pasar malam. Sisa-sisa pasukan rahasia tadi pasti akan segera melaporkan kegagalan mereka, jadi kita harus kian cepat menemukan keberadaan Mbah Wiro di distrik timur ini sebelum situasi kota berubah menjadi kian kacau."

"Nggih, beneran itu Nimas Sekar! Ayo kita jalan lagi, sekalian saya mau membungkus beberapa potong tahu petis hangat untuk mengganjal perut yang mulai lapar ini," sahut Erlang ceria, kembali memamerkan senyuman polosnya yang seketika mencairkan seluruh kabut ketakutan di hati Sekar.

Kedua pengembara muda itu melangkah keluar dari kegelapan lorong sempit. Meskipun sebuah ancaman besar dari teknik rahasia istana baru saja menghadang langkah mereka, ikatan janji suci dan keteguhan rasa saling menjaga yang membungkus batin Erlang dan Sekar Arum tetap berdiri tegak tak tergoyahkan, menuntun ayunan kaki mereka kian dalam menembus pusaran misteri persilatan tanah selatan yang kian sarat akan intrik berdarah.

1
anggita
novel laga lokal yg cukup menghibur 👌
anggita
nama jurus yg sederhana namun tetap keren👌👍
Rokok Remik
sampai bab ini ceritanya bagus.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!