NovelToon NovelToon
Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Kayla menatap pantulan dirinya di depan cermin. Ia mengenakan blus berwarna krem dengan riasan tipis. Penampilannya dibuat sesederhana mungkin. Hari itu, Kayla telah mengambil sebuah keputusan. Kalau Mahesa belum mampu memperjuangkannya. Maka ia akan bergerak sendiri.

Menurut Kayla, langkah pertama adalah mengambil hati kedua orang tua Mahesa. Bagaimanapun juga, jika Aurel benar-benar bercerai dengan Mahesa, mereka tentu akan membutuhkan seorang menantu baru. Dan Kayla ingin menjadi orang itu.

Mobil Kayla berhenti di depan rumah orang tua Mahesa. Ia menarik napas panjang sebelum menekan bel.

Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Ibu Mahesa berdiri di balik pintu.

Begitu melihat siapa tamunya, wajah beliau langsung berubah.

"Kayla?"

Kayla tersenyum canggung. "Assalamu'alaikum, Bu."

Tidak seperti biasanya. Tidak ada senyum hangat yang menyambutnya. Tidak ada sapaan akrab.

Ibu Mahesa hanya menjawab pelan. "Wa'alaikumussalam."

"Ada perlu apa?" tanya Ibunya Mahesa tanpa terkesan ramah.

Kayla berusaha tetap tersenyum. "Aku... boleh masuk sebentar, Bu?"

Beberapa detik berlalu. Dengan ragu, ibu Mahesa akhirnya bergeser memberi jalan. "Masuk."

Kayla melangkah ke ruang tamu. Suasana rumah itu terasa sangat berbeda. Rumah yang dulu selalu membuatnya merasa diterima, kini justru terasa asing.

Tak lama kemudian, ayah Mahesa keluar dari ruang kerjanya. Beliau menghentikan langkah ketika melihat Kayla.

"Kamu?"

"Iya, Pak." Kayla berdiri dan menundukkan kepala.

"Aku datang mau minta maaf."

Ayah Mahesa tidak menjawab. Beliau memilih duduk di kursi yang berhadapan dengan Kayla.

"Katakan." Ayahnya Mahesa berkata dengan tegas.

Kayla menarik napas panjang. "Aku tahu Bapak dan Ibu kecewa."

"Aku juga tahu aku salah."

"Tapi aku benar-benar mencintai Mahesa." Kalimat Kayla membuat ibu Mahesa memejamkan mata.

"Sudah cukup, Kayla." Beliau berkata lirih.

"Tolong jangan lanjutkan."

Namun Kayla menggeleng. "Aku ingin jujur."

"Selama tujuh tahun aku dan Mahesa saling mencintai."

"Aku datang ke sini bukan untuk mencari pembenaran."

"Aku hanya berharap..." Kayla menelan ludah.

"Bapak dan Ibu bisa menerima aku."

Ruangan mendadak sunyi. Ayah Mahesa menatap Kayla tanpa berkedip.

"Terima?" Suara beliau datar.

"Iya, Pak."

"Kalau nanti Mahesa dan Aurel benar-benar berpisah..."

"Aku ingin menjalani hubungan ini secara baik-baik."

Belum selesai Kayla berbicara, ayah Mahesa mengangkat telapak tangannya. "Cukup." Suaranya tidak keras. Namun cukup membuat Kayla menghentikan ucapannya.

"Kamu tahu kenapa dulu kami menyayangimu?"

Kayla mengangguk pelan.

"Karena kami menganggapmu teman Aurel."

"Karena kami percaya kamu perempuan baik."

"Karena kami tidak pernah menyangka kamu justru melukai orang yang menganggapmu saudara." kata Ayahnya Mahesa secara beruntun.

Kayla menundukkan kepala. "Aku menyesal, Pak."

Ayah Mahesa menggeleng. "Penyesalanmu datang setelah tujuh tahun."

"Dan yang lebih membuat saya sedih..." Beliau menarik napas panjang.

"Kamu datang ke rumah ini bukan untuk meminta maaf kepada Aurel."

"Tapi untuk menggantikan posisi Aurel."

Wajah Kayla langsung pucat. "Itu bukan maksud saya..."

"Lalu apa maksudmu?" Ayah Mahesa menatap Kayla tajam.

"Kamu bilang ingin kami menerima kamu."

"Padahal luka yang kamu tinggalkan pada Aurel bahkan belum mengering." Ibu Mahesa yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara.

"Kayla." Nada suara ibunya Mahesa lembut, tetapi penuh kekecewaan.

"Dulu Ibu pernah bilang, kalau suatu hari kamu menikah, Ibu ingin datang sebagai tamu."

"Tapi tidak pernah terlintas sedikit pun bahwa laki-laki yang kamu pilih adalah suami sahabatmu sendiri."

Air mata Kayla mulai mengalir. "Bu..."

Ibu Mahesa menggeleng pelan. "Ibu tidak membencimu."

"Tapi hati Ibu belum sanggup menerima semua ini."

Ayah Mahesa berdiri dari duduknya. "Mulai hari ini, sebaiknya kamu jangan datang lagi ke rumah kami."

Kalimat itu membuat Kayla membeku. "Pak..."

"Kami tidak bisa berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa."

"Dan kami tidak akan pernah menganggap ada 'pengganti Aurel'." Beliau menatap Kayla dengan tegas.

"Siapa pun yang nanti menjadi pendamping Mahesa, itu urusan masa depan."

"Tapi jangan datang ke rumah ini dengan menganggap posisi Aurel sudah kosong."

"Karena bagi kami, luka yang ditinggalkan masih terlalu dalam."

Kayla menggigit bibirnya menahan tangis. Ia perlahan berdiri. Tidak ada lagi yang bisa diucapkannya. Dengan langkah pelan, ia berjalan menuju pintu.

Sebelum keluar, Kayla sempat menoleh. Namun tak satu pun dari kedua orang tua Mahesa menghentikannya. Pintu itu tertutup di belakangnya. Dan untuk kedua kalinya dalam beberapa hari terakhir. Seseorang pulang dari rumah itu dengan hati yang jauh lebih berat daripada saat datang.

♡♡♡

Mobil Kayla berhenti tepat di depan rumah Mahesa. Rumah itu begitu ia kenal. Dulu, ia sering datang ke sana. Membawa makanan. Mengobrol bersama Aurel. Bahkan sesekali membantu Aurel menyiapkan hidangan jika ada acara keluarga.

Tak pernah ada yang menaruh curiga. Karena saat itu. Kayla datang sebagai seorang sahabat.

Hari ini, langkah Kayla terasa jauh lebih berat. Tatapannya tertuju pada sebuah mobil yang terparkir di halaman. Mobil Mahesa.

Kayla mengembuskan napas lega.

"Syukurlah..."

"Berarti dia ada." kata Kayla.

Tanpa berpikir panjang, Kayla membuka pagar yang memang tidak terkunci. Halaman rumah begitu sepi. Tidak terdengar suara televisi. Tidak ada suara tawa Raka. Tidak ada aroma masakan dari dapur. Rumah itu terasa kehilangan kehidupan.

Kayla melangkah menuju pintu. Pintu utama ternyata tidak terkunci rapat. Aurel mengetuk pelan.

"Mahesa?"

Tidak ada jawaban. Kayla kembali mengetuk. Tetap sunyi.

"Mahesa... aku masuk ya." Perlahan, Kayla membuka pintu.

Ruang tamu tampak rapi. Namun suasananya begitu dingin. Tak lama kemudian, pandangannya berhenti pada sosok laki-laki yang duduk sendirian di sofa. Mahesa. Masih mengenakan kaus yang sama sejak pagi. Rambutnya berantakan. Janggut tipis mulai tumbuh di wajahnya. Tatapannya kosong mengarah ke jendela. Seolah tidak menyadari waktu terus berjalan.

Kayla berjalan mendekat.

"Mahesa..." panggil Kayla dan suara itu membuat Mahesa perlahan menoleh.

Tatapan mereka bertemu. Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.

Mahesa tampak terkejut melihat Kayla berada di dalam rumahnya.

"Kamu?"

Kayla mengangguk pelan. "Aku ke rumah orang tuamu tadi."

Wajah Mahesa langsung berubah. "Kamu ngapain ke sana?"

"Aku cuma ingin bicara baik-baik."

"Mereka mengusirku."

Mahesa memejamkan mata sejenak. Ia sudah bisa menebak bagaimana pertemuan itu berakhir.

Kayla duduk di sofa yang berhadapan dengannya. "Aku juga ke sini karena ingin ketemu kamu."

Mahesa mengusap wajahnya.

"Kay..."

"Kita perlu bicara."

Kayla mengangguk cepat. "Iya."

"Aku juga." Kayla menatap Mahesa dengan penuh harap.

"Aku pikir... sekarang semuanya sudah terbuka."

"Tidak ada lagi yang perlu kita sembunyikan."

Mahesa tidak menjawab. Keheningannya membuat Kayla mulai gelisah.

"Aku sudah kehilangan banyak hal."

"Hubunganku sama keluargaku mulai berantakan."

"Orang tuamu juga menolakku." Kayla menggenggam kedua tangannya sendiri.

"Aku cuma ingin tahu satu hal."

Mahesa akhirnya mengangkat wajah. "Apa?"

"Kamu masih ingin bersamaku?"

Pertanyaan Kayla membuat ruang tamu kembali sunyi. Mahesa menatap wajah Kayla cukup lama.

Lalu pandangannya beralih ke bingkai foto keluarga yang masih berdiri di atas meja. Di dalam foto itu. Aurel tersenyum. Raka tertawa dalam gendongannya.

Mahesa kembali menunduk. Tangannya mengepal pelan.

Sedangkan Kayla masih menunggu jawaban. Jawaban yang selama tujuh tahun selalu ia yakini akan berpihak kepadanya.

Namun kali ini, Mahesa tidak lagi mampu menjawab dengan mudah.

1
Ma Em
Karena Aurel percaya seratus persen pada Galang jadi Aurel tdk menaruh curiga pada dua orang peselingkuh itu sampai bertahun tahun .
jekey
up lg thor
Allea
bagusss
Ma Em
Mahesa selingkuh dgn Kayla selama tujuh tahun dan Aurel tdk curiga sama sekali kalau Kayla sendiri tdk beritahu Aurel sekarang Aurel msh tenang2 saja , benar2 perselingkuhan yg hebat bisa sampai tujuh THN tdk diketahui .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!