Anjani, 21 tahun. Baginya memiliki suami tampan dan mapan adalah keberkahan. Namun, siapa sangka keberkahan itu akan menjadi sebuah ujian. Suami Anjani, banyak didekati wanita cantik nan sexy. Sembari menjalani peran sebagai istri sekaligus mahasiswi di kampus baru, Anjani belajar meredam kecemburuan dan prasangka macam-macam yang seringkali melemahkan kesetiaan.
Ketika Anjani hamil besar, datanglah kabar yang menguji jalinan ikatan cinta halal. Sang suami meminta izin untuk menikahi rekan bisnisnya lantaran sebuah skandal. Apakah Anjani akan mengizinkan dan bertahan menjalani takdirnya bersama sang suami, sembari menahan perih? Atau justru mengakhiri janji suci dan menikah lagi dengan teman kampus yang sedari awal dicemburui oleh sang suami?
Dapat mengobrak-abrik rasamu. Harap bijak untuk tidak baper berlebihan. Enjoy reading dan terima kasih sudah mampir. 💙
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indri Hapsari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 : Kepala Botak
Studio foto menjadi tujuan sore itu. Mario yang masih memakai kemeja kantor menemani Anjani mengambil hasil cetakan foto sehari lalu. Foto yang mengabadikan momen selama menghadiri resepsi pernikahan Meli-Azka, juga keseruan bersama teman-temannya saat di Jogja sengaja dicetak beberapa.
Jarak Anjani dengan sahabat dan teman-temannya memang tak lagi dekat. Akan tetapi, hati dan pikiran mereka dapat mengingat segala kenangan dengan lekat. Sama-sama yakin bahwa persahabatan dan komunikasi akan terus terjalin erat.
"Wow, kamu cetak foto para badut yang ini juga?" Mario mengamati hasil foto-foto yang telah dicetak.
Anjani melotot gemas. Jari jempol dan telunjuknya tak lagi bisa dikondisikan. Langsung didaratkan cubitan di bagian kesukaan. Perut Mario pun tak lepas dari sasaran.
"Berarti kamu badutnya juga. Di foto ini kan juga ada kamu," sahut Anjani, disusul tawa ringan.
Anjani teringat dengan permainan yang dipelopori pasangan uwwu Meli-Azka. Games seru yang mendaratkan coretan lipstik di bagian wajah saat kalah.
"Mas," panggil Anjani.
"Pakai akhiran sayang dong kalau manggil," pinta Mario.
"Mas sayang, kalau aku rindu Meli, tolong anterin ke Jogja, ya?" Anjani tersenyum tulus.
Mario bisa merasakan kesungguhan sang istri dalam kalimatnya. Anjani dan Meli memang sahabat sejati. Mario jelas akan mendukung persahabatan Anjani dan Meli.
"Asal kamu bahagia, sekarang pun akan kuantarkan ke sana." Tanggapan Mario menyentuh hati Anjani.
Dipandanginya cetakan foto-foto di genggaman. Wajah Meli dan Azka dominan, karena merekalah tuan rumah yang tengah berbahagia usai menggelar resepsi pernikahan. Ada pula Vina, Dika, Ken, dan Berlian.
"Em, oya. Apa kamu punya kenalan seorang perempuan?" tanya Anjani tiba-tiba.
"Banyak. Di kantor apalagi. Kenapa? Kamu takut suamimu ini selingkuh seperti adik iparmu?" canda Mario.
"Ya enggak. Aku percaya suamiku yang mirip om-om ini tidak akan pernah selingkuh," sahut Anjani.
Kening Mario mengernyit. Julukan om-om membuatnya sedikit terusik.
"Om-om?" Mario mengulang julukan yang dia dengar.
"Iya, om-om. Ke barber shop, yuk!" ajak Anjani.
"Tunggu-tunggu. Kamu tanya aku punya kenalan perempuan atau tidak hanya karena penampilanku seperti om-om?" Mario memegangi bahu Anjani.
"Bukan. Aku kepikiran Dika. Siapa tahu kamu punya kenalan cewek yang bisa dikenalin sama Dika. Kasihan Dika, Mas. Pasti susah move on dari Meli. Jelas-jelas Meli sudah bahagia dengan Mas Azka," curhat Anjani tiba-tiba.
Oh, tidak! Anjani secara tidak sadar justru mengungkap dalamnya perasaan Dika pada Meli. Dika, teman kuliah Anjani semasa di Jember itu memang sempat menaruh rasa cinta pada Meli.
"Sayang, menurutku sebaiknya kamu tidak perlu terlalu serius mengkhawatirkan Dika. Biarlah rutinitas menyelesaikan kuliah menjadi pelipur hatinya. Apalagi Dika sudah memegang ruko sepatu milikmu yang di Jember. Aku yakin kesuksesan akan menyelimutinya dengan segera. Seiring dengan itu, jodoh pun akan mengiringi ikhtiarnya," tutur lembut Mario.
Kata-kata Mario ada benarnya. Anjani mencerna tutur kata Mario dengan seksama. Terkadang jodoh memang tidak bisa dipaksakan. Namun, setiap insan pastilah akan berpasang-pasangan sesuai dengan apa yang sudah ditakdirkan.
Anggukan kecil tercipta dari Anjani. "Baiklah. Aku percaya Dika akan menemukan kebahagiaannya. Seperti aku yang menemukan kebahagiaan takdirku bersamamu."
Mario mengusap pelan puncak kepala sang istri. Meski usia pernikahan mereka belumlah lama, tapi mereka sama-sama tahu sebuah kunci yang bernama saling memahami.
"Lalu, hubungannya dengan om-om apa? Benarkah tatanan rambutku ini membuatku terlihat tua?" tanya Mario sembari menata rambutnya dengan ujung jari.
"Iya. Aku temani ke barber shop, ya!" Anjani menarik pelan lengan Mario agar segera menuju mobil.
"Harus sekarang?" Mario mencoba mengulur, karena sudah merasa nyaman dengan tatanan rambutnya.
"Sekarang pokoknya. Aku pengen cepet-cepet lihat style barumu!"
Firasat Mario mengatakan bahwa semua ini ada hubungannya dengan masa kehamilan Anjani. Usia kandungan Anjani memang baru memasuki trimester pertama. Kata orang, ngidam itu menjadi hal yang wajar-wajar saja.
"Baiklah. Ayo!" Mario menuruti keinginan Anjani.
Bersorak kegirangan, itulah yang Anjani lakukan. Sebenarnya bukan julukan om-om yang membuat Anjani ingin sekali meminta Mario memotong rambutnya. Perasaan ingin itu tetiba saja bergelora. Rasa-rasanya Anjani sungguh tak sabar melihat Mario dengan style barunya.
"Pilihkan style yang cocok untukku," pinta Mario begitu sampai di barber shopnya.
Ditawari demikian, tentu membuat Anjani tak menyia-nyiakan kesempatan. Lekas dilihatnya macam-macam gaya rambut yang tertera pada poster besar.
"Yang ini," tunjuk Anjani.
"Hm? Yang ini? Kamu yakin?"
"Yakin sekali," sahut Anjani dengan anggukan mantap.
Mario mengusap wajahnya perlahan. Ditatapnya style yang dipilih Anjani pada gambar. Mario benar-benar ingin menuruti keinginan Anjani, tapi .... style pilihan Anjani merupakan style kepala botak.
"Ini ... botak, lho!" lirih Mario. "Kamu nggak salah pilih, kan?" Mario berniat menawar.
"Terus kenapa kalau botak?" tanya Anjani, mendadak jadi sensi.
"Ya ... tidak apa-apa sih? Tapi, sepertinya aku akan terlihat aneh jika pakai style seperti ini," ragu-ragu Mario berpendapat.
Anjani cemberut. Keinginannya untuk segera melihat Mario dengan style barunya sudah tidak bisa dibendung lagi.
"Aku tau sebagian orang ada yang percaya kalau suami tidak boleh potong rambut saat istrinya hamil. Menurutku, bukankah kepercayaan setiap orang itu tergantung pribadi masing-masing? Mau percaya atau nggak, itu tergantung keyakinannya bukan? Apa kamu termasuk salah satunya?" Anjani memberondong tanya.
"Hei, tenang dulu, Sayang. Aku benar-benar mau kok dengan style rambut baru. Tapi kalau botak rasa-rasanya gimana gitu." Mario bingung sendiri jadinya.
"Mas sayang, sekarang ini aku sungguh ingin melihatmu tampil dengan style botak. Mau kuelus-elus kepala botaknya tiap pagi. Gini, deh. Pilih mana? Aku elus-elus kepala botak orang lain atau kepala botakmu?" Anjani serius.
"Ya jangan kepala botak orang lain, dong. Tapi, apa tidak sebaiknya kamu lihat lagi pilihan style lainnya. Gaya rock n roll oke juga lho."
"Tidak mau! Maunya yang botak!" gigih Anjani.
Mario menangkap keseriusan. Mimik wajah Anjani mengisyaratkan keinginan yang tinggi.
Meski keinginan istriku aneh-aneh, tapi kurelakan rasa maluku demi memenuhi hasratnya yang menggebu. Oh kepalaku, maafkan aku. Batin Mario.
"Baiklah. Kepala botak untuk istriku tersayang segera datang. Elus tiap hari biar cepat tumbuh lagi, ya!" pinta Mario.
Perubahan hormon pada seorang wanita hamil tak bisa dipahami sepenuhnya oleh Mario. Padahal Mario baru saja bilang iya untuk menyanggupi permintaan istrinya. Belum juga dilakukan, tapi Mario sudah melihat mimik girang berlebihan di wajah sang istri.
And now ... Mario sudah dengan rambut botaknya, dan Anjani dengan wajah bahagianya.
"Uuuhm. Elus-elus-elus-elus!" Anjani mengusap-usap kepala botak Mario begitu keduanya di dalam mobil.
"Kamu suka?" Begitu ramah Mario bertanya.
"Suka banget," sahut Anjani, lantas memeluk Mario sambil tetap mengusap-usap kepala botak suaminya.
"Lega?" tanya Mario sekali lagi.
"Iya, Mas. Aku lega. Setelah ini panjangkan lagi tidak apa-apa, kok." Anjani mengizinkan.
"Ah, leganya!" Mario merasakan kelegaan yang sama.
Lagi-lagi Anjani menginginkan sesuatu. Sebelum pulang ke rumah, Anjani ingin dibelikan martabak oleh suaminya.
"Martabak lagi? Kamu nggak bosen?" Mario geleng-geleng kepala melihat Anjani yang lebih sering memilih menu martabak.
"Aku suka. Dan ... sepertinya anak kita doyan," celetuk Anjani sambil mengusap perutnya yang masih terlihat datar.
"Heeem. Anak kita atau kamu yang doyan? Hayo jujur," canda Mario.
"Dua-duanya," sahut Anjani sambil memainkan kedua alisnya.
Sungguh gemas Mario melihat Anjani bersikap demikian.
"Dengarkan aku." Mario menatap ramah manik mata Anjani. "Sayang, perubahan bentuk tubuh saat hamil itu wajar. Kamu jangan merasa risih melihat penampilanmu yang mungkin akan jauh berbeda dibanding sebelum ini. Apalagi sekarang kamu doyan makan. Aku tidak masalah kamu gendutan. Aku tulus mencintaimu, karena hati dan pribadimu. Okey?"
Senyum merekah di bibir Anjani. Sebenarnya sedikit banyak Anjani memang khawatir dengan dirinya yang tiba-tiba doyan makan. Ada kekhawatiran pula jika Mario akan luntur rasa cintanya hanya karena penampilan yang berubah. Kini, perasaan itu tersingkir sudah. Tutur kata Mario memudarkan rasa khawatirnya.
"Kenapa? Kamu pasti terharu mendengarku berkata seperti itu, ya?" tebak Mario.
"Tidak. Aku justru ingin nambah satu porsi martabak. Jadi, tolong belikan dua, ya!"
"Aduh-duh!"
Mario tepuk jidat sembari terkekeh karenanya.
Kepala botak Mario seketika menjadi sorotan. Namun, bisik-bisik yang didengar bukanlah sebuah ejekan. Mereka justru masih mengagumi Mario yang berwajah tampan.
"Si botak tampan!"
"Pengen kuelus kepala botaknya!"
"Mendadak pengen nyuruh suami ngebotakin kepalanya juga, nih!"
Celetuk ibu-ibu yang kebetulan juga antri membeli martabak.
Mario yang mendengar hanya senyum-senyum sambil tetap menjaga tingkat kepedean.
Anjani tidak ikut mengantri. Dia berdiri di dekat pintu mobil sambil mengamati anak kecil bermain balon bentuk hati.
"Bunda bersyukur karena daddy-mu pengertian, Nak. Tumbuhlah dengan baik. Daddy-mu akan selalu ada di samping bunda," gumam Anjani sambil mengelus perutnya.
Deg!
Eh? Kenapa tiba-tiba aku berkata seperti itu? Memangnya Mario mau kemana? Sudah jelas kan dia akan selalu ada di sampingku? Aku yakin sekali Mario tidak akan pernah selingkuh. Batin Anjani
Lamunan Anjani buyar karena getar ponsel Mario yang dititipkan padanya. Tertera nama Paman Li di layar. Anjani tanpa ragu menerima panggilan itu.
"Rambut palsunya sudah siap, Tuan. Sudah saya sediakan sebanyak tiga." Paman Li melapor.
Anjani menahan tawanya. Rupanya sang suami telah memesan rambut palsu pada Paman Li untuk digunakan di kantornya.
"Siap, Paman. Akan kusampaikan!" sahut Anjani.
"Eh, maaf. Nona Anjani ternyata yang menerima panggilan ini. Maafkan saya, Nona."
"Paman Li kenapa minta maaf. Terima kasih sudah membantu suamiku dengan rambut palsunya. Em, besok tolong fotokan diam-diam, ya Paman. Aku ingin lihat suamiku pakai wig!" Anjani memelankan suaranya.
"Siap laksanakan, Nona. Beberapa foto akan saya kirimkan ke ponsel Nona Anjani besok!" Paman Li menyanggupi.
Panggilan suara berakhir. Tawa Anjani masih tersisa juga. Membayangkan Mario menggunakan rambut palsu malah semakin membuatnya tertawa.
Di sela bayangan tentang rambut palsu, lagi-lagi ponsel Mario berdering. Anjani tanpa melihat siapa yang memanggil langsung saja menerima telepon itu. Dikiranya Paman Li yang menelepon lagi.
Anjani baru mau bilang halo, tapi penelepon di seberang menyerukan kata-katanya lebih dulu. Bukan salam ataupun sapaan halo, tapi ....
"Mario, aku positif hamil. Segera akan kutagih janjimu."
Deg!
Suara seorang wanita. Begitu selesai menyampaikan kalimatnya, panggilan diakhiri secara sepihak olehnya. Membuat Anjani tak bisa bertanya lebih kepadanya.
"Hamil?" lirih Anjani sambil menatap ponsel Mario dengan mimik wajah yang dipenuhi tanda tanya besar.
Bersambung ....
Suka? LIKE-nya dong buat author.
Mampir juga ke novel pertama author yang berjudul Cinta Strata 1, ya. Kisah Mario-Anjani bermula dari sana. Kenal juga sahabat baiknya Anjani, Meli. Merapat ke novel Menanti Mentari karya my best partner, Kak Cahyanti. Dukung kami 💙
***
Emang Mamanya kemana???
Sedangkan sewaktu Ayah Mario selepas pulang dari Bandara kan bareng Mamanya,terus kenapa " Ada tapi seakan tiada."?!
😤😤😤