NovelToon NovelToon
Amanat Istri Pertama

Amanat Istri Pertama

Status: tamat
Genre:Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:631.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vhy'dHeavy Putri

Kintan terpaksa menikah dengan Aksara, karena suatu alasan menyebabkan keputusan itu terjadi. Ketika Nila yang merupakan istri pertama Aksara mengalami kecelakaan dan dalam keadaan tidak baik-baik saja, meminta Kintan menyanggupi permintaan terakhirnya itu, sekaligus merawat putranya yang masih kecil.

Tepat dua hari setelah pernikahan Kintan dan Aksara terjadi, Nila mengembuskan napas terakhir. Saat itu pula, Kintan menjadi istri satu-satunya dari Aksara. Namun kenyataan justru membuat pernikahan mereka tidak bahagia. Aksara masih belum sanggup melupakan mendiang Nila dan menilai Kintan tak sebanding dengan istri pertamanya itu. Permintaan cerai sering terucap dari bibir Aksara agar Kintan pergi dari sisinya. Di sisi lain, Kintan justru bertekad untuk bertahan. Karena pernikahan itu adalah amanat dari istri pertama suaminya.

Lantas, apakah Kintan mampu membuat hati Aksara luluh? Serta mendapat haknya sebagai seorang istri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhy'dHeavy Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6-Amanat

Sepanjang malam, Aksara menjaga Nila yang masih tidak membuka mata. Ia memutuskan untuk tinggal dan meminta semua keluarganya lekas pulang, agar menjaga Gibran yang masih dititipkan pada adiknya. Wajahnya yang tampan cenderung manis, benar-benar lesu. Air mata masih sering menetes seolah tidak ada habisnya dari pasang mata pria itu. Bagaimana tidak, jika sang istri tercinta tengah menderita sendirian tanpa bisa ia gantikan.

Sementara kedua telapak tangan berjari kekar miliknya masih menggenggam jemari Nila. Tidak hanya itu, gumaman berisi kata 'maaf' terus terlontar pelan, berharap Nila bisa mengerti dan lekas bangun saat ini. Aksara tidak tahu jika kemungkinan paling buruk terjadi, tetapi sudah dapat dipastikan hidupnya tanpa Nila hanya akan hampa dan selamanya penuh nestapa. Belum lagi bagi Gibran yang masih membutuhkan figur seorang ibu.

Saat Aksara menunduk sembari menahan isak tangis yang hampir tidak dapat dikendalikan, jari Nila terasa bergerak. Detik itu juga, Aksara membuka mata. Ia lantas menatap sang istri dengan antusias. Benar, Nila tampak membuka mata, meski terlihat sangat berat.

“Sa-sayang,” ucap Aksara. “Ma-mas pa-panggil dokte—”

“Mas ...,” potong Nila.

“I-iya, Sayang.”

“Gibran?”

“Gi-gibran aman, dijaga sama Mama, Sayang.”

“Sakit, Mas ....”

Aksara mencengkeram kuat jemari Nila, bahkan tetesan air matanya sampai terjatuh membasahi tangan istrinya itu. “Ka-kamu sabar, ya. Setelah ini, enggak, besok kamu pasti sembuh. Mas bakal bawa kamu berlibur.” Ia menggigit bibir dengan kuat agar tidak mengeluarkan suara isakan. “Kamu mau berjuang 'kan, Sayang?”

Nila tersenyum tipis. “Mas ... sebelum itu, bisa, 'kan, panggil Kintan sekarang?”

Dalam keadaan tidak sepenuhnya sadar dan tentu saja menahan segala rasa sakit yang menghujam, Nila meminta Aksara untuk memanggilkan Kintan. Aksara yang tidak mengerti apa maksud istrinya itu lantas mengernyitkan dahi.

“Ke-kenapa, Sayang, ka-kamu? Kintan?” ucap Aksara gelisah.

Nila tersenyum. “Waktu aku enggak banyak, Mas. Ini terlalu sakit buat aku. Tapi, sebelum aku pergi aku ... ingin berbicara dengan kalian berdua.”

“Kamu jangan ngomong kayak gitu dong, Nila. Kamu enggak bisa ninggalin Mas sama Gibran seperti ini, Sayang.”

“Mas ... maaf, i-ini terlalu sakit.”

“Nila ...?”

“Ba-wa Kintan, Mas.”

Aksara kehilangan kuasa. Ia tidak bisa membantah permintaan istrinya. Aksara sangat tahu jika Kintan begitu dekat dengan Nila, bahkan Nila menceritakan setiap kebersamaannya dengan Kintan. Semua kebaikan Kintan selama ini, sekaligus bagaimana mereka berjanji akan berteman sehidup semati.

“Iya, Mas bakal panggil dia.”

“Te-rima kasih.”

Sesaat setelah memutuskan, Aksara lantas berdiri. Dengan penuh ragu, ia melangkah menuju pintu ruang rawat itu. Sesekali ia masih menoleh ke arah istrinya, khawatir jika kemungkinan buruk akan terjadi. Paras Nila yang pucat pasi dan pandangan matanya yang redup, seolah tidak ada daya hidup, membuat Aksara benar-benar takut.

Beruntung, Kintan memutuskan untuk tinggal menggantikan orang tua Nila beberapa saat yang lalu. Dan kini wanita itu tengah berjaga di luar atau sesekali kembali ke ruang perawatan kakak iparnya. Keberadaan Kintan di tempat itu, membuat Aksara tidak kesulitan dalam mencarinya.

Benar saja, Kintan tampak duduk sembari memejamkan mata. Ia tampak lelah, membuat Aksara berangsur iba.

“Kintan,” ucap Aksara sembari menepuk pelan pundak Kintan.

Kintan menggeragap. Ia berdiri cepat, tetapi justru bingung. “Kenapa, kenapa, Mas? Nila kenapa?” tanyanya panik.

Aksara menggeleng. “Nila ingin bertemu denganmu.”

“Nila sadar?” tanya Kintan dengan mata terbuka lebar.

“Ya.”

Kintan bergerak cepat. Ia berlari menuju pintu ruang rawat itu yang tidak terlalu jauh. Dengan terburu-buru, ia masuk dan menghampiri ranjang di mana Nila terbaring lemah.

Kintan berdiri tegak, detik berikutnya mengambil posisi duduk. Ia menatap prihatin pada kondisi Nila saat ini. Balutan perban di kepala, tangan, juga kaki. Mungkin ada beberapa bagian lagi, tetapi tidak nampak oleh mata Kintan.

Bulir air mata pun kembali muncul membasahi pipi kiri Kintan. Isakan tangis, cenderung mendesis juga keluar dari bibirnya. Dan ketika mendengar suara itu, Nila membuka matanya yang sempat terpejam.

Nila tersenyum tipis. “Kintan.” Ia berkata sangat pelan, nyaris berbisik.

“Iya, Nila, ini aku. Aku minta maaf,” sahut Kintan cepat sembari menggenggam jemari Nila.

“Mas?” ucap Nila sembari mengalihkan pandangan ke arah suaminya yang masih berdiri di samping Kintan.

Aksara segera merundukkan badan agar lebih jelas dilihat oleh mata sang istri. “Mas di sini, Sayang,” ucapnya.

“Jaga Gibran.”

“Iya, kita pasti jaga sama-sama, Nila.”

“Kintan." Tidak memedulikan ucapan suaminya, Nila kembali memandang paras ayu milik sahabatnya itu. “Jaga Gibran, ja-ga suamiku.”

Kintan melongo, bahkan sampai membuka rahangnya. Permintaan Nila sudah seperti hendak pamit saja. Selain itu, mengapa harus menitipkan suami dan anak padanya? Bukankah Nila akan segera sembuh, sebab sudah sadar layaknya sekarang?

Pun pada Aksara yang bahkan semakin bingung. Ia tidak tahu apa yang dimaksud oleh istrinya itu. Namun firasat buruk terbersit di benaknya. Kemungkinan terfatal yang selalu ia takutkan mungkin akan terjadi. Dan ketika Nila tampak kesulitan bernapas ataupun membuka mata, Aksara semakin didera rasa takut.

“Nila percaya ... sama Kintan. Nila enggak kuat ... ini terlalu sa-kit. To-long ... gantikan aku, Tan.” Nila tersenyum.

“A-apa maksudmu, Nila. Kamu bakal sembuh, kamu kuat. Dan itu yang ....” Kintan menangis, terlalu sakit untuk mengatakan motivasi yang kemungkinan besar hanya akan berakhir sia-sia. “Kamu bisa sembuh, pasti! Kamu bisa jaga anak dan suami kamu sendiri, Nila.”

“Enggak, Tan, rasanya ... detak jantungku semakin lemah saja. Aku ... enggak punya waktu lagi. Aku bisa lihat cahaya putih itu.”

Aksara panik. “Kamu jangan bodoh! Mana mungkin, Nila, itu hanya halu. Kamu bisa sembuh, Sayang.”

“Mas ... Nila selalu sayang sama kamu, Mas. Terima kasih, sudah memberi izin agar Nila bahagia. Nila ... mau Mas jaga Gibran bersama Kintan, Mas.”

“Nila!” ucap Aksara dan Kintan secara bersamaan.

“Nila ... mau kalian menikah.” Air mata membasahi bantal di bawah kepala Nila. “Ini amanat Nila sebelum waktu Nila habis, Nila ... mau kalian menikah secepatnya. Tolong, Mas, Kintan. Tolong.”

Entah Aksara ataupun Kintan tidak dapat berkata-kata. Mereka berdua enggan untuk menyetujui sekaligus menolak permintaan Nila. Sementara Nila mulai memejamkan matanya kembali setelah mengatakan permintaan yang ia sebut sebagai amanat itu. Mungkin saja, permintaannya memang menjadi keputusan terakhir untuk menjaga suami dan putranya sebelum pergi jauh.

“Aku bersedia, Nila,” ucap Kintan tiba-tiba.

Aksara tercengang. “Apa maksudmu, Kintan?” tanyanya tidak terima.

Kintan tidak menjawab, melainkan menatap Nila lebih saksama. Aroma duka seolah menguar memenuhi penjuru ruangan. Meskipun sudah Kintan setujui, Nila tidak membuka mata lagi. Denyut nadinya terasa lebih lambat ketika Kintan memeriksa.

Aksara yang menyadari hal itu terduduk. Tubuhnya kaku, tetapi perasaannya lemah.

“Kita akan menikah besok di sini, Mas. Itu yang istrimu mau.”

***

1
Ririn Nursisminingsih
kereenn kintan a suka karakternya thor a bca karyamu ini berkali2 tpi tak bosan2...
VhyDheavy: makasih banyak kakak 🫶🥰
total 1 replies
Shifa Burhan
aku salut dengan novel yang memperlakukan pelakor dan PEBINOR sama,
aku salut dengan novel yang berani menghancurkan PEBINOR

karena faktanya kebanyak novel begitu memuja pebinor
Shifa Burhan
ini lah wanita (reader) kayak tidak punya otak yang membuat mereka jadi egois

*lelaki lain yang baik pada kintan di puja2 dan dibilang lelaki baik2 tapi wanita lain yang baik pada aksara dilaknat dan dibilang pelakor dan janda gatal lah (kalian waras)

*kintan intraksi dengan lelaki lain dan menyambut baik kebaikan pria lain dibilang dibenarkan tapi aksara hanya mendengarkan wanita lain bicara saja sudah dilaknat dibilang tidak tegas (kalian sehat)

wahai wanita (reader jablay) pakai otak kalian sikit saja biar tidak kelihatan munafiknya
VhyDheavy: penganut standar ganda kali ya 😁
total 1 replies
Maizuki Bintang
bgs
VhyDheavy: makasih Kak. Mampir di novel saya yg lain ya, 😊
total 1 replies
Dyah Shinta
Ya eyalah... kan baru aja ditinggal.
Lama2 juga tenang...
Amalia Khaer
yahhh knpa harus melakukan itu huh 😮‍💨
VhyDheavy: kan suami istri kak, hehe. Ah, jangan lupa follow akun tiktok saya ya, Kak. Vhydheavy21.😊
total 1 replies
Amalia Khaer
🤭🤭🤭🤭🤭🤣
Rita Tanti
Luar biasa
Sri Mulyani
mau. siapa tau suaminya juga bisa ikut membantu
Ike Rasela
👍👍
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
lucu yh menyakiti istri sendiri bisa n gampang tpi sekedar bersikap tegas pd wanita lain nggak bisa ngakak...
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀: You're welcome ttp semangat berkarya 🤗💪
total 3 replies
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
Kendali pernikahan di pegang suami yah klu mau lepasin kintan tinggal talak aja beres kan lagian gw jg ogah bgt kintan sama Lo nggak level
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
berarti itu salah anda tolong koreksi diri sebelum menyalahkan seseorang kerna bkn hanya anda yg merasa kehilangan
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
udah jls ini kemauan nila sendiri buat plng sendiri knp jdi kintan yg salah
lina
berjuang nila
Siti Rofiatin
Cinta oh cinta ,kalau sdh bilang itu apapun akan di lakukan
VhyDheavy: Cinta bikin gila kadang ya Kak 😁
total 1 replies
Bunbun Oke
cie cie sama-sama zaling ❤❤❤
VhyDheavy: Harus berterima kasih pada Mergi dan David ya 😄. Terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
Bundanya Pandu Pharamadina
suka dgn karakter Kintan 👍❤ juga Askara
VhyDheavy: Terima kasih 😊🤗
total 1 replies
Bundanya Pandu Pharamadina
Aksara Kinan
❤❤❤❤
VhyDheavy: Untuk @Bundanya Pandu Pharamadina juga ❤❤❤❤
total 1 replies
anti pebinor pelakor
perbedaan perlakuan pelakor dan pebinor

pelakor dipandang hina, menjijikan, apapun dia buat pasti salah, dipermalukan, diperlakukan kasar, dan akhirnya dibinasakn

pebinor dipandang lelaki cinta tulus, bebas menghajar suami orang dan itu tidak dipermasalahkan, bebas berbuat semaunya dan pada akhir diperlakukan lembut supaya iklas, sosok terlalu di spesial kan dan akhir bisa merasakan kebahagiaan

sudut padang wanita jablay dan egois, pelakor menjijikan sedangkan pebinor pria sejati dengan cinta tulus harus dihargai

sudut pandang wanita sejati dan setia, pelakor dan pebinor sama2 mahluk menjijikan dan harus diperlakukan sama
VhyDheavy: kontras bgt Yah, perlakuan untuk wanita bersalah dan laki2 bersalah. predikat pelakor bahkan lebih lama, pebinor gampang di lupakan bgtu saja 🥺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!